My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
13. (13)



"Nak, apa Anggi mengatakan sesuatu yang jahat tentang kami kepadamu?" Bibi yakin Adit telah di pengaruhi oleh Anggi.


Jika tidak, bagaimana mungkin Adit, orang yang tidak mengenal mereka tiba-tiba menganggap mereka adalah sebuah masalah? Tentu saja biangnya adalah Anggi!


Anggi mengernyit takjub dengan sirkuit otak bibinya. Memang siapa dirinya hingga dia harus menjelaskan tentang dirinya kepada Adit? Di tambah lagi bagi Anggi urusan keluarga tidak pantas diumbar apalagi sampai ke telinga Adit, bukannya senang Anggi malah merasa malu karena memiliki keluarga seperti mereka.


"Kalian?" Adit melirik bibi dengan sikap asing dan menjaga jarak.


"Bagaimana mungkin aku tidak tahu tentang sikap kalian? Anggi adalah ketua pelayan keluarga Demian kami, segala sesuatu tentang keluarganya telah diselidiki sejak jauh-jauh hari jadi rahasia sekecil apapun tidak luput dari pengawasan kami. Adapun kalian? Orang seperti kalian adalah hama di mataku. Rasanya tidak pantas mengabiskan waktuku hanya untuk perduli tentang kalian. Dan yah, lain kali berpikir lah bila ingin menjilat seseorang. Lihat kualitas kalian sendiri dan lihat kualitas orang yang ingin kalian bodohi, apakah kalian mampu? Hah, memalukan."


Adit tahu tentang keluarga ini sebelum Davin dan Rein memutuskan Anggi menjadi asisten pribadi Rein. Dia tahu tapi tidak mengira orang-orang ini akan bertindak berlebihan untuk. Hanya karena Anggi menjadi kaya, orang-orang ini sangat berani mengejar-ngejar Anggi, memaksa Anggi untuk mengenali mereka sebagai saudara. Padahal dulu saat Anggi kesusahan orang-orang ini menutup mata seolah mereka tidak memiliki hubungan keluarga.


"Tidak..." Bibi ingin mengatakan sesuatu untuk mengelak, tapi tenggorokannya tercekat saat melihat mata dingin Adit.


Bibi gemetar karena malu juga karena marah. Sungguh dia rasanya tidak memiliki harga diri lagi karena telah dipermalukan berkali-kali malam ini.


Entah dia, suami, dan bahkan anak-anaknya, mereka semua dipermalukan oleh Anggi! Dia tidak bisa menerimanya.


"Kami...di sini datang untuk meminta maaf." Kata bibi merendahkan nada suaranya, menekan amarah yang mengamuk.


Perlahan air mata mulai jatuh dari matanya, tampak tulus tapi Anggi tahu ini hanya akal-akalan bibi saja untuk menarik simpatinya.


Anggi menggelengkan kepalanya tidak berdaya,"Bibi, aku sudah memaafkan semua yang terjadi di masa lalu dan bahkan kedua orang tuaku pun juga tidak mempermasalahkannya." Kata-kata ini bagaikan sedotan penyelamat hidup untuk bibi.


Dia buru-buru meraihnya dan ingin mengatakan banyak kata-kata melankolis tapi segera disiram air dingin oleh kata-kata Anggi selanjutnya.


"Tapi aku mohon, mari kita memiliki jarak seperti dulu lagi. Jangan saling mengganggu dan jangan saling menyakiti, karena keluargaku sudah cukup dengan semua itu." Anggi ingin mereka menjauh, menjaga jarak seperti tahun-tahun melelahkan itu.


Bibi dan paman saling memandang, karena marah, akhirnya bibi berbicara keras kepada Anggi.


"Kamu sangat sombong, Anggi! Kamu sekarang sudah kaya dan memiliki banyak uang karena itulah kamu tidak mau berhubungan dengan kami lagi? Kamu dan pacarmu pikir kami ke sini karena ingin meminta uangmu hanya karena kamu sekarang memiliki banyak uang?! Anggi! Aku dan paman mu adalah keluarga, hubungan ini tidak ada hubungannya dengan uang yang kamu khawatirkan! Dan bahkan jika kamu mengelak, kamu tidak bisa menampik hubungan darah di antara kita!"


