My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
27. (27)



Mas Adit mengantar ku dengan mobil sportnya yang merah menyala, terlihat sangat mencolok dan keren. Aku bahkan merasa lebih keren dan bangga karena bisa duduk di dalam mobil sekeren ini. Di jalan aku sempat berhenti di depan supermarket untuk membeli buah-buahan untuk keluargaku. Semalam aku menelpon Paman dan memintanya untuk datang ke rumah hari ini. Aku ingin mengatakan sesuatu kepada mereka karena dulu mereka selalu ada untuk keluargaku dikala susah dan senang.


Berhubung ada banyak orang di rumah, aku juga membeli banyak makanan ringan, beras, sayuran, dan keperluan rumah untuk Paman bawa pulang nanti. Aku juga pergi menarik uang di ATM untuk Paman belanjakan. Walaupun tidak banyak, aku pikir uang ini cukup untuk keperluan mereka selama dua atau tiga bulan.


"Sudah puas belanjanya?" Mas Adit selama di dalam supermarket tidak pernah berbicara sedikitpun.


Dia seperti batu berjalan, mengikuti ku kemana-mana sambil mendorong keranjang belanjaan ku tanpa mengeluh. En, sesekali orang-orang akan melihat kami dan aku juga sempat mendengar bila mereka mengatakan bila kami adalah pasangan suami-istri yang baik.


"Sudah, mas. Aku sangat puas." Kataku sembari menggaris senyuman manis kepadanya.


Dia menggelengkan kepalanya tampak tidak berdaya. Mungkin dia berpikir bila wanita agak merepotkan kalau soal belanja.


"Awas!" Mas Adit tiba-tiba menarik lenganku hingga aku jatuh ke dalam pelukannya.


Dan wush


Punggung belakang ku tiba-tiba menjadi dingin saat merasakan hembusan angin melewati ku. Aku melirik ke samping dengan grogi dan melihat sebuah kereta dorong bergerak cepat tanpa ada pemiliknya. Itu memang hanya kereta dorong dan bukan mobil, tapi dengan kecepatan itu bila mas Adit tidak segera menarik ku, maka keseleo selama satu atau dua minggu adalah kemungkinan yang bisa ku dapatkan.


Aku sangat ketakutan. Hatiku berdebar kencang. Kedua tanganku yang mencengkeram kuat baju mas Adit telah berkeringat dingin entah sejak kapan hingga membuat kemeja mas Adit kusut.


"Apa kamu tidak apa-apa?" Bisiknya bertanya kepadaku.


Aku mengangkat kepalaku menatapnya, dengan jarak sedekat ini, aku bisa merasakan hembusan nafas hangatnya yang sangat stabil dan berbanding terbalik dengan ritme nafasku yang bergerak memburu. Hampir, hampir saja aku mengalami kecelakaan. Bila laki-laki ini tidak menarik ku ke sisinya, maka mungkin aku saat ini telah berbaring di rumah sakit.


"Tidak apa-apa." Jawabku sembari mengatur nafasku yang masih memiliki ritme berantakan.


"Yah," Kurasakan kedua tangan kuatnya melingkari punggung ku, menekan punggungku hingga aku sepenuhnya jatuh ke dalam pelukan hangat mas Adit. Hangat, rasanya hangat. Hatiku yang panik segera ditenangkan oleh sentuhan hangat mas Adit.


"Hampir saja." Bisiknya tepat di samping telingaku.


Aku lengah, aku tidak menyadari bila kepala mas Adit kini sudah berada di atas pundak ku. Rambut pendeknya bergesekan dengan ujung telingaku dan nafasnya yang hangat... tengkukku sekali lagi merasa sensasi aneh yang aku rasakan tadi subuh. Rasanya aneh, tapi anehnya lagi aku merasa candu dan menginginkan lebih.


"Mas Adit?" Kedua tanganku gemetaran ringan.


Rasanya sulit mempercayai apa yang sedang aku rasakan sekarang. Tidak seperti suara mas Adit yang sangat tenang, ritme jantung mas Adit yang ku rasakan agak menggebu-gebu. Aku heran dan bertanya-tanya mengapa mas Adit memiliki debaran jantung yang begitu kuat?


Apakah karena dia takut terjadi sesuatu kepadaku atau apakah karena dia juga memiliki perasaan kepadaku?


Apakah dari salah satu yang ku pikirkan ini dirasakan oleh mas Adit?


Apakah aku boleh berharap sedikit saja, Tuhan?


"Jangan takut. Ada aku di sini." Bisiknya menenangkan ku.


Begitu mendengar suara lembutnya menghiburku, entah kenapa semua beban yang kurasakan segera berkurang. Rasanya seolah-olah aku memikul sebuah beban berat di pundak ku, beban berat itu membuatku kesusahan. Tapi tiba-tiba mas Adit datang kepadaku dan mengambil beban itu dariku, menjadikan pundaknya sebagai tempat untuk menanggung semua beban yang ditanggung pundak ku.


Rasanya sungguh sangat melegakan.


"Aku tidak takut, mas. Aku tidak takut karena mas Adit selalu ada bersamaku." Bisik ku lembut.


