My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
29. (29)



Saat melihat mobil Adit sudah tidak ada di halaman rumah barulah Anggi sadar apa yang baru saja terjadi. Dia spontan menutup mulutnya shock, wajahnya panas dan lututnya jadi lemas. Merasakan kakinya lemah, dia lantas duduk jongkok di halaman masih mencerna apa yang baru saja terjadi.


Semuanya begitu tiba-tiba. Gerakan Adit membuatnya lengah dan dia langsung menjadi bodoh ketika Adit mengecup bibirnya. Apa yang terjadi?


Otaknya mengulang kembali tayangan yang sama berulang kali tanpa lelah. Dan selama dia mengulang, gemetar di tangannya kian parah. Ini aneh, reaksinya bahkan lebih aneh. Hanya dengan sebuah kecupan singkat telah menjungkirbalikkan hidupnya seolah-olah dia berada di dalam kapal laut, terombang-ambing oleh gelombang laut yang tanpa henti menerjang kapal.


Anggi untuk sesaat kebingungan. Dia melepaskan tangannya, menatap kedua tangannya yang gemetar. Lalu dengan hati-hati menyentuh bibir yang baru saja menjadi saksi bisu kecupan Adit. Rasanya hangat, Anggi masih bisa merasakan suhu hangat bibir Adit di bibirnya.


"Mas Adit mencium ku?" Gumam Anggi tak menyangka.


"Dia...baru saja mencium ku?" Perlahan sebuah senyuman manis terbentuk di wajahnya.


"Dia...em, kami baru saja berciuman.." Bisiknya sambil terkekeh aneh, memegangi bibirnya dengan perasaan euforia yang tidak bisa disembunyikan.


Sungguh betapa bahagianya dia malam ini. Darahnya berdesir aneh mengingat sensasi kecupan singkat yang Adit lakukan kepadanya. Itu hanya lah sentuhan yang sangat singkat tapi dampaknya begitu besar untuk Anggi, wanita yang telah lama menyukainya.


"Mas Adit baru saja mencium ku, artinya dia memiliki perasaan kepadaku? Ya Tuhan, ini..." Dia kembali mengingat apa yang Adit katakan kepadanya terakhir kali.


Apa aku masih berbohong?


Sepenggal kata-kata ini membuatnya kembali shock. Dia berdiri kaget, lututnya yang lemah entah mengapa kembali hidup dengan semangat juang tinggi. Panik bercampur bahagia, dia berjalan mondar-mandir di sekitar halaman sambil memikirkan apa yang baru saja Adit katakan kepadanya.


"Jadi...apa yang mas Adit katakan kepada keluarga ku tidak bohong? Dia ingin menikahi ku? Dia ingin menikah dengan ku?!" Menghentikan langkahnya kaget, sedetik kemudian dia kembali duduk berjongkok sambil menutup mulutnya agar jangan sampai berteriak.


Kepalanya kembali melambat dan bahkan kedua tangannya tidak berhenti gemetaran. Kejutan informasi ini terlalu besar dan terlalu luar biasa, Anggi bahkan sempat berpikir ini hanya ilusinya saja. Tapi saat mengingat sensasi hangat sentuhan bibir Adit, dia segera membantahnya.


"Ini nyata...ini sungguh nyata. Mas Adit baru saja mencium ku dan kami akan segera menikah-"


"Anggi? Kamu ngapain di sini, Nak? Dari tadi kok Ibu perhatiin kamu duduk jongkok dan mondar-mandir di halaman." Suara Ibu menarik Anggi dari lamunannya.


Dia lantas berdiri panik. Dengan wajah panik dia menghampiri Ibu. Ibu sekarang sedang berdiri di depan pintu masuk dengan ekspresi heran di wajahnya.


"Apa saja yang Ibu baru saja lihat di sini?" Tanya Anggi gugup.


