My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
146. Kekasih Revan?



Calon istri Davin?


Ingin sekali ku berkata jika calon istri Davin sesungguhnya kini sedang duduk di depannya. Hahah...tapi ya sudahlah, toh cepat atau lambat dia juga akan tahu sendiri.


Ah, faktanya anak laki-laki ini cukup menyebalkan tapi ini lebih baik daripada aku harus kesepian di sini. Jadi sambil menunggu Davin kembali aku pikir tidak masalah berbincang sebentar dengan anak laki-laki arogan ini. Aku ingin melihat seberapa jauh dia bisa sombong dan aku juga ingin tahu apakah Davin memiliki sebuah hubungan darah dengan anak laki-laki ini.


"Calon istri?" Tanyaku berpura-pura terkejut,"Apakah dia sangat cantik?"


Sudah pasti dia cantik dan memiliki bentuk tubuh yang bagus karena itulah dia menjadi model kelas atas. Hem, dan aku dengar dari Davin pun keluarga wanita itu cukup kaya.


"Huh, dasar kolot. Apakah kamu tidak pernah melihat foto Kak Anya di majalah X? Dia adalah model terkenal yang telah berkali-kali menjadi foto sampul kelas X?" Dia berseru bangga, seolah-olah Anya adakah dirinya sendiri. Oh, sekarang aku akhirnya tahu siapa nama model itu.


Anya, tidak asing. Aku pernah mendengarnya dari orang lain tapi tidak pernah memikirkannya karena menurutku itu bukanlah urusanku.


"Oh, jadi dia secantik itu." Gumam ku dengan suara yang agak dibesarkan."Lalu," Aku meliriknya dengan senyuman yang dibentuk semanis mungkin.


"Mengapa Davin tidak kunjung menikahinya jika apa yang kamu katakan memang benar?" Tanyaku dengan nada polos yang dibuat-buat.


Dia mendengus kasar di depanku. Dia terlihat mulai kehilangan sabar berbicara denganku. Oh astaga, ternyata menjadi orang kaya sangat menyenangkan. Eh, mungkin lebih tepatnya berpacaran dengan orang kaya memang sangat menguntungkan. Aku mungkin tidak kaya tapi Davin kaya, berpacaran dengannya membuatku tanpa sadar menumbuhkan perasaan superior. Ah aneh sekali, perasaan superior ini terasa sangat menggebu-gebu saat berhadapan dengan orang seperti anak laki-laki sombong di depanku ini.


Jangan sombong, aku tahu. Tapi dihadapkan pada anak laki-laki ini aku merasa tidak memiliki pilihan lain. Dia berani merendahkan ku padahal jelas-jelas Davin sedang ada di sini, seakan-akan ia menyatakan bahwa aku bukanlah lawannya.


Hem, oh yah?


Aku pikir dia salah besar bila benar-benar berpikir seperti itu. Hei, sekarang aku adalah Rein Xia, kekasih dari Davin Demian. Tidak perduli apa yang dikatakan orang lain mengenai diriku, aku harus membela diri. Mungkin dulu aku hanya akan diam saja tapi tidak dengan saat ini. Aku adalah kekasih Davin, aku tidak bisa membiarkannya menjadi tameng untuk melindungi ku. Walaupun tidak bisa melindungi Davin, setidaknya aku harus bisa melindungi diriku sendiri agar Davin tidak akan khawatir dan mencemaskan ku.


Hei, kasta kami sudah sejajar bukan?


Jadi kenapa aku harus takut?


"Itu karena Kak Anya sedang mengejar karirnya di negara F! Jika Kak Anya tidak sibuk dengan karirnya maka dia pasti sudah menikah dengan Davin sekarang."


Wah, jawabannya sungguh menggelikan. Karena terkesan, aku tidak sadar telah memutar bola mataku di depan matanya. Sontak saja dia sangat marah tapi masih menahan diri karena biar bagaimanapun diposisi ini aku akan menang karena dia adalah laki-laki sedangkan aku adalah perempuan.


"Oh ya, dia pergi ke negara F untuk mengejar karirnya. Tapi aku tidak mengerti ini, daripada menunggunya pulang ke negara ini tapi Davin malah mengejar-ngejar ku. Ini sangat aneh, apa kamu tahu kenapa Davin melakukan ini?" Tanyaku berpura-pura bingung.


