My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
49. (49)



"Hari ini sangat ramai, huh."


Anggi meliriknya aneh.


"Kenapa, mas?" Tanyanya lembut.


Adit menggelengkan kepalanya tidak mau menjawab. Dia lalu memperhatikan kantornya yang telah dibersihkan dan dirapikan oleh Anggi. Sangat bersih dan terasa jauh lebih nyaman. Ketika dia bekerja nanti, dia pasti tidak akan merasa sendiri sebab ada wangi Anggi yang tertinggal dimana-mana. Untungnya, Anggi memiliki wangi yang menyegarkan bukan wangi yang menyengat seperti para perempuan yang pernah Adit temui.


Terkadang perempuan suka berlebihan terhadap wewangian. Mereka tidak jarang bisa mengendalikan diri sendiri ketika menemukan wangi yang sangat harum dan langsung menggunakannya sebagai parfum. Padahal untuk sebagian laki-laki agak kesulitan menerima wangi sekeras itu. Ini juga berlaku untuk wanita yang suka berdandan menor atau menggunakan banyak rias.


Adit sendiri akan merasa aneh saat melihat wanita yang seperti itu dan lebih memilih menghindarinya daripada berada dekat dengan mereka.


"Kamu mau kemana?" Tanya Adit baru menyadari bila Anggi sudah siap dengan tas bawaannya di tangan.


"Pulang, mas. Aku enggak mau ganggu mas Adit bekerja." Kata Anggi malu.


Dia ingin tinggal tapi sadar diri kalau dia akan memperlambat kemajuan Adit saat bekerja. Dia memang menyukai Adit, dan sejujurnya memiliki keinginan untuk melekati Adit kemanapun dia pergi. Namun lagi-lagi dia sadar diri bila Adit bukanlah tipe orang yang seperti itu. Dia mungkin risih terus menerus didekati oleh Anggi.


"Pulang? Aku kan udah bilang kalau kamu tinggal di sini sampai aku selesai bekerja dan kita bisa pergi makan malam bersama. Bakal ribet kalau kamu pulang bolak balik. Udah, kamu temani aku di sini aja. Duduk di sana dan lakukan apapun yang kamu suka di sana." Kata Adit seraya menunjuk sofa di pojok ruangan.


Anggi melihat sofa itu ragu. Kedua tangannya sudah mengepal membentuk tinju untuk menahan euforia perasaan senang di dalam hatinya. Bila Adit tidak ada di sini mungkin dia telah berjingkrak-jingkrak ke sana kemari untuk mengungkapkan betapa senangnya dia saat ini.


"Apa tidak apa-apa?"


Adit tersenyum simpul, pura-pura tidak melihat perilaku tertahannya yang sangat menggemaskan.


"Yah. Sesukamu." Kata Adit santai.


"Ah...kalau begitu aku akan duduk di sini." Kata Anggi sambil menaruh tasnya di meja dan mengambil majalah model di atas meja.


Adit melihat tingkahnya yang malu-malu dan sembunyi-sembunyi, menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa saat ini. Oh iya, menatap Anggi memang menyenangkan matanya. Terutama Anggi adalah wanita yang dia suka. Anggi... Dia pertama kali bertemu dengan Anggi saat masih bekerja sebagai office girl di perusahaan Demian di kota C. Saat itu Adit tidak memiliki kesan yang baik terhadap Anggi karena dia pernah melihatnya memojokkan Rein. Dan sejak itu pula Adit tidak pernah memperhatikan keberadaan Anggi lagi.


Sampai akhirnya mereka dipertemukan kembali di depan vila Revan. Saat itu Anggi duduk di tanah dengan pakaian ketat yang hampir rusak karena dipermainkan. Dia tertunduk malu dengan wajah basah tanpa suara. Dengan sekujur tubuh yang dipenuhi tanda cinta, siapa pun pasti akan berpikir bila dia adalah wanita yang tidak benar dan menyukai sisi gelap. Tapi Adit merasa justru sebaliknya. Tangisan tanpa suara, penampilan yang kacau, dan jejak ambigu di sekeliling tubuhnya menunjukkan bahwa dia selama ini terlalu menderita. Dia menderita namun tidak bisa lagi mengekspresikan nya melalui suara. Mungkin dia sudah putus asa terhadap dunia pada saat itu.


