
Malam harinya, Rein dengan telaten menidurkan Tio dan Aska di dalam kamar. Ia membacakan cerita dongeng anak-anak yang sudah usang dan kerap kali ia ceritakan kepada Tio. Meskipun usang, Tio tidak pernah mengucapkan ketidaksenangannya karena mendengar cerita yang sama seperti sebelumnya, dia senang juga bersemangat dan bahkan tidak jarang mulut kecilnya ikut menimpali Rein seolah-olah dia sedang memamerkan betapa hebatnya dia di depan Aska.
Rein menganggap itu lucu, dan berpikir bahwa putranya kini telah sepenuhnya menuruni sifat buruk Davin.
Cklack
Pintu kamarnya yang tidak terkunci dibuka dari luar oleh Davin. Sosok laki-laki jangkung itu berdiri diam di ambang pintu masuk sembari menatap Rein. Mata almond nya bersinar terang di bawah cahaya redup dari lampu tidur. Tidak jelas apa yang sedang Davin pikirkan karena di bawah cahaya redup Rein tidak bisa menilainya dengan mudah.
"Apa anak-anak sudah tidur?" Tanyanya kepada Rein.
Rein menjawab,"Mereka baru saja tertidur."
Rein menjawab singkat, bukan karena acuh tapi karena kecanggungan yang tiba-tiba merambat ke dalam hatinya. Sekarang tidak ada suara anak-anak sebagai latar pencair suasana yang otomatis membuat kecanggungan semakin berlipat ganda tarikannya.
Suasana canggung dan penuh hati-hati ini mengingatkan Rein pada tahun-tahun pendekatannya dengan Davin. Saat itu Rein lebih banyak menatap Davin dari jauh, diam-diam mengagumi wajah dingin Davin yang sungguh sangat tampan. Davin dulu pernah menjabat sebagai ketua OSIS di sekolah dan digilai oleh banyak gadis karena ketampanannya. Selain tampan ia juga cerdas dan bersikap dingin kepada siapapun, tidak terkecuali kepada gadis-gadis yang dijuluki kembang sekolah karena kecantikannya. Jelas saja ini membuat banyak gadis semakin tertantang untuk terpacu mendekati Davin tapi tidak ada yang berhasil, satupun.
Namun ternyata Rein adalah pengecualiannya. Suatu hari entah ada angin apa Davin tiba-tiba datang mendekati Rein dengan dalih meminta bantuan, lalu menggunakan dalih belajar bersama, kemudian menggunakan dalih meminjam barang-barang Rein sehingga mereka akan bertemu secara terus-menerus tanpa henti.
Rein senang dan dia menjadi besar kepala. Meskipun hanya sebatas dekat dengan Davin dia masih sangat bersyukur. Dia bahagia terus terjebak dengan Davin sampai akhirnya mereka masuk ke dalam perguruan tinggi yang sama. Rein tidak menyangka bila Tuhan saat itu sangat mencintainya, Tuhan menciptakan banyak peluang pertemuan antara Rein dengan Davin. Mereka berkali-kali bertemu dengan dalih pertemanan yang kemudian merambat menjadi teman tapi mesra.
Hubungan tanpa status itu tidak bertahan lama karena pada tanggal 11 November 8 tahun yang lalu, Davin tiba-tiba mengungkapkan perasaannya kepada Rein yang sejujurnya sangat mengejutkan. Rein tidak menyangka bila idola para gadis di sekolah maupun di perguruan tinggi nya ternyata memendam rasa kepadanya.
Saat itu, dia sangat bahagia dan tanpa ragu menerimanya. Mereka lalu tinggal bersama di sebuah rumah sederhana yang Davin dapatkan dari gaji magang di kantor Papanya. Mereka hidup dalam kesederhanaan, bertindak selayaknya suami-istri yang saling mencintai.
Benar, perasaan cinta mereka tidak bisa dibohongi dan tidak bisa disembunyikan. Karena cinta ini pula Davin memberanikan diri membawa Rein pulang ke rumah untuk bertemu Mama dan Papa. Mengejutkan, Mama dan Papa Davin langsung menyukai Rein saat pertemuan pertama mereka.
