My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
81. Sebuah Kebohongan



Dan di sinilah dia, berdiri kaku menatap wajah pucat kekasihnya yang sudah pasti tidak pernah tidur semalaman.


"Tentang apa itu?" Rein bertanya dengan nada yang sangat tenang tapi tatapan matanya telah mengkhianati semuanya.


Davin kesulitan membuka mulutnya. Dia sungguh tidak bisa melakukan semua ini akan tetapi ia juga tidak bisa tidak melaksanakan rencana Kakek karena gerak geriknya telah dipantau oleh mereka.


Ironisnya.


"Ini tentang hubungan kita."


Rein melemparinya sebuah tatapan menilai. Davin tidak tahu apa yang Rein pikirkan saat ini tapi ia yakin, Rein pasti sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan mereka.


Namun Rein diam membisu di tempat seolah menunggu ia melanjutkan kata-katanya kembali.


"Ayo kita putus, Rein." Davin akhirnya mengatakan kata-kata kejam ini, kata-kata yang tidak pernah ia harapkan keluar dari mulutnya.


Rein tidak memberikan reaksi terkejut. Dia masih tenang seakan-akan telah menduga kata-kata ini.


Ah, kekasihnya begitu berhati lembut.


"Kenapa?" Dia menuntut sebuah penjelasan.


"Aku sudah menemukan orang yang ku cintai." Tidak, ini adalah kebohongan, Rein!


Tidak ada wanita yang lebih pantas menduduki tahta tertinggi di hatiku kecuali kamu. Batin Davin berteriak.


Rein tersenyum tipis,"Bukankah kamu mencintaiku?"


"Sekarang sudah tidak." Tidak, tidak, ini tidak akan pernah berubah.


Davin selalu mencintainya dan dia akan selalu mencintai Rein.


Rein menahan nafas.


"Apa karena kamu ingin keturunan?"


Davin memang menginginkannya tapi dia tidak menuntut. Jika Tuhan tidak mempercayai mereka memegang amanah penting ini mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa.


"Tentu saja." Aku hanya ingin anak itu lahir darimu.


"Bagaimana jika aku bisa hamil?" Tanya Rein sedikit berharap.


"Kamu hamil?"


Davin sangat berharap keajaiban ini terjadi.


Tapi sekali lagi ia harus melemparkan Rein kata-kata tajam untuk membuat garis diantara mereka semakin jelas.


"Jangan bermimpi Rein, bangunlah."


"Kamu tidak bisa memberikan ku keturunan dan kamu juga tidak bisa memuaskan ku di atas ranjang. Kamu tahu..aku sama seperti laki-laki diluar sana, menyukai dada besar yang empuk dan bokong seksi yang menggairahkan. Kamu tidak bisa memenuhi itu semua jadi tidak ada gunanya membuang waktuku bersama mu." Davin sungguh tidak tega mengatakan kata-kata kasar ini.


Baginya di dalam hidup ini menghabiskan waktu bersama Rein sudah cukup. Sekalipun mereka hidup sederhana tanpa kekuasaan Demian, Davin tidak akan ragu memilih tinggal bersama Rein.


Rein terdiam lama. Davin tahu jika saat ini hati Rein pasti sangat-sangat hancur setelah mendengar semua kata-kata yang ia lontarkan dengan kejam.


"Lalu.. bagaimana waktu 3 tahun yang kita lalui bersama, tidakkah masa-masa itu berarti indah untuk mu?"


"Indah?"


Itu sangat indah. Hanya Tuhan yang tahu betapa bahagia Davin menjalani hari-harinya dengan Rein.


"Itu indah untuk kamu tapi bagiku waktu 3 tahun yang aku lalui bersama mu adalah mimpi buruk! Aku hampir gila setiap hari mendengarkan teman-teman kantor ku membicarakan betapa dekatnya kita. Mereka bilang hubungan ini menjijikkan dan memalukan. Aku sudah muak mendengar kata-kata sialan itu, aku juga tidak mau membiarkan waktu berharga ku terbuang sia-sia bersamamu. Hah.. akhir-akhir ini aku mulai menyadari jika tidur bersama mu terasa tidak memuaskan seperti dulu lagi jadi aku punya alasan untuk mengakhiri hubungan sialan ini. Sekarang apa kamu sudah mengerti?" Ini adalah murni sebuah kebohongan besar.


"Nanti sore aku akan datang mengambil semua barang-barang ku. Kamu tidak perlu membereskannya karena aku sendiri yang akan membereskannya. Lalu rumah ini akan menjadi milikmu. Kamu boleh menjualnya atau menempatinya karena sudah menjadi hak kamu. Tapi yang pasti setelah ini aku harap kamu jangan menghubungi ataupun mengganggu kehidupan ku lagi karena setelah ini aku akan memulai hidup baru bersama wanita yang ku cintai." Kata Davin sambil mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, berusaha menahan agar tangannya tidak bergetar di depan Rein.


"Dan ini yang terakhir," Dia meletakkan dua cek senilai 1 miliar di atas meja makan.