Dia melotot marah sambil menggertak kan giginya. Cup..cup..dia sangat imut ketika sedang marah, aku tidak tahan ingin mencubit pipi gembil nya.


"Tentu saja itu karena kamu adalah wanita penggoda." Katanya tidak masuk akal, bukankah dia sangat pandai membuat lelucon?


Aku tersenyum miring,"Penggoda adalah penggoda, tapi apa kamu yakin Davin masih mau tergoda melihatku jika wanita yang kamu katakan calon istrinya itu sangat cantik? Ah, atau mungkin selama ini kamu salah paham jika," Aku bangun dari dudukku, berdiri di depannya dengan gesture berbisik.


"Wanita itu sebenarnya bukanlah calon istrinya." Kataku sambil tersenyum semanis mungkin.


Dia memelototi ku terlihat sangat tidak setuju dengan apa yang baru saja aku katakan.


"Omong kosong apa yang kamu katakan!" Tanyanya seperti anak kecil yang teraniaya.


Aku tersenyum tidak berdaya, sambil mengangkat bahuku tidak perduli aku kembali duduk di kursi ku dan mulai memakan kue ku beberapa gigitan sebelum kembali melayani kemarahan laki-laki tidak masuk akal ini. Hem, dia adalah seorang laki-laki tapi kenapa mulutnya sangat banyak bicara seperti seorang perempuan?


Memalukan.


"Aku pikir kedua telingamu berfungsi dengan baik." Balas ku santai.


"Kamu!" Aku langsung melirik kedua tangannya yang terkepal erat bersiap melayangkan tinju kepadaku.


Jika aku sampai dipukul olehnya, aku takut Davin akan kehilangan kendali dan merusak pesta orang lain!


Ah, apa sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang?


"Kamu adalah wanita penggoda ulung yang tidak tahu malu!" Umpatnya dengan nada kasar.


Meskipun aku direndahkan, tapi senyuman di wajahku sama sekali tidak luntur.


"Oh ya, lalu bagaimana dengan dirimu?" Tanyaku kepadanya.


Dia jelas sudah sangat marah tapi bodohnya dia masih saja bertanya,"Aku kenapa?"


Tersenyum manis,"Kamu adalah seorang laki-laki tapi kenapa mulutmu sangat banyak bicara seperti seorang wanita, apakah kamu tidak malu?"


Aku tahu dia pasti sangat marah, tapi daripada marah rasa malunya jauh lebih mendominasi. Laki-laki sangat mementingkan harga diri, ingat.


"Beraninya kamu-"


Aku segera memotongnya,"Jika waktunya sudah tiba aku akan mengirimkan undangan pernikahan ku dengan Davin ke alamat rumah mu, kuharap kamu bersedia datang untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi hari ini."


Ini adalah janji ku pribadi. Aku ingin melihat ekspresi wajahnya saat hari itu tiba, aku ingin melihat seberapa shock dan malu dia hari itu. Hah, saat hari itu tiba aku pasti akan sangat terhibur oleh semua kebingungan diwajahnya.


"Kamu... bermimpi lah! Davin tidak akan pernah menikah dengan wanita murahan seperti kamu-"


"Sudah selesai?" Seorang pelayan tiba-tiba datang mendekat kami.


Yang sangat mengejutkan adalah pelayan itu mendekati laki-laki banyak bicara ini dan mengarahkan ujung pistol yang sangat dingin ke pinggangnya.


"Jangan membuat masalah, apakah tuan mu sangat suka menciptakan masalah?" Tanyaku putus asa tidak ingin ada pertumpahan darah di sini.


Mengapa Davin sangat arogan! Pesta belum dimulai tapi dia sudah ingin membuat para tamu undangan melarikan diri.


"Maaf Nyonya, keselamatan Anda adalah prioritas kami." Dia jelas tidak mau mendengar kata-kata ku!


Argh, ya Tuhan! padahal aku sangat menikmati waktu ku berdebat dengan laki-laki bermulut besar ini. Aku belum cukup puas membuatnya marah, aku ingin membuatnya menangis dengan caraku sendiri!


Lagipula laki-laki ini tidak akan berani memukul di tempat dan acara sepenting ini!


"Tolong... tolong singkirkan benda ini dariku." Wajah laki-laki itu sangat pucat karena ketakutan. Aku berduka untuk kemalangan nya malam ini.