Mereka secara gamblang memuji Davin karena pintar mendapatkan istri yang baik. Yah, masa-masa itu sangat menyenangkan sampai akhirnya 3 tahun hubungan mereka berjalan semua kebahagiaan itu segera menguap hanya karena 1 tekanan.
Mereka berpisah, melewati tahun-tahun sulit terjebak dalam rindu dan benci, itu adalah tahun-tahun tersulit untuk Rein lewati selama hidup ini.
"Rein," Suara husky Davin menarik Rein dari lamunan panjangnya.
Dia tersadar, menatap Davin masih berdiri di tempat yang sama sembari menatapnya dengan sinar bola mata yang sama.
"Apa anak-anak sudah tertidur?" Tanpa disadari Davin mengulangi pertanyaan yang sama kepada Rein.
Pertanyaan yang seharusnya sudah ia tahu jawabannya tanpa perlu bertanya.
Rein tersenyum geli,"Mereka sudah tidur, Davin. Malam ini...kamu tidak memiliki tempat untuk ikut bergabung bersama kami."
Davin tertegun, dia menatap dua sisi kosong Rein yang telah ditempati oleh Tio dan Aska dengan ekspresi rumit.
Bila dia tahu kedua bocah itu akan menyusahkan nya, maka dia lebih suka membawa mereka ke kamarnya agar mereka bisa tidur berempat dengan bebas.
"Mau berbicara di luar?" Davin mengambil jalan alternatif untuk menarik Rein ikut bersamanya.
"Apa kamu tidak tidur?" Tanya Rein heran.
Davin pasti kelelahan bekerja seharian jadi bukan tidak mungkin ia merasa sangat mengantuk dan ingin tertidur terus.
Davin membuat alasan dengan lancar,"Malam ini aku kesulitan tidur karena hari ini sempat tidur siang. Jadi, apa kamu mau?"
Rein tidak langsung menjawab. Dia melihat Tio dan Aska terlebih dahulu untuk memastikan jika mereka berdua sudah benar-benar terlelap.
"Baiklah, kita berbicara di luar." Putus Rein sembari menyingkirkan selimut dari badannya dan turun dengan hati-hati agar tidak membangunkan mereka berdua.
Rein tidak melihat jika Davin beberapa detik yang lalu mengangkat tinjunya tinggi-tinggi sebagai respon spontan tubuhnya yang tengah dilanda bahagia. Davin tersenyum lebar sambil menurunkan tinjunya buru-buru menyembunyikannya dari pandangan Rein. Dia harus tetap berwibawa di depan Rein agar kesannya semakin baik. Dia tidak ingin terlihat konyol di depan orang yang ia sukai.
Davin menunggu Rein keluar dari kamar sebelum menutup pintu. Mereka kemudian pergi ke ruang keluarga untuk mengobrol. Kebetulan malam ini hujan turun sangat deras, menimbulkan suara gemericik nyaring dari air hujan yang terdengar sangat menenangkan saraf.
"Apa kamu merasa kedinginan?" Secara tersirat Davin menawarkan sebuah pelukan hangat kepada Rein.
Tapi sayangnya Rein tidak mengerti petunjuk yang Davin buat. Ia pikir Davin bertanya murni karena ingin tahu tanpa ada makna tertentu.
"Tidak, kenapa? Apa kamu kedinginan?"
Davin memaksakan senyum di wajahnya,"Ya, malam ini agak dingin." Dia ingin dipeluk oleh Rein.
Tapi lagi-lagi Rein tidak melihat petunjuknya, bukan sebuah pelukan hangat yang Rein tawarkan melainkan sebuah layanan kenyamanan- yang sangat jauh dari harapan Davin.
"Kalau begitu aku akan membuatkan mu minuman hangat-"
"Tidak perlu, kamu tidak perlu melakukannya. Aku tidak apa-apa dan tidak terlalu kedinginan." Davin segera memotong ucapan Rein ketika melihatnya akan bangun dari sofa.
Rein ragu,"Sungguh tidak apa-apa?"