
Rain tenggelam dalam rasa sakitnya disaat orang-orang diluar sana sibuk tertawa menyebarkan harapan manis untuk pasangan kekasih itu di masa depan nanti.
"Hari ini pasti akan datang juga." Bisik Rain seraya mengusap air mata di wajahnya.
Ia tersenyum kecil, mengambil nafas panjang sebelum turun dari ranjang dan berjalan mendekati jendela kamarnya. Ia menarik kain gorden, menyingkap suasana malam yang tidak kalah indahnya dengan suasana di dalam pesta itu. Seolah-olah Tuhan ikut merayakan kebahagiaan hari bahagia Almira dan Deon.
"Dan hari dimana mereka mengikat janji suci di dalam sebuah pernikahan juga akan segera datang, aku hanya perlu mempersiapkan hatiku." Bisiknya sendu.
Tangan kurusnya yang tidak berdaging mendorong sisi jendela ke samping sehingga angin malam yang sarat akan kesejukan dan rasa dingin bisa masuk menyapa kamar sunyi nya.
"Lalu, aku harus mempersiapkan hatiku untuk mendapatkan kabar bahagia dari mereka. Laki-laki ataupun perempuan aku yakin anak-anak itu pasti akan menuruni wajah tampan Deon dan wajah cantik Almira. Sampai hari-hari penuh kehangatan itu tiba, aku berharap hatiku tidak akan sesakit ini lagi."
"Atau mungkin..." Ia menatap hamparan langit malam di depannya dengan suasana hati yang tidak cukup untuk dikatakan baik atau buruk.
"Aku bisa melupakan semua rasa cintaku kepada Deon-"
"Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi!" Teriakan nyaring dari tempat pesta segera menarik fokus dan pikiran Rain.
Ia terkejut, buru-buru mengusap wajahnya sebelum keluar dari kamar ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi di tempat pesta. Begitu sampai di aula, ia sangat terkejut melihat orang-orang mulai berkumpul di atas podium. Tidak berselang lama, sosok kuat Deon keluar dari kerumunan dengan tubuh lemah Almira di dalam pelukannya.
Almira tampak pucat dan mulai tidak sadarkan diri. Membuat Mama, Papa, dan bahkan semua orang menjadi panik. Mereka dengan langkah tergesa-gesa keluar dari aula pesta mengikuti langkah cepat Deon keluar.
"Apa yang sedang terjadi?" Rain masih belum bisa mencerna situasi.
"Apa kamu bodoh? Tidakkah kamu melihat kondisi adikmu saat ini memburuk!" Kata-kata pedas Bibi Mei mengejutkan Rain.
Sontak saja, ia segera mengecilkan lehernya sebagai respon pertama. Bibi Mei berdecih tidak senang melihat Rain, menurutnya Rain terlalu pengecut dan dilahirkan sebagai beban di keluarga ini. Tidak seperti Almira yang sudah memiliki pekerjaan tetap, Rain masih berjalan di tempat belum menghasilkan kemajuan apa-apa.
"Penyakit Almira kambuh lagi?" Rain akhirnya menyadari apa yang baru saja terjadi.
Bibi Mei tidak berniat menjawabnya dan malah mendengus tidak senang, ia lalu membawa langkah kakinya yang menggunakan sepatu hak tinggi bermerk menyusul orang-orang ke rumah sakit. Ia sangat khawatir dengan keponakan kesayangannya itu, jika bisa, ingin sekali ia mengirim penyakit Almira ke tubuh Rain agar hidupnya di dunia ini sedikit berguna.
"Aku...aku akan ikut ke rumah sakit." Melihat Bibi Mei langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa, Rain buru-buru mengejarnya.
Namun dia sedikit terlambat karena Bibi Mei sudah pergi dengan mobil pribadinya. Rain bingung, sudah tidak ada mobil lagi di rumah.
"Aku akan naik taksi saja!" Putusnya buru-buru menuruni tangga dan berlari kecil menuju halaman depan.
Beruntung ada taksi yang kebetulan lewat di depannya. Dengan taksi itu, ia menyusul orang-orang ke rumah sakit A, rumah sakit kelas atas yang sudah sering Rain datangi setiap kali menemani adiknya melakukan pemeriksaan.