Untunglah... untunglah Rein berbaik hati ingin membawanya pergi dan mau mengobatinya. Tugas ini secara alami diserahkan kepada Adit karena tidak ada satupun orang yang bisa mendekati Anggi ataupun berbicara dengan Anggi pada saat itu.


"Berikan kakimu." Adit ingat kata pertama yang dia ucapkan saat masuk ke dalam kamar Anggi adalah kata-kata singkat nan dingin ini.


Anggi pada saat itu tidak merespon. Dia hanya menundukkan kepalanya tidak mau melihat ataupun mendengar apa yang dikatakan oleh orang-orang disekelilingnya. Dia sudah mati rasa terhadap lingkungannya.


"Kakimu, berikan. Aku bukan laki-laki yang penyabar." Begitu kata-kata ini jatuh, Anggi sontak mengangkat wajah basahnya.


Mata gelisah nya ditangkap langsung oleh pemilik mata obsidian dingin itu tanpa ragu. Tertegun, Anggi dikejutkan oleh mata hitam tanpa ujung itu. Gelap dan gelap. Hanya itu lah yang dia temukan dari mata itu. Tidak ada tatapan jijik, muak, ataupun mual. Itu hanya tatapan langsung dengan rasa dominasi yang sangat menekan tapi anehnya tidak membuat Anggi merasa menjijikkan. Meskipun dia tertekan tapi dia masih mengikuti kata-kata Adit.


Dia kemudian menjatuhkan kakinya yang bengkak dan ungu karena jatuh keseleo saat diseret keluar dari vila Revan.


Bola mata bergerak ringan memperhatikan reaksi Adit saat menjangkau kaki bengkaknya yang menjijikkan. Namun tidak ada reaksi apapun di wajahnya. Dia hanya memegang kaki Anggi yang bengkak dan mulai memijatnya perlahan. Dengan gerakan ringan dan dengan ekspresi datar di wajahnya. Pemandangan ini sangat kompleks karena tindakan maupun ekspresi Adit sangat bertentangan satu sama lain.


"Akh..sakit..." Ringis Anggi mulai sesenggukan lagi.


"Tahan. Sebentar lagi." Kata Adit datar.


Kakinya yang bengkak Adit genggam sehingga meninggalkan rasa sakit yang dalam. Anggi ingin menarik kakinya pergi namun Adit tetap mempertahankannya sampai kaki Anggi kembali ke posisinya yang normal.


Adit melepaskan kaki Anggi hati-hati di atas kasur. Dia awalnya ragu-ragu apakah pergi atau tetap di sini, namun ketika mendengar suara tangisan Anggi yang tidak kunjung selesai, Adit berubah pikiran. Dia memilih duduk di tempat dalam diam menemani Anggi dalam kesedihannya.


Pada saat itu mereka sama sekali tidak berbicara namun suasana manis itu anehnya mulai tumbuh dari pengalaman malam ini.


"Malam yang hangat..." Bisik Anggi dengan senyuman merekah di bibir tipisnya.


Dia memegang majalah model itu di depan wajahnya dan diam-diam mulai mengintip ke arah meja kerja Adit.


Deg


Anggi langsung menarik matanya shock. Dia ternyata tertangkap basah sedang mengintip ke arahnya karena pada saat yang sama Adit juga sedang memperhatikannya tadi. Anggi sangat malu karena ketahuan. Tapi dia juga senang karena Adit juga sedang memperhatikannya tadi. Hatinya berbunga-bunga, menyebarkan rasa nyaman dan rona merah yang mulai terbentuk di bola pipinya.


"Manis." Gumam Adit serak namun tidak diperhatikan oleh Anggi.


Tok


Tok


Tok


"Masuk." Kata Adit kembali dalam mood datarnya.


Anggi berpura-pura membaca majalah lagi agar kehadirannya tidak mengganggu pekerjaan Adit.


"Permisi, pak." Sapa Dina masuk ke dalam ruangan Adit.


Dia melirik keberadaan Anggi ringan sebelum membicarakan tujuannya datang ke sini.


"10 menit lagi pak Adit akan meeting. Apakah saya perlu menyiapkan ruangan meeting untuk Anda-"


"Tidak perlu." Potong Adit acuh tak acuh seraya menempatkan dokumen yang akan dia bahas nanti saat meeting berlangsung.


