My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
35. (35)



Betapa shock nya mereka ketika melihat kartu nama berlabel emas dengan label keluarga 'Demian' itu. Tangan wanita itu gemetar karena gugup dan panik, dia menyesali apa yang telah dikatakan kepada Anggi. Coba saja dia tahu bila Anggi bukanlah sembarang orang yang bisa disinggung, mungkin masalah ini bisa dia lewati dan karirnya tidak akan bermasalah.


Tapi sayangnya dia terlalu ceroboh dan menciptakan masalah untuk dirinya sendiri. Sungguh malang, apakah sudah terlambat untuk menyesali semuanya.


"Ma-maaf, nyonya. Kami tidak tahu bila nyonya adalah kepala pelayan dari rumah Demian. Jika kami tahu, kami tidak akan bertindak impulsif dan mengusir nyonya dari sini." Kata wanita itu ketakutan.


Dia menyesali kecerobohannya. Anggi adalah kepala pelayan keluarga Demian, pemilik dari perusahaan besar tempat mereka bekerja. Bila mereka menyinggungnya maka kemungkinan besar karir mereka akan bermasalah karena Anggi adalah tangan kiri Davin dan tangan kanan untuk Rein.


Posisinya sungguh jauh melampaui mereka berdua.


Melihat ketakutan di wajah mereka, Anggi rasanya benar-benar marah. Tidak bisa dibayangkan bila orang yang berdiri di posisinya sekarang adalah orang yang bukan siapa-siapa, dipermalukan dan diusir dari sini, rasanya pasti sangat menyakitkan.


"Huh. Kalian segera mengubah sikap setelah kalian tahu siapa aku. Apa di mata kalian orang yang memiliki posisi tinggi adalah tamu yang harus dilayani dengan baik? Lalu bagaimana dengan mereka yang kalian hina dan usir sebelum-sebelumnya? Apakah kalian tidak merasa bersalah?" Tanya Anggi tidak habis pikir.


"Tidak, nyonya. Jangan salah paham. Bukan maksud kami menyinggung siapapun. Hanya saja akhir-akhir ini kami sering bertemu dengan beberapa wanita yang mengaku sebagai pacar atau teman pak Adit. Padahal mereka bukan siapa-siapa pak Adit tapi masih memaksa masuk untuk bertemu. Orang-orang ini telah mengganggu pak Adit beberapa waktu ini jadi kami diperintahkan untuk mengusir siapapun yang datang mencari beliau. Oleh karena itu kami tidak akan bersikap sopan kepada siapapun yang datang mencari pak Adit. Jadi kami mohon nyonya, tolong maafkan kesalahan kami dan tolong jangan laporkan kami kepada pak Adit. Kami benar-benar tidak sengaja melakukannya." Kata wanita itu menjelaskan dengan hati-hati dan serius.


Memang benar, beberapa waktu ini ada wanita yang akan datang mencari Adit. Mereka mengaku-ngaku sebagai saudara, teman kelas, teman sekolah, teman kuliah, dan bahkan pacar agar bisa bertemu dengan Adit. Beberapa diantara mereka mungkin benar, tapi motif mereka agak buruk sehingga Adit tidak mau bertemu dengan mereka. Mereka semua yang datang mencarinya secara instan akan diurus oleh pihak bawah agar tidak mengganggu pekerjaan Adit.


"Apakah yang kalian katakan ini benar?" Tanya Anggi mulai luluh hatinya.


Dia juga sempat mendengar dari Rein dan Davin bila Adit telah diganggu oleh Bunga akhir-akhir ini. Tidak terbayangkan betapa stresnya mereka menghadapi Bunga saat itu. Dia bisa mengerti ini.


"Itu benar, nyonya. Bila nyonya tidak percaya, maka tanyakan saja semuanya kepada pihak keamanan di depan." Kata wanita itu agak lega melihat ekspresi Anggi perlahan menjadi santai.


Anggi menganggukkan kepalanya mengerti. Dia percaya apa yang mereka katakan tapi dia masih jengkel dengan tindakan impulsif mereka berdua.