
Dia...dia tersenyum kepadaku?! Apakah ini hanya ilusi ku semata?!
"Ada apa? Apakah ada yang salah dengan wajah ku?" Suara kebingungan mas Adit langsung menarik ku dari pikiran.
Mendengar pertanyaannya, aku segera menggelengkan kepalaku gelagapan. Bagaimana mungkin ada yang salah dengan wajah tampan mas Adit?
Daripada wajah mas Adit bermasalah, mungkin lebih tepat untuk mengatakan bila akulah yang bermasalah di sini!
Oh Tuhan, aku benar-benar konyol hari ini. Seolah-olah belum pernah jatuh cinta saja!
"Tidak ada yang salah, mas... hanya saja aku berpikir..." Tiba-tiba hatiku galau saat memikirkan ini.
"Bila mas Adit terlalu baik kepadaku. Orang-orang yang melihat kita pasti akan salah paham tentang kita berdua dan berpikir bila ada sesuatu yang terjadi di antara kita..." Entah apa yang merasuki diriku sampai aku begitu berani mengatakan ini kepadanya?!
Aku menyesalinya tapi pada saat yang sama aku juga tidak menyesalinya. Entahlah, berpikir bahwa orang-orang akan salah paham terhadap hubungan kami bukanlah masalah untukku, malah aku pribadi cukup senang karena orang-orang berpikir bila kami memiliki hubungan intim. Tapi...tapi mungkin berbeda untuk mas Adit sendiri. Dia memiliki pikiran yang sangat lurus dan tidak mudah tergoda seorang wanita. Hem, pamor mas Adit tidak kalah terkenalnya dengan tuan Davin dalam urusan cinta. Dia diburu oleh banyak artis dan model terkenal, bahkan dengar-dengar tidak banyak klien dari perusahaan lain yang jatuh hati kepada mas Adit tapi anehnya mereka semuanya tidak masuk ke dalam mata mas Adit. Mas Adit tidak pernah menanggapi panggilan ataupun kode mereka. Padahal orang-orang yang tertarik dengan sikap batunya adalah orang-orang yang berkarir tinggi dan bukan wanita sederhana. Mereka berasal dari tempat yang tidak bisa ku jangkau.
Maka kesimpulannya, bagaimana mungkin dia dan aku-
"Kesalahpahaman apa yang kamu maksud?" Suara berat mas Adit menarik ku.
"Hah?" Pertanyaannya terlalu tiba-tiba.
Wajahnya mengernyit tampak berpikir keras. Lucu, aku seolah melihat seorang anak kecil yang sedang berpikir keras ingin membeli permen atau gulali yang memiliki pesona sama mematikannya.
"Aku pikir seharusnya tidak masalah mereka salah paham kepada ku dan kamu karena faktanya memang ada sesuatu yang terjadi diantara kita berdua." Setelah mengatakan itu dia menurunkan matanya menatap ku,
Dia menatap tepat ke dalam bola mataku. Iris gelapnya bagaikan jaring tak kasat mata, menjebak dan menarik ku masuk ke dalamnya. Dan hatiku...hatiku berdebar sangat kencang.
Dengar,
Bom
Bom
Bom
Suaranya begitu jernih di dalam pendengaran ku. Untuk beberapa waktu mulutku terbuka dan tertutup ingin mengeluarkan suara tapi entah kenapa rasanya sangat sulit.
"Aku..." Kedua tangan ku berkeringat dingin karena gugup dan gelisah.
"Se-sesuatu di antara kita berdua..."
Apakah mas Adit juga menyukaiku?
Apakah mas Adit memiliki perasaan kepadaku?
Ya Tuhan, aku ingin sekali bertanya tapi aku sangat takut mendengar jawabannya!
Padahal aku ingin tahu!
Hufth, tanyakan saja pertanyaan ini kepadanya daripada kamu semakin penasaran Anggi!