Hatiku tersentuh. Hanya dengan kata-kata saja mas Adit mampu menghilangkan keresahan hatiku. Tuhan betapa aku mencintai laki-laki ciptaan Mu ini. Setiap kali dekat dengannya dia selalu punya cara u yang membuatku terjatuh dalam pesonanya, terlena dalam sentuhan suaranya, dan semakin jatuh sejatuh-jatuhnya dalam cintanya. Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Aku semakin menyukainya, aku semakin mencintainya! Dengan perasaan sedalam ini apakah aku rela melepaskannya hidup bahagia bersama dengan pasangannya kelak?


Apakah aku akan rela?


Bila ku patah hati karena tidak bisa menggapainya, apakah luka di hatiku mudah disembuhkan seperti luka hati yang diciptakan oleh mantan suamiku?


Apakah aku bisa bertemu cinta yang lain bila aku tidak mampu menggapai cinta mas Adit?


Apakah... apakah aku bisa merasakan kebahagiaan seperti yang kurasakan setiap kali bersama mas Adit?


Apakah aku bisa ya Tuhan?


"Hei,"


Mas Adit menyentuh dagu ku dan mengangkatnya ke atas agar aku bertatap muka dengannya.


Wajah tampannya tampak cemberut. "Apa yang membuatmu menangis?" Tanyanya kepadaku dengan suara yang sangat lembut.


Kelembutan ini belum pernah aku dengar sebelumnya dari mas Adit. Bahkan aku tidak pernah membayangkan bila mas Adit memiliki sisi selembut ini. Suara yang lembut, ekspresi mengkerut karena khawatir dan sorot mata cemas itu, aku belum pernah melihatnya dari mata siapapun kecuali dari mata manusia batu ini.


"Hem, apa yang membuat mu menangis?" Ibu jarinya bergerak menghapus air mataku.


Ah, aku menangis?


Kenapa aku menangisi?


"Bukankah aku sudah mengatakannya bila kamu tidak perlu merasa takut sebab aku akan selalu bersamamu." Dia mengulangi kata-kata yang sama dengan mata penegasan.


Aku menghirup udara bebas di sekelilingnya. Kedua tanganku yang gemetar tidak pernah melepaskan kain kemeja mas Adit.


"Aku...tidak takut...aku bersama mas Adit. Terima kasih, mas." Mana mungkin aku menceritakan kegelisahan hatiku?


Aku ini mencintaimu, mas, tapi aku takut apa yang kurasakan tidak sama dengan apa yang kamu rasakan kepadaku. Aku ini seorang janda, mas, aku juga bukan wanita yang suci, aku sangat menyadari kekurangan ku ini. Tapi apa yang harus aku lakukan kepadamu, mas?


Aku mencintai kamu, aku masih saja mencintai kamu disaat aku sangat menyadari kekuranganku dan kelebihan mu. Aku takut...tapi aku tidak bisa menahan perasaan yang aku rasakan kepadamu, mas. Lalu apa yang harus aku lakukan?


Aku mungkin tidak mampu melepaskan perasaaan ini dan aku bahkan tidak mampu membayangkan kamu bersanding dengan wanita lain. Sungguh, betapa hina nya aku, mas. Aku sungguh hina!


"Kamu aneh. Kamu bilang tidak takut selama bersamaku tapi mengapa air matamu tidak berhenti keluar? Apa yang sedang kamu pikirkan, Anggi? Jika kamu tidak mengatakannya aku mungkin tidak mengerti apa yang membuatmu menangis?" Mas Adit mengeluh kepadaku tapi Ibu jarinya tidak pernah berhenti mengusap wajahku.


"Aku..." Aku tidak mungkin mengatakannya.


"Aku yah...aku akui bila aku sedikit takut, mas. Aku tadi hampir saja dilarikan ke rumah sakit bila mas Adit terlambat sedetik saja menyelamatkan ku." Jawabku berbohong.


Dia menatapku dengan pandangan penilaian, mungkin dia tidak mempercayai ku tapi juga tidak tahu harus bagaimana agar dia bisa mempercayai ku.


"Kamu jelas berbohong." Dan yah, seperti yang aku duga dia tahu bahwa aku sedang membohonginya.


Aku tersenyum tidak berdaya. Dia tahu maka dia akan tahu tapi aku tidak akan pernah mengatakan alasan kenapa aku berbohong.


Meskipun aku panik dan cemas bila mas Adit tidak menyukai caraku ini tapi ini lebih baik daripada mas Adit menjauhiku.


Hem, mas Adit tidak pernah dekat dengan wanita manapun jadi aku tahu bila dia sangat anti terhadap wanita apalagi wanita yang secara terang-terangan menunjukkan perasaannya. Daripada tersentuh mas Adit lebih merasa jijik dan ilfill. Dia risih bertemu dengan wanita seperti itu.


Dan bodohnya lagi wanita yang tidak disukai mas Adit sekarang ku duduki entah sejak kapan. Aku menyukainya dan aku berharap Tuhan tidak mengungkap kan perasaan yang kurasakan kepada mas Adit.


"Tapi tidak apa-apa. Aku tidak akan mendesak mu untuk mengatakan apa yang kamu sembunyikan dariku. Tapi suatu hari nanti Anggi, aku akan membuatmu mengatakan semuanya sendiri tanpa punya tempat untuk bersembunyi." Ancam mas Adit kepadaku.


