My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
92. Skema



"Sudahlah, kenapa aku harus memikirkannya. Daripada memikirkannya lebih baik aku segera tidur saja." Ujar Rein tidak ingin ambil pusing.


Dia lalu keluar dari dapur, berjalan ringan melewati ruangan kerja Davin- langkahnya tiba-tiba berhenti ketika melihat pintu ruang kerja Davin sedikit terbuka. 


"Aku ingat sebelumnya sudah menutup pintu ini dengan benar." Gumam Rein yakin.


"Apa Davin keluar dari ruangannya?" Aneh, saat minum di dapur tadi dia tidak mendengar suara langkah kaki sebelumnya.


Rein bingung tapi tidak terlalu memikirkannya. Ia berencana akan menutup pintu ruang kerja Davin, tapi tangannya segera membeku ketika mendengar percakapan antara Davin dengan Adit.


Adit, sejak kapan ia ada di sini?


"Aku tidak bisa memecat Dimas sekarang karena Rein akan marah bila mengetahuinya." Suara lelah Davin masuk ke dalam pendengaran Rein.


Memecat Dimas?


Tangan Rein sontak mengepal menahan amarah.


"Aku tahu, Pak. Tapi jika Anda tidak melakukannya maka Dimas akan semakin mempersulit hubungan kalian. Lihat saja saat ini, dia kembali membocorkan hubungan Anda dengan Rein kepada Tuan besar. Bahkan informasi keberadaan tuan muda juga telah sampai di tangan Tuan besar karena Dimas." Kata Adit di dalam sana sarat akan emosi tertekan.


Kembali membocorkan?


Tuan besar?


Dimas membocorkan hubungan mereka dan keberadaan Tio kepada Tuan besar, tapi untuk apa?


"Kenapa Dimas melakukan ini?" Wajah Rein langsung menjadi pucat pasi.


Bagaimana mungkin Rein tidak tahu siapa Tuan besar yang Adit maksud? 


Tuan besar adalah Kakek Davin yang masih berkuasa sampai dengan hari ini. Tapi...tapi Dimas membocorkan kembali hubungannya dengan Davin, itu artinya... artinya Dimas sudah pernah melakukanya sebelum ini. Tapi bagaimana bisa dan untuk apa Dimas melakukannya?


Rein kesulitan mencerna semua informasi ini!


"Pak, apa Anda tidak takut kejadian 5 tahun yang lalu terjadi lagi?" Tanya Adit di dalam sana.


Kejadian 5 tahun yang lalu...


Dada Rein menjadi sesak ketika mengingatnya. Dia menyentuh dada datarnya merasakan sakit. Dia ingin menangis tapi mencoba untuk menahan diri. Ia ingin pergi tapi kedua kakinya seolah terpaku di tempat tidak bisa digerakkan.


"Apa Anda tidak takut Tuan besar kali ini tidak hanya memisahkan Anda dari Rein tapi juga dari tuan muda?" Adit terus saja menyerang Davin dengan berbagai macam pertanyaan.


"Apa Anda tidak takut bila Tuan besar kali ini tidak hanya memisahkan Anda dari Rein dan Tuan muda, tapi juga memaksa Anda untuk segera menikah dengan tunangan Anda-"


"Dia bukan tunangan ku, Adit. Aku tidak pernah bertunangan dengan dia atau siapapun itu." Potong Davin tidak suka.


"Aku takut, aku bahkan sangat takut tapi kejadian 5 tahun yang lalu itu tidak akan pernah terjadi lagi, Adit. Sekarang aku bisa melindungi Rein bahkan Tio. Aku bisa melindunginya dari Kakek. Tidak perduli sekuat apa usaha Dimas menghasut Kakek dan keluargaku, kali ini aku tidak akan pernah kalah." Jawab Davin tegas namun tidak bisa menyembunyikan kelelahan di suaranya.


"Masalah Dimas..." Davin terdengar menghela nafas panjang.


"Aku perlu memikirkan sebuah rencana untuknya. Tentu saja aku belum bisa memaafkan kesalahannya 5 tahun yang lalu oleh sebab itu aku belum memutuskan hukuman apa yang pantas dia terima."


Rein sudah tidak kuasa lagi menahan isak tangisnya. Sambil membungkam mulutnya, Rein perlahan mundur ke belakang tanpa menimbulkan suara. Berjalan cepat masuk ke dalam kamar dan menutup pintu serapat mungkin. 


Terisak, Rein menyandarkan punggungnya di sisi pintu. Dia menangis, jatuh merosot ke lantai karena kedua lututnya tiba-tiba menjadi lemas.


Jujur, semua informasi ini membuatnya sangat terkejut dan sulit berkata-kata. Bagaimana mungkin... bagai mungkin orang yang telah ia anggap sebagai sahabat nyatanya adalah orang yang menghancurkan hubungannya dengan Davin dulu.


"Ya Tuhan, bagaimana mungkin Dimas melakukan semua ini kepadaku? Bukankah dia adalah sahabatku? Bukankah dia adalah sahabatku tapi kenapa! Kenapa dia melakukan ini kepadaku? Apa alasan Dimas melakukan semua ini kepadaku hiks..." 


Bertahun-tahun yang lalu, hubungannya dengan Dimas tidak memiliki masalah apapun. Mereka baik-baik saja bahkan setelah Rein menjalin kasih dengan Davin. Tapi mengapa Dimas melakukan semua ini kepadanya?


Padahal Rein yakin tidak pernah memiliki sebuah masalah yang sangat serius dengan Dimas sebelumnya.


"Dimas... kenapa kamu melakukan ini kepadaku? Katakan jika semua ini adalah kebohongan, Dimas! Aku tahu mereka berbohong, aku-"


"Mommy?" Tio terbangun mendengar suara tangisan Rein.


Buru-buru Rein membersihkan wajahnya yang basah oleh air mata sebelum naik ke atas ranjang menemani putranya.


"Mommy di sini sayang." Bisik Rein seraya membawa Tio ke dalam pelukannya.


Hangat, tangan mungil nan gembil Tio menyentuh wajah Rein yang masih lembab karena air mata.


"Mommy nangis, yah?" Tanya Tio polos.


Rein mengambil tangan gembil Tio dari wajahnya, mencium berkali-kali sebelum melepaskannya.


"Mommy gak nangis, sayang. Mommy kan kuat. Udah ah, kita harus tidur biar besok bisa bangun pagi."


Tio masih sangat mengantuk,"Okay, Mom. Tio tidul.."


Sementara itu di dalam ruangan kerja Davin, pembicaraan masih berlangsung.


"Anda sepertinya terlihat sangat lelah Pak, aku sarankan agar Anda segera beristirahat." Kata Adit tiba-tiba mengubah topik pembicaraan.


Davin tidak terlalu memikirkannya,"Yah, segera, setelah aku selesai."


Adit melirik ke arah pintu yang sebelumnya sengaja ia buka sedikit,"Kalau begitu aku akan membantu, Anda."