"Apa Anda akan rapat di sini?" Tanya Dina ragu.


Adit mengangguk tidak perduli. Sejak awal Dina masuk ke ruangan ini dia tidak pernah menyia-nyiakan bola matanya untuk melihat ke arah Dina. Tentu saja Dina menyadari bila Adit enggan melihatnya jadi ini semakin membuat dirinya tidak puas kepada Anggi. Menurutnya Adit dulu bersikap biasa saat tidak ada Anggi jadi Dina menyimpulkan bahwa Adit pasti telah dipengaruhi oleh Anggi.


Dina kesal dan bertekad untuk menyingkirkan Anggi dari sini


"Ya, selalu seperti ini. Kenapa kamu terkejut?" Tanya Adit pura-pura heran.


Dina berpura-pura ragu. Matanya beberapa kali melihat ke arah tempat duduk Anggi seolah sangat tidak nyaman mengatakannya di sini. Dia berharap Adit dapat menangkap keraguannya ini tapi Adit tidak hanya tidak menangkapnya, tapi malah tidak pernah mengangkat kepalanya sedikitpun untuk melihat ke arahnya. Dina mengepalkan tangannya malu. Malu sekaligus marah, perasaan ini sudah berkali-kali dia rasakan semenjak ada Anggi.


"Ada apa? Jika tidak mau bicara maka keluar lah. Aku harus menyiapkan rapat beberapa menit lagi." Usir Adit tidak sabar.


Karena dia tidak mau mencari masalah maka usir saja dia. Toh, Adit punya segudang rencana untuk mendorong wanita ini pergi dari pandangannya. Dan dia sama sekali tidak keberatan untuk melakukan tindakan tercela untuk melakukannya.


"Tunggu, pak. Menurut peraturan perusahaan kita, orang luar harusnya tidak diizinkan berpatisipasi bila rapat sedang berlangsung. Apalagi Anda adalah orang penting dari perusahaan ini sehingga kerahasiaan dokumen yang Anda pegang harus dijaga ketat." Kata Dina terdengar masuk akal.


Apa yang dia katakan memang benar sepenuhnya. Orang asing atau orang luar tidak diizinkan melihat atau berpartisipasi saat rapat dimulai. Ini diterapkan agar kerahasiaan dokumen atau rahasia perusahaan dapat terjamin. Sebab setiap kali rapat diadakan pasti itu memiliki kaitan yang erat dengan rahasia ataupun proyek besar jadi harus berhati-hati.


Namun siapa Anggi, Dina harusnya tahu dan tidak perlu mempertimbangkannya.


"Anggi adalah orang-orang tuan Davin." Kata Adit masih dengan nada santai.


Dina tersenyum masam.


"Dia memang orang-orang tuan Davin tapi bukan berarti bisa masuk ke perusahaan ini dengan bebas karena pada awalnya dia bukanlah pegawai di sini. Jadi dia tidak bisa ikut campur dalam urusan internal perusahaan-"


"Hoo, jadi kamu meremehkan orang-orang tuan Davin?" Potong Adit dingin.


Dina sangat kelabakan dengan pertanyaan tajam Adit. Untuk sementara dia kesulitan menjawab karena pertanyaan ini sangat sensitif. Berpikir sebentar diakhirnya menjawab dengan solusi aman.


"Tidak...bukan seperti maksudku, pak." Kata Dina membantah.


"Dia adalah orang-orang tuan Davin dan memiliki kepercayaan tuan Davin dalam bidang lain. Tapi di sini dia hanyalah tamu dan tidak diizinkan tinggal lebih lama lagi." Kata Dina membenarkan apa yang dia katakan barusan.


Anggi sedari tadi hanya berpura-pura membaca majalah dan mendengar semua yang mereka katakan tadi. Dia tahu bahwa kehadirannya di sini bernilai kontroversi untuk orang perusahaan. Tidak seharusnya dia di sini karena dia memang orang luar sekalipun dia termasuk orang-orang kepercayaan Davin. Namun seperti yang Dina katakan, dia dipercaya dalam hal lain dan tidak untuk urusan perusahaan. Anggi juga mengerti ini sepenuhnya jadi dia berinisiatif untuk pergi dari perusahaan.