Tapi siapa suruh dia mengganggu ku terlebih dahulu dan membuat masalah untuk dirinya sendiri. Sayang sekali, laki-laki manis ini ternyata memiliki sumbu kepala yang sangat pendek.


Berdoa saja setelah pulang dari tempat ini dia masih hidup karena aku ragu Davin akan membiarkannya pergi.


"Chiko, apa yang sedang kamu lakukan di sini!" Eh, bukankah itu adalah Revan, Paman Arka yang lahir dari hubungan haram- oh astaga, betapa kasarnya mulutku!


Aku tidak boleh mengatakannya di lain waktu.


Hem, tapi apa hubungan Revan dengan laki-laki manis ini, kalau tidak salah tadi namanya adalah Chiko.


Ugh, Chiko... Chiko, namanya manis juga.


"Hubby, tolong aku! Wanita ini ingin membunuhku!" Dia merengek kepada Revan.


Ya Tuhan, apa yang baru saja dia katakan untuk memanggil Revan?


Hubby?


Hubby!


Dia...apa hubungan mereka berdua sebenarnya? Bukankah mereka berdua adalah laki-laki! Mereka berdua adalah laki-laki!


Jadi...jadi apa yang dikatakan Davin tentang Revan memang benar adanya jika Revan adalah laki-laki yang sangat suka bersenang-senang di atas ranjang tidak perduli dengan siapa ia melakukannya, laki-laki ataupun perempuan, selama menarik, ia tidak akan ragu untuk melakukannya!


Ya Tuhan, betapa mengerikannya dia!


Pantas saja Kakek Davin tidak mau menyerahkan hak waris kepada Revan, karena selain lahir dari hubungan tidak jelas dia juga berpotensi merusak semua jerih payah Kakek Davin!


"Dasar bodoh, apa kamu pikir aku akan mempercayai mu!" Dia mendorong Chiko menjauh dan berjalan mendekatiku tapi segera dihalangi oleh pelayan itu- ah, ralat. Sebut saja bawahan Davin!


"Tuan Revan, orang Anda terlebih dahulu mencari masalah kepada Nyonya kami."


Revan tersenyum miring,"Nyonya kalian?" Tapi kenapa matanya ke arah ku.


"Aku tahu, karena itulah aku datang ke sini untuk meminta maaf..." Katanya lagi membuat ku merinding.


Reaksi Chiko sangat shock ketika melihat Revan bukannya memarahiku malah ingin meminta maaf kepadaku. Dia pasti tidak pernah mengharapkan hasil ini karena kekasihnya lebih memihak ku!


Tapi jujur, aku sama sekali tidak membutuhkan permintaan maaf Revan!


Aku sungguh tidak menginginkan jadi bisakah seseorang segera membawa dua orang berkepala miring ini menyingkir dariku!


"Dia... dia ingin menyakitiku-"


"Diam lah!" Revan memperingati dengan tajam sebelum kembali melihat ke arahku.


Dia tersenyum manis di depanku dan terlihat sangat memuakkan untukku pribadi.


"Rein, tolong maafkan kecerobohannya. Dia benar-benar tidak bermaksud mengganggumu..." Dia terus berbicara tapi tidak pernah ku dengar karena fokus ku saat ini sedang ada pada Davin.


Davin Demian! Dia datang di waktu yang tepat dengan langkah lebar dan aura dingin di sekelilingnya. Dia pasti datang menyelamatkan ku setelah mendengar dari bawahannya jika Revan datang menghampiriku.


Benar, monster ini sangat mengerikan dan aku semakin tidak tahan berhadapan dengannya saat mengingat betapa hancurnya Mbak Anggi karena perbuatannya.


"Davin!" Panggilku seolah sedang memegang sedotan terakhir kehidupan ku.


Aku mengabaikan Revan dan kekasihnya, berlari menghampiri dan dengan manja mencari perlindungan kepadanya.


"Apa kamu tidak apa-apa?" Tanyanya lembut.


Aku mengangguk serius,"Dia tidak menyakiti ku." Kataku.


Tapi Davin tidak langsung puas dengan jawabanku. Dia membawaku berjalan kembali ke arah Revan dan kekasihnya. Oh, dan kemana bawahan Davin itu pergi?


Kenapa aku tidak melihatnya di sini?


"Paman," Panggil Davin menyapa sopan wajah muram Revan yang kini tengah menatap kami tidak puas.


"Lama tidak bertemu."