15 menit kemudian Rain sampai di depan rumah sakit. Ia langsung masuk ke dalam dan mencari bangsal adiknya setelah bertanya di depan meja administrasi.
"Kondisi Almira sudah seperti ini Pa, jadi mau tidak mau kita harus segera menemukan pendonor untuknya." Suara Mama yang sarat akan perasaan lelah dan khawatir kebetulan juga di dengar oleh Rain yang baru saja datang.
Ia berdiri diam dengan canggung.
"Mama harus tenang, kita semua sedang berusaha menemukan pendonor ginjal yang cocok untuk Almira. Bahkan teman-teman Papa diluar negeri juga ikut membantu jadi Mama harus yakin jika Almira pasti menemukan ginjal yang cocok untuknya." Papa merangkul Mama sayang, berbagi kehangatan untuk saling menguatkan.
Rain sedih, ia membuka mulutnya ingin mengatakan kata-kata penghiburan kepada kedua orang tuanya tapi lebih dulu diinterupsi oleh Bibi Mei dan Bibi Lara.
"Kakak, kenapa tidak donorkan saja salah ginjal Rain kepada Almaira?" Tanya Bibi Mei heran.
Bibi Lara pun berpikiran yang sama,"Benar, Kak. Kenapa kalian tidak menggunakan salah satu ginjal Rain untuk didonorkan kepada Almira. Bukankah mereka adalah saudara?"
Logikanya, mereka berpikir jika Rain bisa mendonorkan Almira salah satu ginjalnya hanya karena mereka memiliki hubungan darah.
Rain langsung diam membisu, entah kenapa rasanya agak tidak nyaman mendengar mereka membicarakannya dengan nada seperti itu.
"Tidak mungkin," Papa segera menolak.
"Ginjal Rain tidak cocok untuk Almira. Seandainya hasil tes kemarin cocok, Almira pasti sudah melakukan operasi hari ini."
Rain tersenyum tipis. Ia akhirnya menyerah membuka mulutnya. Lebih baik ia tidak usah berbicara saja karena pada akhirnya fokus semua orang akan selalu jatuh pada Almira.
Ah, benar.
Almira memiliki penyakit gagal ginjal. Awalnya hanya satu, tapi karena ginjal yang lain terlalu terbebani dan donor tidak kunjung-kunjung ditemukan, maka ginjal Almira yang lain juga mengalami kerusakan sehingga ia terpaksa harus bolak-balik rumah sakit setiap minggu.
Di antara kesempurnaannya, ia hanya memiliki kekurangan ini tapi masih sangat dicintai oleh banyak orang.
Berbeda dengan Rain, dia memiliki kekurangan tapi entah mengapa orang-orang sulit mengasihaninya meskipun mereka adalah keluarga.
"Dia pasti sangat sedih." Bisik Rain diam-diam menatap wajah tertunduk Deon yang sedang duduk di kursi tunggu.
Deon tidak pernah berbicara namun tangannya tidak berhenti mengirim pesan darurat ke semua orang yang bisa ia mintai bantuan. Cintanya kepada Almira benar-benar tulus sehingga ia tidak pernah pantang menyerah mencari donor yang cocok untuk Almira.
"Jika saja aku bisa mendonorkan milikku," Rain membawa pandangannya menatap lantai putih yang sejujurnya tidak menarik sama sekali.
"Aku tidak akan pernah ragu mendonorkan kedua ginjal ku kepada Almira. Karena dengan begitu Deon tidak bersedih lagi dan adikku tidak akan kesakitan lagi." Bisiknya lemah.
"Tapi aku tidak bisa....aku tidak tahan rasa sakit." Gumamnya merasa bersalah.
Rain berdiri di tempat yang tidak terlalu mencolok dengan mulut yang tertutup rapat. Kedua mata persik nya yang cantik sesekali memperhatikan wajah-wajah panik mereka, dan sesekali pula ia akan memperhatikan wajah lelah dan frustasi Deon. Ingin, ingin sekali ia mendekatinya untuk sekedar memberikan kata-kata penghiburan tapi ia tidak bisa karena sejak Deon dan Almira mengkonfirmasi hubungan mereka maka sejak itu pula ia secara alami menjaga jarak darinya.
