My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
222



"Mas, hari ini pergi ke kantor, yah?" Suara mengantuk Rein menarik Davin dari perhatiannya di layar laptop.


Dia menghentikan gerakan mengetik di atas keyboard laptop, menyingkirkan laptop di atas pangkuan dan menaruhnya di pinggir ranjang mereka. Dia lalu beringsut mendekati istrinya, merendahkan tubuhnya agar lebih dekat sambil menarik pinggang ramping istrinya lebih dekat lagi dengannya.


"Hari ini aku masih di rumah sayang. Aku sudah berjanji untuk menemani kamu dan anak-anak di rumah selama beberapa hari ini." Kata Davin dengan nada yang sangat lembut.


Untungnya kantor tidak terlalu sibuk dan masih bisa ditangani di rumah. Kalaupun sangat darurat, Davin bisa menyerahkan semua tugas itu untuk ditangani asisten pribadinya, Adit. Tidak ada yang sulit sebenarnya bila Davin mau.


"Enggak boleh, Mas." Kata Rein tidak senang.


Dia melepaskannya diri dari pelukan suaminya dengan enggan dan buru-buru keluar turun dari atas ranjang. Kasurnya terlalu hangat dan lembut, dia sungguh tidak tahan berpisah dari tempat ini apalagi sampai menjaga jarak dengan penghangat hidupnya yang terkasih, Rein jujur tidak rela.


"Hari ini Mas Davin harus ke kantor, yah. Aku gak mau ngeliat Mas Davin malas-malasan di sini sedangkan Adit di sana jarang tidur karena ngurusin pekerjaan Mas Davin." Tolak Rein mentah-mentah.


Dia membujuk suaminya untuk pergi ke kantor dan jangan bermalas-malasan lagi. Sejujurnya ini agak mengherankan karena beberapa hari yang lalu sang istri memohon agar dia tidak boleh pergi ke kantor dulu dan menemaninya bersama anak-anak di rumah.


"Sayang, kemarin kamu bilang aku gak boleh ke kantor dulu dan menemani kamu sama anak-anak." Kata Davin mengingatkan dengan murah hati.


Atau lebih tepatnya dia sudah kecanduan bermalas-malasan di rumah bersama anak-anak dan istrinya. Lagipula siapa yang tidak bahagia menghabiskan banyak waktu di rumah dengan pujaan hatinya.


"Itu kemarin, Mas, bukan sekarang. Kalau sekarang aku maunya kamu jangan malas-malasan dan pergi ke kantor untuk bekerja lagi. Kasian, orang-orang kantor dan Adit pasti capek tiap malam kerja lembur terus." Kata Rein seraya menarik lengan suaminya untuk turun dari atas ranjang mereka.


"Sayang...sayang, jangan dulu, sayang. Lagian sekarang juga udah jam 7 jadi aku gak sempat sampai ke kantor tepat waktu." Davin berusaha bernegosiasi kepada istrinya.


Dia pernah mengatakan sebelumnya jika Rein itu berhati lembut asalkan Davin mau membicarakannya dengan baik-baik. Jadi, untuk menyelamatkan kesejahteraan hidup rumah tangganya dia harus mengupayakan segala macam cara untuk menenangkannya.


Namun Rein tidak termakan sama sekali dengan akal bulus suaminya. Dia terus mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengirim sang suami masuk ke dalam kamar mandi.


"Enggak! Enggak! Enggak ada malas-malasan lagi. Aku gak mau tahu, Mas! Hari ini Mas harus pergi ke kantor. Lagipula Mas Davin adalah bos perusahaan itu sehingga tidak akan ada satupun karyawan yang berani berkomentar bila Mas Davin telat bekerja. Dan yah, aku gak pernah lupa, Mas, bila suatu hari Mas Davin pernah mengatakan bahwa bos bebas datang ke kantor kapanpun dia mau. Jadi Mas Davin tidak punya alasan untuk tidak pergi ke kantor!" Kata Rein mendominasi.


Davin berkilah,"Tidak, aku tidak pernah mengatakannya-"


"Jadi kamu menuduhku wanita pelupa?!" Tuduh Rein mulai naik darah.


Davin langsung membantah,"Enggak, kok!"


"Ya udah, kalau begitu semua yang aku katakan benar dan Mas Davin harus mandi sekarang sebelum aku benar-benar marah!" Dan,


BAM


Pintu kamar akhirnya tertutup di bawah kemarahan Rein.