
Tampaknya Aska sedang mengejar Tio dan ingin menangkapnya. Tio sangat ketakutan dan terus berlari sekencang mungkin untuk mengindari jangkauan Kakaknya, namun meskipun takut, wajah gembil nya memerah terang karena bahagia.
"Tio, Aska, kemari lah." Panggil Rein melambaikan tangannya untuk menarik perhatian Aska dan Tio.
Davin berpura-pura marah,"Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu dan tanpa gangguan anak-anak." Keluh Davin dibuat-buat.
Rein memutar bola matanya malas meladeni sandiwara suaminya.
"Anak-anak pasti sangat kesepian selama beberapa hari ini karena kita terlalu sibuk mengurus acara pernikahan kita." Kata Rein mengingatkan suaminya.
Davin juga tahu ini dan memutuskan untuk tidak membuat masalah kepada istrinya lagi.
"Baiklah, aku akan mengizinkan kamu menghabiskan waktu bersama anak-anak tapi malam ini semua waktumu sepenuhnya menjadi milikku." Kata Davin memutuskan dengan ekspresi malasnya yang menjengkelkan. Sayang sekali, laki-laki menjengkelkan ini adalah kekasih sekaligus suami yang telah memenuhi hatinya!
"Yang benar saja, Mas Davin! Kamu telah menyiksaku semalaman dan ingin melakukannya lagi? Apa Mas Davin tidak lelah?" Tanya Rein tidak habis pikir.
Ah entahlah, sejak malam pernikahan Davin sangat rajin menyiksanya semalaman di atas ranjang. Padahal mereka harusnya kehilangan tenaga karena Rein sendiri merasakannya. Dia pikir tidak sanggup lagi melewati malam selanjutnya.
Davin mengangkat alisnya tidak setuju,"Bagaimana mungkin semua itu melelahkan? Bukankah setiap malam kamu selalu berteriak memintaku untuk melakukannya berkali-"
"Mas Davin, ih!" Potong Rein malu.
Tidak, suaminya terlalu menjengkelkan. Tidak tahan- ah, atau lebih tepatnya tidak ingin Davin melihat sisi malunya, dia langsung bangun dari dada Davin dan bermaksud ingin melarikan diri darinya.
Tidak, Davin tidak akan pernah membiarkannya lari jadi tanpa mengatakan apapun dia langsung menjangkau Rein dan memeluknya seerat mungkin agar tidak bisa melarikan diri lagi.
Rein merasa geli dan sontak tertawa. Suara tawanya yang merdu menghangatkan hati Davin, dia tersenyum dan ikut tertawa mengikut suasana hati istrinya yang manis.
Sementara itu Tio dan Aska berhenti saling mengejar ketika melihat orang tua mereka saling berpelukan di atas pasir sambil tertawa kencang.
"Hahaha... Mommy, Daddy! Tio juga mau dipeluk!" Teriak Tio juga ingin bergabung.
Dia langsung berlari ke tempat Rein dan Davin bersantai. Sang Kakak pun tidak tinggal diam. Dia juga ingin berpelukan jadi tanpa mengatakan apapun dia mengikuti adiknya ke tempat Rein dan Davin.
Rein dan Davin tidak terkejut melihat anak-anak menghampiri mereka berdua. Mereka menyambut kedatangan anak-anak, merentangkan kedua tangan untuk mendekap anak-anak ke dalam pelukan masing-masing untuk berbagi kebahagiaan. Lalu suara tawa yang renyah dan nyaring terdengar di pulau kecil ini, menjadi saksi kebahagiaan Rein dan Davin, dan mungkin...akan menjadi saksi untuk kebahagiaan anak-anak mereka yang lain pula.
Hem, itu adalah rahasia Tuhan, sang ahli skenario yang maha kuasa atas segalanya.
"Tuan akhirnya bisa bahagia sepenuhnya." Gumam Adit ikut bahagia melihat sahabat sekaligus majikannya tidak menderita lagi.
Sedari tadi dia telah mengamati keluarga kecil Davin dari lantai dua vila di pulau ini.
"Tuhan terima kasih telah menyelamatkan sahabatku dari kehancuran. Terima kasih telah membawa Rein kembali ke dalam hidupnya, terima kasih telah memberikan Aska orang tua yang lengkap, dan terima kasih karena telah menghadirkan Tio diantara mereka berdua. Terima kasih, Tuhan."