Perlahan dia mulai menjadi lebih banyak mengurung diri di dalam kamar, kembali pada kebiasaan masa kecilnya yang kesepian. Dan secara perlahan pula ia mulai melepaskan diri dari label pertemanannya dengan Deon, menggunakan alasan sibuk sekolah dan belajar sebagai penjara yang akan membatasi langkahnya semakin dekat dengan Deon.
Dia sudah melakukannya, sudah 5 tahun.
"Dia tidak bisa kembali ke rumah. Kondisi Almira benar-benar buruk dan harus segera mendapat donor ginjal dalam waktu dekat." Dokter Adit, dokter yang selama ini menangani Almira akhirnya keluar setelah melakukan pemeriksaan serius.
Wajah Deon dan Papa langsung berubah. Mereka terlihat sangat frustasi.
"Berapa lama ia bisa bertahan?" Papa bertanya hati-hati.
Dokter Adit menjawab dengan hati-hati pula.
"Paling lama 3 bulan dia harus segera mendapatkan donor. Jika tidak, saya yakin Anda tahu hasil akhirnya."
Kondisi Almira sudah masuk dalam tahap kritis. Tanpa bantuan alat-alat medis di dalam, ia mungkin tidak bisa bertahan lama. Namun, sekalipun ia menggunakan bantuan alat-alat medis, kehidupan Almira belum tentu bisa diselamatkan. Pada akhirnya semua ini tergantung pada kerja keras mereka mencari pendonor dan kemauan keras Almira bertahan hidup.
Mereka harus bekerja lebih keras lagi untuk segera mendapatkan pendonor bila tidak ingin Almira menghilang dari dalam hidup mereka.
"Aku akan menghubungi teman-teman ku di luar negeri. Mereka bilang ada ginjal yang cocok untuk Almira tapi mereka masih belum memastikannya secara langsung karena sang pendonor masih ragu mendonorkan ginjalnya." Ini adalah kabar baik sekaligus kabar buruk untuk semua orang.
Meskipun buruk, setidaknya mereka masih memiliki harapan Almira bisa diselamatkan.
"Pendonor harus bersiap-"
"Dia memiliki sebuah penyakit dan untungnya ginjal pendonor tersebut baik-baik saja." Implikasinya calon pendonor bersedia mendonorkan ginjalnya karena batas hidupnya di dunia ini tidak akan lama lagi.
Dokter Adit menghela nafas panjang, ia tidak tahu antara merasa lega karena Almira bisa diselamatkan atau justru bersimpati karena pendonor harus meregang nyawa.
"Baiklah, kami akan menunggu kabar selanjutnya darimu."
Malam itu Mama dan Papa tidak pulang ke rumah, bahkan Deon pun terpaksa membawa dokumen-dokumen penting perusahaannya ke rumah sakit agar bisa menemani sang kekasih.
Sedangkan Rain, dari awal kedatangannya sampai dengan saat ini masih belum ada satu orangpun yang menyadari keberadaannya- oh, mungkin lebih tepatnya mereka tidak mau berurusan dengan dirinya.
Rain tidak berkecil hati. Ia segera pulang ke rumah begitu melihat orang-orang juga pulang. Ia tidak bisa mengganggu kedua orang tuanya karena mereka saat ini sedang kalut dan ia juga tidak bisa tinggal di sana karena pengunjung dibatasi tidak boleh lebih dari 3 orang.
Hari-hari ini terus berlanjut sampai 1 minggu kemudian. Papa tiba-tiba memintanya menghadiri sebuah acara pertemuan bisnis atau mungkin lebih tepatnya ini lebih pantas disebut sebagai ajang pamer dari para orang kaya.
Rain terpaksa mengikuti keinginan Papanya karena ia juga tidak bisa mengeluh. Papa sangat sibuk sejak Almaira menjalani rawat inap di rumah sakit.
Untuk menghadiri pertemuan tersebut, Rain tidak mau menggunakan gaun pesta ataupun dress perempuan. Ia lebih suka menggunakan jas dan celana jeans seperti yang biasanya ia lakukan ketika ke kantor. Ini adalah pakaian yang paling sesuai untuk Rain gunakan karena ia tidak punya banyak referensi pakaian untuk acara-acara seperti ini.
