
"Jika kamu tidak sesibuk yang ku pikirkan. Lalu kenapa kamu tidak pernah menghubungiku?"
Anggi tertegun. Dia meremat kuat ponsel di tangan kanannya karena gugup. Di antara semua topik pembicaraan yang telah berkelebat di dalam kepalanya, dia tidak pernah membayangkan bila Adit akan menyinggung masalah ini.
"Mas Adit, aku ingin...tapi aku tidak berani. Aku takut mengganggu waktu mas Adit." Kata Anggi mengungkapkan keraguannya.
Menghilang selama 3 minggu lebih, Anggi bisa membayangkan betapa ketat jadwal Adit di kantor dan dia juga tahu bila Adit memang tidak sibuk, maka dia pasti telah berkunjung ke mansion untuk menemui Davin. Tapi sejak malam terakhir mereka bertemu Adit tidak pernah muncul lagi dan tidak pernah datang berkunjung ke mansion. Tanpa bertanya kepada siapapun dia juga tahu bila Adit pasti sedang sibuk karena dia sudah biasa melihat Adit menghilang tanpa kabar dan memakan banyak waktu.
Namun kali ini berbeda. Sejak malam dia dicium oleh Adit, dia tiba-tiba mengembangkan sebuah ketergantungan samar terhadap hubungan mereka berdua. Jadi perpisahan kali ini terasa begitu berat di dalam hatinya.
"Aku memang sibuk beberapa minggu ini. Tuan Davin melemparkan ku pada pekerjaannya yang tertunda sementara dia enak-enakan di rumah. Tapi sesibuk apapun aku, selama kamu meluangkan waktumu untuk menghubungi ku maka aku akan menyempatkan diri untuk beristirahat dan mengobrol dengan mu."
Adit merasa sangat sial karena Davin tiba-tiba mendorongnya ke perusahaan. Dengan pekerjaan yang begitu banyak dan rumit, Adit tahu bahwa ini adalah ultimatum Davin kepadanya. Mungkin Davin telah muak melihatnya akhir-akhir ini bertindak ceroboh karena seringkali menemani Anggi dan mengurus beberapa keperluan keluarga Anggi.
"Mas Adit tidak boleh berbicara begitu kepada tuan Davin." Bisik Anggi memperingati.
Namun senyuman manis diam-diam telah terukir di dalam hatinya. Jantung yang berdegup begitu kencang membuat Anggi merasa gentar tapi pada saat yang sama juga berani. Dia ingin bersembunyi, melarikan diri ke suatu tempat seolah Adit ada di sini dan melihat perilaku anehnya.
Anggi tersenyum tidak berdaya,"Mas Adit...lalu, bagaimana kabar mas Adit sekarang?" Tanya Anggi mengalihkan pembicaraan.
Dia malu bila Adit mengungkit soal masalah tadi. Dia tidak tahan mendengar protes dari Adit yang ingin dihubungi. Namun, setelah Adit berbicara begitu Anggi diam-diam telah berjanji kepada dirinya sendiri agar memberanikan diri menghubungi Adit di kemudian hari nanti.
"Tidak, baik. Aku lembur di perusahaan akhir-akhir ini." Bisik Adit dengan suara rendahnya yang sarat akan rasa malas.
Anggi menggigit bibirnya gugup,"Lalu... sampai kapan ini terus berlanjut? Apa mas Adit belum menyelesaikan semua pekerjaan yang ditugaskan tuan Davin?"
"Segera, mungkin beberapa hari lagi." Kata Adit lemah.
Anggi meremat tangannya kuat,"Itu...apa aku boleh datang ke kantor untuk melihat mas Adit?" Tanya Anggi ragu-ragu.
Dari nada suara Adit dia menebak bila Adit mungkin terkadang melupakan waktu makan atau terkadang bolos makan. Pasalnya Davin dulu juga begini saat Rein masih belum menerima kembali perasaannya.
"Hem, datanglah. Aku senang kamu datang ke sini. Tapi sebelum pergi minta izin kepada nyonya Rein, jika nyonya sudah mengizinkan, aku akan meminta supir pribadi ku menjemput mu di mansion." Kata Adit agak hidup.