"Mas Adit," Panggil Anggi ragu-ragu.


Dia berdiri dari duduknya sambil membawa tas dan paper bag alat makan kotor tadi pagi.


"Kemari lah." Panggil Adit seraya mengulurkan tangannya.


Dina berkedip ringan melihat ke arah Anggi dengan tatapan permusuhan yang disamarkan.


"Mas Adit, aku ingin pulang." Kata Anggi tidak enak.


Dia berjalan ringan mendekati Adit dengan senyuman canggung di bibirnya. Ragu, dia meraih tangan Adit dan sedetik kemudian, tangannya ditarik dengan keras hingga dia langsung terjatuh ke dalam pelukan Adit.


***


Semuanya begitu tiba-tiba. Aku sama sekali tidak menyangka bila mas Adit akan membuat gerakan ganas seperti itu. Dia tiba-tiba menarik ku tanpa aba-aba terlebih dahulu hingga aku jatuh ke dalam pelukannya. Kepalaku langsung berputar pusing, untungnya mas Adit memiliki wangi yang sangat menyegarkan dan tidak butuh waktu lama bagiku untuk tersadar dari pusing. Aku mendongak ke arahnya, menatap ekspresi lembut di wajahnya sebelum beralih menatap wajah merah Dina.


Ah, ini sangat memalukan. Dina pasti sangat malu melihat tindakan intim mas Adit. Karena aku pernah merasakannya saat tuan Davin dan nyonya Rein asik bermesra-mesraan di sampingku.


Hah...ini memalukan.


"Mas, aku ingin pulang." Kataku kepadanya.


Aku ingin keluar dari pelukannya tapi mas Adit malah memegang ku semakin erat. Bukannya melepaskan ku pergi, tangan mas Adit memegang ku semakin kuat dan beberapa detik kemudian aku merasa melayang hingga merasakan pijakan hangat nan kokoh di bawah pantatku. Ah, apakah mas Adit baru saja mendudukkan ku di atas pahanya?!


Ini...ini... bukankah terlalu berani!


Aku sangat malu dan tidak berani menatap ke arah di Dina. Aku juga tidak punya pilihan selain bersembunyi ke dalam leher mas Adit.


Tapi yah, aku suka rencana ini. Mas Adit terlalu hangat dan nyaman. Dekat dengannya dapat menenangkan hatiku. Membuatku merasa aman dan nyaman, sebuah perasaan yang belum pernah ku rasakan sebelumnya saat bersama dengan laki-laki lain.


"Mas Adit..." Panggil ku mendesah nyaman.


Mas Adit merespon ku dengan sapuan lembut di atas punggung ku. Gerakannya begitu lembut seolah-olah sedang merayu anak kecil agar segera tidur dan tidak membuat banyak tingkah.


"Pak...ini... keterlaluan." Ku dengar Dina mulai berbicara lagi.


Dia sepertinya keberatan dengan tindakan mas Adit di sini. Jujur, mungkin mas Adit memang keterlaluan tapi ku pikir ini baik-baik saja karena di sini mas Adit lah bos nya. Bos bisa melakukan apapun yang dia inginkan karena itulah dia disebut bos. Selama tidak merugikan pihak manapun maka semuanya sah-sah saja.


Em, ngomong-ngomong aku sudah tidak terlalu takut lagi saat bersentuhan dengan mas Adit. Biasanya tubuhku akan mengalami kaku dulu sebelum bisa tenang.


"Apa, keterlaluan? Bukankah itu kamu?" Mas Adit berbicara dengan nada acuh tak acuh nya yang keren.


Setiap kali mas Adit berbicara dengan mood ini, entah mengapa aku seolah melihat seorang anak kecil sedang bermain pelit dengan para orang dewasa. Aneh serta menarik, dan lebih anehnya lagi aku senang melihatnya seperti ini.


"Pak Adit... bagaimana bisa Anda menganggap saya keterlaluan? Bukankah aa yang saya katakan benar dan apa yang saya lakukan dibenarkan oleh perusahaan?" Kata Dina terdengar frustasi.


"Oh perusahaan. Aku tidak percaya kata-kata mu jadi lebih baik tanya langsung ke pemilik perusahaan yang sebenarnya."


