My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
100. Hanya Orang Asing



Dan di sinilah mereka. Berdiri berhadapan di bawah cahaya lampu karena malam sudah merentangkan kekuasaannya. Sinar matahari pergi dengan kehangatannya, memberikan kesempatan pada sang penguasa dingin bergerak bebas menyelimuti malam.


Menggoda setiap orang untuk mengeratkan diri pada kain hangat jika tidak ingin kedinginan.


"Kapan kamu dan Tio kembali ke rumah, Rein? Dan kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa kepadaku saat pergi dari apartemen?" Tanya Dimas sarat akan nada keluhan.


Dia benar-benar merasa hampa setiap kali kembali ke apartemen dan dia bahkan merasa sakit hati setiap kali pergi ke kantor, karena rekan-rekannya selalu membicarakan tentang kedekatan Rein dan Davin sejak hari dimana mereka datang dengan Tio bertiga.


Rein dengan tenang menjawab,"Aku sudah mengirimi mu pesan sebelum pergi."


Dimas menjadi marah,"Kamu bisa menelpon ku! Dan kamu harusnya bisa menunggu aku pulang dulu! Jika aku pulang Davin tidak akan bisa membawa kamu pergi, Rein!"


Rein terlihat masih tenang. Dia tidak terkejut dengan kemarahan Dimas.


"Rein," Panggil Dimas lemah.


"Bukankah aku sudah bilang untuk jangan terjerat lagi dengan laki-laki brengs*k, itu? Jika kamu kembali bersamanya maka dia bisa berbuat sesuka hati lagi kepadamu! Dia bukan laki-laki yang baik." Dimas berulangkali menekankan jika Davin bukanlah laki-laki yang baik, dia laki-laki yang brengs*k, dan sebagainya.


Dan kata-kata ini Dimas ulangi tidak sekali dua kali, namun berkali-kali. Seakan-akan Dimas mencoba mengingatkan Rein pada tahun-tahun penuh kesulitan itu.


"Davin adalah Ayah biologis putraku." Rein kian membuat Dimas marah.


"Dia memang Ayah biologis Tio tapi apakah dia pernah perduli kepadamu saat mengandungnya dulu? Apakah dia tahu perjuangan apa yang kamu lalui saat melahirkannya? Apakah-"


"Dimas." Panggil Rein serius.


"Rein, kamu harus dengarkan aku dan jangan potong pembicaraan-"


"Itu kamu, bukan?" Rein tidak mau mendengar.


Dia memotong ucapan Dimas untuk yang kedua kalinya dan dengan ketenangan yang sama.


Dimas tidak mengerti dengan pertanyaan Rein.


"Itu kamu, Dimas. Kamu adalah orang yang menghancurkan hubunganku dengan Davin. Kamu adalah orang yang membuat kami terpaksa harus berpisah!" Ucap Rein memperjelas semuanya.


Dimas membeku, dia ingin mengatakan sesuatu tapi lidahnya tiba-tiba terasa kelu.


"Aku sangat mencintai Davin, dan kamu sangat mengetahui hal ini. Aku...aku juga mengandung darah dagingnya, dan kamu juga sangat mengetahui hal ini. Aku... berjuang antara bertahan hidup atau tidak untuk melalui semua tahun-tahun sulit itu, dan kamu telah melihat semuanya. Tapi kenapa, Dim?" Sebuah cairan hangat perlahan keluar dari sudut matanya.


Hatinya berdebar kencang karena rasa perih yang masih belum hilang dari tahun-tahun itu, sakitnya perpisahan...ia dan Davin terpaksa harus melalui semua itu. Membuatnya mengecap Davin sebagai laki-laki kejam selama tahun-tahun ini tanpa mengetahui keberadaan.


Ini menyakitkan, membayangkan semuanya sungguh sangat menyakitkan.


