My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
152



Kata-kata Anya tiba-tiba diinterupsi oleh kedatangan seseorang. Tanpa menunggu Anya berbicara, dia langsung masuk ke dalam untuk menyusul sang kekasih yang sedang merajuk. Meninggalkan Anya yang masih belum melangkah masuk ke dalam.


Anya masih melepaskan diri dari bayangan angkuh yang Rein tampilkan tadi. Barusan saja dia melihat seperti apa Rein dan sempat mengecapnya sebagai wanita kolot. Tapi lihat sekarang, dia tidak hanya menepis anggapan kolot atau biasa dari kepala Anya tapi juga meninggalkan kesan wanita anggun yang tidak ada bedanya dengan para wanita sosialita.


"Apa aku benar-benar kalah?" Gumamnya tidak percaya dengan apa yang saat ini ia pikirkan.


Bagaimana mungkin ia kalah dari wanita itu?


Tapi..tapi...


"Dia terlalu cantik." Bisik Anya tidak bisa membantah fakta ini.


Menghela nafas panjang, karena sudah begini ia memutuskan untuk menghadapinya secara langsung. Menang atau kalah, Anya masih bisa melangkah untuk mendapatkan Davin. Benar saja, kalah sekali bukan berarti tidak akan menang. Anya masih punya banyak rencana di belakang kepalanya.


Dia kemudian masuk ke dalam rumah. Membawa langkah kakinya masuk ke ruang tamu dan langsung disambut oleh tatapan hangat dari Rein.


Anya,"..." Dia terlalu ramah atau hanya berpura-pura saja?


Sedangkan Davin di sisi Rein masih berusaha membujuknya. Davin terlihat sangat berbeda bila bersama dengan Rein dan Anya, tunangan yang dijodohkan dan seharusnya memiliki hak untuk bersanding dengan Davin.


"Anya, ini namamu, bukan?" Sapa Rein dengan nada bicara yang dibuat sesantai mungkin.


Dia menyilang kan kakinya, menampilkan kaki putih mulusnya yang ramping dan indah.


Anya mengangguk ringan, ikut menaikkan salah satu kakinya, ingin pamer seperti Rein. Tapi sayangnya mata Davin hanya fokus pada Rein saja sehingga upayanya sia-sia.


Rein tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya, saran Mbak Anggi sangat membantunya.


"Jadi, kamu siapa dan apa urusanmu dengan suamiku?" Tanya Rein to the point.


Davin sangat bersemangat saat mendengar panggilan sayang Rein, dia mendapatkan gelar 'suamiku' dalam waktu yang sangat singkat. Aneh rasanya, dia merasa jika Rein lagi-lagi menggodanya. Dia tidak tahan dan ingin segera menerkam Rein.


"Suamimu?" Tanya Anya balik, tersenyum tipis,"Dia adalah tunangan ku dan kami akan segera menikah." Kata Anya mengklaim dengan keras kepala.


"Ouh," Dia melirik suaminya dengan tatapan penuh makna,"Tunangan."


Davin segera membantah klaim Anya tanpa memberikan wajah atau memikirkan bagaimana perasaan Anya sekarang.


"Dia bohong, kami dulu hanya terjebak di dalam hubungan palsu. Setelah berhasil menemukan kamu, aku langsung memutuskan hubungan palsu kami dan membuatnya secara jelas." Kata Davin agak marah.


Rein berpura-pura tidak mengerti,"Tapi kenapa dia masih memanggil kamu tunangannya? Dav, aku tidak ingin berbagi suami, seharusnya kamu tahu ini'kan?" Ujar Rein dengan nada mengancam.


Davin buru-buru memegang tangan 'istrinya', meremat nya erat untuk menenangkan kemarahan sang 'istri'. Ibu jarinya mengelus ringan punggung tangan sang 'istri' sambil melayangkan bujukan manis,"Istri, jangan dengarkan omong kosong wanita itu. Istriku hanya ada kamu dan aku juga tidak berniat berpaling dari dirimu. Mengenai wanita ini, aku akan membahasnya dengan Kakek. Aku tidak mau wanita ini mengganggu rumah tangga kita lagi."


Rumah tangga?


Rein gatal ingin tertawa. Tapi dia sekuat tenaga menahannya karena dia yakin saat ini Anya pasti sudah terbakar amarah!


Huh, lihat baik-baik dan perhatikan baik-baik!


Kekasih Davin yang sebenarnya adalah aku jadi awasi mulut mu saat berbicara lain kali! Batin Rein puas di dalam hatinya.


Sementara itu di seberang mereka Anya memang terbakar cemburu tapi rasa sakit dihatinya lebih mendominasi. Dia ingin berteriak, menarik Davin menjauh dan memarahi Rein sekuat tenaga. Tapi siapa dia?


Davin sendiri sangat enggan memanggil namanya lantas hak apa yang dia miliki untuk memarahi Rein!


Anya sangat sedih.


Tapi, semua pikirannya segera teralihkan ketika melihat tidak ada cincin di jari-jari manis Rein. Bukankah seharusnya Rein memiliki cincin pemberian Davin karena hubungan mereka sudah sejauh ini?