Ibu tidak tahu apa yang Anggi maksud dan dia juga baru saja di sini setelah mendengar suara mobil Adit. Dia belum berbicara banyak dengan Adit tapi begitu keluar dari rumah, Adit sudah pergi dan putrinya malah bersikap aneh di halaman.


"Ibu lihat kamu yang gelisah di halaman. Kenapa, Nak? Kaki kamu sakit atau badan kamu ada yang enggak nyaman?" Tanya Ibu khawatir saat melihat wajah merah putrinya.


Anggi malu. Dia menghindari mata khawatir Ibunya. Menggelengkan kepalanya yang masih panas karena ciuman tadi, dia berkata kepada Ibu,"Bu, aku tidak apa-apa. Aku tadi sedang memikirkan pekerjaan apa yang harus aku lakukan besok di rumah majikan ku. Em, Bu. Ini sudah larut malam. Kita harus masuk ke dalam karena angin malam enggak baik untuk kesehatan. Anggi juga sudah mengantuk dan ingin segera tidur biar besok Anggi bisa bangun pagi."


Anggi menarik tangan Ibunya masuk ke dalam rumah, menyingkir dari TKP terlarang yang akan selalu mengingatkannya pada ciuman singkat Adit. Ini sangat gila, dia tidak yakin bila malam ini bisa tidur dengan nyenyak.


"Syukurlah bila kamu baik-baik saja. Ibu jadi tenang. Kamu bisa istirahat di kamarmu agar besok bisa bangun pagi dengan fit. Jangan khawatirkan anak-anak karena mereka sangat senang melihat keluarga Paman mu bisa tinggal di sini. Mereka sekarang sedang mengganggu Rangga di dalam kamar dan ingin tidur bersama Rangga." Kata Ibu memberitahu.


Setelah selesai memilih kamar untuk mereka, Aldi dan Aldo langsung menghantui Rangga di dalam kamar. Mereka segera mengangkut mainan mereka ke kamar Rangga agar bisa bermain bersama dan tidur bersama. Rangga juga sangat senang dengan semangat anak-anak jadi dia berinisiatif untuk menjaga anak-anak beberapa hari ke depan sebelum dia memulai pelatihannya.


"Aku senang mendengarnya, Bu. Anak-anak ada teman main di rumah." Kata Anggi tidak bisa menahan senyuman di bibirnya.


Ibu mengelus puncak kepala putrinya dan memintanya agar langsung masuk ke dalam kamar untuk tidur. Anggi tidak menolak, setelah mengucapkan salam dia lalu masuk ke dalam kamar.


Begitu menutup pintu kamar, Anggi langsung melemparkan dirinya ke atas kasur. Menarik bantal guling di sisi kasur dan memeluknya seerat mungkin untuk melampiaskan betapa bahagianya dia malam ini.


Sungguh, hari ini dia mendapatkan kebahagiaan yang berlipat-lipat ganda. Pertama, keluarga Paman mau tinggal di sini. Kedua, Rangga akan mengikuti pelatihan di bawah perintah Adit. Dan. Ketiga, momen yang paling membuatnya gelisah sekaligus cemas, Adit menciumnya.


"Apa mas Adit ingin menikahi ku? Tapi itulah yang dia janjikan kepada keluarga ku. Em...apa aku tanya saja sama mas Adit?" Dia mulai menimbang ingin menghubungi Adit untuk memastikan kebenarannya.


Tapi dia ragu karena takut Adit terganggu. Sebab Adit tidak suka dihubungi bila bukan urusan penting, terlebih lagi Anggi takut Adit kecapean dan tidak ingin diganggu. Selain itu Adit baru saja pulang dan belum sampai rumah jadi jika Anggi menghubungi Adit sekarang, dia mungkin akan meninggalkan kesan wanita yang tidak sabar di mata Adit.


"Tidak...tidak, tidak! Jangan dulu hubungi mas Adit sekarang. Aku enggak mau mas Adit menganggap ku sebagai wanita yang tidak sabaran." Katanya membuat keputusan.