Mas Adit ingin menghubungi tuan Davin?!


"Jika tidak penting, aku akan langsung mematikannya!" Itu adalah suara dingin milik tuan Davin.


Mas Adit sangat cepat. Dia langsung menghubungi tuan Davin tanpa ragu sedikitpun. Ugh, bukankah dia sangat keren?!


Ya Tuhan, jantungku semakin berdebar kencang! Lantas apa yang harus aku lakukan sekarang?


"Davin, ada masalah." Oh astaga, dia bahkan tidak memanggil tuan Davin dengan gelarnya!


Dia sangat berani!


Tapi bukankah ini wajar saja?


Tuan Davin dan mas Adit adalah sahabat, dan hubungan persahabatan mereka sudah melebihi persaudaraan jadi wajar saja mas Adit memanggil tuan Davin dengan santai.


"Ada apa?" Suara tuan Davin malas.


Mas Adit menepuk punggungku pelan seolah sedang menghibur keheranan ku. Tuhan, mas Adit terlalu lembut dan hangat. Dia terlalu istimewa untukku. Tapi apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Walaupun aku tahu dia adalah laki-laki yang istimewa, tapi aku sungguh tidak mau meninggalkannya. Aku tidak mau dia pergi dengan wanita lain, mendapatkan wanita lain, atau bersanding dengan wanita lain. Hanya aku ya, Tuhan. Hanya aku yang bisa memilikinya sekalipun aku tahu betapa kotor dan menjijikkannya diriku. Aku sungguh tidak bisa melepaskan dan membiarkannya pergi. Aku tidak bisa, aku tidak bisa.


"Okay, okay. Jangan terlalu berpikir yang aneh-aneh. Tenangkan dirimu. Dengar, ada aku di sini." Bisik mas Adit kepadaku.


Aku membuka mataku tertegun, kata-kata ini singkat tapi memiliki makna yang sangat berarti di dalam hatiku yang terdalam.


Memeluk punggung mas Adit seerat mungkin, aku merasa jauh lebih santai dan tenang daripada sebelumnya.


"Ada mas Adit, aku bisa tenang." Kataku menahan air mata yang ingin tumpah ruah mengikuti suasana hatiku yang diliputi perasaan haru dan menghangatkan.


"Ada apa, bicaralah. Aku tidak punya banyak waktu lagi. Istriku tidak ingin dimanjakan terus." Suara tuan Davin mendesak di seberang sana.


Aku bisa membayangkan betapa malas ekspresi tuan Davin diseberang sana ketika mengatakan ini. Tapi menurutku tuan Davin lah yang suka memanjakan nyoya Rein daripada nyonya Rein yang meminta. Sebab nyonya Rein orangnya pemalu dan tidak suka mengambil inisiatif.


Um, sejauh itu, inilah yang aku lihat di mansion Demian.


***


"Pak Adit, tolong maafkan aku." Mata Dina sudah basah oleh air mata. Dia ingin meminta maaf kepada Adit dan berharap Adit tidak membawa masalah ini sampai ke Davin.


Sebab dia memiliki firasat buruk bila Davin akan selalu berada di pihak Adit.


"Terlambat." Adalah kata-kata yang paling kejam dan apalagi diucapkan oleh orang yang paling dia sukai. Rasa sakitnya sudah berkali-kali lipat menyakitkan.


Dia sudah dibuat patah hati dengan perilaku intim mereka berdua dan kini bahkan Adit enggan menerima maafnya, betapa hancur hatinya sekarang. Kedua matanya mulai menciptakan riak kecil, perlahan membendung, dan pada akhirnya tidak bisa tertampung lagi. Air matang jatuh tanpa bisa dia kendalikan. Menangis terisak dalam diam dan tersiksa oleh perasaan malu juga patah hati.


"Aku memiliki seorang asisten. Dia tiba-tiba datang menggurui ku dan meminta kekasihku untuk segera pergi dari perusahaan. Dia bilang kekasihku dapat membocorkan rahasia perusahaan. Jadi Davin, kekasihku juga bekerja kepadamu dan menjadi orang kepercayaan mu. Di perusahaan ini dia dicurigai dapat merugikan perusahaan, apa pendapat mu selaku bos perusahaan ini?" Tanya Adit malas.