"Dimana cincin, mu?" Tanya Anya langsung merusak suasana hati Rein.


Rein mengaku sebagai kekasihnya maka dimana cincin pemberian Davin?


"Kamu adalah kekasihnya tapi kenapa kamu tidak memiliki cincin?" Serang Anya merasa di atas angin.


Mood Rein sepenuhnya jatuh. Benar, sudah bertahun-tahun tapi Davin tidak kunjung memberikannya cincin, ah!


"Cincin?" Gumam Rein muram.


Ia menarik tangannya menjauh dari Davin seraya memalingkan wajahnya kesal. Davin tahu dia marah tapi dia bisa menjelaskannya kepada Rein.


"Apa cincin sangat penting? Bagiku, kalung pemberian Davin jauh lebih penting daripada cincin." Untung saja Rein ingat memakai kalung pemberian Davin malam itu.


Anya menyipit tidak senang saat tangan Rein menarik mahkota kalung dari dalam belahan dadanya yang tersembunyi.


Deg


Seketika kedua matanya membola shock saat melihat kalung itu. Ada marah, benci, cemburu, dan yang paling mendominasi adalah dia sangat sedih!


Bagaimana mungkin dia tidak tahu kalung yang kini sedang melingkari leher ramping Rein. Itu adalah kalung yang sudah 5 tahun Anya impikan tapi sekarang sudah menjadi milik Rein.


Rein mencibir saat melihat reaksi Anya,"Ini adalah kalung yang Davin berikan kepadaku sebagai hadiah hari jadi hubungan kami dan hadiah ulang tahun ku, lihat, bukankah warnanya sangat cantik?"


Anya tidak menjawab namun matanya tidak pernah berpaling dari kalung itu. Kecewa rasanya karena barang itu sudah menjadi milik Rein.


"Tentu saja warnanya sangat cantik karena Mama sendiri yang membelinya untuk kamu." Ucap Davin tiba-tiba.


Rein tertegun, ia sontak menatap Davin dengan ekspresi tidak percaya. Bagaimana mungkin kalung ini dibeli oleh Mama Davin?


Rein tidak tahu cerita ini.


Davin tersenyum lembut kepada sang kekasih, tangan besarnya sekali lagi menjangkau tangan Rein dan menggenggamnya lembut.


"Mama bilang aku bisa memberikan kalung ini saat kita bertunangan. Tapi saat itu Mama kecelakaan dan kita juga harus berpisah sehingga aku menahan kalung ini sampai akhirnya kita kembali bersama. Rein, kalung ini adalah hadiah Mama untuk kamu dan sebagai simbol bahwa dia merestui kamu sebagai pendamping hidupku."


Informasi ini terlalu tiba-tiba dan Rein kesulitan mencernanya- tidak, lebih tepatnya dia sangat terkejut karena barang berharga ini ternyata hadiah dari wanita hebat yang telah berjasa melahirkan kekasihnya.


Lalu, dia tiba-tiba teringat dengan apa yang Davin katakan di pesta itu,


"Dia mengatakan yang sebenarnya, bukankah kamu adalah tunangan ku?" Tanya Davin depan kasih sayang yang tidak bisa disembunyikan dari matanya.


Rein pikir saat itu Davin hanya berbicara dengan santai tapi siapa yang menyangka apa yang Davin katakan memang benar?


"Dav," Panggil Rein dengan segala macam emosi memenuhi hatinya,"Aku sangat bahagia." Bisiknya hanya bisa di dengar oleh Davin.


Bersambung..


Assalamualaikum semuanya, bagi yang mau baca novel CALON ADIKKU MENJADI SUAMIKU hari ini sudah ada di noveltoon, yah. Jadi, jangan sungkan untuk mampir πŸƒ


...🌸🌸🌸...


Di mata keluarganya, ia tidak lebih dari sebuah beban yang selalu merusak pemandangan. Kehadirannya selalu dibanding-bandingkan dengan Almira Shinaia, sang adik yang mendapatkan perhatian melimpah dari semua orang. Entah cinta keluarga, cinta teman-teman, cinta kerabat, dan cinta dari Deon Dirgantara, laki-laki yang juga dicintai oleh Rain.


Rain namanya, gadis malang yang selalu disalah artikan keberadaannya ini ternyata diam-diam memendam rasa kepada Deon, calon suami adiknya sendiri.


Laki-laki bertubuh tinggi nan tampan itu sebentar lagi akan menikah dengan Almira, namun semua rencana itu harus menuai hambatan tatkala Almira jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit. Ujian tidak sampai di sini saja karena pada malam hari berikutnya Deon dan Rain terlibat sebuah kecelakaan yang mengharuskan mereka untuk terlibat dalam sebuah pernikahan- siri.


Lalu, bagaimana kisah selanjutnya di antara Rain dan Deon?


Akankah Deon mampu melupakan Almira dan berpaling mencintai Rain?


Atau justru sebaliknya, Rain harus rela menelan pahit karena suaminya yang masih sangat mencintai Almira.