My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
228



Rein mengerti perasaannya, jadi dia hanya diam mendengarkan setiap kata-kata yang ingin suaminya ucapkan.


"Aku sangat bahagia...aku sangat bahagia ketika tahu kamu hamil lagi. Karena sayang, ketahuilah, satu-satunya penyesalan ku di dunia ini yang selalu menghantuiku adalah meninggalkan kamu dan membesarkan Tio seorang diri. Aku adalah Ayahnya tapi tidak pernah hadir saat kamu mengalami hari-hari yang sulit karena morning sickness, aku adalah Ayahnya tapi tidak pernah melihat perkembangannya di dalam rahim mu. Aku adalah Ayahnya tapi tidak tahu makanan apa yang dia inginkan saat kamu mengidam. Aku adalah Ayahnya tapi tidak hadir di saat kamu melahirkannya ke dunia ini. Aku adalah Ayahnya tapi tidak ada di saat dia membuka matanya untuk yang pertama kali, aku bahkan tidak ada di saat dia belajar merangkak dan belajar berbicara ataupun belajar berlari. Aku tidak pernah ada di saat momen-momen penting Tio. Aku adalah Ayahnya tapi tidak ada di saat dia paling membutuhkan diriku, Rein... katakan, apa aku masih Ayahnya? Aku tidak tahu dan tidak ada di sampingnya disaat kalian berdua benar-benar membutuhkan. Bahkan disaat kamu butuh sandaran karena lelah begadang untuk mengurus Tio, aku masih tidak ada di sana. Aku sungguh sangat menyesalinya... Tuhan lebih tahu betapa aku sangat menyesali waktu-waktu yang terlewati ini dan betapa Tuhan sangat tahu bila aku sangat ingin waktu-waktu itu terulang kembali agar aku dapat mengisi kekosongan yang pernah aku tinggalkan sebelumnya. Tapi Rein..." Hati Davin sedih bercampur bahagia. Entah untuk Tio ataupun untuk calon bayinya di masa depan.


Davin benar-benar tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaan hatinya saat ini.


"Tuhan akhirnya memberikan ku sebuah kesempatan. Meskipun tidak bisa memutar ulang waktu kembali aku bahagia dengan kehadiran anak kita ini. Aku berjanji, aku akan selalu ada bersama kamu dan anak-anak, menemani kamu melewati morning sickness, menemani kamu memantau perkembangan bayi kita di dalam rahimmu, berusaha mendapatkan apapun keinginan anakku yang diidamkan mu, ikut bersama kamu saat melahirkan anak kita ke dunia ini, dan membantu kamu untuk menopang anak kita saat belajar berjalan ataupun berlari. Aku juga akan menjadi guru terbaik untuknya belajar berbicara. Rein, ketika akhirnya kamu kelelahan mengurus anak-anak kita, bahuku siap menjadi tempat bersandar ternyaman untukmu. Yakinlah, ketika kamu bersandar kepadaku, kelelahan mu tidak akan terasa lagi karena aku akan selalu bersama kamu." Sambung Davin dalam isak tangisnya yang penuh akan penyesalan.


Dia menyesal, ingin memutar waktu namun tidak kuasa karena segala sesuatu telah Tuhan tentukan. Dia tidak memiliki hak meminta sebanyak itu kepada Tuhan karena dia adalah hamba yang sangat berdosa. Namun meskipun begitu, hatinya sangat berharap waktu-waktu itu terulang kembali untuk menebus kesakitan istri dan putranya yang malang.


Dia ingin menebusnya kembali.


Rein terkejut. Dia tidak pernah mendengar bila Davin sangat menyesali masa-masa itu. Memang sesekali terkadang Rein akan melihat Davin memperhatikan Tio dengan ekspresi yang rumit tanpa mengucapkan sepatah katapun, tapi Rein tidak memasukkannya ke hati dan hanya menganggap Davin sedang memikirkan hal lain. Tapi, siapa yang mengira bila keheningan Davin berarti sebuah penyesalan yang masih belum lepas di dalam hatinya?


"Mas Davin, berhenti menangis, okay? Saat itu kita juga mengalami masa-masa sulit. Aku kesulitan dengan bayi di dalam perutku dan kamu kesulitan mengurus Aska yang masih berusia 1 bulan. Sama seperti kamu, aku juga berharap berada di sisi Aska saat itu. Memikirkannya dibesarkan tanpa kasih sayang seorang Ibu dan ditangan suamiku yang berwajah dingin, ingin sekali rasanya aku memutar waktu. Namun Tuhan sudah berkehendak dan kita hanya perlu menjalankannya. Untuk penyesalan kita di masa lalu, Tuhan kirimkan bayi lain untuk kita, untuk kita rawat bersama-sama. Dan kita harus tetap adil Mas kepada anak-anak kita yang lain. Sekalipun kita mendapatkan titipan baru, kita tidak boleh menyia-nyiakan anak-anak kita yang lain apalagi sampai mengurangi kasih sayang kita kepadanya. Aku ingin batin mereka tumbuh sehat dan penuh akan cinta keluarga agar di masa depan nanti hubungan darah jauh lebih berharga daripada apapun." Ucap Rein mengungkapkan isi hatinya.


Dia mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah tampan sang suami, mengusap lembut setiap tempat basah yang telah dilewati air mata nakalnya.


"Kita harus memulai lembaran baru hidup kita, Mas, dan melupakan semua penyesalan yang pernah terjadi di masa lalu." Dia tidak ingin suaminya terus menerus terjebak dalam penyesalan.


