
Sekarang di sinilah Rein. Berdiri di depan pintu masuk kantor Davin dengan secangkir kopi di atas nampan. Wajahnya tanpa ekspresi menatap pintu yang sedang tertutup rapat sangat enggan membuka.
Di dalam suasana sangat hidup, pikir Rein. Kata-kata pedas dan tajam dari Davin bagaikan nyanyian bersuara sumbang yang ingin segera dimusnahkan.
Siapapun mereka yang kini sedang dimarahi, Rein tidak tahu juga tidak mengenal tapi yang pasti ia tahu bagaimana perasaan mereka saat ini. Mungkin jika ia menggambarkan emosi mereka saat ini, melempari kepala Davin dengan sebuah kursi kayu adalah keinginan yang paling ingin diwujudkan.
"Keluar!" Nah, akhirnya nyanyian ini berakhir.
Rein segera menggeser posisinya menyamping. Beberapa detik kemudian beberapa orang keluar dari ruangan Davin dengan ekspresi pucat dan masam. Tidak ada yang tersenyum, mulut mereka sepenuhnya tertutup rapat.
Untuk laki-laki, mereka tidak secengeng itu sampai harus meneteskan air mata tapi tidak dengan perempuan. Rein sekilas melihat beberapa perempuan meneteskan air mata tanpa suara.
Rein mengangkat bahunya tidak perduli. Dia tidak bisa bersimpati kepada mereka karena dia juga pada akhirnya akan bernasib sama.
Tok
Tok
Tok
"Pak, ini kopi pesanan, Anda."
"Masuk."
Rein mendorong pintu masuk. Begitu masuk langkahnya sempat mandek di tempat karena shock melihat pecahan cangkir kopi di lantai. Beberapa dokumen juga tidak kalah apesnya dengan cangkir kopi tersebut. Mereka terdampar di lantai dengan beberapa lembaran kertas ternoda air kopi.
"Kenapa berhenti?" Davin memijit kepalanya terlihat sangat lelah.
"Maaf, Pak."
Rein segera meletakkan kopi Davin di atas meja kerjanya. Setelah itu dia membawa langkahnya mundur ke belakang sambil memeluk nampan yang ia bawa tadi. Davin tidak berbicara dan Rein juga tidak berniat mengatakan apa-apa. Suasana hati Davin hari ini sangat buruk. Bahkan wajah dinginnya lebih sulit untuk di dekati daripada sebelumnya.
Lama terdiam, Davin masih belum mengeluarkan suaranya sepatah pun. Dia masih memijat keningnya terlihat sangat tidak nyaman.
Rein menghela nafas panjang. Dia meletakkan nampan yang ia peluk tadi di atas meja kerja Davin kemudian pergi mengambil peralatan kebersihan di luar.
Dia pertama-tama mengumpulkan pecahan cangkir yang untungnya tidak tersebar terlalu jauh. Setelah itu dia mengambil dokumen yang sudah agak kotor, menepuknya beberapa kali sebelum menaruhnya dengan rapi di atas meja kerja Davin.
Rein kemudian mengambil alat pel, mengepel lantai dalam diam tanpa menimbulkan suara apapun.
15 menit kemudian ruangan Davin kembali bersih seperti semula dan tampak jauh lebih rapi.
"Pak, apa aku boleh pergi sekarang?" Rein mengajukan pertanyaan.
Davin tidak merespon. Tangan kanannya berhenti memijat dan beralih menutupi matanya yang sudah tidak menggunakan kacamata kerja.
Davin menurunkan tangannya, menatap wajah tanpa ekspresi Rein dengan sebuah nampan di dalam pelukannya.
"Kamu melalaikan tugasmu." Katanya kesal, tapi anehnya nada suara Davin agak lemah.
Apakah dia baik-baik saja?
"Aku tidak melalaikan tugas ku." Jawab Rein membantah,"Anda bilang aku bertugas mengantarkan kopi dan aku baru saja melaksanakannya. Jadi, bagaimana mungkin aku melalaikan tugas ku?"
Davin melirik secangkir kopi di atas mejanya. Masih hangat tapi dia tidak tertarik sama sekali meminumnya karena kopi itu bukanlah buatan Rein.
"Aku sudah menunggu dari pagi tapi kenapa baru mengantarkannya siang ini?" Tanya Davin jengkel.
Oh, ternyata masalah ini.
"Pak, di sini aku hanya kerja mengambil shift siang sampai sore." Rein mengingatkan dengan murah hati.
Davin tidak perduli.
"Rubah jadwal kerjamu. Mulai dari besok kamu harus mengambil shift pagi sampai sore." Davin kembali memijat kepalanya merasa pusing.
Rein tidak bisa menerimanya.
"Maaf Pak, aku tidak bisa. Aku punya urusan di pagi hari yang tidak bisa ditinggalkan."
Rein harus mengirim Tio sekolah tiap pagi sehingga dia tidak bisa mengambil shift pagi.
"Apa aku terlihat perduli? Tidak ada yang lebih penting daripada memenuhi kewajiban mu kepadaku di sini. Jika tidak, percaya atau tidak kamu tidak akan pernah bisa tenang tinggal di kota ini." Ancam Davin dengan nada malasnya seperti biasa.
Rein mengepalkan tangannya marah. Dia ingin menolak tapi dia tahu ancaman Davin tidak main-main. Alasannya, tentu saja karena Davin mempunyai kekuasaan di kota ini. Dia adalah CEO dari perusahaan properti terkemuka di kota ini. Keberadaannya sangat mempengaruhi para pejabat daerah di kota ini.
Tapi.. jika dia pergi lalu bagaimana dengan Tio?
Dia tidak bisa meninggalkan Tio begitu saja tanpa pengawasan darinya.
"Pak, aku meminta keringanan-"
"Perintahku sudah final, Rein." Potong Davin tidak memberikan peluang.
Rein memejamkan matanya menahan perasaan jengkel bercampur kesal. Dia panik tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Apa..ia sungguh sudah terlambat mengundurkan diri dari perusahaan ini-
"Jangan berharap mengundurkan diri, Rein, karena itu tidak ada gunanya." Davin melihat pikirannya.