
Davin tercengang melihat sikap jutek Rein dan sebelum bisa mengatakan apa-apa, Rein sudah masuk ke dalam rumah bersama anak-anak. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ingin menyusul Rein masuk ke dalam rumah tapi suara asing seseorang mengintrupsi langkahnya.
"Davin!" Teriak suara itu dan disusul oleh suara hak tinggi yang berbenturan dengan semen badan jalan.
Davin mengerutkan keningnya seraya mengalihkan pandangannya ke arah halaman depan. Di bahu jalan ia melihat sebuah mobil Porsche keluaran terbaru terparkir mencolok, lalu di depan mobil tersebut berjalan wanita cantik dan seksi dengan langkah anggunnya yang menyenangkan mata.
Awalnya dia tidak mengenali siapa wanita yang memanggilnya ini. Dilihat dari senyuman lebar di bibirnya, wanita ini pasti mengenalnya. Tapi Davin tidak ingin pernah melihatnya.
Sampai suara tajam dengan nada jutek Rein beberapa saat yang lalu menyelamatkannya dari kebingungan.
Rein menghentikan langkahnya, tersenyum sinis,"Oh, kebetulan sekali. Aku baru ingin memberitahumu jika tunangan mu ada di depan untuk mencari mu." Ucapnya acuh tak acuh.
Davin langsung tercerahkan. Kekasihnya yang berhati lembut sedang terbakar cemburu karena Anya, yang tidak lain dan tiada bukan 'tunangan' nya tiba-tiba datang bertamu ke rumah mereka hari ini.
Davin tersenyum kering ketika mengingat sikap jutek dan nada acuh tak acuh kekasihnya. Bohong bila Davin mengatakan bahwa ia tidak bahagia. Dia tentu bahagia karena kekasihnya cemburu tapi disisi lain Davin juga kesal karena kedatangan Anya pasti akan membuat Rein salah paham lagi dan lagi.
"Babe, nomor kamu dihubungi kok gak aktif?" Anya bertanya dengan nada manja kepada Davin, mengabaikan ekspresi muram Davin yang tidak menyambut baik kedatangannya.
Penampilan Anya sangat baik dan ia pun cantik. Ditambah lagi karena profesinya sebagai model kecantikan dan bentuk tubuhnya dirawat dengan hati-hati sehingga terlihat tidak memiliki kekurangan.
"Ngapain kamu ke sini? Aku kan sudah bilang kalau kita tidak pernah punya hubungan apa-apa jadi kamu tidak harus bersikap sok mesra di depan ku." Ujar Davin muram dengan nada dinginnya.
Anya dan Davin terlibat sebuah perjodohan. Mereka bertunangan karena desakan kedua keluarga. Untuk Davin sendiri tunangan itu tidak ada gunanya karena wanita yang dia cintai adalah Rein dan akan selalu menjadi Rein. Tapi fakta ini justru sebaliknya tidak terjadi kepada Anya.
Dia tulus menyukai Davin. Dia sangat senang dijodohkan dengan orang yang dia sukai. Tapi selama bersama Davin selalu memberikannya bahu dingin dengan rasa jarak yang menakutkan. Padahal Anya berjuang menggapai cinta Davin, berjuang keras menggeser posisi Rein dari dalam hati Davin.
Namun, perjuangan Anya nyatanya masih belum membuahkan hasil jadi dia memutuskan untuk menandatangani kontrak dengan perasaan model ternama di luar negeri sambil berharap hati Davin terketuk untuk merindukannya.
Tapi apa yang Anya dapatkan di sana?
5 tahun di luar negeri dan selama itu pula Davin tidak pernah mengambil inisiatif untuk menghubunginya. Kecuali beberapa bulan yang lalu ketika Davin tiba-tiba mengatakan,
"Aku tidak ingin melanjutkan hubungan palsu ini lagi karena aku akhirnya berhasil menemukan kekasihku. Bila waktunya tepat aku akan memberitahu Kakek untuk membatalkan pertunangan kita, selamat tinggal."
Saat itu Anya langsung jatuh ambruk karena patah hati. Dia menangis tidak mau menerima pemutusan sepihak dari Davin. Dia tidak ingin kehilangan Davin. Maka dari itu dia segera mengurus surat pengunduran dirinya yang memerlukan banyak waktu karena masa kontraknya masih belum habis dan masih ada beberapa brand ternama yang harus dia selesaikan.
Barulah sampai hari ini Anya bisa bertemu secara langsung dengan Davin. Tapi malang sekali, kedatangannya ternyata tidak disambut dengan baik oleh Davin.