Ketika mengatakan ancaman ini sorot mata mas Adit sangat berbeda, entahlah, aku memiliki perasaan sedang ditatap oleh seekor serigala. Aneh bukan, perasaan ini berlebihan kan, tapi inilah yang kurasakan saat melihat sorot matanya. Saking tajamnya aku bahkan tidak berani menatapnya terlalu lama karena takut mata ini bisa masuk ke dalam jiwaku dan melihat ruang rahasiaku.


"Aku....aku tidak bermaksud-"


"Permisi?" Sebuah suara lembut menginterupsi ucapan ku.


Ah, betapa malunya aku. Ini kan tempat umum jadi orang-orang yang lewat pasti akan melihat tindakan intim kami berdua, eh, apakah ini masih disebut sebagai tindakan intim?


Tidak...tidak, jangan pikirkan ini dulu. Pertama-tama aku melepaskan pelukanku dari mas Adit. Aku mundur beberapa langkah ke belakang tapi mas Adit menahan pinggang ku. Tangan kanannya yang masih memeluk punggungku bergerak turun ke bawah dan berhenti tepat di lingkar pinggang ku. Lalu sedetik kemudian dia melingkari pinggang ku, menarik ku lebih dekat lagi dengannya seperti tadi malam saat aku makan malam restoran hotel berdua dengan mas Adit.


"Ada apa?" Tanya mas Adit dingin.


Mas Adit sekarang kembali ke setelan mood batunya. Tampak dingin dan acuh tak acuh. Melihat sikapnya yang sangat berbeda dengan wanita lain membuat hatiku hangat dan lagi-lagi berharap bila posisiku di hati mas Adit 'agak' penting.


"Lho, mas Adit?" Wanita cantik itu mengenal mas Adit.


Penasaran, aku langsung mengangkat untuk melihat wanita itu. Dan betapa terkejutnya aku melihat wanita itu. Wanita itu sangat cantik dengan dress batik selutut di tubuhnya. Rambutnya panjang di kuncir menyamping tampak seperti gadis kuliahan yang manis.


Eh, siapa wanita ini?


Apakah mas Adit mengenalnya?


"Siapa?" Mas Adit jelas tidak mengenalnya kok!


"Ini aku, mas Adit. Bunga, mantan mas Adit di kampus dulu." Katanya mengingatkan mas Adit.


Deg


Mantan?


Dia bilang mantan?


Wanita cantik ini adalah mantan mas Adit?!


Aku...aku sudah kalah telak dengan wanita ini! Dia adalah mantan mas Adit dan memiliki peluang besar untuk berhubungan lagi dengan mas Adit! Di tambah lagi wanita ini sangat cantik, tidak hanya cantik tapi dia sangat, sangat cantik!


Dia sangat cantik seperti namanya. En, Bunga. Aku sepertinya sekarang tahu kenapa mas Adit menolak para wanita itu. Seperti yang aku pikirkan ternyata mas Adit belum mendapatkan wanita yang cocok dihatinya. Dan lihatlah wanita cantik ini. Kecantikannya Singh tiada banding dengan mu dan para wanita itu jadi wajar saja mas Adit tidak melirik kami!


Ternyata oh ternyata tipe wanita yang disukai mas Adit sangat tinggi. Lagi-lagi aku tidak mampu menjangkaunya!


"Oh, Bunga." Tapi kok respon mas Adit biasa-biasa aja, yah?


Apa karena mas Adit ingin sok jual mahal?


Mungkin saja!


"Iya, mas!"


"Kamu ngapain ke sini?" Sangat dingin.


"Itu...aku tadi tidak sengaja melepaskan kereta dorong ku jadi aku datang ke sini untuk mengejarnya. Maaf, apa mas Adit melihatnya?"


Kereta dorong yang hampir membuatku dilarikan ke rumah sakit tadi?!


"Oh, jadi itu milikmu. Ya, aku melihatnya dan Anggi hampir saja mengalami kecelakaan karenanya. Apa yang kamu lakukan ini sangat berbahaya, bila kamu tidak berhati-hati kecelakaan ini pasti akan menyebabkan korban." Suara mas Adit kian dingin. Apa ini hanya perasaan ku saja?


"Anggi?" Wanita itu menggumamkan namaku?


Bunga lalu melihatku dengan tatapan penilaian. Ugh, bukankah agak tidak sopan menatap orang secara terang-terangan seperti ini?


"Siapa wanita ini, mas?" Tanya Bunga kepada mas Adit.


"Bukan urusanmu." Jawab mas Adit acuh tak acuh.


"Kamu hampir saja mencelakai orang, bukannya minta maaf fokus malah jatuh ke tempat lain." Lanjut mas Adit berbicara.


Wajah Bunga langsung terlihat baik setelah mendengar teguran mas Adit. Dia tampak tidak terima tapi sepertinya tidak mampu membantah apa yang mas Adit katakan. Ugh, mungkin dia malu dan salah paham terhadap hubunganku dengan mas Adit.


"Maafkan aku. Pikiranku lari entah kemana." Dia lalu beralih menatapku.


Tersenyum lembut seindah musim semi, tangan putih nan halusnya terulur ke depan ku.


