My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
236. 8



"Apa yang kamu tahu? Mas Dimas pulang ke desa karena permintaan kedua orang tuanya. Jika orang tuanya tidak meminta maka mas Dimas pasti lebih suka hidup di kota. Dan kamu seharusnya tidak boleh lupa dengan rumor yang beredar beberapa tahun yang lalu tentang seberapa banyak uang yang dimiliki mas Dimas. Orang yang pernah melihatnya di kota pernah bilang jika mas Dimas bekerja di sebuah perusahaan besar dengan gaji yang sangat tinggi. Jadi mana mungkin dia tidak punya uang? Hah, lihat saja temannya yang datang hari ini. Bukankah mereka sangat kaya?" Bela Fani tidak senang calon suaminya diremehkan.


Tina tidak mengatakan apa-apa lagi. Sudut mulutnya terpaksa membentuk senyuman, tampak enggan. Apapun yang dikatakan oleh Fani, dia tidak meragukannya sama sekali dan semakin terbakar api cemburu.


Sementara itu Roni tidak langsung pulang ke rumahnya dan ikut berbaur dengan keramaian. Di sana dia juga bertemu dengan Ibunya yang mulai bergosip dengan para tetangga yang lain untuk membicarakan tentang kedatangan mobil mewah tersebut.


"Roni, kenapa kamu pulang terlambat dan kenapa Ail pulang bersama Dimas dengan lumpur di tubuh mereka?" Ibunya jelas berharap Roni pulang bersama Ail dan tidak mengharapkan Dimas pulang bersama Ail dalam penampilan kotor seperti itu.


Saat itu dia jelas mempercayakan Ail kepada Roni dan juga sempat berpapasan dengan Dimas di jalan pulang. Saat itu Dimas sedang berjalan terburu-buru dengan Fani, mereka mungkin sedang asik berpacaran.


Roni menurunkan karung itu dari punggungnya. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menatap Ibunya dengan malu.


"Ail tadi kecelakaan dan jatuh ke lumpur, Bu. Aku ingin membantunya tapi Dimas tidak mengizinkan aku. Dia sepertinya sangat marah kepadaku karena cara bicaranya tidak terlalu ramah." Kata Roni menjelaskan.


Jika Dimas marah kepadanya maka Roni tidak tahu bagaimana caranya berbicara dengan Ail lagi di masa depan. Karena Dimas mungkin tidak akan mengizinkannya untuk dekat dengan Ail lagi jika seperti ini.


Ibu sangat marah saat mendengarnya dan langsung memukul pundak Roni tidak puas.


"Apa kamu bilang? Ail kecelakaan?! Wajar saja Dimas marah karena Ail adalah anak yang dia ambil sendiri untuk dibesarkan. Bagi Dimas, Ail sudah menjadi anggota keluarganya. Jadi jika dia terluka atau ada yang menyakitinya, Dimas pasti akan langsung marah. Seperti kamu! Dia pasti kecewa karena kamu tidak bisa menjaga Ail dengan baik!" Kata Ibu jengkel dan tidak puas terhadap sikap lamban putranya.


Tapi Roni merasa ada yang salah dari penjelasan Ibu. Dia ingin membantah tapi jika dipikir-pikir apa yang Ibu katakan memang benar dan masuk akal.


"Terus apa yang harus aku lakukan, Bu? Dimas sepertinya sangat marah kepadaku." Dia ingin menikahi Ail jadi restu Dimas sangat penting untuk Roni.


Ditambah lagi dia menyukai tipe seperti Ail. Cantik, pemalu, penurut, dan polos. Tipe seperti ini sudah sangat sulit ditemukan bahkan di dalam desa sekalipun yang tidak terlalu memiliki pergaulan bebas.


Ibu mendengus tidak puas,"Nanti malam Ibu akan membuat kue kukus dari ubi jalar. Kamu gunakan lah kesempatan ini untuk memperbaiki hubungan mu dengan Dimas dan berbicara baik-baik dengannya. Gunakan juga kesempatan ini untuk mengambil kepercayaan Ail kepadamu." Kata Ibu setelah memikirkan beberapa rencana singkat di kepalanya.


Siapa suruh dia terlalu menyukai Ail daripada mantan istri putranya yang kemarin. Untuk menjodohkan Ail dengan putranya, dia rela memikirkan banyak cara agar mereka bisa bersatu.


"Baiklah, Bu. Aku akan mengikuti rencana Ibu nanti malam. Aku harap Dimas tidak lagi marah kepadaku dan Ail juga mau berbicara lagi denganku." Roni memiliki harapan besar di dalam hatinya.


