
Rein duduk gelisah di atas ranjangnya. Sesekali dia akan mengintip ke arah kamar mandi yang mengeluarkan suara gemericik air yang sangat meresahkan.
Setelah sampai di dalam kamar pengantin Davin dengan tahu diri mengajaknya untuk sholat sunah dulu sebelum melakukan 'ibadah' yang lain.
Sekarang Rein sudah selesai mandi sementara suaminya masih ada di dalam kamar mandi. Hati Rein berdebar kencang setiap kali memikirkan Davin kini telah resmi menjadi suaminya. Karena mereka sudah sah, maka Davin tidak akan lagi berpuasa menahan dahaganya. Dia akan menghabisi Rein sebagai hidangan berbuka puasa.
Rein ngeri tapi tanpa sadar juga menantikannya. Hatinya panas dingin setiap kali telinganya menangkap suara gemericik air di dalam sana.
Cklack
Pintu kamar mandi terbuka. Rein panik. Dia segera memalingkan wajahnya ke depan tidak memiliki keberanian menatap suaminya.
"Ayo sholat dulu." Kata Davin tampak normal.
Dia tidak menghampiri Rein begitu keluar dari kamar mandi namun langsung berdiri di atas sajadah untuk memulai sholat.
Rein berkata 'iya' dan langsung memposisikan dirinya di saf makmum. Kemudian sholat akhirnya dimulai dengan cukup nyaman. 5 menit kemudian Davin mengakhiri sholat dengan lancar. Duduk menunduk membaca beberapa zikir dan mengakhiri dengan doa yang lembut. Setelah itu dia langsung berbalik menghadap istrinya. Rein masih tidak melihat kegelapan di mata suaminya, dan dengan polosnya dia menjangkau tangan Davin dan menciumnya sopan. Apa yang tidak dia sangka adalah setelah dia melepaskan tangannya, Davin tiba-tiba melingkari pinggang Rein dengan tangan kuatnya.
"Davin!" Rein sontak berteriak kaget saat Davin mengangkat dan melempar Rein ke atas ranjang.
Ranjangnya sangat empuk dan nyaman, jadi Rein tidak merasakan apa-apa selain sentuhan hangat ketika bertemu dengan permukaan kasur.
"Sekarang...aku seharusnya boleh menyentuh mu." Kata Davin dengan kedua mata menyala.
Rein sangat malu. Kedua pipinya terbakar untuk alasan yang bisa dimengerti. Rein tahu tanpa melihatnya di cermin pun dia yakin bila pipinya saat ini pasti sudah seperti kepiting rebus.
"Aku...sudah lama tidak melakukannya jadi... tolong lakukanlah dengan lembut." Pinta Rein meremat kuat kain mukenanya.
Dia tidak berani melihat wajah tampan suaminya.
Begitu mendengar permintaan lembut istrinya. Hati Davin melembut. Dia lalu duduk di samping istrinya. Meraih tangan sang istri yang terasa sangat dingin karena gugup dan meremasnya sayang.
Dia maupun Rein, ini adalah pengalaman pertama mereka setelah sekian lama berpisah. Awalnya pasti canggung, ini adalah hal yang wajar.
"Mas Davin, terima kasih." Bisik Rein malu-malu.
Davin terkesima dengan panggilan tiba-tiba Rein.
"Kamu memanggil ku apa tadi?"
Rein sangat malu- dia tidak tahu bagaimana cara menggambarkan betapa malunya dia saat ini. Ya Tuhan, ingin sekali dia menggali lubang untuk dirinya sendiri.
"Kita sudah menikah...aku pikir sudah saatnya aku mengubah panggilanku kepadamu, Mas." Ulang Rein dengan suara mencicit.
Davin sangat gemas dibuatnya. Apalagi ketika melihat wajah tertunduk istrinya yang menawan. Sikap malu-malu itu... adalah godaan terbesar untuk setiap pria.
"Nah," Davin menyentuh dagu Rein dan mengangkatnya ke atas agar tatapan mereka bertemu.
Menawan dan indah. Inilah yang terbesit di dalam kepala Davin ketika melihat wajah cantik Rein yang diselimuti kabut merah di pipinya. Lihatlah kedua mata persik Rein yang terukir cantik. Mata itu kini tengah diselimuti oleh riak dangkal dari air mata, terlihat cantik tapi tak bisa menyembunyikan kegugupannya.
Davin tidak bisa menahan diri untuk terus menatapnya.
"Mas?" Panggil Rein gelisah.
Davin tersenyum lebar.
"Aku senang mendengarnya, istriku. Aku sangat senang akhirnya kamu menjadi milikku seutuhnya. Rasanya bagaikan mimpi, istriku." Suara Davin terdengar bergetar.
Bila Rein tidak menatap mata suaminya, mungkin dia tidak akan tahu bila suaminya sekarang sedang menangis. Mata itu, mata yang biasanya menatap orang lain dengan rasa angkuh dan penuh arogansi kini tengah menatapnya dengan tatapan obsesif yang menyiksa hatinya.
Rein teringat bila Davin pernah mengatakan kepadanya bahwa dia sangat takut kehilangannya. Dan Adit juga pernah mengatakan bila Davin berubah menjadi orang yang sangat kejam dan berhati dingin semenjak berpisah dengan Rein. Seolah dia bukan lagi Davin Demian yang orang-orang kenal.