"Aku tahu kamu tidak punya pekerjaan jadi gunakanlah uang ini untuk menopang hidupmu." Ini untuk biaya hidup Rein selama mereka berpisah. Ia harap uang ini cukup untuk Rein sampai hari mereka bisa kembali bersatu lagi.


Tersenyum miring, "Anggap saja ini tip dariku untuk semua layanan yang kamu berikan setiap malam."


Saat itu, saat ia mengucapkan semua kata-kata kejam itu, ingin sekali Davin membawa Rein ke dalam pelukannya. Memberitahu Rein semua kebenaran yang ia sembunyikan tapi tidak! Dia tidak melakukannya karena Davin tidak ingin Rein semakin terluka lagi.


Biarlah seperti ini, mereka berpisah dengan luka mengaga tidak berdarah di hati masing-masing sambil berharap Tuhan mau memberikan kesempatan agar ia dan sang kekasih bisa dipersatukan kembali.


Ia hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya di dunia ini dengan Rein dan dengan orang-orang yang ia sayangi.


Flash Back Off


"Pak, kita sudah sampai." Suara dingin Adit menarik Davin dari ingatan masa lalunya.


Davin mengernyit karena pusing. Tangan kanannya terangkat menyentuh sisi keningnya yang tidak nyaman dan bahkan pandangannya pun menjadi tidak jelas.


Dia sedang mabuk.


"Hem."


Davin lalu keluar dari dalam mobil dengan langkah sempoyongan. Takut bosnya terjatuh, Davin buru-buru menghampiri Davin dan membantu berjalan dengan lurus.


"Apa Anda yakin pulang ke vila ini, Pak?" Adit bertanya ragu.


Ia khawatir sahabatnya ini semakin membuat Rein marah dan benci begitu melihat Davin mabuk.


"Ini adalah rumahku...rumahku yang hangat! Kenapa aku tidak yakin pulang ke rumah ku sendiri?" Teriak Davin tidak puas.


Adit menghela nafas panjang. Ia lupa jika orang mabuk tidak bisa diajak berbicara. Mengalah, ia lalu membantu Davin masuk ke dalam vila. Ia adalah asisten pribadi Davin jadi tidak mengherankan bila ia bisa masuk ke dalam vila Davin dengan mudah.


"Syukurlah dia tidak ada di sini-"


"Apa dia mabuk?" Suara acuh tak acuh Rein segera menarik perhatian Adit.


Rasanya cukup canggung berhadapan langsung dengan "Nyonya besar" Demian di masa depan.


"Bos sedang mabuk tapi dia tidak akan membuat masalah ketika sedang mabuk." Adit dengan lihai mempertahankan citra baik Davin di depan 'Nyonya besar' Demian- ah, atau panggil saja ia, Rein.


Rein menatap aneh Davin,"Jadi kalian sering mabuk-mabukan?"


Ini bencana, pikir Adit. Langsung saja ia memikirkan kata-kata yang pantas untuk memperbaiki citra Davin.


"Tidak, Nyonya- oh, maksudku Rein. Bos tidak pernah mabuk sebelumnya. Tapi malam ini ia tiba-tiba mendapatkan sebuah masalah dan hanya bisa melampiaskannya dengan minum alkohol." Adit dengan hati-hati menjawab.


"Rein," Panggil Davin mengigau.


Adit termenung, ia menatap laki-laki tinggi di sampingnya dan kemudian beralih menatap wajah dingin Rein yang kini sedang menatapnya aneh.


"Ini sudah tengah malam dan sudah saatnya aku pulang. Tolong bawa bos ke dalam kamarnya agar dia bisa beristirahat dengan baik. Selamat malam." Setelah itu dia menaruh Davin di sofa sebelum melarikan diri di bawah pengawasan jengkel Rein.


"Hei! Ini adalah tugasmu!" Teriak Rein frustasi tapi tidak digubris oleh Adit.


Rein jengkel, ia menatap pintu vila yang sudah tertutup rapat lalu beralih menatap wajah tenang Davin yang sedang tertidur karena mabuk.


"Ini bukan urusanku." Kata Rein enteng.


Berbalik, ia langsung menutup pintu kamarnya dan kembali berbaring bersama Tio. Namun, tidak sampai 5 menit ia kembali lagi keluar, menatap sembelit sosok angkuh yang sangat suka menindas nya di kantor.


"Dasar tukang mabuk!" Katanya jengkel sebelum mengambil lengan Davin dan membawanya ke leher untuk ia papah.


"Lain kali kamu mabuk lagi aku tidak akan sudi membawamu masuk!" Dumel Rein marah bercampur jengkel.


Ia tidak habis pikir bisa-bisanya Adit menyerahkan laki-laki mabuk ini kepadanya. Apa Adit tidak takut jika bosnya ini ia recoki sianida?


"Sekarang nikmatilah waktu istirahat mu dasar laki-laki pemabuk-argh!" Rein ikut jatuh ke atas ranjang.


"Apa-apaan!" Ia ingin bangun tapi lengan kuat Davin tiba-tiba menarik ke dalam pelukan, merengkuhnya hangat seperti tahun-tahun indah itu.


"Rein, apa kamu membenciku?"


Bersambung...