Tapi,


"Jika aku tidak menghubunginya malam ini maka aku mungkin tidak akan bisa tidur!" Keluhnya seraya berguling ke sana kemari di atas kasur


Dia resah juga senang, tidak sabar ingin bertemu dan mendengar suara Adit tapi dia tidak ingin menghubungi Adit. Dia masih ragu dengan segala macam ketakutan yang ada di dalam kepalanya. Alhasil dia hanya bersabar dan memendam semuanya sampai dia kembali bertemu dengan Adit di rumah Demian.


Anggi ragu apakah dia bisa tidur malam ini, tapi tidak sampai satu jam setelah mengatakan itu dia telah memasuki alam mimpi dengan suasana hati yang luar biasa baik. Dalam tidurnya dia masih bisa tersenyum. Mungkin karena mendapatkan mimpi yang baik dan menyenangkan, atau kecupan ringan Adit telah membekas erat di dalam memori kepalanya.


Entahlah, tidak ada yang tahu selain Tuhan dan Anggi sendiri.


🌪️🌪️🌪️


Paginya, Anggi bangun setengah jam lebih lama dari jam biologis nya. Dia tersentak kaget dan buru-buru turun dari atas kasurnya, tapi saat mengenali kamarnya dia langsung menghela nafas lega.


"Aku lupa sudah pulang ke rumah." Gumam Anggi merasa lucu.


Mengusap matanya yang masih belum jernih karena baru bangun tidur, dia tiba-tiba teringat dengan mimpi indahnya semalam.


"Hehehe...semalam aku mimpi di cium mas Adit..."


Lalu beberapa saat kemudian tangannya berhenti menggosok matanya. Dia mengerjap ringan tampak sedang mencerna situasinya.


"Oh...aku tidak bermimpi! Mas Adit semalam memang mencium ku!" Katanya berbunga-bunga.


Tingkahnya sudah seperti gadis remaja yang baru mengenal cinta. Tidak bisa berhenti bergerak dan terkadang akan membuat loncatan kecil yang sangat aneh.


Terjebak dalam suasana hati yang baik. Anggi lalu teringat bila hari ini dia harus segera pergi bekerja agar bisa menjalankan tugasnya dan yah, bisa bertemu dengan Adit. Maka dari itu dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi setelah mengambil baju ganti dari dalam lemari. Setengah jam kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan senyum sumringah yang belum padam.


Azan subuh sudah berkumandang jadi Anggi langsung sholat beberapa menit dan segera keluar dari kamarnya dengan penampilan segar. Awalnya dia ingin memasak tapi Ibu dan Bibi ternyata sudah mengambil alih dapur. Mereka membuat nasi goreng seafood yang sangat lezat. Anggi tidak menahan dirinya saat makan.


Tit


Tit


Tit


Suara klakson mobil memanggil dari luar. Anggi buru-buru menyapa sopir yang menjemputnya dengan senyuman ramah. Setelah berpamitan kepada keluarganya, dia lalu berangkat kerja ke mansion Demian.


Setengah jam kemudian Anggi sudah sampai di mansion Demian. Tanpa bersantai dia segera menjalankan tugasnya. Mengatur dan mengawasi para pelayan yang bekerja di mansion, mengarahkan koki untuk membuat hidangan apa, dan mengatur jadwal nyonya Rein hari ini.


Tanpa waktu terasa hari sudah sore. Anggi berdiri linglung di tempat karena tidak pernah melihat batang hidung Adit sejak pagi. Dia pikir hari ini Adit akan datang ke mansion tapi ternyata Adit tidak datang. Ini terus berlarut-larut hingga 3 minggu kemudian. Aditya tidak pernah datang ke mansion dan bahkan tidak pernah menghubungi Anggi. Anggi khawatir dan ingin menghubunginya tapi dia malu. Dia takut mengganggu pekerjaan Adit.


"Apa yang sedang mbak pikirkan? Akhir-akhir ini aku perhatikan mbak Anggi suka ngelamun deh kalau enggak sibuk." Suara lembut Rein menarik Anggi dari pikirannya.