Hatiku mendesak tapi kepalaku menolak! Aku...takut ditolak tapi aku juga ingin mengetahui apa perasaan mas Adit kepadaku!
"Mas Adit, aku ingin ber-"
"Anggi!"
Grab
Tanganku tiba-tiba ditarik oleh seorang laki-laki. Dia menggunakan pakaian hitam dengan topi hitam yang hampir menutupi setengah mukanya. Jika aku tidak mengenal suaranya maka aku tidak akan tahu siapa laki-laki ini.
Tapi...tapi mengapa dia ada di sini?
Bukankah dia adalah buronan polisi?!
"Mas Doni!" Kaget ku.
Dia menarik tangan kanan ku dengan erat, menarik ku pergi agar mengikutinya tapi tiba-tiba tangan kiri ku ditarik oleh kekuatan yang sangat besar. Agak kasar tapi sungguh aku tidak apa-apa karena yang menarik ku adalah mas Adit!
Dia menarik tangan kiri ku dengan sentakan kuat hingga mas Doni tidak melanjutkan langkahnya.
"Kamu-"
"Kamu siapa?" Suara dingin mas Adit bertanya.
Mas Doni terlihat tidak senang dengan mas Adit tapi aku pikir di sini akulah yang harusnya tidak senang melihatnya, ah! Apa lagi ada mas Adit di samping ku.
"Aku adalah suami Anggi." Katanya percaya diri.
"Suami? Jangan bermimpi, mas, kita sudah bercerai." Kataku kesal dan menghentakkan tangannya dariku,"Lepas!"
Gila saja! Tenaga orang ini tidak main-main!
Aku ingin meronta-ronta sekuat tenaga tapi semua rencana ku segera buyar tatkala merasakan sebuah pelukan hangat dari belakang ku. Entah sejak kapan mas Adit beralih memelukku, melingkari pinggangku dengan kedua tangan kuatnya yang seksi, kemudian tubuhku diliputi oleh suhu tubuh mas Adit yang hangat dan wangi tubuhnya yang membuatku merasa sangat candu.
Bom
Bom
Bom
Jantungku berdegup kencang karena euforia bahagia. Aku sangat bahagia hingga nafasku menjadi terburu-buru seperti orang yang sedang berlari maraton. Lihat, kedua lutut ku bahkan tidak tertolong lagi. Rasanya aku kehilangan tenagaku dan bisa jatuh kapan saja. Namun untunglah mas Adit sekarang memelukku!
Benar sekali, mas Adit saat ini sedang memelukku!
"Kamu sangat berani." Suara berat mas Adit terdengar dekat di telingaku.
Um, sangat dekat sampai-sampai aku tidak berani menoleh melihatnya.
"Kamu...siapa kamu!"
Mas Adit tertawa, ah tertawa?
Suaranya sangat rendah saat tertawa. Apakah ini lucu?
Seharusnya tidak, kan?
"Aku? Aku tentu saja kekasih Anggi, jika tidak mengapa dia bisa bersama ku alih-alih bersama denganmu." Apa aku salah dengar?
"Kekasihnya? Bohong! Anggi adalah istriku. Dia dan aku adalah pasangan suami-istri. Selain aku, dia tidak diizinkan dekat dengan laki-laki manapun!" Katanya marah.
Apa-apaan ini! Aku dan dia sudah bercerai! Mana mungkin kami masih memiliki ikatan pernikahan setelah semua yang dia lakukan!
Sungguh, aku sangat marah! Aku ingin mengamuk dan memarahinya tapi mas Adit lebih dulu berbicara.
"Istri? Hei, apa kamu tidak terlalu banyak bermimpi? Kalian sudah bercerai dan aku sendirilah yang mengurus surat perceraian kalian. Hem, lagipula saat ini kamu adalah buronan polisi yang sedang dicari-cari atas kasus perdagangan manusia yang tidak lain adalah mantan istrimu, Anggi. Tapi melihatmu masih bergerak bebas dan santai, aku pikir kamu tidak menganggap serius masalah ini?"