"Namaku Bunga, mantan mas Adit di kampus dulu." Katanya sambil menekankan kata mantan, samar.


Aku langsung menjabat tangannya- sangat halus. Dia pasti rajin pergi perawatan dan mungkin jarang melakukan pekerjaan rumah.


"Aku Anggi, senang bertemu denganmu." Kataku sambil memaksakan senyum kepada saingan terbesar cintaku!


Ya Tuhan, Sera saja sudah cukup mengancam apalagi di tambah dengan wanita ini lagi. Aku benar-benar tidak memiliki peluang untuk berjuang!


"Oh, aku minta maaf bila kereta dorong ku hampir saja menyakitimu. Sungguh, aku tidak melakukannya dengan sengaja." Kataku terlihat tulus.


Aku memaksakan senyum untuk yang kedua kalinya lagi.


"Ah, tidak apa-apa. Lagipula mas Adit membantuku menghindari kereta dorong itu." Kataku tidak enak.


Aku tidak tahan dengan pancaran kecantikan Bunga yang luar biasa sangat menyilaukan!


"Baiklah, kami harus segera pergi." Mas Adit menarik ku menjauh dari Bunga hingga tanganku secara mulus terlepas dari tangan Bunga.


Mas Adit membawaku ke depan mobilnya. Pertama-tama dia memasukkan semua barang-barang belanjaan ku ke kursi belakang sebelum membukakan aku pintu depan.


Tapi sebelum aku masuk, Bunga tiba-tiba mengejar kami.


"Mas Adit! Apa aku boleh minta kontak masa Adit?"


Mas Adit tidak meliriknya sama sekali. Aneh, kenapa tingkah mas Adit seperti menghindari serangan wabah?


Apa karena dia ingin menaikkan level sok jual mahalnya untuk menarik perhatian ratu lebah?


Ugh apa sih yang aku pikirkan ini!


"Aku tidak hapal kontak ku." Bohong!


Dia jelas hapal isi buku setebal koper tapi masih mengaku tidak hapal kumpulan nomor yang tidak seberapa?


Sungguh taktik yang bagus!


Bunga tidak menyerah. Dia sangat gigih seperti Sera, mereka tidak mudah menyerah begitu saja!


"Kalau begitu email-"


"Hanya diperuntukkan untuk bisnis." Potong mas Adit tanpa menunggu Bunga menyelesaikan ucapannya.


Bunga mulai cemberut,"Kalau begitu aku akan memberikan nomor kontak ku-"


"Maaf, aku sedang terburu-buru. Aku harus ke rumah Anggi karena Ibu dan Ayah sudah menunggu kami di sana. Selamat siang." Potong mas Adit untuk yang kedua kalinya.


Kejamnya!


Mas Adit sangat kejam. Setelah melihat semua penolakan mas Adit tadi aku sekarang tidak yakin bila mas Adit masih memiliki perasaan kepada Bunga. Tapi...tapi dia sangat cantik!


Dia terlalu cantik untuk diabaikan.


Ketika mobil mas Adit menjauh aku diam-diam mengintip keluar jendela untuk melihat Bunga. Di luar sana Bunga terlihat sangat kesal. Dia menghentakkan hak tingginya marah sebelum pergi ke mobilnya yang diparkir tidak jauh tempat kami berada.


Eh, mobilnya tidak jauh dari tempat kami berada, sungguh aneh. Aku merasa ada sesuatu yang salah di sini.


"Dia memiliki niat yang buruk kepada mu. Lain kali kamu bertemu dengannya, kamu harus segera menghindarinya." Kata mas Adit tiba-tiba.


Dia sepertinya melihat juga ada sesuatu yang salah dengan Bunga.


"Wanita manapun yang cemburu pasti memiliki sesuatu yang buruk di dalam kepalanya. Seperti Bunga, dia mungkin masih menyukai mas Adit dan menganggap ku adalah batu sandungan nya." Kataku menjelaskan singkat bagaimana kekuatan cemburu seorang wanita itu bekerja.


Bunga pasti masih memiliki perasaan kepada mas Adit. Lihat saja apa yang telah dia lakukan hari ini kepadaku. Mungkin dia tidak bermaksud jahat karena ini mungkin dorongan kecemburuannya saja.


"Aku tidak perduli apakah dia cemburu atau tidak. Selama dia berniat melakukan sebuah kejahatan, aku pikir dia tidak pantas untuk diperhatikan." Kata mas Adit acuh tak acuh.


"Mas Adit tidak merindukannya? Dia mungkin masih memendam perasaan lama diantara kalian." Kataku hati-hati.


Mas Adit melirikku, tersenyum simpul, dia kembali membawa pandangannya menatap ke jalanan.


"Bahkan mengingatnya saja aku tidak yakin apalagi sampai mempertahankan perasaan dulu." Kata mas Adit geli.


Mas Adit sepertinya tidak menganggap Bunga orang yang penting. Entahlah siapapun yang ada di posisi Bunga pasti akan merasa sedih. Tapi aku pribadi justru senang di sini karena kecantikan luar biasa Bunga nyatanya tidak mempan lagi untuk mas Adit.


"Bunga wanita yang cantik." Kataku mengakui.