Anggi tersenyum penuh makna,"Oh, ya. Apa yang bibi katakan memang benar. Aku takut uangku diambil oleh kalian, aku takut hartaku digerogoti oleh kalian dan bibi juga benar hubungan darah ini tidak bisa ditampik karena itulah aku ingin menjaga jarak dengan kalian. Jarak jarak sejauh yang kalian bisa, kalau perlu kalian kembali ke sikap dingin kalian sebelumnya. Abaikan saja keluargaku dan abaikan saja kehidupan ku karena sekarang keluargaku telah memiliki kehidupan yang cukup, yang baik, dan jauh lebih baik daripada saat kalian mengacuhkan kami. Lihat, kami sekarang tinggal di tempat yang bagus, memiliki banyak uang untuk dibelanjakan, dan memiliki banyak perhiasan untuk dipamerkan. Kami memiliki semua yang tidak kami miliki dulu jadi aku mohon, jangan ganggu hidup kami karena kami sudah sangat bahagia dengan kehidupan kamu yang sekarang!" Kata Anggi dengan nada ejekan yang tidak bisa disembunyikan.


Malu memang bersikap sombong di depan Adit, tapi dia mengingat dengan baik bila Adit tidak suka dengan wanita yang lemah, yang mau saja ditindas, dan tidak bisa membela diri. Anggi tidak mau menjadi wanita yang tidak disukai Adit, dia ingin menjadi bagian dari wanita yang disukai Adit. Meskipun bukan cinta tapi setidaknya Anggi puas dengan status hangat ini.


Anggi sangat arogan dan jujur, Adit terkejut melihat perubahannya yang luar biasa. Tapi dia senang karena Anggi akhirnya bisa melawan dan tidak diam saat ditindas.


Melihat ini, sebuah senyuman kecil terbentuk di bibirnya.


"Kamu-"


"Permisi, tuan Adit dan nyonya Anggi?" Kata-kata bibi terpotong.


Tiba-tiba beberapa laki-laki berjas hitam dengan tubuh kekar datang ke sini. Mereka menyapa Adit dan Anggi dengan sopan seperti sedang menyapa orang-orang terpandang. Sekali lagi ini membuat mereka semua merasa iri juga cemburu.


"Hem, urus mereka." Kata Adit datar.


Pemimpin kelompok itu melihat anggota keluarga norak dan kolot yang dijelaskan Adit kepadanya, mengangguk sopan kepada Adit dan Anggi, mereka lalu meminta keluarga itu segera angkat kaki dari rumah ini.


"Ibu dan bapak silakan meninggalkan tempat ini." Kata laki-laki berjas hitam itu sopan.


Bibi dan paman tidak mau, mereka ingin tinggal di sini lebih lama lagi tapi sekelompok laki-laki berjas itu tidak menerima penolakan. Mereka langsung menyeret keluarga keras kepala itu agar ikut bersama mereka keluar dari komplek perumahan.


"Anggi! Dimana hati nurani kamu! Aku adalah bibi mu! Teganya kamu mengusir kami setelah kamu menjadi orang kaya! Kamu sangat jahat Anggi! Kamu sangat jahat mengusir Paman dan sepupumu dari rumah ini!" Bibi berteriak keras untuk melampiaskan amarahnya.


Marah, dia sengaja berteriak sekeras mungkin untuk membuat Anggi malu dan merusak reputasinya di perumahan ini. Memangnya siapa yang meminta dia untuk bersikap dingin, padahal niat mereka datang baik-baik!


"Berteriak lah, dan kamu harus yakin jika besok ada hal baik yang menanti keluarga mu." Ancam laki-laki berjas itu dengan suara rendahnya yang menyeramkan.


Mendengarkan ancaman tersirat laki-laki berjas hitam itu, bibi segera menutup mulut dengan enggan. Ketakutannya bukan tanpa adalah karena menurut bibi selama orang punya uang, apapun bisa dilakukan termasuk menyakiti orang lain.


Dan dia sangat jelas dengan aturan main ini.


"Keberuntungan apa yang Anggi dapatkan dalam hidup ini. Kenapa dia bisa memiliki keberuntungan sebaik ini!" Keluh Tina akhirnya berani membuka suara.