Mungkin jika Almira tidak di rumah sakit, ia pasti bisa memberikan Rain beberapa saran mengenai pakaian karena Almira adalah model dari majalah fashion.
"Nona, kita sudah sampai." Ujar supirnya menarik perhatian Rain dari lamunan tidak berarti.
Rain tersadar. Ia melihat keluar jendela mobil dan baru menyadari jika ia sudah ada di depan pintu masuk mansion Dirgantara. Ini adalah rumah utama keluarga Deon, calon adik iparnya.
"Terimakasih, Pak." Ucap Rain seraya turun dari mobil.
Berdiri diluar, Rain memperhatikan ada banyak sekali tamu-tamu yang sudah hadir. Beberapa wajah pernah Rain lihat di kantor Papanya dan beberapa wajah lagi pernah Rain lihat di dalam tv, dengan kata lain di sini ada banyak pebisnis dan artis Ibu kota. Rain mendesah ringan, dia benar-benar tidak suka keramaian. Ia mengambil nafas panjang untuk yang kesekian kalinya sebelum membawa langkah penuh enggannya masuk ke dalam.
Di dalam Rain berusaha menghindari obrolan. Sesekali ia mengangguk ringan ketika di sapa oleh kenalan Papanya tanpa niat melanjutkan pembicaraan. Hal ini terus berlanjut sampai akhirnya Rain bisa melarikan diri dari mereka semua.
Ia pergi ke balkon dengan segelas jus strawberry di tangannya sebagai formalitas. Ia tidak bisa minum dan ia pun tidak suka mencium bau alkohol, jadi, untuk mengelabui orang-orang ia hanya memesan jus strawberry dan membawanya kemana-mana sebagai formalitas saja.
"Ya Tuhan, akhirnya aku bisa bernafas lega!" Desahnya lega seraya menyandarkan punggungnya di tembok.
Jika bisa, ingin sekali dirinya pergi dari tempat ini dan segera pulang ke rumah untuk tidur. Karena ia benar-benar tidak suka keramaian. Di samping itu dia tidak punya kenalan jadi rasanya sangat canggung mencoba berbaur dengan mereka.
"Dia... sepertinya tidak ada di sini." Kata Rain kecewa.
Ini adalah mansion Dirgantara, mansion yang ditinggali oleh keluarga Deon sejak puluhan tahun yang lalu. Papa bilang keluarga Deon memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan di negeri itulah alasan kenapa Papa dan Mama sangat ingin membuat ikatan dengan keluarga Dirgantara melalui Almira.
Pertama kali mendengar tentang hubungan Deon dan Almira, keluarganya terlihat sangat senang karena mereka akhirnya bisa memiliki hubungan yang terikat dengan keluarga berkuasa tersebut. Dan mereka semakin bersyukur pula saat melihat betapa tulus cinta Deon kepada Almira sekalipun ia mengalami penyakit yang mematikan.
"Mungkin saat ini dia sedang ada di rumah sakit untuk menjaga Almira bersama Mama dan Papa-"
Prank
Suara pecahan kaca menarik Rain dari pikirannya. Rain terkejut, buru-buru ia mendatangi tempat suara pecahan kaca itu berasal. Saat melihat punggung lurus yang sudah tidak asing lagi untuknya kini sedang berjongkok di lantai sambil menyentuh kepalanya, Rain segera mendatanginya tanpa ragu takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Deon, apa kamu baik-baik saja?" Rain menaruh gelas jusnya di meja sebelum datang menghampiri Deon.
"Siapa?" Suara berat Deon terdengar tidak baik-baik saja.
"Ini aku, Rain." Kata Rain mengingatkan Deon.
"Oh, Rain." Kata Deon seraya menurunkan tangannya.
Ia mengangkat kepalanya menatap wajah khawatir Rain. Sekilas, Deon seolah melihat bayangan Almira di wajah cantik Rain. Membuat penjagaannya melonggar karena ia mengindentifikasi Rain sebagai kekasihnya.
"Almira, kamu di sini."
Deg
Cukup sakit tapi Rain memakluminya karena Deon pasti sedang mabuk. Ditambah itu pikirannya beberapa hari ini pasti tidak karuan karena mengkhawatirkan kondisi Almira di rumah sakit.
