
Rein terkejut, kedua matanya membola antara merasa heran juga takut. Bertahun-tahun tinggal bersama Dimas, tak pernah sekalipun ia melihat Dimas semarah ini bahkan berteriak di depannya dengan suara bernada tajam. Tidak, Dimas adalah orang yang lembut. Bila sedang marah, dia akan mendiami Rein selama beberapa waktu tapi tidak sampai berteriak tajam seperti ini.
"Dim, lo baik-baik aja'kan?" Rein menurunkan nada suaranya selembut mungkin.
"Gue..." Kemarahan Dimas tiba-tiba menguap entah kemana.
Dia tidak tega melihat ekspresi ketakutan Rein. Sungguh, dia tidak bermaksud meneriakinya, hanya saja hati dan pikirannya sulit dikendalikan. Dia marah, sangat marah hari ini ketika tahu ada rumor yang menyebar di perusahaan hari ini tentang Rein dan Davin.
Dia takut Rein terluka lagi- ah, mungkin lebih tepatnya dia takut Rein kembali jatuh ke dalam pelukan Davin. Jika begini akhirnya maka semua usahanya untuk mendapatkan Rein akan sia-sia dan dia tidak mau itu terjadi.
Dia ingin memiliki Rein seutuhnya.
"Lo minum air dulu biar lebih nyaman." Rein buru-buru keluar dari kekangan Dimas, tapi sebelum ia bisa melakukannya Dimas lebih dulu menarik Rein dan membawanya ke dalam pelukan.
"Dim, lo kenapa, sih?" Rein tidak suka dipeluk tapi karena suasana hati Dimas sedang buruk maka dengan enggan ia mengikuti apa yang Dimas inginkan.
Dimas menghirup wangi Rein dengan candu, menyisir rambut hitam pendek Rein dengan tangannya. Rein bergidik di perlakukan seperti ini, dia bergerak sedikit ingin menjauh namun Dimas seolah tidak mengerti dengan apa yang ia inginkan- atau mungkin lebih tepatnya dia berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang Rein inginkan.
"Ada rumor tentang lo di perusahaan." Kata Dimas tiba-tiba setelah jauh lebih tenang.
Rein mendengarnya dan karena itulah dia menjadi tenang. Semenjak menjadi pesuruh Dimas di kantor, dia tahu akan ada suatu hari nanti orang-orang yang merasa cemburu dengan posisinya lalu mulai membuat rumor buruk.
Ini adalah hal alami yang bisa terjadi di dunia kerja berkerah putih.
"Rumor apa?" Rein menarik diri dari pelukan Dimas.
Berpura-pura mulai sibuk mengurus sup yang ia abaikan beberapa saat yang lalu.
"Rumor kalau lo adalah cewek penggoda. Lo rela jadi pengantar kopi buat Davin biar lo bisa dekat sama dia." Cerita Dimas dengan ekspresi tenang, jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Rein tertawa kecil.
"Belum terlambat untuk keluar dari sana, Rein." Dimas berdiri di samping Rein, melihat kepulan asap lezat dari masakan Rein.
"Gue gak mau keluar." Tepatnya dia tidak bisa keluar dari perusahaan itu maupun dari kota ini.
Dia sudah terjebak di sini bersama luka masa lalunya dan sekarang laki-laki yang menciptakan luka itu memenjarakannya di tempat ini. Mengancamnya agar tidak pernah untuk melarikan diri.
Rein sudah memikirkannya sejak pulang bekerja. Dengan ancaman Davin, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia harus mengikuti apa yang ingin Davin sambil memastikan hatinya tetap mengingat kekecewaan 5 tahun yang lalu.
"Kenapa, lo masih belum bisa ngelepasin dia?" Tanya Dimas jengkel.
Untuk yang kesekian kalinya Rein harus menghela nafas panjang. Dimas menjadi sensitif sejak Davin ada di kota ini. Padahal meskipun Davin ada di sini ia tidak akan pernah bisa kembali bersama. Alasannya?
Mereka sudah punya hidup masing-masing dan Davin pun sudah punya tunangan yang cantik nan seksi.
Rein tidak bisa dibandingkan dengan wanita itu.
"Bukan gitu, Dim. Gue udah nyaman banget di sana bahkan sebelum Davin jadi bos. Udah ah, gue gak mau bicarain tentang dia lagi. Dan masalah rumor tentang gue, biarin aja dan jangan dipikirin. Paling nanti juga hilang." Rein tidak ingin membicarakan tentang Davin lagi.
Tapi Dimas cemburu, dan kecemburuannya masih belum hilang sekalipun Rein mengatakan jika dia tidak perduli.
"Gak bisa Rein, harga diri lo-"
"Sejak kapan gue punya harga diri, Dim?" Potong Rein dengan senyuman di wajahnya.
"Rein..."
"Gue gak mau dengar masalah rumor lagi, Dimas. Mau ada harga diri atau enggak, gue gak akan perduli. Lo harus tahu kalau gue cuma pegawai kasar di sana, dan pegawai kasar gak ada harga dirinya, paham?" Rein memotong ucapan Dimas masih dengan senyuman di wajahnya.