Anggi tersenyum malu. Dia buru-buru mendekati Rein dan duduk di sampingnya. Rein selalu seperti ini. Tidak seperti nyonya besar di keluarga lain, dia lebih santai dan tidak suka disentuh oleh siapapun termasuk Anggi. Dia meminta Anggi agar duduk sejajar dengannya dan melarang Anggi memijatnya. Hal ini sudah berlaku sejak Anggi bekerja sebagai asisten pribadi Rein.


"Aku..." Anggi malu untuk mengakuinya.


"Tidak apa-apa jika mbak Anggi tidak mau membicarakannya. Aku tidak ingin mengganggu privasi mbak Anggi." Kata Rein dengan senyuman yang menenangkan.


Anggi tersenyum malu, dia menatap Rein berpikir sebelum akhirnya mulai berbicara.


"Nyonya, aku menyukai seseorang." Kata Anggi tiba-tiba.


Rein tidak terkejut, dia mungkin telah lama menduganya.


"Oh ya, siapa laki-laki yang beruntung itu, mbak?"


Anggi meremat tangannya gugup. Dia tidak berani mengatakan bila laki-laki itu adalah Adit. Setidaknya untuk saat ini dia mau memberitahu siapapun karena masih memiliki ketakutan tersendiri di dalam hatinya. Entahlah, mungkin sejak kejadian Revan dan Rio, dia tiba-tiba membangun tameng tebal di dalam hatinya untuk tidak semudah itu mempercayai laki-laki. Tapi untuk Adit sendiri rasanya akan berbeda karena Adit lah orang pertama yang berani mematahkan ketakutan dan kemarahannya saat itu. Disaat yang lain menjaga jarak dengannya agar tidak membuatnya semakin sakit, Adit malah datang dan memaksanya dengan tatapan dingin agar mau bekerja sama dalam pengobatan. Saat itu Anggi terkejut karena Adit sepertinya tidak semenjijikkan kedua laki-laki itu. Bersama Adit, hatinya jauh lebih aman dan tenteram seolah-olah pemilik punggung dingin itu akan melindunginya kemanapun dia melangkah.


"Aku...belum bisa mengatakannya sekarang, nyonya."


Rein tersenyum,"Tidak apa-apa. Mbak Anggi bisa menyimpannya untuk diri sendiri. Jadi mbak Anggi selama ini memikirkannya?"


Anggi merasa nyaman dengan nada dan gaya bicara Rein yang lembut. Tak pernah Anggi temukan orang selembut Rein yang selalu memandang orang ketika berbicara dan memperlakukannya dengan baik meskipun dia dulu pernah menyakitinya.


"Iya, nyonya. Aku telah menunggunya selama ini tapi dia tiba-tiba menghilang. Saat aku diam-diam mencari tahu, aku akhirnya tahu jika dia saat ini sedang sibuk bekerja." Curhat Anggi tanpa sadar telah mengakui siapa laki-laki itu.


Rein tersenyum semakin lebar. Dia sangat bersemangat hingga tak bisa menahan senyumannya.


"Kenapa mbak Anggi menghubunginya saja untuk menanyakan kabarnya?"


Anggi menggelengkan kepalanya malu,"Dia adalah orang yang sangat sibuk. Walaupun aku mencemaskan nya di sini tapi aku tidak bisa mengganggu waktunya."


Rein cemberut. Dia memegang tangan sahabatnya yang tidak terlalu halus karena pekerjaan kasar dulu.


"Kalau begini terus mbak Anggi gak akan bisa menuntaskan perasaan gelisah ini." Karena dia pernah mengalaminya dan itu rasanya tidak menyenangkan.


Rein tidak suka mengalaminya. Tapi untung saja suaminya sangat lengket dan posesif sehingga Rein tidak pernah lagi merasakannya.


"Mau bagaimana lagi, nyonya, hubungan ku dengannya juga masih belum jelas." Kata Anggi ragu.


