My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
62. Dipecat



Wanita itu langsung terdiam begitu melihat penampilan Davin yang berkelas. Sekilas, ia menilai jika barang-barang yang Davin kenakan sekarang mulai dari sepatu sampai jam tangan rolex yang ada di tangan kirinya adalah barang-barang dengan harga di atas 100 juta!


Jadi dia menyimpulkan Davin bukanlah orang miskin, melainkan orang dari kalangan orang kaya. Akan tetapi dia bingung karena putranya mengatakan jika Ayah Tio tiba-tiba datang dan memarahinya.


Ayah Tio,


Ia tidak percaya jika laki-laki tampan dengan rasa arogansi yang dominan di depannya ini adalah Ayah Tio. Pasalnya Tio adalah anak dari perempuan miskin dan sok benar yang pernah berseteru dengannya.


Jelas-jelas wanita itu adalah seorang office girl, jadi seharusnya keluarga ini sangat miskin, bukan?


"Apa semua yang laki-laki ini gunakan palsu?" Gumamnya kembali menilai pakaian yang dikenakan Davin.


Bukan hanya Davin juga tapi Adit yang bersikap tenang di samping Davin pun tidak luput dari pengamatannya.


"Daddy?" Tio menarik lembut tangan Davin.


"Ya, sayang?" Davin mengangkat tubuh Tio, membawanya ke dalam pelukan.


Davin senang Tio langsung mengganti nama panggilannya.


Memeluk erat leher Davin, mata tajam Tio yang kekanak-kanakan menatap wanita itu dengan tatapan tidak suka.


"Dad, Mommy kemalin dimalah-malah sama Tante jahat ini." Adu Tio dengan nada suara teraniaya.


Putranya meminta keadilan, bagaimana mungkin Davin hanya diam saja?


Dia adalah seorang Daddy yang bisa diandalkan!


"Hem," Davin melirik wanita itu dengan tatapan dinginnya yang sarat akan arogansi.


"Jadi, selain mengganggu putraku tapi kamu juga mengganggu 'istriku'?"


Wanita itu cukup gentar menghadapi Davin, tapi ini hanya untuk sesaat karena dia ingat betul bahwa di sini ia ada di atas angin. Ia yakin Davin adalah orang yang sangat miskin sampai-sampai berani menggunakan barang palsu berkualitas tinggi.


"Istri kamu terlalu miskin dan sok benar, aku tidak tahan melihatnya berada di sekelilingku. Adapun kamu," Wanita itu tanpa malu-malu menilai Davin lagi.


Davin tampan, ia mengakui. Pesonanya terlalu luar biasa untuk orang yang miskin, sudah seperti Tuan muda dari keluarga konglomerat saja. Padahal pakaian maupun barang-barang yang digunakan Davin adalah tiruan, dan ia sangat yakin akan hal itu mengingat betapa miskinnya Rein. Ia juga telah mencari tahu jika Rein tinggal di apartemen terbobrok di kota ini, jadi apa yang ia pikirkan tentang Davin tidak salah.


"Sangat disayangkan terjebak dengan wanita jelek berdada datar itu. Daripada terus bersamanya, lebih baik kamu mencari wanita kaya yang lebih baik saja. Aku yakin, harga mu pasti sangat mahal." Wanita ini tidak menyembunyikan ketertarikannya kepada Davin, sangat sayang bila dilewatkan begitu saja.


Davin adalah pemuda tampan dengan badan yang sangat proporsional seperti model pakaian berkelas. Bahkan wanita yang sudah menikah seperti dirinya saja tidak bisa melepaskan pandangan darinya.


"Jelek?" Davin tertawa dingin.


Dengan rasa malas ia memandangi pakaian wanita itu, pakaian yang wanita itu kenakan adalah dress coklat selutut yang sejujurnya lebih cocok digunakan pergi pesta daripada ke sekolah.


"Jadi kamu berpikir lebih cantik darinya?" Ia merasa pertanyaan ini sangat lucu berasal dari mulutnya.


"Pertama, kamu sudah sangat terlalu tua untuk bisa menarik perhatianku. Kulit mu mulai berkeriput, rambutmu acak-acakan dan kasar, make up di wajahmu terlalu tebal dan lebih pantas disebut sebagai topeng, lalu yang terakhir," Ia memandang rendah wanita itu dengan angkuh.


Putra dan 'istrinya' pernah diganggu olehnya jadi bagaimana mungkin Davin diam saja?


Jika tidak membuat wanita ini menyesal, ia tidak akan berhenti menjatuhkannya.


"Apa yang baru saja kamu katakan!" Wanita ini jelas malu mendapatkan penilaian buruk dari Davin.


Dia marah tapi lebih malu lagi karena sekarang sudah ada beberapa orang yang datang melihat perdebatannya dengan Davin.


"Apa yang aku katakan? Jadi kamu belum bisa menyimpulkan semuanya?" Davin berpura-pura tidak melihat rasa malu diwajahnya.


Ia bahkan berencana ingin semakin mempermalukan wanita ini di depan para orang tua. Membuatnya kehilangan harga diri dan menyesal telah mengganggu 'keluarga kecilnya'!


"Jika kamu belum bisa menyimpulkannya maka aku akan membantumu. Kamu terlalu norak, miskin, tidak sadar usia, dan berwajah buruk. Inilah sebenarnya yang ingin aku katakan." Kata Davin dengan ekspresi datar di wajahnya.


Wanita itu menjadi sangat marah,"Berani-beraninya kamu-"


"Nana!" Seorang laki-laki berjas hitam dari jauh memanggil.


Nana, wanita angkuh dan suka pamer itu bernama Nana, Mama Roni. Ketika mendengar suara suaminya memanggil, Nana segera menoleh ke belakang dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.


"Mas, tolongin, Nana! Laki-laki ini," Dia menunjuk Davin dengan tangan kirinya.


"Laki-laki ini telah merendahkan ku berulang kali di sini." Dia mengadu kepada sang suami.


Suaminya marah saat mendengar pengaduan istrinya, tapi semua kemarahan itu segera lenyap ketika melihat siapa laki-laki yang dimaksud oleh istrinya.


"Pak Davin?" Sang suami buru-buru mendekati Davin dengan punggung agak tertunduk dan sikap sopan, berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan oleh Nana.


"Hem," Davin melirik id card khas milik perusahaannya yang tergantung di leher suami Nana.


Id card merah, artinya suami Nana mempunyai jabatan yang cukup tinggi di dalam perusahaan yang ia pimpin sekarang. Pantas saja Nana bisa bersikap seangkuh itu di depan putra juga 'istrinya'- ah, mungkin lebih baik ia sebut saja Rein.


"Kamu adalah karyawan di perusahaan ku?" Davin bertanya acuh tak acuh.


Suami Nana tersenyum lebar, ia mengangkat tangan kanannya ingin menjabat tangan Davin sambil memperkenalkan diri.


"Benar, Pak. Nama saya adalah-"


"Kamu dipecat, mulai dari hari ini." Potong Davin tanpa belas kasih.


Di sampingnya, Adit yang selalu diam dan menyimak mulai mengotak-atik iPad yang entah sejak kapan sudah berada di tangannya. Dia melirik singkat id card suami Nana, lalu mencari namanya di bagian manager operasional dan menandainya dengan tanda merah. Dipecat.


Suami Nana sangat terkejut. Wajahnya langsung berubah menjadi pucat pasi dan terlihat linglung.


"Pak, mengapa saya tiba-tiba dipecat?"