"Davin," Anya meremat tangannya merasakan getir di dalam hatinya.
"Aku mau bicara sama kamu." Pinta Anya lembut.
Dibandingkan Rein, sejujurnya Anya adalah partner yang baik untuk menjalankan kehidupan rumah tangga karena dia adalah wanita ceria yang suka dimanjakan.
Tapi Davin jelas tidak cocok dengan seseorang yang memiliki banyak warna. Dia lebih suka Rein, apapun yang berhubungan dengan Rein dia pasti akan menyukainya. Apalagi ketika melihat betapa tulus perhatian Rein kepada anak-anak, Davin semakin diyakinkan bahwa Tuhan memang menciptakan Rein dari tulang rusuknya.
"Apalagi yang mau dibicarakan?" Davin bertanya tidak sabar.
Dia gelisah memikirkan Rein di dalam sana. Ingin sekali ia masuk ke dalam untuk menenangkan kekasihnya itu tapi ia tidak bisa melakukannya karena Anya sepertinya cukup sulit untuk disingkirkan.
Kedua mata Anya memerah menahan air mata,"Aku...gak mau pisah dari kamu." Bisiknya tapi masih bisa didengar oleh Davin.
"Seumur hidupku kamu adalah orang pertama yang menghargai ku sebagai seorang wanita. Kamu tidak memperlakukannya seperti mantan-mantan ku yang dulu." Kata Anya dengan perasaan melankolis.
Davin tidak pernah menyentuhnya, kecuali ciuman yang direncakan malam itu di depan hotel, Davin selebihnya tidak melakukan apa-apa kepadanya. Anya sejujurnya kecewa karena laki-laki lainnya pasti akan membawanya ke atas ranjang meminta untuk dipuaskan. Tapi Davin tidak pernah melakukannya. Bersama Davin, dia merasa sangat dihormati sebagai perempuan tapi agaknya sedikit kecewa karena Davin begitu enggan menyentuhnya.
Padahal karena profesinya banyak laki-laki yang menawarkan kehangatan di atas ranjang untuk berbagi kesenangan. Tapi ia sungguh tidak menyangka Davin tidak pernah memiliki pikiran ini di dalam hatinya.
Seringkali di malam tanpa tidur karena insomnia dia bertanya-tanya, seberapa cantik kekasih Davin sebelumnya sehingga begitu enggan membuka hati?
Dan ia juga bertanya-tanya seberapa besar pesona kekasih Davin sebelumnya sehingga ia begitu anti menyentuh wanita lain.
Anya dilanda rasa penasaran.
"Aku adalah seorang laki-laki dan aku juga tidak ada bedanya dengan laki-laki diluar sana. Aku memiliki keinginan tapi keinginan ini hanya tumbuh saat aku bersama dengan kekasihku, wanita yang sangat aku cintai." Anya meremat kedua tangannya menahan sesak di dada.
Dia yakin kata-kata selanjutnya pasti akan menyakitinya tapi dia tidak memiliki keberanian untuk menyela ataupun menghentikan pembicaraan Davin. Dia masihlah tidak memiliki keberanian di depan laki-laki yang dia cintai.
"Adapun bersamamu, tanpa aku jelaskan pun kamu harusnya mengerti bahwa sedari awal hubungan kita ini palsu. Aku tidak pernah mencintai kamu dan aku juga tidak pernah menyukai kamu. Hatiku sudah lama menjadi milik kekasihku sehingga hati nurani ku melarang untuk menyentuh orang selain dari kekasihku sendiri. Mungkin kamu akan menganggap apa yang aku katakan ini omong kosong tapi yakinlah, setelah kamu bertemu dengan orang yang kamu cintai secara tulus kamu pada akhirnya akan mengerti apa yang aku rasakan."
Davin tidak pernah menyentuh wanita lain, ini bukan kebohongan. Akan ada waktu-waktu dimana dia ingin melakukannya, benar, dia sering melewatinya selama tahun-tahun sulit itu. Tapi sayang sekali, keinginannya tidak pernah direalisasikan karena kekasihnya saat itu masih berada entah dimana. Oleh karena itu ia hanya bisa memuaskan dirinya sendiri dengan mengenang malam-malam indahnya bersama sang kekasih.
"Tapi...aku mencintai kamu." Bisik Anya menahan sesak di dada.
Tapi dia mencintai Davin, dia mencintainya!
Tidak bisakah Davin melihat betapa besar dan tulus perasaannya?
Tidak bisakah Davin memikirkan betapa sakit posisinya saat ini?
Kenapa Davin masih tidak mengerti dan kenapa Davin menolak untuk mengerti?