Rein sudah menebaknya. Manusia minim ekspresi itu jelas kaku dalam segala hal apalagi percintaan. Dia yakin bila perkembangan cintanya sangat lambat. Memikirkan manusia minim ekspresi itu, Rein tiba-tiba mengingat suaminya yang juga pelit ekspresi tapi berlaku untuk orang lain. Suaminya suka tersenyum, tertawa, lucu, dan romantis ketika bersamanya. Inilah yang membuat Rein kian tidak bisa melepaskan diri darinya.


"Hah, laki-laki itu pasti sangat lambat." Desah Rein tidak puas.


Dia dulu sempat khawatir bila manusia minim ekspresi itu tidak memiliki pacar karena tidak bisa berinteraksi benar dan manis dengan wanita. Padahal banyak wanita yang menyukainya tapi sikapnya selalu dingin yang cukup mengkhawatirkan. Namun dia tidak menyangka bila manusia minim ekspresi itu sebenarnya bisa tertarik dengan wanita, dan yang lebih mengejutkan adalah wanita yang berhasil menarik perhatiannya ternyata sahabatnya sendiri. Sungguh mengejutkan!


"Apa yang sedang kamu bicarakan?" Mendengar suara Davin, Anggi langsung menyingkir dari tempat duduknya dan langsung berdiri agak jauh dari Rein.


Davin masuk ke dalam ruang tengah, duduk di samping Rein dan membawanya masuk ke dalam pelukan. Perilaku manis ini sudah biasa untuk orang rumah, tapi tetap saja setiap kali melihat tindakan romantis Davin, orang-orang pasti merasa cemburu kepada Rein karena begitu beruntung dicintai sedalam ini oleh Davin.


"Hanya pembicara ringan biasa." Kata Rein menjaga privasi Anggi.


Anggi diam-diam merasa lega.


"Oh ya, apa aku mengganggu mu?"


Rein memutar bola matanya malasnya, berbicara juga tidak ada artinya.


Davin terkekeh ringan, mengecup leher Rein sayang tanpa malu sedikitpun meskipun ada Anggi di sini.


"Aku tidak mau." Katanya menolak.


Rein untuk yang kedua kalinya memutar bola matanya malas, namun senyuman manis dan sorot mata lembut itu tampak sangat jelas di wajahnya. Dia senang Davin di sini dan bertindak manis, walaupun dia agak malu karena ada Anggi.


Anggi juga tidak enak menjadi bola lampu di sini. Dia mungkin lebih baik menyingkir saja dari acara 'suami-istri' ini. Em, awalnya dia ingin meminta izin undur diri tapi tiba-tiba Davin membicarakan tentang Adit.


Telinga Anggi langsung berdiri tegak. Dia berpura-pura pindah tempat untuk membersihkan meja atau barang-barang yang ada di ruangan sambil menguping pembicaraan Rein dan Davin.


"Ada apa dengan Adit?" Tanya Rein penasaran.


Pasalnya sejak Davin menjebloskan Adit ke perusahaan untuk mengurusi banyak hal yang sangat menguras waktu dan tenaga, Rein tidak pernah mendengar kabarnya lagi.


"Heh, dia hampir membusuk di kantor." Davin tertawa renyah, tampak senang dengan penderitaan sahabatnya itu.


Rein menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Suaminya adalah pelaku yang mengirim Adit ke perusahaan untuk mengurus banyak hal sementara dia sendiri diam di rumah bersantai. Rein sebenarnya kasihan kepada sahabat suaminya itu tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa sebab itu adalah hukuman yang harus Adit jalankan.


"Berbicaralah dengan serius. Ada apa dengan Adit?" Desak Rein sembari mencubit pipi suaminya.


"Dia hampir gila karena mantan pacarnya di masa kuliah datang menghantuinya." Kata Davin santai.


