My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
36. (36)



Anggi menganggukkan kepalanya mengerti. Dia percaya apa yang mereka katakan tapi dia masih jengkel dengan tindakan impulsif mereka berdua.


"Baiklah, aku percaya. Aku tahu kalian ingin menjalankan tugas kalian tapi aku pikir cara ini cukup bermasalah. Kalian tidak bisa sewenang-wenang mengusir orang jika ingin bertemu dengan mas Adit. Pertama-tama lihat identitas mereka dan tanyakan apa tujuan mereka datang ke sini agar tidak menyinggung pihak manapun. Di samping itu siapapun yang datang ke perusahaan ini selain karyawan itu sendiri adalah tamu. Kalian tidak boleh asal-asal pilih tamu karena ini akan berdampak pada citra baik perusahaan. Apa kalian mengerti?" Kata Anggi memberikan saran atau nasihat kepada mereka berdua.


Kedua wanita itu juga menyadari kecerobohan mereka. Mereka sangat bersyukur bahwa Anggi lah orang yang mereka singgung hari ini karena Anggi nyatanya memiliki hati yang lembut. Dan jika orang yang mereka singgung adalah orang lain dan memiliki latar belakang keluarga yang sangat baik, betapa buruk jadinya karir mereka.


"Terima kasih, nyonya. Kami akan lebih selektif lagi di masa depan dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama-"


"Anggi." Panggil suara berat nan dingin yang sudah tidak asing lagi di dalam hati Anggi.


Kedua wanita itu langsung menutup mulut mereka sambil berharap Anggi tidak melaporkan kejahatan yang mereka lakukan barusan.


Anggi menoleh dan melihat Adit datang menghampirinya dengan setelan jas formal. Dia masih seperti terakhir kali mereka bertemu, ah, mungkin sedikit berbeda karena Adit sekarang memiliki sentuhan bola mata panda di bawah matanya.


"Mas Adit." Panggil Anggi dengan senyuman malu di wajah cantiknya.


Saat melihat Adit, ingatan akan malam itu kembali berkelebat membanjiri kepalanya. Anggi sangat malu dan tidak kuat melihat Adit lama-lama.


Dia bangun pagi ini dalam suasana hati yang baik. Dia pikir Anggi akan datang cepat dan membawakannya sarapan atau makan yang lebih manusiawi di lidahnya. Tapi setelah mandi dan menggunakan pakaian terbaiknya, Adit menatap dokumen di atas mejanya dengan linglung. Sudah hampir 30 menit semenjak supir pribadinya melaporkan bila Anggi sudah ada di perusahaan. Anehnya, Anggi sudah lama datang tapi kenapa tidak kunjung naik ke kantornya?


Padahal dia tidak sabar ingin makan masakan Anggi yang sudah lama dirindukan lidahnya.


"Ini mas, tadi ada kesalahpahaman yang terjadi di sini. Kedua wanita ini mengira bila aku adalah salah satu wanita yang berbohong agar bisa bertemu dengan mas Adit, padahal aku tidak seperti yang mereka katakan dan aku juga diminta ke sini oleh nyonya Rein untuk mengurus sesuatu kepada mas Adit." Kata Anggi menjelaskan.


Kedua wanita itu langsung menunduk malu dan tampak panik ketika melihat Adit beralih menatap mereka dengan dingin.


"Kenapa kalian tidak bertanya langsung kepadaku jika kalian tidak yakin dengannya?" Tanya Adit kesal.


Kedua wanita itu saling memandang, mereka agak takut-takut tapi masih mengatakannya kepada Adit.


"Maaf pak Adit, kami sebelumnya sudah menelpon asisten pak Adit dan bertanya apakah pak Adit telah membuat janji dengan seorang wanita yang bernama mbak Anggi. Namun asisten pak Adit mengatakan jika nyonya Anggi tidak pernah membuat janji apa-apa dan meminta kami untuk segera mengusir nyonya Anggi dari perusahaan sebelum pak Adit mendengar ada pengganggu lainnnya yang datang ke sini." Kata salah satu wanita menjelaskan.


"Asisten?" Mata dingin Adit beralih menatap wanita berkacamata yang sedari tadi diam di belakang Adit tanpa bersuara.