Davin di seberang sana juga sama malasnya. Dia sudah tidak sabar ingin mematikan sambungan telepon karena banyak waktunya yang terbuang percuma hanya untuk melayani laki-laki ini saja.


"Simpel, pecat saja dia. Masalah selesai." Jawab Davin tidak sabar.


Adit tersenyum simpul,"Saran yang bagus. Terima kasih."


Setelah itu sambungan mereka berdua terputus. Adit melempar ponselnya ke atas meja dengan sikap dan tindakan yang terlihat agak arogan.


"Kamu mendengarnya?" Tanya Adit kini menatap langsung ke wajah basah Dina.


Dina mengangguk kan kepalanya masih dengan tangisan yang tertahan.


"Aku... minta maaf, pak. Aku tidak akan meragukan kekasih Anda lagi." Mohon Dina meminta maaf.


Kesalahan nya tidak besar dan seharusnya Adit memberikannya keringanan. Hukuman pemecatan, bukankah itu sudah keterlaluan?


Bagaimanapun juga dia telah bekerja keras untuk perusahaan dan memberikan kontribusi yang besar jadi perusahaan harus mempertimbangkan ini sebelum memecatnya.


"Ya, aku sudah memaafkan kamu tapi maaf, kamu sudah tidak bisa lagi bekerja di sini." Kata Adit dengan senyuman profesional di bibirnya.


Dina menghirup udara dingin. Hatinya serasa diremas-remas oleh tangan kasar. Telinganya berdengung nyaring tidak dapat mempercayai apa yang baru saja dia dengar. Begitu mudahnya...begitu mudah dirinya ditendang dari perusahaan ini setelah semua kontribusi yang dia berikan kepada perusahaan!


"Pak Adit... bukankah ini keterlaluan?! Aku hanya mengikuti aturan perusahaan saja dan tidak bermaksud apa-apa kepada kekasih Anda. Namun Anda malah menyalahartikan apa yang aku lakukan dan ingin memberhentikan aku. Pak, aku tahu Anda mencintai kekasih Anda. Tapi tolong jangan egois, pak. Aku bekerja dengan usaha dan jerih payah hingga berada di posisi ini. Dan Anda malah dengan mudahnya memberhentikan aku dari perusahaan. Pak, tolong pertimbangkan lagi. Aku tidak ingin berhenti dari perusahaan ini dan aku juga tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi." Kata Dina memohon.


Dia mengusap wajahnya kasar dan berbicara serius dengan Adit. Dia bersungguh-sungguh ingin tetap tinggal di sini dan tidak ingin keluar. Lagipula selain gajinya yang besar, dia juga bisa dekat dengan Adit sekalipun mereka tidak memiliki interaksi manis seperti yang dilakukan Adit kepada Anggi.


Tidak apa-apa, bukankah masih ada banyak waktu?


Adit kehilangan senyum di bibirnya,"Nah, kamu benar-benar membuatku kecewa. Pergilah, aku sudah tidak membutuhkan kamu lagi. Karena perusahaan ini tidak bisa menanggung ambisi mu maka mungkin perusahaan lain bisa menanggung ambisi luar biasa mu." Ucap Adit sama sekali tidak ingin memberikan Dina kesempatan.


Dina langsung merasa bila dirinya sangat bodoh. Dia ingin menertawakan dirinya yang telah ditolak berkali-kali oleh Adit tapi masih bersikeras ingin tetap tinggal. Betapa tak tahu malu dirinya. Namun apa yang bisa dia lakukan?


Dia menyukai Adit dan tidak ingin kehilangan Adit. Dia ingin tetap bersama orang ini sekalipun tidak ada ikatan sama sekali.


"Pak Adit..aku-"


"Aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Keluar lah. Kemasi barang-barang mu dan minta Niko untuk mengurus gaji mu bulan ini. Aku harap kamu berhasil di tempat lain." Potong Adit tidak sabar.


Dia menekan bel di samping mejanya, beberapa detik kemudian Niko muncul dari luar.


"Pak Adit?"


Niko mengabaikan keintiman Adit dan Anggi, serta bersikap buta terhadap terhadap tangisan memilukan Dina di sampingnya.


