My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
249. 21



Padahal menurut pemeriksaan dokter tidak ada yang salah dengan tubuh Rein. Dia baik-baik saja secara fisik dan dia juga tidak memiliki penyakit dalam tubuh mengkhawatirkan. Kecuali dia kekurangan daging di tubuhnya, tapi dulu karena perawatan Davin, tubuh Rein berangsur-angsur mulai sehat dan memiliki daging lagi. Dia harusnya baik-baik saja karena Davin sangat ketat terhadap kesehatan Rein.


Tidak ada masalah yang berarti tapi tiba-tiba dia tertidur lama dan memicu kekhawatiran semua orang. Jujur, tidak ada yang menyangka bila Rein melahirkan bayi kembar. Bisa hamil saja sudah membahagiakan mansion Demian apalagi sampai melahirkan bayi kembar. Ini adalah kejutan sekaligus hadiah untuk kepala keluarga Demian yang telah lama merindukan keluarga. Kini Tuhan hadirkan beberapa anak kecil yang imut dan lucu untuk menghangatkan hatinya yang telah lama merindukan sentuhan keluarga.


Davin sangat bahagia para awalnya tapi ketika melihat istrinya tidak kunjung bangun, kebahagiaan itu perlahan surut.


Menghela nafas panjang, Adit lalu menutup pintu kamar dan membiarkan Davin tidur di samping Rein.


"Tumben Adit enggak cari aku. Biasanya dia selalu nyariin aku dari beberapa jam yang lalu." Heran Davin.


Rein juga heran tapi tidak lama kemudian dia mungkin menebak alasan kenapa Adit tidak mencari Davin- ah, atau lebih tepatnya kenapa Adit tidak membangunkan Davin.


"Mas...aku ingin bertemu dengan anak-anak." Kata Rein sambil menarik sudut baju Davin untuk menarik perhatian sang suami.


Pikiran Davin teralihkan. Rein ingin melihat si kembar jadi dia segera turun dari ranjang mereka. Sebelum keluar mengambil anak-anak, dia pertama-tama menelpon dokter yang telah menangani Rein sejak hamil hingga melahirkan kemarin. Bertanya apakah Rein bisa makan sesuatu untuk mengganjal perutnya.


Dan dokter memberikan jawaban yang positif, sesuai dengan harapan Davin. Setelah berbicara dengan dokter, Davin lalu memanggil Anggi untuk menyiapkan bubur hangat untuk Rein.


Tok


Tok


Tok


"Tuan, apa Anda memanggil saya- Nyonya sudah bangun!" Anggi masuk ke dalam ruangan dengan langkah hati-hati agar tidak membuat Davin terganggu.


Sebab sejak Rein tidak bangun Davin menjadi orang yang sangat sensitif.


"Siang, Anggi..."


Anggi tersenyum lebar,"Nyonya, selamat siang.."


"Hem, istriku baru bangun semalam dan dia butuh waktu untuk menyesuaikan kondisi tubuhnya. Maka tolong awasi anak-anak agar jangan mempersulit istriku nanti." Titah Davin tanpa memandang Anggi.


Semua orang tahu dunia Davin hanya berputar di sekitar Rein seorang dan mereka sudah terbiasa akan hal itu. Jadi tidak mengherankan bila Anggi tidak terkejut dengan sikap acuh tak acuh Davin kepadanya. Bukan merasa marah malah dia senang karena sang sahabat dicintai dengan sangat tulus oleh laki-laki yang luar biasa.


"Baik, Tuan. Saya akan mengawasi anak-anak agar tidak mengganggu waktu istirahat, Nyonya."


Davin mengangguk puas.


"Bagus. Sekarang siapkan bubur hangat untuk istriku. Buburnya harus ringan dan jangan terlalu berasa sesuai dengan instruksi dokter."


Anggi mengangguk patuh,"Baik, Tuan."


Dia sudah tidak sabar ingin segera mengabari semua orang yang ada di rumah ini bahwa Rein sudah bangun dan Davin tidak lagi dalam suasana hati yang buruk.


Menebak isi pikiran Anggi tanpa harus melihatnya, Davin tidak lagi menahannya di sini.


"Baiklah, kamu bisa pergi." Kata Davin.


Anggi langsung pergi dengan langkah riang.


Rein cemberut,"Aku ingin bertemu dengan anak-anak..."