"Heh, benarkah? Menurutku dia biasa-biasa saja." Sungguh sangat dingin!


Bila Bunga saja yang memiliki kecantikan luar biasa tampak biasa-biasa saja di mata mas Adit, lalu bagaimana dengan ku yang memiliki kecantikan rata-rata dibandingkan dengan Bunga?


Oh astaga, aku bahkan mencoba bersaing dengan kecantikan peri itu!


"Ngomong-ngomong kenapa mas Adit putus dengan Bunga?" Ah, aku akhirnya berani bertanya!


Ini adalah poin yang sangat sensitif untuk beberapa orang tapi aku yakin mas Adit tidak terlalu menganggapnya serius.


"Dia bukanlah wanita yang ku cari." Ini hanyalah jawaban yang singkat, tidak menyentuh hati apalagi memiliki nilai melankolis.


Malah jawaban ini terkesan standar dan biasa-biasa saja tapi memiliki makna yang sangat dalam untuk hati.


Bukan wanita yang dicari oleh mas Adit?


Bila Bunga, wanita cantik ini bukanlah wanita yang mas Adit cari lalu seperti apa wanita yang mas Adit cari?


Mungkinkah wanita itu berada di atas level Bunga?


Aku sangat penasaran tapi aku tidak berani bertanya langsung kepada mas Adit. Takutnya aku kecewa mendengar jawabannya karena tidak bisa memenuhi kriteria mas Adit sendiri.


Setelah itu aku tidak bertanya lagi dan mas Adit pun tidak berbicara. Topik pembicaraan kami hanya sampai di sini saja. Rasanya canggung tapi sejujurnya agak damai karena aku berada di sisi mas Adit.


Sebelum pulang ke rumah aku dan mas Adit pertama-tama menjemput anak-anak terlebih dahulu. Dan sekali lagi penampilan mobil mas Adit yang mencolok sangat menarik perhatian banyak orang. Memang benar sekolah swasta di sini lebih diutamakan untuk orang-orang kaya yang suka membuang uang di tempat yang benar, para orang tua pun sangat kaya dan terkadang memiliki penampilan yang sangat mencolok. Tapi belum pernah ku lihat satupun wali murid yang membawa mobil semenarik milik mas Adit. Mereka mungkin punya mobil mahal tapi masih kalah saing dengan milik Adit.


Jadi wajar saja kedatangan mas Adit begitu menarik perhatian mereka.


En, pergi menjemput anak-anak bersama mas Adit, kami tidak berbeda dengan keluarga harmonis di luar sana. Ku dengar orang-orang mulai berbisik bila kami adalah pasangan suami-istri yang sangat mesra dan serasi.


Ugh, ini memalukan. Aku tidak tahu bagaimana reaksi mas Adit mendengar gosip orang-orang itu. Ku harap di tidak marah.


"Mama! Papa!" Teriakan anak-anak hampir saja membuatku jantungan.


Siapa yang mereka panggil Papa?! Beraninya mereka meng-klaim mas Adit sebagai Papa!


Mas Adit langsung melirikku.


"Kapan kamu mengajari mereka untuk memanggil ku sebagai Papa?" Tanya mas Adit membuatku sangat malu semalu malunya!


Aku menoleh ke arahnya dengan kaku. Leherku sangat sulit digerakkan, entah kenapa.


"Aku tidak pernah mengajari mereka, mas. Aku... tidak berani melakukannya!" Aku menjelaskan dengan bersungguh-sungguh tanpa ada kebohongan sedikitpun.


Mas Adit menyipitkan matanya, tampak menilai ku, aku bahkan sampai menelan ludahku berkali-kali untuk meredakan suasana hatiku yang diliputi kecemasan.


Apakah mas Adit akan marah kepadaku?


"Yah, anak-anak jauh lebih cerdas daripada kamu. Mereka tahu siapa yang lebih baik menjadi Papa mereka."


Eh,


Apa yang mas Adit katakan- tidak, apa maksud mas Adit mengatakan ini?


Kenapa aku merasa bila kata-kata mas Adit agak dejavu, yah? Tapi aku tidak yakin, apa ini hanya perasaan ku saja?


"Aku...aku akan mengajari mereka untuk merubah-"


"Tidak perlu," Potong mas Adit, menatapku dengan sorot mata yang berbeda, beberapa detik kemudian sebuah senyuman lebar terbit di wajah tampan mas Adit,"Aku menyukai panggilan mereka."


Deg


Deg


Deg


Aku spontan mengalihkan perhatianku menjauh dari mas Adit. Menundukkan kepalaku panik, jantungku kembali dilanda euforia yang sangat mendebarkan. Darahku berdesir panik seiring suhu wajahku menjadi panas. Ini sangat panas, aku yakin warnanya pasti sudah memerah seperti kepiting rebus, oh aku sungguh memalukan!


"Ma, wajah Mama kok merah?" Suara heran Aldo menarik ku dari pikiran ku.


Aku sangat malu. Aku gatal ingin mencubit mulut putraku tapi semua angan-angan panik ku segera teralihkan saat mendengar suara tawa rendah milik mas Adit.