"Bawa dia keluar dan minta Hash untuk mengisi kekosongan kursinya."


Niko tertegun, perlahan sebuah senyuman lebar mulai terbentuk di wajah tampannya. Dia terkekeh ringan. Mengangguk mengerti, dia lalu menarik Dina keluar bersama nya. Dia membawanya pergi keluar dengan sopan.


Begitu mereka diluar, Niko langsung melepaskannya dan kembali ke tampilannya yang acuh tak acuh.


"Bukankah aku sudah mengingatkan kamu sebelumnya? Jangan bermain-main dan kamu akan tahu akibatnya. Sekarang kamu sudah merasakannya jadi nikmatilah." Kata Niko sama sekali tidak merasakan simpati untuknya.


Dia malah sangat senang melihat dia angkat kaki dari posisi ini karena setidaknya orang yang dia suka dapat menempati posisinya.


Dina menggelengkan kepalanya menyesal. Dia bilang tidak mau pergi tapi Niko sama sekali tidak ingin mendengar penolakannya. Dia langsung membantu Dina mengemasi semua barang-barangnya dan memberikan barang-barang itu ke penjaga agar segera ditangani.


Dina tidak punya cara lain. Akhirnya dia mengalah dan terpaksa pergi meninggalkan perusahaan, tempat yang banyak diimpikan orang-orang di luar sana karena group Demian adalah salah satu perusahaan yang sangat menjanjikan masa depan.


***


"Mas, apakah dia baik-baik saja?" Anggi akhirnya bisa turun.


Kali ini Adit tidak menahannya lagi. Tersenyum lembut, dia meremas tangan Anggi sayang sambil berkata.


"Dia mungkin tidak baik-baik saja. Namun, dia lah yang meminta masalah ini jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkannya. Baiklah, aku harus mulai bekerja karena sebentar lagi mereka akan segera datang. Kamu bisa duduk di sana untuk menunggu ku atau bila kamu tidak nyaman, lebih baik tunggu aku di dalam kamar saja." Kata Adit sambil menunjuk pintu hitam di seberang mereka.


Jika Anggi tidak memperhatikan gagang pintu itu, dia mungkin akan berpikir bila pintu itu adalah sebuah dinding karena sangat tidak mencolok.


Anggi memilih beristirahat di kamar saja. Takutnya akan ada Dina yang lainnya lagi. Dia tentu tidak tega melihat mereka satu persatu kehilangan pekerjaan hanya karena keberadaannya di sini. Namun berbeda halnya dengan Dina. Anggi merasa bila Dina pantas mendapatkan sebab dia merasakan krisis dengan wanita berkacamata itu. Tampangnya memang kalem dan terkesan polos, tapi Anggi merasa bila itu adalah topengnya saja. Dia pasti tidak serapuh yang terlihat.


Masuk ke dalam kamar pribadi Adit di kantor ini, Anggi sepenuhnya dapat menghirup wangi Adit dimana-mana dalam ruangan ini. Seolah-olah ini adalah tempat yang selalu Adit tinggali.


"Hufh... menyegarkan." Anggi mendesah nyaman.


Dia meletakkan tasnya di atas nakas dan langsung naik ke atas ranjang. Dia menyelimuti dirinya dengan selimut hangat yang Adit gunakan semalam. Mendekap dirinya dengan wangi Adit seolah-olah Adit kini sedang memeluknya seperti beberapa saat yang lalu. Anggi tersenyum, matanya mulai berat dan perlahan matanya menjadi goyah. Lalu beberapa detik kemudian dunianya menjadi gelap. Dia jatuh tertidur dalam keadaan suasana hati yang baik.


***


Sore harinya Anggi tiba-tiba terbangun ketika merasakan beban berat di pinggangnya. Dia menyentuh 'beban' itu, sontak tubuhnya menegang. Dia pikir ada orang lain di sampingnya namun ternyata saat dia menoleh ke belakang, dia bertemu dengan wajah tampan Adit yang kini tengah tertidur lelap. Tidurnya sangat lelap karena terlalu lelah, kelihatan dari pergerakan teratur nafasnya yang menerpa batang leher Anggi.


Anggi menghela nafas panjang. Dia tidak tega membangunkan Adit karena dia tahu betapa lelahnya laki-laki ini bekerja.


