
Adit mengangguk patuh. Dia kemudian membuka pintu mobil, keluar terlebih dahulu dan berdiri di depan pintu menunggu Davin turun.
"Ck, sekolah ini benar-benar buruk untuk putraku." Cela Davin begitu turun dari mobil mewahnya.
Adit dengan sigap menjelaskan di samping.
"Pak, rata-rata anak yang sekolah di sini berasal dari golongan orang berada."
"Berada?" Davin sekali lagi menilai bangunan warna warni di depannya.
"Sangat mengecewakan." Davin menilai dalam satu pandangan.
"Ayo pergi." Kata Davin memimpin jalan.
Davin adalah laki-laki yang sangat tampan, dipadukan dengan mobil mewah dan menggunakan jas mahal, sontak saja kedatangan Davin langsung menarik perhatian banyak orang. Mereka tanpa malu-malu mengirim tatapan kagum kepada Davin, bahkan para Ibu-ibu muda pun tidak luput dari pesonanya.
Namun Davin seolah tidak melihat ketertarikan mereka semua. Dia berjalan ringan dengan langkah besar dan pasti, kedua tangannya yang terbiasa memegang dokumen penting perusahaan kini beralih fungsi memegang beberapa mainan mahal.
Sekali lihat saja orang akan tahu bila Davin ke sini ingin menemui seorang anak, yah...bisa jadi itu adalah keponakannya atau kemungkinan terburuk... untuk putranya.
"Jangan bermain dengannya! Tio tidak punya Ayah dan Ibunya orang miskin!"
"Loni bohong! Tio punya Ayah dan Mommy Tio punya banyak uang!"
Langkah Davin tiba-tiba berhenti. Dia lalu menoleh ke arah taman bermain yang dipenuhi oleh tawa ceria anak-anak, seharusnya pemandangan ini sangat nyaman untuk dilihat. Namun sebaliknya, Davin merasa jika pemandangan ini sangat mengerikan. Kedua mata tajamnya melihat ke arah sekumpulan anak laki-laki yang sedang menjauhi seorang anak laki-laki berwajah chuby dan imut.
Sekumpulan anak laki-laki itu dengan sengaja menjaga jarak dari anak laki-laki berwajah chuby itu, menghinanya dengan kata-kata kasar kekanakan tapi sangat berdampak buruk untuk mental si chubby jika terus dibiarkan.
"Berani-beraninya!" Marah Davin segera membawa langkah kakinya mendekati sekumpulan anak-anak menjengkelkan itu.
Adit melihat jika Davin benar-benar marah. Sebenarnya ini tidak akan apa-apa bila kemarahan ini diarahkan kepada orang dewasa tapi tidak dengan anak kecil. Senakal apapun anak itu orang dewasa tidak akan pantas dan wajar memarahinya dengan keras.
Jadi, dia buru-buru mengejar Davin untuk menenangkannya.
"Pak, Anda harus bisa menahan diri karena mereka adalah anak kecil!"
Davin tidak perduli,"Anakku disakiti oleh mereka jadi bagaimana bisa aku menahan diri?"
"Pak, Anda-"
"Diam lah, aku bisa mengatasinya." Potong Davin dingin.
"Mencariku?" Potong Davin dengan senyuman yang bukan lagi disebut sebagai senyuman.
Berjalan mantap, ia secara alami berdiri di dekat putranya, laki-laki chubby yang baru saja mendapatkan bulian dari teman-teman sebayanya.
"Aku adalah Daddy-nya, dan aku adalah orang yang sangat kaya." Kata Davin bangga.
Adit di samping,"...." Dia merasa Davin terlalu kekanak-kanakan!
"Lihat, aku punya banyak mainan mahal yang tidak bisa dibeli oleh orang tua kalian." Kata Davin sambil memamerkan dua mainan yang sengaja ia beli untuk menarik perhatian Tio.
Adit mengusap wajahnya kian malu, melihat-lihat orang di sekelilingnya yang kini sedang menatap mereka bagaikan pertunjukan monyet di jalanan.
"Tidak, dia pasti berbohong! Mama bilang Tio tidak punya Ayah dan dia adalah orang miskin!" Roni berteriak keras kepala, menolak percaya sekalipun ia tergoda melihat mainan yang ada di tangan Davin.
Mainan yang Davin bawa adalah edisi terbatas dari perusahaan robot x di negara x. Dia sangat menyukainya tapi kedua orang tuanya menolak untuk membelikan karena harganya terlalu mahal untuk ukuran sebuah mainan.
"Oh ya," Jika sudah menyangkut orang dewasa, mood dingin Davin dalam waktu singkat langsung kembali beroperasi.
"Dimana orang tuamu? Panggil mereka ke sini karena aku ingin berbicara dengan mereka." Kata Davin tanpa sadar membuat Roni takut berbicara lagi.
Roni mengepalkan tangannya kuat menahan tangisannya. Dia ingin berteriak di depan Davin seperti yang ia lakukan tadi kepada Tio, namun dia takut kepada Davin.
Dia merasa jika Davin bukanlah orang yang baik untuk didekati.
"Apa telingamu bermasalah? Panggilkan aku orang tuamu sekarang sebelum aku kehabisan sabar!" Ucap Davin galak.
Roni sangat terkejut, wajah angkuhnya langsung menjadi pucat pasi dan tidak berselang lama tangisannya tiba-tiba pecah. Dia kemudian berbalik pergi mencari Mamanya untuk mengadu. Anak-anak yang ikut mengganggu Tio juga tidak berani terus berada di sini. Pemimpin mereka sudah pergi dengan tangisan keras lalu bagaimana dengan nasib mereka yang lebih payah dari Roni?
Tanpa mengatakan apa-apa lagi mereka juga kabur mencari tempat untuk bersembunyi.
"Ayah?" Sebuah panggilan lembut menarik perhatian Davin dari anak-anak nakal itu.
Kemarahan Davin segera meluap, ekspresi arogan di wajahnya entah mengapa meleleh digantikan dengan kelembutan yang langka. Ia menunduk, menyentuh puncak kepala Tio dengan tangan yang tidak sempat ia kendalikan.
Davin... benar-benar jatuh dalam tatapan tidak berdosa anak ini, pipinya yang chubby dan lembut, rambut hitamnya yang halus, dan senyuman lebar di wajah chubby nya.
Davin tiba-tiba melihat bayangan manis Rein yang polos dan lembut dari anak ini, membuatnya termenung lama memikirkan tahun-tahun hangat itu.
"Ayah, pulang?" Tanya Tio lagi dengan suara khas anak kecil yang lembut dan kedua mata yang berbinar terang.