My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
114. Tidak Masalah



Namun selama dua hari ini ada sesuatu yang sangat menarik perhatian Rein. Sejak Aska tinggal di rumah ini Rein sering memperhatikan jika ada wanita cantik berpenampilan seksi yang sering berjalan mondar-mandir di depan vila Davin. Rein tidak tahu apa yang wanita itu cari karena ia hanya berjalan mondar-mandir dan sesekali melirik vila Davin dengan keraguan di bola matanya.


Sementara Rein tenggelam dalam lamunannya, ia tidak menyadari bila ada orang lain yang telah masuk ke dalam rumah.


Cklack


Dengan langkah berat orang itu masuk ke dalam rumah. Kelelahan di raut wajahnya tidak bisa disembunyikannya oleh senyuman lebar yang terbentuk di bibirnya.


Ia masuk ke dalam, mengedarkan pandangannya mencari sosok ramping yang telah lama ia rindukan sebelum matanya jatuh pada tatapan kosong Rein mengawasi dua anak laki-laki bermain di taman belakang.


Melihat pemandangan lembut itu, senyuman lebar di wajahnya kian tertarik membentuk sebuah sudut yang indah. Ada kelegaan di dalam sinar mata almond nya.


Ia lalu menyeret langkah kakinya mendekati Rein, merentangkan kedua tangan kuatnya untuk menarik Rein ke dalam pelukan hangatnya.


"Argh-"


"Ini aku." Potong Davin menenangkan kepanikan kekasihnya.


"Davin?" Rein menghela nafas lega, ia menyentuh punggung tangan Davin yang kini tengah melingkari perutnya.


"Hem." Davin sangat kelelahan.


Ia menjatuhkan kepalanya di pundak Rein, bergerak nyaman masuk ke dalam perpotongan leher Rein, menghirup tempat itu sepuas mungkin untuk memuaskan kerinduannya.


Tindakan Davin terlalu intim, Rein agak malu jadinya tapi ia tidak menolak Davin. Ia membiarkan Davin mencari tempat yang nyaman untuk menenangkan saraf tegangnya.


Haah..


Rein tidak ingin menjadi orang yang munafik bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama di dalam hatinya. Dia merindukan Davin, dia merindukan laki-laki ini.


"Aku sangat merindukanmu, Rein." Bisik Davin dengan suara seraknya yang lebih berat.


Dia benar-benar kelelahan.


"Kamu butuh istirahat, Dav." Kata Rein mengalihkan topik pembicaraan.


Ia malu mengakui bahwa ia juga merindukanmu Davin.


Ia masih belum terbiasa.


Tapi Davin tidak mengatakan apa-apa untuk meresponnya.


"Dav?" Panggil Rein bingung.


"Kamu benar-benar kelelahan." Bisik Rein tidak berdaya saat menyadari Davin sudah jatuh tertidur.


Rein tidak membangunkan Davin, ia memanfaatkan posisi Davin di belakangnya, membawa Davin masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan Davin dengan hati-hati di atas ranjang. Setelah mengatur posisinya senyaman mungkin, Rein dengan telaten membuka sepatu dan kaus kaki Davin, menyingkirkan dasi formal di lehernya sebelum menarik selimut hangat untuk menutupi tubuh Davin.


"Mimpi indah, Dav." Bisik Rein lembut sebelum keluar dari kamar Davin.


Dia berniat membuat sesuatu di dalam dapur, namun sebelum ke dapur ia pertama-tama melihat Aska dan Tio di taman belakang, mereka masih asik bermain yang melegakan. Setelah memastikan mereka tidak bertengkar, ia kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dapur. Ia ingin menyiapkan beberapa makanan kesukaan Davin untuk menebus rasa lelahnya.


...🍃🍃🍃...


Sekarang di sinilah semua orang berkumpul, di ruang tengah. Setelah Davin bangun dari tidurnya, ia segera keluar memanggil Aska tanpa perlu repot-repot membersihkan diri di dalam kamar mandi dulu. Rupanya Aska telah membuatnya sangat kesal dari terakhir kali ia mengetahui Aska ada di rumah ini.


"Kamu kabur lagi? Apa kamu belum cukup puas Daddy hukum terakhir kali?" Suara marah Davin membuat Aska terlihat sangat ketakutan.


