My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
96. Adek Buat Tio?



Davin, Tio, dan tentu saja Rein masuk bersama-sama ke dalam kamar pribadi Davin. Ketika masuk ke dalam kamar, Rein dibuat tercengang ketika melihat ada banyak foto-foto dirinya dari masa-masa saat mereka masih sepasang kekasih.


Itu terpajang rapi di dinding, di atas nakas maupun di atas meja. Ada juga foto Tio yang entah sejak kapan di ambil telah berjejer rapi di samping foto Rein dan Davin.


Sejujurnya ini tampak seperti keluarga kecil yang dipenuhi dengan tawa ceria.


Rein menghela nafas panjang, bersikap seolah tidak melihat apapun dan dengan tahu diri berbaring di atas kasur Davin. Sementara Tio dan Davin mengoceh, membicarakan sesuatu yang kekanak-kanakan, Rein di sisi lain berusaha untuk memejamkan matanya dan mulai tertidur lelap. Tanpa Rein sadari mendengar percakapan Davin dan Tio membuatnya mengantuk dan merasa nyaman, nyaman sampai akhirnya ia memejamkan matanya masuk ke dalam dunia mimpi.


...🍃🍃🍃...


"Ugh.." Rein merasa sesak dan kesulitan bernapas.


Badannya juga agak berat, seperti ada beban yang menempeli tubuhnya. Perlahan kedua matanya mengerjap ringan beberapa kali mengepaskan cahaya pagi yang masuk dari sela-sela gorden, dia mengusap matanya agar bisa melihat dengan jelas.


"Sudah pagi-" Ia membeku ketika melihat lengan kuat Davin telah melingkari pinggangnya.


"Bagaimana mungkin aku bisa di sini?" Padahal jelas-jelas semalam ia tertidur di samping Tio tapi kenapa pagi tiba-tiba ia berada di dalam pelukan Davin.


"Hem.." Davin bergumam di dalam tidurnya.


Rein sontak menutup mulutnya. Pelan-pelan ia menyingkirkan lengan Davin dari pinggangnya, setelah itu ia menggeser tubuhnya turun dari kasur dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Davin.


"Ya Tuhan, hampir saja." Bisiknya ketakutan.


Dia memegang pipinya yang panas, kemudian beralih menyentuh dadanya yang kini berdetak begitu kencang menyebarkan sensasi aneh ke seluruh tubuhnya.


"Aku...aku harus segera mandi." Katanya pada diri sendiri sebelum keluar melarikan diri dari kamar Davin.


Sementara itu, pemilik lengan panjang yang sempat melingkari pinggang Rein membuka matanya lebar dengan senyuman lebar di bibir. Ia tampak puas dan dalam suasana hati yang baik.


"Hem, hari ini benar-benar menyegarkan." Bisiknya seraya merentangkan tangan tampak begitu nyaman.


...🍃🍃🍃...


Hari ini rombongan karyawan perusahaan resmi pergi liburan bersama keluar kota. Mereka menggunakan puluhan bus secara kompak dan dalam suasana ceria yang sangat jauh berbeda dari hari-hari di dalam kantor.


Ini adalah pengalaman pertama mereka pergi berlibur bersama setelah bekerja di kantor. Mereka sangat senang dan menggunakan pakaian terbaik yang mereka punya. Bahkan para wanita lajang pun menjadikan momen ini sebagai ajang tebar pesona. Menggunakan make up tipis semenarik mungkin agar terlihat alami dan kekinian.


Di dalam bus akan terdengar suara nyanyian ceria, gitar yang dipetik sahdu mengikuti suara gendang yang dipukul ringan.


Davin sengaja membawa mobil pribadi karena ada Tio dan Rein di sisinya. Ia tidak mungkin membawa Tio dan Rein bercampur dengan karyawannya di dalam bus. Apalagi Rein masih menjaga jarak dengannya sehingga Davin tidak ingin melakukan sesuatu yang membuat Rein tidak suka, yah...ini terjadi setelah ia mendapatkan penolakan kemarin tentunya.


"Dad, dimana kita?" Tanya Tio ingin tahu.


Mereka sudah sampai di tempat penginapan yang disewa full selama tiga hari oleh Davin. Penginapan ini sama seperti penginapan tempat liburan di luar sana, tidak mewah juga tidak terlalu sederhana.


Fasilitas di dalamnya memadai sehingga semua orang nyaman tinggal di sini.


"Ini di bukit A, sayang. Kita akan liburan di sini bersama Mommy dan bawahan Daddy." Kata Davin menjelaskan.


Tio masih kecil, ia masih memiliki energi ekstra sekalipun telah melewati perjalanan jauh. Jadi, setelah mendengar kata liburan, ia tidak menahan diri untuk melompat-lompat. Menyuarakan betapa gembiranya ia saat ini.


Sementara itu Rein bernasib sama dengan sebagian besar karyawan Davin. Dia kelelahan, tidak ingin berbicara dan ingin segera beristirahat di dalam kamar. Jadi, setelah sampai kamar Rein tanpa mengatakan apapun menjatuhkan dirinya di atas ranjang dan tidak mengetahui jika kamar ini juga akan ditinggali oleh Tio dan yah..tentu saja Davin.


Barulah ia sadar setelah melihat Davin tiba-tiba melepaskan pakaiannya di sini. Rein sontak melemparkan bantal yang ia tiduri tadi ke badan maskulin Davin yang seksi.


"Kamu ngapain ganti baju di sini?" Tanya Rein seraya memalingkan wajahnya yang sudah memerah dan panas.


Davin mengulum senyum,"Emang gak boleh, ya? Ini kan juga kamar aku bukan kamar kamu aja." Kata Davin santai melemparkan bantal kembali ke arah Rein.


Dia dengan santainya duduk di depan Rein, padahal dada bidangnya yang menggiurkan belum menggunakan baju!


"Satu kamar?" Rein bertanya kaget.


Davin tersenyum lebar,"Iya, kita satu kamar. Aku, kamu, dan Tio." 


Davin menegaskan.


"Gak, gak boleh." Kata Rein menolak."Jangan gila, Davin! Orang-orang kantor pasti akan curiga jika kamu tinggal di sini!"


Davin tersenyum jail, ia berjalan mendekati Rein. Mengurung Rein di dalam kungkungan nya dengan tatapan yang memabukkan,"Memangnya kenapa jika mereka curiga? Toh ini benar adanya."


Rein salah tingkah tapi dia berusaha mempertahankan kewarasannya,"Davin, kamu-"


"Mommy sama Daddy mau bikin Adek buat Tio, ya?"