Kaget, aku sontak mengangkat kepalaku untuk melihatnya. Mas Adit benar-benar tertawa. Tangan besarnya menutupi mulutnya tapi matanya selalu tertuju kepadaku.


Deg


Deg


Deg


Jantungku kembali membuat ulah. Dan pipiku...en, rasanya semakin panas saja. Jika seperti ini terus aku tidak punya wajah untuk melihat mas Adit lagi. Jadi aku buru-buru memutar otak ku untuk membuat skenario penyelamatan diri.


"Ayo... ayo pulang. Kakek dan nenek sudah menunggu kalian pulang." Kataku sembari mendorong anak-anak masuk ke dalam mobil.


Aku menggeser semua barang-barang yang ada di kursi belakang hingga menyisakan tempat untuk anak-anak ku duduk. Setelah mereka duduk dengan aman dan nyaman, aku lalu duduk di kursi depan. Setelah itu barulah mas Adit mulai menjalankan mobilnya.


Sepanjang jalan celotehan anak-anak terdengar sangat hidup di dalam mobil. Sesekali mas Adit akan menimpali mereka dan sesekali aku juga akan menimpali mereka. Meskipun aku merasa canggung karena situasi di depan sekolah, tapi bersama dengan anak-anak membuat rasa canggung yang kurasakan setidaknya tertolong dan tersamarkan.


Hem, anak-anak aku adalah solusi praktis yang Tuhan kirimkan kepadaku.


Saat memasuki komplek perumahan tempat tinggal ku, tiba-tiba aku melihat Bibi, Tina, dan Widia yang sedang berjalan di pinggir jalan. Ekspresi di wajah mereka tampak muram dan aku tidak perlu bertanya mengapa mereka seperti itu. Tentu saja tujuan mereka pasti ke rumahku dan mungkin Ibu ataupun Ayah tidak memberikan respons yang baik kepada mereka.


Hah, melihat mereka seperti ini aku sejujurnya sangat penasaran apa yang ada di dalam kepala orang-orang ini?


Bukankah sudah jelas bila aku tidak akan memberikan mereka apapun yang mereka inginkan dariku?


Tapi kenapa mereka begitu gigih sekali dan mengganggu kenyamanan keluargaku?


Sungguh tidak tahu malu..


"Jangan khawatir, mereka tidak akan bisa lagi mengganggu mu di masa depan. Mereka tidak akan memberikan Ibu dan Ayah masalah lagi." Lagi-lagi suara mas Adit menghibur kecemasan di dalam hatiku.


Hah, lagi-lagi mas Adit bersikap terlalu baik kepadaku. Jika dia terus seperti ini lama-lama aku akan berhalu bila mas Adit sebenarnya menyukai ku!


"Terima kasih, mas. Apakah mas Adit sudah tahu bila mereka pergi ke rumahku?"


Mas Adit mungkin tahu tapi kenapa dia tidak memberitahu ku sedari tadi?


"Anak buah ku sudah mengurus mereka." Seperti yang diharapkan. Mas Adit telah melakukan tindakan terlebih dahulu. Mas Adit terlalu baik dan mau tidak mau hatiku semakin jatuh kepadanya.


"Terima kasih, mas. Mas Adit sangat baik kepadaku. Tapi mas Adit tidak perlu melakukan ini karena aku tidak ingin membuat mas Adit repot." Mas Adit sangat sibuk. Dia jarang punya waktu untuk bersantai.


Aku tidak mau karena masalah keluargaku membuat mas Adit terbebani dan aku juga tidak mau mas Adit membuang-buang waktunya hanya untuk meladeni orang-orang itu. Menurutku ini agak tidak pantas.


"Bukan masalah besar. Lagipula yang bekerja adalah anak buah ku." Kata mas Adit acuh tak acuh.


Aku menggelengkan kepalaku tidak berdaya. Mas Adit...aku tidak bisa berkata-kata dibuatnya.


En, mas Adit adalah laki-laki yang sangat baik dan siapapun wanita beruntung di masa depan yang akan bersanding dengannya pasti sangat luar biasa hingga membuat hati mas Adit luluh.


Saat itu terjadi, aku pasti akan sakit hati dan patah hati. Meskipun aku tidak ingin menjadi orang yang munafik, tapi harus ku akui bila mas Adit pantas mendapatkan orang yang pantas untuknya.


"Apa yang sedang kamu lamun kan?"


Aku tertegun, tersenyum malu, aku menggelengkan kepala ku tidak berdaya. Hari ini aku sering sekali jatuh melamun di depan mas Adit.


"Bukan apa-apa, mas." Kataku berbohong.


Dia tidak mengatakan apa-apa tapi mungkin dia tahu bila aku sedang berbohong. Sungguh, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk ruang rahasiaku ini karena orang yang menjadi topik rahasiaku adalah mas Adit sendiri, manusia baru yang telah lama menguasai hatiku.


...🌪️🌪️🌪️...


Akhirnya mereka sampai di rumah. Di luar rumah, Ibu, Ayah, Paman, Bibi, dan Rangga telah berdiri menunggu kedatangan mereka. Mereka semua dibuat takjub oleh mobil sport merah Adit yang sangat berkelas dan mewah. Mobil ini biasanya mereka lihat di televisi saja.