Tapi tidak dengan Anggi yang telah menguping di tempat lain. Mendengar Davin menyebut mantan pacar Adit di masa kuliah, Anggi langsung teringat dengan paras cantik Bunga yang bagaikan peri. Hatinya mengirimkan alarm krisis takut bila Adit kembali menghidupkan perasaan lama.


"Adit juga punya mantan, Mas?" Rein tidak tahu bila Adit pernah merasakan romansa.


"Yah, tapi dia bukan orang yang setia seperti aku. Dia tidak bisa mencintai satu wanita." Kata Davin santai.


Anggi hampir saja menjatuhkan guci antik ditangannya karena terkejut. Dia sangat kaget ketika mendengar Davin menyebutkan bila Adit tidak setia dengan satu wanita.


Rein heran,"Maksud mas Davin dia laki-laki playboy dan punya banyak pacar?"


Rein ragu karena menurutnya Adit bukan orang yang seperti itu.


Davin menggelengkan kepalanya membantah.


"Dia bukan playboy dan enggak punya banyak pacar karena setahuku dia cuma satu mantan, nah mantan nya inilah yang datang mengganggunya beberapa waktu ini." Kata Davin menjelaskan.


"Terus kenapa mas Davin bilang kalau dia enggak bisa mencintai satu wanita?" Rein makin heran.


Davin dengan polosnya menjawab,"Karena dia tidak menyukai wanita itu. Coba lihat aku, kamu adalah pacar pertamaku, cinta pertamaku, dan istri pertama juga terakhirku. Aku melalui semuanya dengan 'pertama' tapi Adit meskipun pacaran pertama kali tapi hanya bertahan sebentar saja. Bukankah dia laki-laki yang tidak setia?"


Rein dengan garis-garis hitam di kepalanya,"...." Suaminya ternyata agak lambat kalau soal percintaan orang lain.


Anggi yang hampir kehabisan nafas karena gelisah,"...." Tuan Davin tidak memenuhi syarat sebagai mak comblang, dia sangat polos dalam urusan cinta sahabatnya sendiri apalagi orang lain!


"Mas Davin jangan berbicara lagi. Seseorang hampir saja jantungan karena ulah mas Davin." Kata Rein gemas seraya mencubit hidung Davin kesel.


Davin langsung tertawa keras, dia memeluk istrinya seerat mungkin dan tidak marah bila hidungnya dicubit sampai kesulitan bernafas.


Rein juga mau tidak mau ikut tertawa. Dia melepaskan tangannya dari hidung sang suami dan dengan berani mencium dagu sang suami lembut.


Em, laki-laki ini semakin membuat hatinya terjerat. Dia tidak bisa berpaling lagi.


"Lalu, bagaimana dengan mantan pacar Adit, mas? Apa dia cinta pertama Adit yang memiliki sejarah percintaan panjang?" Tanya Rein diiringi candaan.


Adit sudah seperti itu dan dia ragu kisah cinta mengharu biru seperti cinta orang-orang pada umumnya.


"Apa-apaan. Mereka hanya berpacaran 1 minggu saja setelah itu Adit memutuskannya. Ketika aku tanya alasannya kenapa, dia cuma jawab wanita itu bukan orang yang dia cari."


Anggi yang masih sibuk menguping,"..." Jawaban yang sama persis. Sepertinya mas Adit memang tidak memiliki rasa apapun kepada Bunga. Lihat saja masa hubungan mereka hanya bertahan 1 minggu!


"Adit memiliki disiplin yang tinggi soal perasaan." Kagum Rein membuat Davin merasakan asam di hatinya. Dia tidak suka mendengar Rein membicarakan laki-laki lain di depannya meskipun hatinya tidak bermaksud begitu.


"Ah, biasa aja. Aku jauh lebih baik daripada dia. Sudahlah, ngapain ngomongin dia terus, enggak ada gunanya. Daripada ngomongin dia lebih kamu ngurusin suami, layani suamimu dan manjakan pula suamimu."


Rein memutar bola matanya malas. Urus suami apa?!