Oleh karena itu dia memutuskan untuk turun sendiri dari ranjang.


"Mau kemana?" Tegur Adit dengan suara beratnya yang serak.


Anggi menarik kakinya kembali ke atas.


"Mau turun." Kata Anggi malu.


Adit mengeratkan pelukannya di pinggang ramping Anggi.


"Bentar lagi, okay. Aku ngantuk banget soalnya. Temani aku tidur sebentar saja." Kata Adit memohon.


Anggi tersenyum kecil, dia jelas tidak berdaya dengan rayuan laki-laki ini. Jadi tanpa perlawanan lagi dia merebahkan dirinya di samping Adit.


Adit tersenyum puas, dia menarik Anggi ke dalam pelukannya dan kembali tidur. Anggi tercengang, dia sangat malu karena dipeluk seintim ini oleh sang pujaan hatinya. Namun untungnya Adit sudah jatuh tertidur jadi dia tidak ada yang bisa melihat rada malunya.


"Mimpi indah, mas." Bisik Anggi mulai memejamkan kembali matanya menikmati pelukan hangat dari Adit.


"Hem, mimpi indah juga, Anggi." Balas Adit berbisik.


Anggi tersenyum lembut, hatinya tergelitik dengan respon cepat sang pujaan hati. Dia kira Adit sudah masuk ke alam mimpi, namun ternyata dia salah karena Adit rupanya masih aktif.


Anggi tidak mengatakan apa-apa lagi agar tidak mengganggu tidur Adit. Matanya terpejam nyaman merasakan kehangatan yang diberikan oleh Adit. Hangat dan dilingkupi oleh suasana nyaman ini membuat Anggi kembali merasa mengantuk. Dia akhirnya jatuh terlelap tidak lama setelah Adit masuk ke alam mimpi. Menyusulnya ke alam mimpi untuk berbagi kenyamanan dari petualangan di alam mimpi.


***


Malam harinya Anggi dan Adit bangun pukul 8 malam, sangat terlambat dari alarm yang telah Adit siapkan. Mereka segera membersihkan diri dan masih menggunakan pakaian yang sama, pergi makam malam di sebuah restoran Prancis kesukaan Adit dan menghabiskan hampir dua jam di sana.


Setelah selesai makan malam, mereka menyempatkan diri pergi ke toko mainan untuk membeli hadiah anak-anak. Mereka sudah berjanji untuk membeli kan anak-anak hadiah.


Sejauh ini mereka berdua bersenang-senang-dan membeli banyak barang untuk anak-anak, orang tua Anggi, serta pasangan Bibi dan paman. Mereka membelinya dengan tulus dan berharap apa yang mereka bawa dapat menyenangkan hati semua orang di rumah.


Namun semua kebahagiaan ini tidak bertahan lama karena ketika mereka sampai di depan rumah, tawa anak-anak yang renyah langsung menarik perhatian mereka berdua. Di halaman rumah anak-anak terlihat sedang bermain dengan seorang laki-laki dewasa yang menutupi dirinya dengan hoodie. Jika tidak diperhatikan dengan baik, penampilan laki-laki itu akan sangat menipu namun di mata Adit, persembunyian ini tidak ada gunanya sebab dia pernah melihatnya. Tidak sekali atau dua kali, namun berulang kali.


Senyuman Anggi seketika menghilang. Dia melihat Adit yang ada di sampingnya dengan kaku. Dia pikir laki-laki ini sudah ditangkap atau telah menghilang entah kemana. Namun kenyataannya sangat kejam. Laki-laki ini tidak hanya bebas berkeliaran tapi juga mengganggu anak-anaknya.


"Mas Adit..." Panggil Anggi takut-takut.


Adit meraih tangannya. Tangan itu tidak sehangat beberapa waktu lalu karena kini ada sentuhan dingin di sana. Permukaannya yang agak kasar terasa sangat tidak nyaman karena keringat dingin perlahan mulai membasahinya. Namun Adit tidak merasa jijik. Dia malah semakin menggenggam erat tangan itu untuk menghiburnya.


"Tidak apa-apa, ada aku di sini. Selama ada aku, dia tidak bisa menyakiti kamu dan anak-anak lagi." Bisik Adit berjanji.