"Sorry Dad, Aska kabur lagi tapi aku gak mau Daddy hukum. Aska ingin bertemu Mommy tapi Daddy tidak pernah mendengarkan. Jadi Aska nekat mencari Mommy ke sini." Aska mengakui dengan kepala tertunduk.


Davin menghela nafas panjang,"Kamu selalu memberikan alasan yang sama! Inilah yang membuat Daddy enggan mempertemukan kamu dengan Mommy, karena selain tidak sabar kamu juga tidak patuh! Membuat susah Mommy dan Kakak pengasuh!"


Aska sudah sering melarikan diri dan sudah sering pula ia mendapatkan alasan yang sama dari Aska. Dia selalu mengatakan ingin bertemu Mommy! Ingin bertemu Mommy!


"Habisnya..." Aska menggigit bibirnya menahan suara tangis,"Aska gak suka sama Kakak pengasuh! Aska mau ketemu sama Mommy!"


"Kamu-"


"Davin," Potong Rein menghentikan amarahnya.


Dia melemparkan Davin tatapan peringat sembari membawa Aska ke dalam pelukannya. Davin tidak berdaya, ia menghela nafas panjang mengalah dan mulai merendahkan intonasi suaranya di depan Aska.


"Okay, terus Aska ke sini sama siapa? Darimana Aska tahu kalau ada Mommy di sini?" Tanya Davin sudah jauh lebih tenang.


Aska untungnya tidak takut lagi,"Aska ke sini sama Om Adit setelah mendengarkan pembicaraan Om Adit dengan Daddy beberapa hari yang lalu." Aska mengakui dengan patuh.


"Om Adit bawa kamu ke sini?" Tanya Davin tidak yakin.


Aska menundukkan kepalanya tidak berani menatap Davin,"Aska diam-diam masuk ke dalam mobil Om Adit."


Davin sekali menghela nafas panjang. Tentu saja Aska melakukanya karena Adit tidak mungkin membawa Aska ke sini tanpa mendengarkan perintahnya.


"Bangun Aska, Daddy akan mengantar mu pulang." Kata Davin seraya bangun dari duduknya.


Tapi Aska menolak, air mata yang ia tahan dalam diam tadi akhirnya pecah di dalam pelukan Rein. Dia menangis keras tidak ingin berpisah dari Rein.


"No Dad, Aska gak mau pulang! Aska mau tinggal sama Mommy, Tio, dan Daddy! Aska gak mau tidur sendirian di rumah itu lagi! Aska gak mau pisah dari Mommy dan Tio! Aska gak mau, Dad!" Teriak Aska membuat Davin sejenak merasa linglung.


Dia sering melihat Aska menangis tapi dia tidak pernah melihat Aska menangis sekeras ini. Dia tahu bila Aska pasti kesepian di rumah itu, dia membutuhkan figur seorang Ibu dan Ayah yang belum bisa Davin wujudkan. Dia membutuhkan kasih sayang semua orang yang seharusnya selalu ada untuknya.


"Biarkan dia tinggal di sini, Davin." Kata Rein tidak tega membiarkan Aska pergi.


Davin menatap Rein tidak percaya, dia pikir Rein akan menolak Aska.


"Rein, dia-"


"Aku tahu siapa Aska. Aku sekarang tahu siapa dia. Aska Demian, bukankah dia adalah anak yang kamu perjuangkan 5 tahun lalu?" Rein dengan cepat memotongnya.


Dia hanya asal menebak karena setelah melihat dengan hati-hati, wajah Aska lebih cocok disebut sebagai kemiripan antara kakak dan adik dibandingkan kemiripan antara Ayah dan anak.


Davin tersentuh, ia tersenyum tidak berdaya,"Apa kamu tidak marah?"


Karena hubungan mereka hancur dikarenakan ia lebih memilih melindungi Aska dari Rein.


Rein tersenyum lembut,"Enggak Dav, aku mengerti apa yang kamu rasakan dan aku tidak masalah menambah satu putra lagi." Bisik Rein yang langsung disambut pelukan hangat oleh Davin.


"Rein..." Davin memeluknya erat,"Kamu selalu membuatku jatuh cinta dengan caramu sendiri-"


"Ugh, Dad! Aska tidak bisa bernafas!"


"Tio tidak bisa belnafas, Daddy!"