"Deon, ayo pergi. Aku akan membawamu bertemu dengan Paman Sam dan Bibi Xia." Kata Rain membujuknya kembali.
Jika ia membiarkan Deon di sini, takutnya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan apalagi saat ini mereka sedang ada di balkon bukan di dalam ruangan.
Deon tersenyum hangat, ia menjangkau tubuh tipis Rain dan membawanya ke dalam pelukan. Menghirup wangi tubuh Rain dengan candu, tidak berselang lama ia mengernyit heran setelah menghirup wangi tubuh Rain.
"Almira, apa kamu menggunakan parfum yang lain malam ini?" Tanya Deon sambil menghirup wangi Rain sekali lagi.
Menghirupnya berkali-kali untuk memastikan bahwa penciumannya tidak salah.
Rain tersenyum tipis. Ia mencoba menjauhkan wajah Deon dari lehernya.
"Ayo pergi, Deon." Kata Rain seraya membantu Deon berdiri dari duduknya.
Deon sangat berat tapi Rain terus berusaha membantunya agar bisa berdiri kembali.
"Rain, kamu ngapain di sini?" Deon bertanya bingung ketika melihat wajah merah Rain tepat di sampingnya.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini orang yang ia lihat bukanlah Almira melainkan Rain sendiri.
Rain menundukkan kepalanya tidak berani melihat Deon.
"Aku di sini karena menggantikan tugas Papa datang ke acara pertemuan ini." Jawab Rain.
"Oh," Deon mengernyit menahan perasaan pusing yang kembali menggelayuti kepalanya.
"Kamu mabuk, aku akan membawamu ke Paman Sam dan Bibi Xia." Kata Rain seraya mempercepat langkah mereka.
Deon menggelengkan kepalanya menolak. Tidak, dia yakin sedang tidak mabuk karena tidak pernah minum alkohol sebelumnya. Dia hanya minum jus anggur merah saja dan minuman itu seharusnya tidak mengandung alkohol kecuali ada seseorang yang telah memasukkan sesuatu ke dalam minuman itu.
"Tidak Rain," Badan Deon rasanya sangat panas.
Seolah-olah ada sesuatu yang memberontak ingin dilepaskan dan dipuaskan.
"Bawa aku ke kamar." Perintah Deon.
"Ka-kamar?" Wajah Rain sontak memerah.
Namun ia menggelengkan kepalanya sekuat tenaga untuk menyingkirkan pikiran gila yang hampir saja membuatnya berfantasi liar. Hei, bagaimana mungkin itu semua terjadi?
Jangan bodoh!
"Ya, badanku rasanya terbakar dan aku butuh air dingin untuk meredakannya." Kata Deon berusaha tetap berpikir jernih.
Tubuhnya terasa semakin panas dan Deon merasa bila tubuhnya menjadi sulit dikendalikan. Terutama tubuh bagian bawahnya. Tempat itu adalah satu-satunya tempat yang tidak tertahankan dan membutuhkan pelampiasan sesegera mungkin.
"Astaga, aku akan segera membawamu ke kamar. Tapi, bisakah kamu menunjukkan aku jalannya?"
Mansion ini sangat besar dan memiliki banyak lorong ataupun tangga. Rain tidak tahu dimana kamar Deon dan dia juga tidak pernah berkeliling di tempat ini.
Jadi, ia mempunyai kemungkinan yang sangat besar tersesat di mansion ini.
"Hem, setelah keluar dari sini belok kanan." Kata Deon mulai memberikan arahan.
Rain segera mengikuti arahan Deon. Begitu keluar dari balkon ia langsung membawa langkah mereka menuju belok kanan, menyusuri lorong panjang yang diterangi cahaya lampu kuning keemasan.
"Apa kamu melihat tangga di samping kanan,"
Rain langsung melihat ke depan dan kebetulan menemukan tangga yang Deon maksud.
"Ya, aku melihatnya." Kata Rain bersemangat.
Oh ya ampun, Deon terlalu berat!
Dia tidak bisa terus memapahnya seperti ini.
"Naik ke sana." Perintah Deon.
Rain mengikutinya. Mereka secara perlahan menaiki anak tangga satu persatu hingga sampailah mereka di lorong panjang lantai kedua.