"Mas Adit?" Bingungku saat merasakan pelukan mas Adit terasa semakin erat.
Mas Adit melirik ku, memberiku senyuman hangat yang selalu membuat hatiku meleleh karena manisnya. Dia berkali-kali lipat lebih tampan dari ekspresi batunya yang luar biasa tangguh.
"Kamu!"
Mas Aldo tiba-tiba melepaskan tangan kananku ketakutan. Dia melihat sekelilingnya dengan panik untuk memastikan tidak ada siapapun yang sedang menatapnya diam-diam. Perilakunya ini membuat ku sangat jijik. Sungguh, dia sangat menjijikkan. Apakah dia tidak merasa bersalah di dalam hatinya menjual ku kepada laki-laki lain?
Apakah dia tidak merasa bersalah telah melarikan diri bersama selingkuhannya dan meninggalkan anak-anak sendirian?
Sungguh, laki-laki sampah ini, bagaimana mungkin aku dulu sempat berpikir bila dia adalah rumahku, tempat untuk bersandar yang paling aman di dunia. Ternyata hah...dia tidak ada bedanya dengan sampah di tempat pembusukan sampah!
"Kamu menjual ku kepada laki-laki lain dan melarikan diri bersama wanita mu, setelah semua perbuatan ini apa kamu pikir aku rela kembali bersama laki-laki sampah seperti kamu? Jangan bermimpi, mas! Daripada terjebak seumur hidup dengan laki-laki seperti kamu lebih baik aku tidak usah menikah dalam hidup ini. Tapi sayangnya Tuhan tidak membiarkan aku sendiri. Dia kirimkan aku seorang laki-laki yang jauh lebih baik dari kamu dan jauh lebih tampan dari kamu, di samping itu dia juga sangat kaya sekarang. Tidak seperti kamu yang menjadi buronan polisi dan sangat miskin, hidup bersamamu sama saja mengirim ku ke kemiskinan."
Author POV.
Mungkin karena terinfeksi oleh kemarahan dan kekecewaannya kepada sang mantan suami, Anggi mengatakan kata-kata kasar yang belum pernah di dengar Adit selama ini. Biasanya Anggi akan mengucapkan kata-kata yang sopan sesuai dengan didikan yang dia dapatkan di pelatihan keluarga Demian. Tapi siapa yang sangka, sebuah luka lama memakainya untuk bersikap arogan.
Adit menurunkan matanya, diam-diam mengamati wajah merah Anggi yang terbalut dalam ekspresi kemarahannya.
"Sangat lucu." Bisik Adit sambil menahan tawa.
Anggi mengabaikan tawa Adit karena dia pikir tawa itu ditujukan kepada Doni, laki-laki sampah yang tiba-tiba mengakuinya sebagai seorang istri.
"Anggi...Anggi itu tidak seperti yang kamu pikirkan!" Seru Doni panik.
Doni terpaksa melakukannya karena tergiur dengan apa yang Revan tawarkan kepadanya. 200 juta! Seumur hidup dia belum pernah melihat uang sebanyak ini di tangannya maka bagaimana mungkin dia tidak tergoda. Selain itu Revan juga menawarkan wanita cantik kepadanya yang bisa dia gunakan selama Anggi melayani Revan. Saat itu pikiran Doni benar-benar tidak pada tempatnya karena terbuai dengan uang dan kecantikan yang Revan tawarkan. Jujur, menurut Doni Anggi tidak terlalu cantik saat itu sehingga dia melepaskannya begitu saja.
Tapi sekarang semuanya berubah. Dia tiba-tiba mendengar kabar dari orang-orang bila Anggi bekerja di sebuah keluarga besar sebagai kepala pelayan dan asisten pribadi nyonya besar di rumah itu. Gajinya sangat fantastis dan sangat besar. Dengan gaji sebesar itu Doni mendengar dari orang-orang itu bila Anggi bisa membeli rumah mewah di kota, membeli perhiasan mahal, dan baju-baju bermerk yang biasanya digunakan oleh orang-orang kaya di luar sana..