Jadi sekali-kalinya mereka lihat di dunia nyata, mulut mereka praktis terbuka antara kagum juga ingin menyentuh.


Terutama reaksi Rangga. Dia masih remaja dan baru saja lulus SMA. Karena keterbelakangan biaya sekolah dia tidak bisa lanjut ke bangku perkuliahan dan hanya bisa menjadi kuli di tempat tinggalnya. Dia adalah anak laki-laki yang memiliki cita-cita tinggi. Dia sangat berambisi terhadap barang-barang apapun yang bersangkutan dengan laki-laki dan tidak terkecuali untuk mobil sport. Dulu dia hanya bisa meratapinya dari televisi ataupun dari internet. Seringkali berkhayal bisa menyentuh atau mengendari mobil mahal ini. Tak disangka dalam hidup ini dia memiliki kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana mewahnya mobil ini di depan mata kepala sendiri.


Dia sangat senang. Lututnya gemetaran karena senang tapi dia tidak memiliki keberanian untuk menyentuh sisi mobil Adit karena takut membuatnya lecet.


"Assalamualaikum, aku pulang." Salam Anggi sopan kepada semua orang.


Dia membantu anak-anak turun, mengambil barang-barang di kursi belakang sedangkan Adit sendiri menurunkan barang-barang yang ada di bagasi.


Melihat semua barang-barang berat itu, Rangga memberanikan diri untuk menawarkan bantuan kepada Adit dan langsung diberikan persetujuan oleh Adit.


Rangga sangat senang karena bisa sedekat ini dengan mobil impiannya meskipun hanya bisa melihatnya dan tidak bisa menyentuhnya.


"Anggi, kenapa kamu membawa barang sebanyak ini?" Ibu sangat senang melihat putrinya pulang dan merasa heran melihat semua barang-barang yang Anggi bawa.


Belum lagi barang-barang yang Rangga angkut dari dalam mobil Adit, jumlahnya sangat banyak dan tampak menghabiskan banyak uang.


"Bu, hari ini aku sangat senang karena Paman dan Bibi akhirnya mengunjungi kita jadi aku tidak menahan diri saat berbelanja." Kata Anggi mengundang tawa bangga Ibu dan Ayahnya.


Tentu saja mereka bangga dengan sikap sopan santun putri mereka, menghargai kebaikan orang tua dan tidak melupakannya setelah berpijak ke tempat yang tinggi.


"Dasar anak nakal. Pergilah, sapa Paman dan Bibi mu." Ibu mendorong punggung putrinya ke arah Paman dan Bibi, pasangan paruh baya yang kini tengah tersenyum lebar menatapnya.


Anggi mungkin bukan anak mereka tapi mereka telah lama menganggapnya sebagai anak sendiri. Terlebih lagi Anggi adalah anak yang sopan dan ramah kepada mereka yang telah tua.


"Selamat siang Paman dan Bibi, bagaimana kabar kalian?" Sapa Anggi sambil menyalami tangan Paman dan Bibi.


Paman dan Bibi lega karena Anggi tidak berubah. Mereka menyentuh kepala Anggi seperti biasa dan memeluknya dengan hangat.


"Kami baik-baik saja, Nak. Kamu sendiri bagaimana kabar mu selama ini? Paman lihat-lihat kok badan kamu lebih kecil dari terakhir kali kita bertemu?" Paman menyadari bila Anggi lebih kurus dari sebelumnya.


Dia juga tahu bila pekerjaan membuat Anggi sangat tertekan dan kehilangan banyak berat badan. Sangat disayangkan, uang memang penting tapi Paman agak menyayangkan Anggi yang kehilangan banyak berat badan.


"Akhir-akhir ini aku sering diet, Paman. Biasa masalah perempuan hehehe..." Jawab Anggi setengahnya benar.


Sejak dia bermasalah dengan suaminya, berat badan Anggi sepenuhnya merosot hingga menyentuh kata kekurangan gizi. Namun dibawah perawatan Rein dan yang lainnya, Anggi akhirnya bisa bangkit kembali dan perlahan mengembalikan berat badannya. Walaupun tidak seberisi dulu tapi bentuk tubuh Anggi saat ini jauh lebih baik daripada sebelumnya. Kali ini dia lebih ramping dan proporsi tubuhnya sesuai dengan kriteria kepala pelayan yang dia lihat-lihat dari beberapa keluarga terpandang.


"Jangan seperti ini, Nak...kamu sudah cantik dengan dirimu sendiri tanpa perlu melakukan diet atau mogok makan." Paman tidak setuju bila keponakannya semakin kurus.


Menurutnya banyak lemak berarti kebahagiaan selalu menyertai sebab Anggi tidak akan kekurangan makanan untuk dimakan. En, ini hanya kepercayaan orang dulu saja.


"Paman jangan khawatir. Aku sudah lama berhenti diet karena aku sudah cukup dengan bentuk tubuh ku sekarang."


Sementara Anggi berbicara dengan Paman dan Bibinya, Ibu justru sibuk memperhatikan Adit yang tengah mengeluarkan barang dari dalam mobil bersama Rangga. Tepat setelah Adit menutup bagasi mobil, dia buru-buru mendekati Adit, menepuk pundaknya ringan untuk menarik perhatian calon menantunya itu.