"Kenapa kamu tega melakukan semua ini kepadaku? Kenapa kamu tega memisahkan Tio dari Davin, kenapa Dimas!" Rein menuntut penjelasan.


Jawaban?


Dimas tersenyum tipis,"Bagaimana mungkin kamu masih belum menyadarinya, Rein? Itu semua karena aku mencintai kamu." Bukannya mengelak Dimas malah mengakuinya.


Toh, Rein sudah mengetahui semuanya.


Ia tidak tahu jika sahabatnya selama ini memendam perasaan kepada dirinya.


"Kamu tidak tahu? Hah... Rein, betapa tidak adilnya kamu-"


"Aku tidak pernah mencintai kamu, bahkan setelah bertahun-tahun berpisah dengan Davin, hatiku masih belum berubah. Berlebihan memang, tapi faktanya Davin masihlah duniaku, Dim. Dia masih menjadi duniaku walaupun kamu selalu ada untukku." Potong Rein tidak mau mendengar apa yang Dimas katakan selanjutnya.


Persahabatan apa?


Hubungan persaudaraan apa?


Bagi Rein, semua itu telah hancur semenjak ia tahu Dimas adalah penjahat sesungguhnya di dalam hubungannya dengan Davin.


Meskipun... meskipun ia masih sulit memaafkannya Davin, tapi hatinya tidak bisa dibohongi jika tempat itu masih dimiliki oleh Davin seorang.


"Rein," Dimas sakit hati, dia tidak mau menerima kenyataan ini.


"Mulai sekarang hubungan persahabatan diantara kita sudah tidak ada lagi, Dim. Aku tidak bisa memberikan kepercayaan kepada orang yang telah menusuk ku dari belakang." Putus Rein seraya menghapus air mata di wajahnya.


"Enggak... enggak, Rein! Kamu gak bisa melakukan ini kepadaku!" Dimas panik.


Ia buru-buru berlari ingin menyentuh Rein namun aksinya dihentikan oleh benda panjang nan dingin yang kini diarahkan tepat di depan matanya.


"Aku tidak akan ragu mengirim mu ke alam lain." Peringat Adit dingin.


"Biarkan aku berbicara dengannya." Mohon Dimas kepada Adit.


Adit tersenyum miring,"Baik, tapi keluarga mu yang ada di kampung akan menjadi jaminannya?"


Diingatkan tentang kedua orang tuanya yang masih di kampung, Dimas menjadi semakin marah.


"Apa yang kamu lakukan kepada orangtuaku!"


"Ini tergantung sikap mu di sini. Jika kamu keras kepala maka jangan harap untuk bertemu lagi dengan mereka." Jawab Adit enteng masih dengan nada yang dingin.


"Berani-beraninya kamu-"


"Jangan lupa kamu saat ini sedang berhadapan dengan pewaris tunggal Demian, bukan lagi seorang Davin Demian dari 5 tahun yang lalu. Menyingkirkan kamu dan keluargamu bukanlah masalah besar untuk kami jadi perbaikilah sikap mu mulai dari sekarang."


Dimas mengepalkan kedua tangannya marah, ia ingin membalas tapi ia benar-benar tidak berdaya saat ini. Davin sudah resmi menjadi pewaris Demian, dan karena kekuasaannya ini ia tidak bisa merebut Rein lagi. Bahkan Kakek tua bangka itu masih belum menunjukkan pergerakannya setelah ia membocorkan hubungan Davin dan Rein lagi.


Adit tersenyum puas, ia menurunkan senjata apinya dan kemudian berbalik pergi.


"Ayo, Rein." Ajaknya.


Rein tidak mengatakan apa-apa. Dia berjalan tertunduk di depan sedangkan Adit dengan sigap berjalan di belakang, menjaga jarak yang pas untuk memberikan Rein waktu berpikir.


"Apa kamu mendengarnya, Bos? Dia masih mencintaimu." Bisik Adit pada seseorang di seberang sana.