Doni sangat tergoda ketika mendengarnya. Bisa dibayangkan betapa baik hidup yang akan dia jalani nanti dengan penghasilan luar biasa Anggi di rumah itu. Jadi dengan alasan ini dia nekat mencari Anggi di tengah-tengah pengejaran polisi. Anggi mungkin marah kepadanya tapi dia yakin kemarahan Anggi tidak bertahan lama. Dia hanya perlu mengucapakan beberapa patah kata menyanjung seperti biasanya kemarahan Anggi pasti akan menghilang.
Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Anggi di pasar kota ini. Dia melihat Anggi jauh lebih terawat dan cantik dari waktu sebelumnya. Sekarang kulitnya jauh lebih putih, rambutnya yang panjang tergerai lepas dengan gaun selutut yang cantik. Sekilas, Doni seolah tak mengenali Anggi karena perubahannya sangat pesat.
Doni sangat senang tapi segera merasa cemburu saat melintas Anggi bermain mata dengan seorang laki-laki tampan nan tinggi di sampingnya. Laki-laki itu memang tampan dan badannya pun proposional, dia memiliki citra laki-laki yang menarik banyak perhatian wanita di sana. Doni cemburu, dia marah juga kesal karena Anggi bersama laki-laki lain.
Tidak bisa menahan kekesalannya, Doni langsung keluar dari persembunyiannya dan menarik tangan Anggi tapi segera ditahan oleh laki-laki itu! Dia sangat marah!
"Tidak seperti yang aku pikirkan? Kamu menjual ku dan jelas-jelas di depan mataku, kamu berselingkuh dengan seorang wanita dan melarikan diri keluar kota begitu melihatku. Mas Doni, aku bukan wanita bodoh. Aku tidak mungkin memilih kembali bersama laki-laki seperti kamu di saat ada yang jauh lebih baik dari kamu. Pergilah mas dan jangan ganggu aku lagi. Kita tidak punya hubungan apa-apa sejak kamu mengkhianati ku. Dan yah, surat cerai sudah ku kirimkan kepada keluarga mas Doni. Jika mas Doni tidak percaya silakan hubungi keluarga mas untuk bertanya. Dan jika mas tetap bersikeras menggangguku, maka jangan salahkan aku membawa masalah ini ke polisi." Ancam Anggi semakin malas berbicara dengan Doni.
"Jangan lupa saat ini kamu adalah buronan polisi. Hem, dan kabar gembira untukmu," Adit mengangkat kelopak matanya ringan, menatap wajah kuyu dan gelap Doni karena terlalu banyak melarikan diri ke beberapa kota untuk bersembunyi dari polisi.
"Polisi sedang menuju ke sini untuk mencari mu." Sambungnya dengan senyuman yang bukan lagi disebut sebagai senyuman.
Untuk sesaat Doni merasakan hawa dingin mulai merambat di punggungnya. Laki-laki ini berbahaya pikirnya. Dia tidak bisa berurusan dengan laki-laki ini. Panik, dia melangkah mundur ke belakang tampak sangat ketakutan.
Memangnya manusia mana yang ingin dikirim ke penjara?
Tentu saja tidak ada dan ini juga berlaku untuknya.
"Anggi... Anggi, kamu memiliki banyak uang sekarang. Tidak bisakah kamu membantuku untuk keluar dari penjara?" Mohon Doni masih memiliki harapan di matanya.
Adit melirik reaksi Anggi yang sangat bertolak belakang dengan harapan Doni.
"Aku tidak bisa. Ini adalah perbuatan mu sendiri jadi mana mungkin aku rela menanggungnya. Di samping itu aku adalah korban mu, akan sangat lucu jika aku membantu seorang pelaku bebas dari jeratan hukuman." Anggi berkata dengan muram.
