
Dia dan beberapa anggota rumah utama yang lain lalu undur diri dari rumah Davin. Sebelum pulang mereka semua menyempatkan diri mampir ke pusat perbelanjaan terbesar di kota ini.
"Nenek, apakah Kak Davin benar-benar lumpuh?" Tanya sepupu Davin yang selama ini hanya diam menyimak kata-kata penuh 'perhatian' Nenek kepada Davin.
Nenek menganggukkan kepalanya santai sementara kedua tangan dan matanya sibuk memilih perhiasan keluaran terbaru dari brand internasional.
Semua perhiasan yang ada di sini kebanyakan unlimited dan harganya tidak main-main. Hanya orang berdompet tebal saja yang mampu memilikinya.
"Tentu saja, sekarang Davin menjadi laki-laki yang payah dan tidak memiliki kegunaan lagi." Jawab Nenek dengan nada mengejek.
Hah, setelah sekian lama berjuang akhirnya tempat itu menjadi milik putranya. Betapa luar biasanya momen itu nanti?
Nenek sudah tidak sabar.
"Tapi... kenapa aku merasa ada sesuatu yang salah..." Gumam sepupu itu heran.
"Apa yang kamu pikirkan. Dia sekarang cacat dan tidak bisa melakukan apa-apa tanpa kakinya yang lumpuh." Kata Nenek tidak perduli.
Sepupu Davin terdiam. Dia melirik Nenek yang sedang asik memilih perhiasan dengan ekspresi aneh. Sejujurnya, daripada anggota keluarga yang lain atau bahkan Revan sendiri, dia lebih suka Davin menjadi kepala keluarga mereka.
Ini bukan tanpa alasan dia mengatakan ini karena faktanya Davin memang pantas menduduki tempat itu. Dia lebih berkompeten, tegas, dan mampu menjalankan perusahaan Kakek. Sedangkan Revan...hah, dia hanya bisa menghela nafas panjang karena tidak setuju.
...🌪️🌪️🌪️...
Selepas mereka pergi, Davin langsung bangun dari kursi roda dan menghapus jejak make up yang kekasihnya terapkan untuk mengelabui kawanan nenek lampir itu.
"Nenek mu sepertinya sangat bahagia melihat kamu duduk di atas kursi roda." Ujar Rein sambil melemparkan dirinya ke atas sofa.
Bahkan dia tidak lupa bagaimana ekspresi Nenek tiri Davin ketika melihat pakaian yang Rein gunakan, dia terlihat jijik tapi masih memaksakan diri untuk tersenyum.
"Dia bukan Nenek ku." Koreksi Davin.
"Hem." Respon Rein juga tidak terlalu perduli.
"Kecelakaan ku adalah kabar baik untuknya karena dengan begitu putranya yang payah bisa mengambil tempatku. Dan sekarang setelah melihat kakiku lumpuh, dia pasti merasa sangat senang karena menurutnya orang lumpuh tidak akan bisa menjadi kepala keluarga Demian." Jelas Davin muram.
Pikiran busuk sekelompok orang ini, bagaimana mungkin Davin tidak mengetahuinya?
Hanya saja dia bungkam dan berpura-pura tidak tahu karena menurutnya mereka sangat lemah untuk melawannya. Tidak sampai dia mengalami kecelakaan, Davin berjanji akan menghancurkan mereka.
"Mereka adalah orang yang sangat jahat, Dav, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Kata Rein takut.
Dia tidak ingin Davin mengalami kecelakaan seperti tahun itu lagi. Karena rasanya sungguh menyakitkan.
"Tenang saja, sayang. Aku sudah menyiapkan kejutan untuk mereka semua dan percayalah, kejutan yang aku siapkan kali ini akan membuat mereka merasakan betapa sulitnya membentuk senyuman, bahkan senyuman paksa pun rasanya tidak mungkin."
Rein tergoda ingin mengetahuinya,"Kejutan, apakah kamu mau memberitahu ku?" Rein memohon.
Davin tertawa rendah, menarik Rein ke dalam pelukannya dan memeluk Rein seerat mungkin,"Okay, tapi tidak semuanya." Tawar Davin.
Rein cemberut tapi masih mau mendengarkan,"Pelit."
"Jika aku memberitahumu semuanya, maka itu bukan kejutan namanya." Koreksi Davin bercanda.
"Baiklah. Kalau begitu katakan lah kejutan apa yang kamu siapkan..."