
Di samping, kedua mata almond nya yang mengikat menatap Rein candu, menilai perubahan wajah canggung Rein.
Rein meremat kuat spatula ditangannya.
"Keluarlah, sebentar lagi makanan akan siap." Dia mengalihkan pembicaraan dengan mudah.
Davin di samping menghela nafas panjang. Ia tahu tidak mudah untuk meluluhkan hati Rein dan ia juga tahu mungkin butuh waktu yang tidak sedikit, namun ini jauh lebih baik daripada mereka harus berpisah seperti tahun-tahun sebelumnya.
Itu sungguh sangat menyiksa.
"Rein, acara liburan minggu depan aku ingin kamu ikut bersamaku." Dia berharap liburan ini semakin membuat mereka lebih dekat lagi.
Sejujurnya, tidak pernah terpikirkan sebelumnya untuk mengadakan acara liburan, apalagi sampai melibatkan karyawan perusahaannya. Rencana itu tiba-tiba muncul di kepalanya saat memikirkan rencana apa yang harus ia lakukan agarĀ bisa dekat lagi dengan Rein.
Dan yah, rencana ini muncul tiba-tiba yang merupakan salah satu bentuk langkah praktis agar ia dan Rein bisa kembali dekat.
"Maaf, Davin. Aku hanyalah seorang pembantu dan bukan karyawan perusahaan mu." Artinya dia menolak ikut.
Lagipula dia sudah berhenti bekerja di sini dan sekarang profesinya pun sudah beralih menjadi pembantu.
Jadi, bagaimana mungkin seorang pembantu rumah tangga berpartisipasi dalam acara sebuah perusahaan besar?
"Aku rasa kamu melupakan ini Rein, kamu memang seorang pembantu tapi 'pembantuku'. Aku adalah majikan mu, benar? Sebagai pembantuku kamu harusnya melaksanakan setiap perintah yang aku berikan. Jadi, kamu tidak punya alasan untuk tidak ikut acara liburan besok." Davin berkata tidak mau tahu, sikap sombongnya membuat Rein kewalahan untuk yang kesekian kalinya.
"Davin," Panggil Rein lemah.
Ia memutar tubuhnya menyamping, berhadapan langsung dengan wajah tampan tanpa cela Davin.
"Aku memang pembantu mu tapi bukan berarti aku harus mengikuti mu kemana-mana'kan? Lagipula tugas pembantu hanya memasak dan bersih-bersih di rumah, bukan malah mengikuti majikannya ke sana kemari."
Dia sungguh tidak mau pergi liburan bersama Davin. Bukan karena ia marah dengan Davin- ya, memang jelas dia marah kepada Davin tapi salah satu alasan terbesarnya menolak pergi adalah dia tidak ingin membuat para karyawan memikirkan hal yang tidak-tidak mengenai hubungannya dengan Davin.
Dia memang tidak perduli dengan rumor, tapi itu dulu saat Davin belum mengetahui Tio.
Dan sekarang, situasinya sungguh berbeda. Davin telah mengakui Tio sebagai putranya, kabar ini merupakan sebuah kabar baik untuk masa depan Tio. Tapi, tapi bagaimana jika tunangan Davin pulang dan mengetahuinya?
Lebih parah lagi tunangan Davin pasti akan sangat marah besar jika mengetahui ia dan Davin tinggal bersama. Oh ayolah, posisinya benar-benar sulit!
Rein, yang awalnya menjabat sebagai pembantu kini tiba-tiba menjadi sekretaris pribadi,"...." Bukankah kamu terlalu mengada-ada, ah!
Jika dia adalah sekretaris pribadi lalu bagaimana dengan Adit dan Lisa?
Harus berapa sekretaris pribadi lagi yang dibutuhkan laki-laki angkuh ini!
Davin dengan mudah membalik pembicaraan sehingga Rein kesulitan untuk membalasnya. Dia terdiam, menatap rumit ekspresi santai Davin yang ada di depannya.
Rein tidak bisa menebak apa yang Davin dapatkan dari semua ini, memintanya menempeli dia kemana-mana, untuk sebuah permintaan maaf Rein pikir ini terlalu berlebihan.
Tidak, jangan berharap ini soal rasa karena faktanya Davin lebih suka wanita yang sempurna. Lalu, jika bukan soal rasa maka tentang apa semua ini?
"Tio," Davin menyebut nama putranya.
"Aku juga akan membawa Tio ikut bersamaku." Dan pada akhirnya cara yang paling ampuh adalah menggunakan Tio sebagai alasan.
Rein mendesah tidak berdaya,"Kenapa harus membawa Tio? Tinggalkan saja dia di rumah bersama ku karena acara ini tidak cocok untuk anak kecil." Rein menolak.
"Siapa bilang? Ini adalah acara liburan Rein, bukan acara amal. Anak kecil tidak akan dilarang ikut berpartisipasi karena liburan ini tidak hanya diperuntukkan untuk orang-orang dewasa saja." Apa yang Davin katakan memang benar adanya.
Liburan ini tidak seperti yang Rein bayangkan. Mereka tidak melakukan hal yang aneh-aneh seperti menghidupkan malam dengan lampu warna-warni dan musik yang keras.
Tidak, sungguh tidak. Ini hanya liburan biasa dimana mereka akan menginap di sebuah penginapan umum atas bukit.
"Tapi-" Rein masih ingin menolak tapi segera dipotong oleh Davin.
"Jika kamu masih tidak mau maka aku akan membawa Tio saja bersamaku."
Rein memejamkan matanya. Beberapa detik kemudian dia kembali mengambil spatula dan melanjutkan acara memasaknya.
Dia belum mengatakan apa-apa dan tidak sadar bila ada orang yang sangat cemas di sampingnya.
"Aku akan ikut pergi tapi hanya untuk menemani Tio." Kata Rein membuat keputusan dengan berat hati.