Lucu, mana mungkin dia membuang-buang uang hasil kerja kerasnya untuk membebaskan seorang pelaku kejahatan? Lucunya lagi dia adalah pelaku yang telah menghancurkan hidupnya. Tanpa bantuan Rein, Davin, dan Adit, maka mungkin dia pasti masih terpuruk saat ini karena tidak memiliki keberanian untuk melihat dunia.
"Anggi...aku mohon-"
"Lucu sekali. Apa kamu pikir dia sama seperti dulu? Maka bermimpi lah. Sayang," Panggil Adit tiba-tiba.
Anggi sangat shock, dia benar-benar tidak siap dengan panggilan manis ini tapi di sangat suka!
Wajah muramnya yang cemberut segera digantikan oleh rona merah nan malu-malu di pipinya.
"Iya, mas?" Anggi meremat tangannya gugup.
"Ayo pergi. Tinggalkan manusia udik ini di sini dan biarkan polisi mengurus sisanya." Ajak Adit seraya melepaskan tangan kirinya dari pinggang Anggi, menyisakan tangan kanan di sana, dan segera menarik Anggi untuk mengikutinya menjauh dari mata kecemburuan, frustasi, dan putus ada Doni.
Jujur dia menyesali semua yang telah terjadi tapi dia tahu penyesalannya tidak bisa merubah apapun karena Anggi sudah memiliki laki-laki lain di dalam hatinya.
"Sial, jangan pikir aku akan mengalah begitu saja. Anggi, tunggu aku kembali!"
🌪️🌪️🌪️
Acara jalan-jalan jadi tidak berwarna lagi karena selepas mereka pergi wajah Adit tiba-tiba menjadi muram. Wajahnya mungkin tidak memiliki ekspresi lagi seperti biasanya, manusia batu, tapi entah mengapa Anggi merasa bila Adit saat ini sedang marah.
"Mas Adit, aku minta maaf." Kata Anggi merasa bersalah.
Awalnya Adit sangat santai tadi dan agaknya terlihat tertarik menelusuri pasar di sini. Tapi ekspresi di wajahnya segera berubah saat melihat Doni mengganggu mereka berdua.
Jujur Anggi juga marah karena setelah itu Adit terlihat marah.
"Bukan salahmu. Dia hanya berbau busuk saja." Kata Adit mengejek.
Adit pernah melihat foto laki-laki itu, dan dia pikir jika Doni tidak tampan seperti yang dia bayangkan. Dan setelah melihatnya secara langsung tadi, Doni bahkan lebih buruk dari yang dia bayangkan. Agaknya dia seperti orang jalanan yang tidur di pinggir jalan atau dikolong jembatan.
"Aku tidak menyangka jika selera mu sangat buruk. Tidak seperti nyonya Rein, matamu jauh lebih buruk saat mencari pasangan hidup." Kata Adit datar.
Mulut Anggi berkedut ingin mengatakan sesuatu. Hei, bagaimana mungkin dia bisa dibandingkan dengan Rein dan Davin. Mereka mungkin pasangan yang membuat iri banyak orang tapi untuk mendapatkan posisi itu mereka harus melalui ujian yang sangat menyakitkan, dan Anggi pikir mungkin dia tidak akan sanggup menjalaninya bila di posisi Rein.
Sama seperti Rein, dia juga mendapatkan ujian untuk pasangan hidupnya tapi sampai dengan detik ini dia belum mendapatkan pasangan yang setia dan sesuai dengan harapan hatinya.
Adit. Em, laki-laki ini terlalu luar biasa untuk menjadi miliknya. Terkadang Anggi akan memikirkan ini jika dia sejujurnya tidak pantas bersanding dengan laki-laki sehebat Adit.
Dia tidak cukup bersih dan dia bukan dari kalangan orang kaya, dia juga tidak secantik para wanita yang mengejar Adit, maka wajar saja dia cukup pesimis dengan dirinya sendiri.