Tadi saat Adit mencela tubuhnya yang kerempeng dengan wajah berminyak dan memiliki kulit gelap, dia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya atau bersuara sedikitpun karena dia sangat malu!


Hei, ini seorang laki-laki! Seorang laki-laki telah mengejek tubuhnya sendiri!


Ini sangat memalukan!


Widia mendengar ******* frustasinya tapi dia tidak menanggapi karena hatinya saat ini sangat sedih. Dia memiliki lemak menggumpal ada dimana-mana dan sulit dihilangkan. Padahal dia juga ingin memiliki bentuk tubuh yang bagus tapi rasanya sangat sulit. Dan jika dia tidak bisa menghilangkan lemak-lemak ini, entah siapa yang akan mau menjadi suaminya. Bertanya-tanya apakah ada laki-laki yang tertarik dengannya yang kelebihan lemak ini, sungguh malang.


Selepas keluarga pembuat masalah itu pergi, ibu dan ayah meminta Adit masuk ke dalam rumah. Mereka meminta maaf atas kegaduhan yang disebabkan oleh keluarga mereka dan karena masalah ini Adit terpaksa harus terlibat. Terhadap orang tua Anggi, dia sangat sopan dan mengatakan bila semuanya tidak masalah.


Hah, Anggi bahkan mulai meragukan penglihatan melihat sikap Adit yang sangat berbeda kepada ayah dan ibu. Dia pikir Adit adalah dua orang yang berbeda sebab Adit yang dia kenal adalah orang yang suka berwajah datar dan tidak suka banyak bicara, apalagi sampai harus tersenyum lebar di wajahnya!


Ini sangat aneh, tapi anehnya lagi Anggi suka dengan semua tindakan Adit malam ini. Hah, jatuh cinta memang sangat konyol, pikirnya tidak berdaya.


"Dimana anak-anak?" Anggi sekarang ada di dapur untuk menyiapkan kopi.


Dia awalnya kaget dan gugup karena Adit datang menghampirinya. Tapi segera dia menenangkan dirinya agar tidak terlalu jelas di depan Adit.


"Anak-anak di dalam perpustakaan. Mereka sedang belajar di sana." Kata Anggi menghindari mata Adit.


Ah, apa yang harus dia lakukan! Setiap kali matanya bertemu dengan mata Adit, lututnya pasti langsung lemas tanpa sadar.


"Apa mereka sudah makan?" Tanya Adit seolah tak melihat sikap pengekangan Anggi.


Anggi mengangguk pelan, terlihat sangat patuh berbanding terbalik dengan sikap arogannya tadi saat berbicara dengan bibi.


"Sudah, jika tidak, mereka mungkin tidak akan mengurung diri di dalam perpustakaan." Kata Anggi agaknya merasa malu.


"Baiklah, aku akan masuk menghampiri mereka." Adit lalu keluar dari dapur dan langsung menuju ke perpustakaan tanpa bertanya dimana tempatnya.


Setiap bagian dari rumah ini dia sudah menghapal nya dengan baik karena dia sudah sering datang ke sini.


Begitu Adit pergi, Anggi akhirnya bisa bernafas tenang. Dia menundukkan kepalanya sejenak untuk menenangkan kegugupan di hatinya. Adit datang ke rumahnya dan membantunya menyelesaikan keluarga itu. Dia lega tapi sangat gugup dan gelisah karena Adit sekarang berada di rumahnya- tidak, dia sekarang ada di dalam rumahnya dan kini tengah berbicara dengan anak-anak.


Argh..!


Anggi sangat cemas dan ketakutan!


"Anggi, tenang! Jangan gugup dan bersikap santai seperti biasanya! Jika kamu panik, Adit pasti curiga ada sesuatu yang salah dengan mu! Dan jika dia mencari tahu, maka perasaan ku kepadanya-"


"Anggi?"


"Argh!" Anggi sontak berteriak.


Ibu sangat kaget sambil menyentuh dadanya,"Anggi kamu kenapa berteriak?"


Anggi baru sadar ada ibu di dapur.


"Ibu...aku cuma kaget tadi liat kecoa.." Bohong Anggi.