Davin tersenyum lebar, mengangguk kepalanya mengerti. Dalam perasaan bahagia yang masih bergejolak dia meraih tangan istrinya dan mengecupnya beberapa kali untuk menyampaikan rasa syukurnya yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Yah, terima kasih, istriku. Terima kasih telah menjadi rumah dan tempat ternyaman untukku pulang." Ucap Davin sangat tulus, kata-kata ini sungguh berasal dari dalam lubuk hatinya yang terdalam.


Rein tersenyum malu, tampak tersipu,"Tidak, Mas. Akulah yang harus berterima kasih kepada mu karena telah bersedia menjadi duniaku. Tanpa Mas Davin, mungkin aku masih Rein yang sebatang kara tanpa tempat tujuan." Rein segera membantah.


Davin tidak setuju,"Tidak, kamu lah yang memberikan rumah untukku bersandar." Kukuh Davin.


Rein juga tidak setuju,"Bagaimana mungkin, jelas Mas Davin lah yang membuatku bersemangat dalam menjalani hidup."


Mereka lalu terdiam, saling memandang dengan kedua mata merah habis menangis, lalu beberapa detik kemudian Rein dan Davin kompak tertawa bersama.


Mereka tiba-tiba bertingkah kekanak-kanakannya dan anehnya kompak.


Mereka harus mengalihkan topik pembicaraan jadi Davin mengambil inisiatif untuk mengganti topik.


"Apakah anak kita laki-laki atau perempuan?" Tanya Davin seraya membawa tangannya mengelus permukaan perut Rein yang agak menggembung.


Davin sangat berharap itu perempuan karena dia sudah cukup dengan kenakalan anak-anaknya yang laki-laki.


Rein tersenyum geli,"Ini baru 3 minggu jadi apa yang bisa dilihat dari usia sekecil ini? Tunggu beberapa bulan lagi maka kita akan melihat jenis kelaminnya." Kata Rein menjelaskan.


Davin ber'oh ria dan berjanji akan membeli buku tentang Ibu hamil besok agar dia tahu fase apa saja yang akan dilewati istri dan anaknya nanti.


Davin terkejut dan menatap Rein dengan tatapan menyelidik,"Kamu bohong, yah?" Davin jelas tidak percaya.


Rein tersenyum penuh makna. Untuk kesempatan ini dia telah menyiapkan jawabannya. Maka dari itu tangan kirinya yang bebas dengan terampil mengambil sesuatu dari bawah taplak meja. Itu adalah buku Ibu hamil yang dokter berikan kepadanya kemarin. Masih baru dan belum tersentuh.


"Jika Mas Davin tidak percaya, silakan cari di buku Ibu hamil ini. Di sini dijelaskan jika aku tidak akan dinas lagi selama 3 bulan. Dan selama waktu itu Mas Davin harus berpuasa dan tidak boleh memaksaku melakukannya. Jika tidak, bayi kita akan mendapatkan masalah." Jelas Rein dengan senyuman lebar di wajahnya.


Seorang Ayah baru yang tadinya dilanda perasaan bahagia,"...." Berpuasa lagi? Apakah masih ada waktu untuk menyesalinya?!


Mulut Davin berkedut ingin mengatakan sesuatu. Tapi sebelum dia bisa berbicara Rein sudah membuka halaman yang menerangkan masalah tersebut. Memang benar apa yang dikatakan istrinya jika dia harus berpuasa sampai kehamilan Rein memasuki bulan keempat.


"Apa Mas Davin tidak ingin melihat anak kita?" Tanya Rein dengan nada manja yang dibuat-buat.


Davin menggertak kan giginya menjawab,"Aku...ingin." Tapi dia harus merelakan kesejahteraan hidup rumah tangganya kacau.


"Apa Mas Davin ingin anak kita tumbuh dan lahir dengan sehat?" Rein masih bertanya.


Davin masih memaksakan diri untuk menjawab,"Aku menginginkannya."


Senyuman Rein makin lebar,"Jadi berpuasalah sampai usia kandungan ku memasuki empat bulan, enggak lama kok, Mas." Senang rasanya melihat ekspresi sembelit suaminya.


Davin ingin bernegosiasi,"Tapi sayang, aku pikir dalam satu minggu tidak ada salahnya kita-"


"Jadi Mas Davin enggak mau nih? Titipan Tuhan, lho.." Rein mengingatkan dengan murah hati.


Davin langsung tersenyum lebar, terlihat dipaksakan.


"Bagaimana bisa...aku sangat menginginkannya. Lagipula puasa ku tidak lama jadi aku masih bisa menahannya."


Rein lalu menguap lebar,"Ya sudah, aku tidur dulu ya, Mas. Sejak hamil aku ngantuk terus jadi bawaannya pengen tidur terus. Dan Mas Davin... tolong... bersihkan dulu semua ini sebelum tidur.." Kata Rein mulai merebahkan dirinya di atas kasur.


Matanya sudah sangat berat ingin tertidur lelap.


Davin tidak tahu harus tertawa atau menangis melihat kelakuan istrinya, menghela nafas panjang, dia mulai menyisihkan lengan bajunya untuk membereskan meja dan segala sesuatu yang ada di sini agar kembali seperti semula.


"Oh iya, Mas Davin tidak boleh mandi...awas aja kalau mandi..." Peringat Rein memaksakan diri untuk tetap terjaga sebelum benar-benar jatuh tertidur.


Davin,"...." Dia gatal ingin mencubit istrinya.


"Bagaimana aku bisa berpuasa jika kamu selalu bersikap centil di depanku." Desah Davin tidak berdaya.


...Tamat...