Setelah berbicara sebentar dengan Ibunya dan menyapa beberapa warga desa, Roni lalu pulang ke rumah bersama Ibunya. Ibu suka berbicara dengan orang-orang desa tapi dia harus pulang membuat kue kukus untuk nanti malam.


...🌪️🌪️🌪️...


Dimas sudah memiliki tebakan di dalam hatinya mengenai siapa tamu dan sungguh tidak mengharapkannya. Tapi siapa yang mengira jika tebakannya benar. Tamu yang datang adalah orang yang tidak ingin dia lihat lagi dalam hidup ini. Suasana hatinya yang masam kian masam saja.


Dimas melirik Ibunya yang pergi dan duduk dengan enggan. Menaikkan satu kakinya dengan angkuh, dan menatap datar kedua tamu menjengkelkan ini.


"Yo, sudah lama dan kamu masih belum melupakan istriku. Oh lihatlah wajah masam ini, penuh dengan rasa cemburu yang mengharukan." Ejek Davin datar tanpa merubah wajahnya sedikitpun.


Sekali pandang saja dia tahu jika Dimas dalam suasana hati yang buruk dan jujur, Davin sangat menikmati ketidakberdayaan Dimas saat ini.


Dimas mendengus tidak senang diingatkan tentang masa lalu,"Jangan terlalu percaya diri. Istrimu bagiku sudah bukan apa-apa lagi. Tapi kamu, kamu adalah mahluk parasit yang sangat menggangu. Melihatmu berarti kesialan untukku." Balas Dimas tidak kalah tajamnya.


Benar saja. Hari ini benar-benar buruk dan itu semua dipicu oleh kedatangan mahluk parasit ini.


Davin tidak mempercayainya,"Oh ya, aku tidak tahu keinginan berkobar seseorang yang pernah memiliki ambisi memisahkan ku dengan istriku ternyata bisa dipadamkan hanya beberapa tahun." Ucap Davin dengan nada mengolok-olok.


Dimas tersenyum simpul,"Bahkan jika aku mengatakannya seribu kali pun mahluk parasit itu tidak akan mempercayainya. Jadi tidak ada gunanya membuang-buang waktu berbicara untuk meyakinkannya. Toh, bongkahan kepalanya sudah dipenuhi oleh kesombongan yang menggelikan." Balas Dimas sama sekali tidak terpancing dengan provokasi Davin.


Intinya di sini dia akan selalu membalas setiap kata cemoohan dan olok-olokan dari Davin. Karena dia bukan lagi Dimas yang dulu, bodoh dan tidak berguna.


Mereka berdua berbicara dengan sikap santai tapi setiap kata yang keluar dari mulut mereka bagaikan sebuah lemparan pisau, cukup tajam. Mereka berdebat dengannya santai sementara Adit duduk di pojok menikmati setiap makanan ringan buatan rumah yang jarang bisa dia temukan di kota.


Melirik waktu di jam tangannya, Adit dengan ramah mengingatkan mereka agar segera mengakhiri acara temu kangen ini.


"Bos, Nyonya sedang membutuhkannya." Kata Adit datar, tidak sadar menusuk rasa sakit Davin.


Davin mendengus dingin,"Kamu ikutlah bersamaku untuk menemui Rein. Dia sedang hamil anakku dan ingin bertemu denganmu." Kata Davin dengan sikap congkak yang dibuat-buat.


Dimas senang mendengarnya karena Rein akhirnya bisa memiliki anak lagi. Tapi dia agak tidak senang dengan sikap narsis Davin yang membuatnya jijik.


"Jika sikap mu seperti ini aku menolak untuk datang." Kata Dimas langsung membuat Davin jengkel.


"Apa-apaan! Jangan lupa jika aku adalah orang yang membebaskan kamu dari tuntutan. Jika tidak, kamu mungkin sudah mendekam di penjara saat ini." Kata Davin mengingatkan dengan dingin.


Apa yang Davin katakan memang benar. Saat itu Davin memutuskan untuk melepaskan Dimas dari kasus itu. Membiarkan Dimas menikmati hidup damainya bersama dengan kedua orang tuanya di desa.


Dimas tidak mau kalah dan langsung membalas.


"Oh ya, dan kamu juga tidak boleh lupa. Tanpa bantuan bukti dariku, kamu tidak akan pernah bisa mengirim mereka semua ke penjara dan mungkin sampai saat ini hidupmu masih dibayang-bayangi oleh mereka!"