Sudah 3 minggu ini dia di siksa habis-habisan sama suaminya. Saking capeknya, Rein bahkan berharap suaminya segera kembali ke kantor agar di bisa bersantai sebentar saja!


"Mas, udah ah, enggak malu apa di dengerin sama Anggi." Rein mengingatkan Rein tentang keberadaan Anggi.


Anggi tertegun. Dia buru-buru mengangguk sopan kepada Rein dan Davin sebelum melarikan diri.


"Anggi sangat pengertian." Kata Davin puas.


Rein menggelengkan kepalanya heran melihat tingkah laku suaminya.


"Mas jangan gini, dong. Kasian tahu Adit harus kerja lembur tiap hari sampai-sampai enggak waktu buat ngurusin calonnya. Kalau gini terus dia bakal jomblo terus, mas. Apa mas enggak kasian sama sahabat sendiri?" Kata Rein dengan suara yang lembut dan sopan tanpa ada nada tuduhan kepada suaminya.


Dia mungkin tidak setuju dengan hukuman yang di berikan oleh suaminya kepada Adit tapi bukan berarti dia bisa mendebat suaminya karena dimana-mana perintah atau keputusan suami adalah kewajiban yang harus dia jalankan sebagai istri.


Davin melingkari pinggang ramping istrinya dalam suasana hati yang baik,"Dia terlalu banyak bermain. Pertama, dia menyukai teman kerjanya sendiri, ini tidak terlalu bagus karena bisa menghambat pekerjaan kedua belah pihak. Kedua, dia beberapa kali bolos karena asik pacaran, kamu sudah melihatnya sendiri bila dia menghilang beberapa kali disaat aku sedang sibuk-sibuknya bekerja. Walaupun aku masih bisa menyelesaikan semua pekerjaan sendirian tapi sikapnya yang bertanggungjawab agak tidak bisa dimaafkan. Dan ketiga, karena ulahnya beberapa urusan mu jadi tertunda. Dia memang sahabat ku tapi selama itu menyangkut kamu, maaf saja, aku tidak punya rasa toleransi yang baik. Ini adalah hukuman sebagai pengingat untuknya di masa depan."


Rein menghela nafas panjang. Suaminya ini selalu memiliki keputusan yang teguh dan tegas bila berurusan dengan orang lain. Tidak perduli dengan siapa lawan mainnya, dia terkadang tidak berperasaan. Tapi untuk istrinya sendiri, Davin bukanlah orang yang pelit. Semua ketegasan dan sikap keras kepalanya langsung menguap hanya untuk menyenangkan istrinya.


"Mas... Adit seperti ini karena mungkin ini adalah pertama kalinya dia jatuh cinta setelah sekian lama menjomblo." Kata Rein lemah.


Davin mengangguk tapi dia masih tidak mengatakan apa-apa. Melihat istrinya diam dan enggan berbicara, Davin menggertakkan giginya. Gemas, dia menggigit leher istrinya hingga Rein berteriak kesakitan. Setelah membuat tanda kepemilikan, barulah Davin merasa lebih puas dan santai.


"Baiklah, aku akan menaikkan gajinya bulan ini sebagai modal tambahan untuk hari bahagianya." Bisik Davin tepat di telinga Rein.


Rein memerah, senyuman malu-malu kembali menghiasi wajah cantiknya. Dia mengecup pipi Davin sayang,"Terima kasih, mas. Aku senang mendengarnya."


Rein tiba-tiba kepikiran tentang hari bahagia itu. Bila suatu hari Adit benar-benar menikahinya, Rein pasti akan sangat bahagia. Bahkan saat ini pun dia sudah mulai memikirkan hadiah apa yang akan dia berikan kepada mereka karena dia yakin bila Adit sama sekali tidak kekurangan uang.


"Mas Davin mau kasih hadiah apa untuk pernikahan mereka bila suatu hari mereka benar-benar menikah?" Tanya Rein iseng.