Ibu melihat ke sekeliling dapur, memperhatikan lantai dan beberapa bagian dapur tapi tidak menemukan keberadaan kecoa.


"Ibu yakin dapur selalu bersih dan ibu juga tidak pernah melihat satupun kecoa di sini."


Anggi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mungkin itu cuma perasaan aku aja, Bu." Kata Anggi malu.


Ibu menggelengkan kepalanya. Dia menghampiri putrinya dan melihat ke atas meja sekilas.


"Adit ada di dalam perpustakaan bersama anak-anak. Pergilah, antar kan minuman ini kepadanya." Suruh ibu memiliki tujuan tertentu.


Karena terlalu gugup Anggi tidak melihat ada sesuatu yang aneh dari ibunya.


"Iya, bu. Aku akan pergi pergi mengantarkannya." Kata Anggi.


Dia mengambil nampan kopi itu. Dan membawa kakinya melangkah pergi. Sebelum dia akhirnya bisa mengambil langkah ketiga, ibu tiba-tiba mengingatkannya.


"Jika Adit belum makan malam, minta dia makan malam di sini. Masih ada makanan yang ibu masak di sini." Kata ibu.


Anggi mengiyakan santai. Toh, Adit juga pasti tidak akan makan di sini karena dia pasti sudah makan di luar.


Tok


Tok


Tok


Anggi membuka pintu perpustakaan dengan hati-hati dan masuk ke dalam perpustakaan. Di dalam anak-anaknya sedang menunduk tampak serius menatap selembar oret-oretan kertas putih. Sedangkan Adit duduk dengan santai di samping anak-anak tapi mulutnya tidak berhenti memberikan arahan kepada anak-anak itu.


Deg


Anggi merasakan jantungnya berdebar dan hatinya menghangat. Pemandangan ini sangat mirip dengan pasangan ayah dan anak yang sedang serius mendiskusikan sebuah pelajaran.


Ah, saat mantan suaminya masih ada, kedua anaknya jarang di ajari atau mendiskusikan sebuah pelajaran bersama-sama. Anggi juga mengakui jika mantan suaminya tidak terlalu dekat dengan anak-anak, bukan karena tidak suka anak-anak tapi karena mantan suaminya sibuk bekerja sebagai kuli bangunan di sebuah proyek.


Sekarang melihat anak-anaknya akrab dengan Adit, hati Anggi tiba-tiba merasa melankolis. Anak-anaknya hanya bertemu beberapa kali dengan Adit, tapi kelembutan yang Adit berikan kepada mereka langsung membuat hati mereka luluh dan menyukai Adit. Entahlah, terkadang Anggi akan merasa bila anak-anaknya menganggap Adit sebagai ayah, sosok laki-laki kuat yang telah lama mereka rindukan keberadaannya.


"Ah, Mama!" Aldo memanggil nyaring.


Anggi tersadar.


Dia tersenyum lembut dan tidak sengaja bertemu dengan tatapan gelap mata Adit. Malu, dia buru-buru meletakkan nampan minuman Adit di atas meja.


"Mas Adit, ini adalah minuman mu. Minumlah sebelum dingin." Kata Anggi.


Adit bangun dari duduknya di atas karpet dan mengambil minuman di atas meja tanpa merubah wajahnya sedikitpun.


"Terima kasih." Katanya.


Anggi meremas tangannya malu. Dia mengangguk ringan. Untuk menutupi rasa malu, dia pergi menghampiri anak-anaknya, melihat hasil belajar anak-anaknya yang sangat baik. Malam ini anak-anaknya belajar matematika dan di gurui langsung oleh Adit.


Sambil mengawasi hasil belajar anaknya, Anggi bertanya dengan santai kepada Adit.


"Apa mas Adit sudah makan malam?"


Adit menjawab,"Belum. Kenapa?"


"Ah?" Anggi tercengang. Dia sebenarnya tidak siap dengan jawaban ini.


"Kenapa?" Tanya Adit.


"Itu...jika mas Adit mau, ibu bilang mas Adit makan malam di sini saja."


Adit tersenyum tipis,"Baiklah bila kamu memaksa."


Anggi,"...." Aku enggak pernah memaksa, okay!