
Lisa, sekretaris yang baru saja menjabat kemarin tampak kelelahan karena banyak berlari mencari keberadaan Davin. Dia pikir Davin sudah duduk di kursi kehormatannya untuk memimpin rapat tapi siapa yang menyangka ketika dia datang tidak ada sosok Davin di dalam ruangan.
Lisa panik, ia pikir Davin tidak mau ikut rapat dan memilih pulang atau pergi entah kemana. Tapi setelah dicari-cari Davin akhirnya ketemu dan itu tidak terlalu jauh dari auditorium. Dia sangat lega dan segera menghampiri Davin.
"Hem," Jawab Davin tidak tertarik.
Davin melonggarkan dasi yang terikat rapi dilehernya. Wajah datarnya yang sarat akan rasa malas sejenak membuat Lisa terpesona. Lisa membuka mulutnya tanpa sadar karena terjerat api pesona Davin. Kedua matanya terbuka lebar tidak berkedip-kedip.
"Setelah rapat nanti kirim biodata lengkap Dimas kepadaku." Perintah Davin dingin.
Lisa segera tersadar dari lamunannya. Dia tidak melihat Davin lagi di depannya dan baru menyadari jika Davin sudah pergi menuju auditorium.
Buru-buru dia mengejar Davin. Suara sepatu hak tinggi Lisa berbenturan keras dengan permukaan lantai. Menghasilkan suara tajam yang sangat menggangu untuk Davin.
Davin mengernyitkan alisnya tidak senang tapi tidak memberikan komentar apapun.
"Maaf Pak, mengenai perintah Anda tadi saya pikir orang yang bernama Dimas di sini lebih dari satu orang. Apakah-"
"Apa perintahku kurang jelas?" Potong Davin dingin.
"Dimas, aku hanya memerintahkan kamu mencari biodata lengkap siapapun orang yang bernama Dimas dan segera kirimkan ke mejaku. Tidak ada pertanyaan tambahan lagi." Kata Davin datar tanpa menoleh ke belakang.
Wajah Lisa menjadi pucat pasi. Dia memeluk erat dokumen yang ada di dalam pelukannya karena malu.
"Saya mengerti, Pak."
Suasana hati Davin kembali memburuk. Ketika masuk ke dalam ruang auditorium pun tidak ada senyuman bisnis di wajahnya. Dia bersikap dingin, menatap datar setiap orang yang memberikan pujian memuakkan kepadanya, dan berbicara acuh tak acuh untuk membalas pujian mereka.
Ah, berbicara mengenai Tio. Dia tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya dengan jelas tadi karena Tio menyembunyikan wajahnya ke dalam leher Rein. Ini memang sangat menjengkelkan tapi Davin tidak putus asa karena dia masih punya banyak peluang dan cara untuk menyelidiki Tio.
"Tio.. Dimas, tidak, mana mungkin Tio adalah anak Dimas.." Pikiran ini tiba-tiba datang entah darimana.
Davin tidak suka memikirkannya. Jadi ia dengan sesuka hatinya membuat kesimpulan yang paling masuk akal.
"Rein tidak bisa hamil jadi Tio bukanlah anak Dimas." Dia memutuskan seolah-olah itulah yang terjadi.
Rapat yang Lisa prediksi sebelumnya bisa berjalan lancar dan mudah saat ini nyatanya tidak seperti yang ia harapkan. Davin sepanjang rapat duduk bosan mendengarkan persentase orang satu persatu. Setiap ide dan rencana yang diajukan selalu Davin tanggapi dengan ekspresi tidak tertarik seakan-akan ia ingin segera mengakhiri rapat dengan cepat.
"Pak, semua orang sudah menjelaskan rencana mereka bulan ini. Apakah Anda ingin menambahkan atau-baik, Pak." Lisa segera mundur ke belakang setelah Davin melambaikan tangannya.
Davin mendorong semua dokumen-dokumen yang ada di depannya. Menatapnya dengan acuh tak acuh tanpa tertarik melihat beragam ekspresi para peserta rapat di dalam auditorium. Saat ini semua mata memandang Davin seperti kawanan unta tersesat di padang pasir yang sangat kehausan.
"Perusahaan di kota ini memang hanyalah cabang kecil tapi bukan berarti kalian bisa bekerja seperti pekerja kerah putih yang memakan gaji buta."
Pekerja kerah putih yang memakan gaji buta?
Mereka tanpa sadar menahan nafas.
"Pernahkah kalian melihat bagaimana pola para pekerja kerah putih di perusahaan pusat?" Davin asal bertanya, dengan kata lain dia tidak membutuhkan sebuah balasan.
"Mereka bekerja tidak hanya mengandalkan kecerdasan tapi juga ketekunan. Setiap proyek besar yang mereka analisis selalu mempertimbangkan berbagai macam aspek. Contohnya seperti pembangunan Vila Garden Sky di kota B. Sebelum memulai proyek mereka melakukan survei terlebih dahulu bersama beberapa tim arsitek yang akan menyiapkan arsitektur pembangunan Vila. Mulai dari lokasi, pendapat masyarakat, dan suasana lingkungan di analisis dengan hati-hati. Setelah kembali ke perusahaan pertama-tama mereka akan menyerahkan design arsitektur pembangunan kepada beberapa tim arsitek yang ikut survey. Mereka memberikan waktu kepada arsitek untuk menciptakan aspirasi yang mereka inginkan dengan mempertimbangkan semua hasil survey. Setelah itu mereka melakukan pemilihan design arsitektur bersama beberapa petinggi yang terlibat dengan proyek pembangunan. Pemimpin daerah setempat juga harus berpartisipasi dalam pemilihan design arsitektur tersebut. Jika semua langkahnya sudah seperti ini, maka pembangunan proyek sebesar apapun bisa dilaksanakan asalkan semua terencana dengan baik. Namun, dari yang aku temukan sepanjang rapat ini kalian semua terkesan menyepelekan setiap proyek. Apa kalian semua sudah bosan bekerja di sini?"