Davin tidak langsung menjawab. Dia berpose serius seperti orang yang sedang berpikir keras. Rein geli melihatnya tapi dia tidak menggangu konsentrasi sang suami saat ini.


"Aku akan mengirimkan mereka tiket bulan madu ke Mongolia." Kata Davin setelah berpikir serius.


Rein tercengang. Jika dia tidak salah ingat, negara Mongolia adalah negara perompak karena sebagian besar orang-orang di sana bekerja sebagai perompak. Selain itu perompak Mongolia juga terkenal kejam dan keji sehingga berpergian ke negara Mongolia harusnya tidak bisa dilakukan karena di sana sangat berbahaya.


"Mas, yang benar saja! Di sana kan berbahaya!" Rein tidak setuju.


Davin kembali tertawa terbahak-bahak. Dia suka melihat reaksi istrinya yang menggemaskan.


"Baiklah, kita akan memikirkannya nanti jika mereka memang berhasil!"


...🌪️🌪️🌪️...


Anggi cemas selama beberapa hari ini. Dia tidak mendapatkan kabar apapun dari Adit dan tidak berani menanyakan kabarnya juga. Dia ingin tahu tapi dia tidak berani karena dia tidak percaya diri.


Kabar tentang Bunga juga telah lama menghantui pikirannya. Dia percaya Adit tidak tertarik lagi dengan Bunga tapi dia takut bila pesona luar biasa Bunga berhasil meluluhkan kembali hatinya.


Tertekan dengan berbagai macam pikiran rumitnya saat ini, dia lalu keluar dari kamarnya dan pergi menuju taman belakang. Dia berjalan sebentar di sekitar taman dan duduk di sebuah bangku taman di dekat lampu taman.


"Hufth..." Menghela nafas panjang, dia memegang lututnya yang pegal dan mulai memijatnya.


Hari ini dia sibuk melakukan banyak hal dan menemani Rein ke beberapa tempat di kota untuk melakukan sesuatu. Dengan begitu banyak kesibukan memang membuatnya melupakan Adit sejenak tapi tenaganya seolah terkuras habis karena terlalu banyak bergerak.


Terd


Terd


Terd


Suara nada dering ponselnya berbunyi nyaring. Ada panggilan masuk. Anggi dengan lamban mengambil ponselnya dan melihat panggilan masuk dari Adit.


Adit?!


Bola matanya langsung membola saat melihat id penelpon. Dia sangat gugup tapi juga senang. Hatinya campur aduk dan tangannya gemetaran tidak fokus. Dia sangat ketakutan melihat tangannya yang tidak bisa dikendalikan. Takutnya dia tidak sengaja menekan tombol yang salah-


Klik


"Hallo?" Suara berat Adit langsung memasuki indera pendengaran Anggi.


Anggi tertegun. Bernafas lembut, suasana kacau dihatinya secara perlahan ditenangkan oleh suara berat Adit.


"Hallo...hallo, mas?" Sapa Anggi diam-diam membentuk senyuman di wajahnya.


"Apa aku menggangu mu?" Tanya Adit dengan suara dinginnya yang khas.


Anggi menggelengkan kepalanya membantah seolah-olah Adit bisa melihat tindakannya.


"Tidak, tidak, mas. Mas Adit sama sekali tidak menggangguku." Aku malah senang mas Adit akhirnya menelpon ku.


Namun kata-kata terakhir hanya bisa dia gumam kan di dalam ruang rahasianya.


"Baguslah. Apakah kamu sibuk akhir-akhir ini?" Intonasi suara Adit agak melemah, sepertinya dia sangat kelelahan di seberang sana.


Anggi mengakui,"Yah, agak sibuk tapi tidak sampai membuatku kelelahan." Karena dia lebih banyak mengontrol pelayan daripada turun tangan menyentuh suatu pekerjaan.


"Jika kamu tidak sesibuk yang ku pikirkan. Lalu kenapa kamu tidak pernah menghubungiku?"