Berbeda dengan lantai satu, lorong di lantai memang panjang tapi hanya memiliki beberapa ruangan saja.
"Pintu coklat nomor tiga, itu adalah kamarku." Ucap Deon dengan suara seraknya.
"Aku menemukannya." Rain membuka pintu- tidak terkunci, ini lebih baik daripada mereka harus lebih pusing lagi mencari kunci kamar!
"Kita sudah sampai." Rain membantu Deon masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di atas ranjang.
"Rain," Panggil Deon dengan suara seraknya.
"Aku...aku akan pergi dan kamu istirahatlah di sini." Ucap Rain sebelum berbalik pergi- tapi, tidak sampai ia mengambil langkah kedua, tangannya tiba-tiba ditarik oleh Deon dengan kekuatan yang sangat besar.
Deon melemparkan Rain ke atas kasur dan beralih menghimpitnya agar tidak bisa melarikan diri.
Terkejut, Rain kesulitan mengatakan kata-katanya. Bagaimana mungkin kini Deon sudah ada di atasnya- tidak, hal yang paling gila adalah kenapa dia tiba-tiba berada dibawah!
"De-Deon...apa yang sedang kamu lakukan?" Rain ketakutan ditatap seperti ini oleh Deon.
Ia bahkan memalingkan wajahnya untuk menghilangkan perasaan gugup dihatinya.
"Kamu..." Deon merendahkan kepalanya, menyentuh wajah lembut Rain dengan bibirnya sebelum turun menyusuri leher ramping Rain yang memiliki wangi candu.
"Tidak! Tidak, boleh!" Rain panik.
Ia mendorong kepala Deon sekuat tenaga hingga Deon tertangkap tidak siap dan berakhir jatuh ke lantai. Melihat Deon jatuh, Rain langsung memanfaatkan peluang yang ada untuk melarikan diri. Buru-buru ia turun dari ranjang dan membawa langkah kakinya sekuat tenaga agar bisa menyentuh gagang pintu.
Cklack
Cklack
Cklack
Rain menggerakkan gagang pintu berkali-kali tapi pintu kamar Deon masih belum bisa dibuka.
"Ya Tuhan, kenapa pintunya tidak bisa dibuka!" Kedua tangan Rain bergetar panik dan terasa dingin. Ia memukul-mukul sisi pintu sekuat tenaga agar bisa dibuka tapi semua usahanya sia-sia.
"Bagaimana bisa pintu ini sekarang dikunci? Ta-tadi aku ingat pintu ini tidak terkunci." Gumam Rain ketakutan, menggerakkan gagang pintu dan memukul-mukul pintu agar segera terbuka.
Tapi hasilnya masih sia-sia.
"Mau kemana, hem?"
Deg
Suara serak Deon terdengar sangat dekat di telinganya. Deon ada di belakangnya dan mengejutkannya lagi, dia tepat ada di belakang Rain!
Rain ketakutan. Ia menggigit bibirnya menahan suara isak tangis. Bagaimana mungkin skenario ini terjadi kepadanya?
"Apa kamu ingin melarikan diri dariku?" Tanya Deon mulai mengendus-endus tengkuk Rain, membuat lutut Rain terasa lemas tidak sanggup lagi berdiri.
Namun, Rain berusaha menguatkan dirinya.
"Deon, jangan..." Rain membalik tubuhnya sehingga ia bisa berhadapan dengan Deon.
Tidak disangka mereka berdiri sedekat ini-- tidak, lebih tepatnya mereka sungguh sangat dekat seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta padahal faktanya adalah sebuah mimpi buruk.
"Kamu tidak menginginkan ku?" Tanya Deon tidak puas.
Rain menggelengkan kepalanya menahan takut.
"Tidak Deon, aku mohon sadarlah karena aku bukan Almira!"
Bersambung...
Novel ini sudah ada di Wa (ttpa) d dengan judul Calon Adikku Menjadi Suamiku, silakan mampir 🍃
Please jangan marah-marah okay, saya udah kasih judul 'Jangan Dibaca (Promo)' sebagai peringatan 🍃
Kalau baca terus ujung-ujungnya marah berarti.... pikirin sendiri ajalah.