My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
232. 4



"Paman, apakah malam ini kita akan makan ayam lagi?" Suara manis gadis kecil itu terdengar lembut di dalam pendengaran Dimas.


Dimas menurunkan matanya menatap gadis kecil yang kini tengah menggenggam jemarinya dengan hati-hati. Dia sangat cantik, wajahnya terukir indah tapi sayang tubuhnya sangat kurus. Padahal tahun ini dia seharusnya sudah berusia 15 tahun, tapi karena kondisi tubuhnya yang tidak mendukung, pertumbuhan gadis ini tidak terlalu baik dan tidak ada bedanya dengan seorang anak berusia 9 atau 10 tahun.


"Nenek bilang dia sudah membeli beberapa potong daging ayam untuk Ail jadi seharusnya hari ini kita makan ayam lagi." Kata Dimas tidak kalah lembutnya.


Ail berseru senang mendengarnya. Pipi tirus Ail mengembangkan rona merah terang yang menyenangkan mata.


Hal sekecil ini saja membuatnya sangat tersentuh dan bahagia, Dimas agak prihatin.


Ail memang sudah berusia 15 tahun tapi tubuhnya tidak ada bedanya dengan anak 9 atau 10 tahun, tidak hanya tubuhnya yang memiliki masalah tapi kepribadiannya juga ikut bermasalah.


Ail adalah seorang anak panti asuhan yang terlantar. Karena situasi khususnya Ail seringkali mendapatkan perlakuan tidak adil di panti asuhan. Dia dilecehkan dan dibully, membuatnya tumbuh menjadi gadis yang kesepian. Karena tidak kunjung mendapatkan orang tua adopsi dan usianya sudah tinggi, pihak panti memutuskan untuk mengeluarkan Ail dari panti asuhan dan membiarkannya hidup terlantar di jalanan dengan bekal beberapa lembar uang.


Di jalan pun Ail masih mendapatkan perlakuan yang tidak adil, dia hampir saja disalahgunakan oleh para preman jika Dimas tidak buru-buru menyelamatkannya.


"Paman, Paman?" Ail menggoyangkan lengan Dimas.


Dimas tersadar dari lamunannya dan menatap Ail dengan sebuah senyuman lembut di bibirnya.


"Kenapa, Ail?"


Ail tersenyum tipis. Melihat gadis cantik di pinggir jembatan kali dengan perasaan tertekan. Ail entah mengapa merasa bila gadis itu kurang menyukai kehadirannya karena sorot matanya yang berbeda.


"Kak Fani baru saja memanggil Paman." Kata Ail memberitahu.


Nenek bilang ketika Dimas bertemu dengan Fani, dia harus segera menyingkir agar Dimas dan Fani bisa dekat. Sebab jika mereka dekat Nenek bisa mendapatkan cucu jadi Ail pasti mendengarkan dengan patuh.


"Oh, Fani." Dimas menyapa Fani dengan anggukan sopan.


"Mas Dimas hari ini pergi ke sawah lagi, yah?" Kata Fani agak malu-malu.


Tampilannya yang lembut dan cantik dengan pakaian sederhana memberikan kesan jika Fani adalah gadis desa yang ayu.


"Ya, pagi ini aku dan Ail pergi mengawasi sawah Bapak yang sebentar lagi akan panen." Dimas menjawab dengan sederhana.


Sementara mereka berdua mulai mengobrol, Ail di samping Dimas menjadi semakin tidak nyaman dan ingin segera menyingkir untuk tidak menghalangi pertemuan mereka. Dia harus memberikan Dimas dan Fani kesempatan untuk dekat.


"Benarkah? Panen kali ini pasti sangat besar-" Fani terus saja mengoceh di depan Dimas.


"Mau kemana?" Dimas secara alami tidak memperhatikan ocehan Fani.


Fani menatap Dimas malu.


"Paman berbicara dulu dengan Kak Fani karena aku harus pergi kembali ke sawah untuk mencari sesuatu." Kata Ail berbohong.


Tangan kecilnya melepaskan jari jemari Dimas tapi segera ditangkap oleh Dimas kembali dengan tatapan tidak senang.


"Ini sudah sore. Kamu tidak boleh pergi ke sana sendirian." Ucap Dimas menolak.