"Bu, assalamualaikum." Adit tersenyum hangat. Dia langsung menjangkau tangan keriput Ibu dan mencium tangannya.


Tindakannya sangat alami dan akrab, membuat Ibu semakin senang dan bangga kepadanya.


En, dia selalu menganggap bila Adit adalah calon menantunya atau calon suami dari putrinya sendiri.


"Nak, ayo ikut Ibu. Ibu ingin memperkenalkan kamu kepada Paman dan Bibi Anggi. Mereka adalah Kakak dari pihak Ibu dan kerabat yang paling dekat dengan Anggi." Kata Ibu menjelaskan.


Tanpa Ibu memberitahu pun Adit tahu bila pasangan paruh baya itu sangat akrab dengan Anggi karena dia bisa melihatnya sendiri dari interaksi mereka bertiga.


"Kakak," Ibu buru-buru menarik Adit agar bergabung dengan mereka.


Dia lalu memperkenalkan Adit kepada mereka semua dengan perasaan bangga.


"Ini namanya Adit, laki-laki yang ku ceritakan kepada kalian sebelumnya." Kata Ibu.


Paman dan Bibi sontak mengarahkan mata mereka kepada Adit. Adit segera menganggukkan kepalanya kepada mereka sebagai sapaan dan dengan sopan menjangkau tangan mereka untuk dicium.


Paman sangat senang dengan sikap sopan Adit dan tidak bisa menahan diri untuk berkata,"Nak, kamu sangat sopan. Paman pikir kamu jauh lebih baik daripada mantan suami Anggi dulu. Paman setuju bila kalian menikah. Ngomong-ngomong kapan kalian menikah?"


Anggi langsung tercengang begitu mendengar perkataan Paman. Dia panik dan buru-buru melambaikan tangannya membantah apa yang dikatakan Paman. Dia ingin mengklarifikasi kesalahpahaman yang Ibunya buat.


"Paman salah paham. Apa yang Ibu bilang itu tidak-"


"Secepatnya. Kamu akan menikah bila waktunya sudah tiba. Paman dan Bibi tenang saja, jika Anggi sudah siap nanti aku akan langsung memberitahu kalian." Potong Adit masih dengan suara yang hangat tapi senyumannya kali ini lebih lebar dari sebelumnya.


Anggi jelas tidak menduga jawaban Adit. Dia pikir Adit akan marah atau menolak menjawab tapi siapa sangka Adit malah mengakuinya. Untuk sesaat Anggi linglung, dia tidak tahu harus merespon apa karena hatinya sungguh berharap bila apa yang dikatakan Adit adalah benar adanya. Dia berharap bila Adit.... sebenarnya tidak berbohong.


"Hahaha syukurlah, aku tahu kamu adalah laki-laki yang mampu dan hebat.. Tolong jaga Anggi baik-baik dan jangan kecewakan dia di masa depan." Paman memang tertawa tapi kedua bola matanya sudah memerah.


Anggi adalah putrinya, dia sudah menganggapnya sengaja putrinya sebab dia hanya memiliki satu anak saja, yaitu Rangga, putranya. Jadi melepaskan Anggi bersama dengan laki-laki lain sangat berat untuk Paman. Akan tetapi dia tenang karena orang yang akan menikahi Anggi adalah laki-laki baik, yang sangat baik, dan sungguh sangat baik. Anggi harusnya bahagia.


Sama seperti apa yang Paman rasakan, Ibu maupun Ayah juga merasakan hal yang sama. Mereka sejujurnya kaget Adit mengatakan kesediannya sebab Anggi selalu mengatakan bila mereka tidak punya hubungan apa-apa selama ini.


"Jangan khawatir, Paman. Anggi adalah sumber kebahagiaan ku jadi mana mungkin aku menyakiti sumber kebahagiaan ku? Aku tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh mantannya dulu." Janji Adit bersungguh-sungguh.


Anggi bahkan sampai tertipu dengan ekspresi dan nada suaranya yang bersungguh-sungguh. Dia bertanya-tanya apa yang harus dia katakan nanti kepada keluarganya bila mereka tahu bila Adit sebenarnya hanya berpura-pura saja?


Namun tetap saja, semua yang Adit katakan telah membuatnya sangat malu. Kedua pipinya memerah karena tersipu dan kedua lututnya mulai lemas tanpa alasan. Salah tingkah dengan godaan keluarganya, dia buru-buru meminta izin masuk ke dalam rumah untuk berganti baju. Padahal faktanya dia ingin melarikan diri dari semua orang!


"Papa, kenapa wajah Mama merah lagi? Apa dia sakit?"


Bug


Anggi hampir saja menabrak pintu masuk rumahnya jika dia tidak langsung memegang sisi pintu.


"Anak ini sangat suka mempermalukan ku di depan mas Adit!" Gumam Anggi kesal sekaligus gemas ingin mencubit pipi Aldo.


Tapi suara tawa rendah dari mas Adit langsung membuat telinga Anggi menjadi panas. Dia sangat malu dan langsung melanjutkan pelariannya tanpa sempat mengurus nakal itu.


"Dia sangat pemalu." Bisik Adit sambil melihat punggung ramping itu perlahan menghilang dari pandangannya.