
Semua berjalan semestinya. Aku sudah mendapatkan pekerjaan yang sangat bagus dan gajinya pun sangat besar. Gaji sebulan bekerja di sini sebanding dengan gaji dua tahun bekerja di perusahaan dulu. Sangat besar. Dengan gaji itu, asalkan aku bisa menabung sedikit, aku pasti bisa membeli rumah yang hangat dan nyaman untuk anak-anak ku di tengah-tengah kota, meskipun tidak besar tapi tidak ada salahnya selama keluarga ku bisa tinggal dengan aman di dalamnya. Dengan gaji itu aku juga bisa menyekolahkan anak-anak ku di sekolah yang bagus dan berakreditasi elite sehingga masa depan anak-anak ku bisa terjamin. Aku sepenuhnya lega. Sebab anak-anak ku tidak kelaparan lagi, Ibu dan bapakku bisa membeli kebutuhan yang mereka inginkan dan aku tidak kekurangan uang sama sekali.
Aku lega dan menikmati kedamaian ini.
Tapi karena aku bekerja sebagai asisten pribadi Rein, Nyonya besar keluarga Demian saat ini, maka semua waktuku di prioritaskan untuk melayani Nyonya Demian. Aku lebih banyak tinggal di mansion Demian daripada tinggal di rumah bersama anak-anak ku. Mereka kesepian tapi syukurnya mereka mengerti mengapa aku tidak bisa menemani mereka bermain. Mereka sudah bisa berpikir dewasa di usia yang sangat kecil. Sungguh, sebagai seorang Ibu, aku tentu merasa bersalah. Ingin menemani mereka tapi aku memiliki kewajiban untuk menafkahi mereka berdua.
Tapi untunglah Ibu dan Bapak mau membantuku merawat anak-anak. Mereka pindah ke rumah baruku dan memutuskan untuk tinggal merawat anak-anak ku. Aku lega mengetahuinya.
Sekarang aku bisa fokus sepenuhnya mengurus keperluan dan segala kebutuhan Nyonya Demian yang sejujurnya tidak melelahkan kecuali bagian mengurus anak-anak. Aska dan Tio sangat aktif ketika sedang bermain, jika hanya diriku sendiri, maka mungkin aku akan sangat kewalahan menghadapi mereka. Tapi untunglah ada Adit yang membantuku. Padahal dia sangat sibuk membantu tuan Davin di menyelesaikan berbagai macam urusan di perusahaan dan belum lagi masalah di luar kantor, setiap hari dia menghabiskan banyak waktu untuk mengurus semua keperluan tuan Davin tapi tidak pernah sekalipun aku mendengar keluhannya setelah sekian lama bekerja di sini. Mungkin dia terkadang tampak kelelahan tapi untuk sampai mengeluh dia tidak sampai melakukan itu. Dia sungguh sangat kuat dan memiliki disiplin yang tinggi.
En, dia juga orang yang sangat sulit bergaul dan sedikit bicara. Benar-benar batu! Aku sampai frustasi menghadapi wajah datarnya itu!
Tapi apa yang harus aku lakukan karena aku dengan bodohnya telah jatuh cinta kepadanya!
Ah, ini sangat membuatku putus asa!
"Lihat, lihat! Tuan Davin dan Nyonya Rein sangat romantis. Mereka berpelukan di pinggir pantai."
Perhatian ku tiba-tiba ditarik oleh suara-suara ini. Aku tanpa sadar menoleh ke arah sumber suara. Baru ku sadari bila sekumpulan pelayan ini kini sedang berkerumun di ambang jendela menatap ke arah bibir pantai.
Penasaran, aku berjalan sedikit di belakang mereka, berjinjit dan melihat ke arah bibir pantai. Di sana, di bawah sinar rembulan yang redup pasangan pengantin baru itu sedang berpelukan bersama. Mereka sangat romantis, aku mengakuinya dan aku tidak kaget walaupun sebenarnya aku sering merasa cemburu dengan kebahagiaan sahabatku. Benar, aku juga ingin sekali berada di posisi Rein, hidup bahagia dengan laki-laki yang mencintaiku sepenuh hati pula.
Tuhan tahu betapa aku merindukannya.
"Selama bekerja di mansion, aku belum pernah melihat wajah lembut tuan Davin kecuali saat sedang bersama Nyonya Rein."
Sama seperti kamu, aku juga belum pernah melihatnya bersikap lembut kecuali saat bersama dengan Rein.
"Kamu tidak perlu mengatakannya karena kita semua juga mengalaminya. Hanya Nyonya Rein yang berhasil meluluhkan wajah dingin tuan Davin."
Diskusi ini menyenangkan, tapi sebagai kepala pelayan di rumah ini aku tidak bisa membiarkan mereka menggosipkan tuan Davin dan Nyonya Rein karena mereka adalah penguasa mansion.
Jadi aku menegur mereka sebelum bertindak terlalu jauh.
"Mbak Anggi..." Sapa mereka kepadaku.
Aku mengangguk.
"Kembali ke pekerjaan kalian masing-masing sebelum tuan Davin dan Nyonya Rein melihatnya. Dan aku tekankan selama kalian menjadi pelayan mansion Demian, maka selama itu pula mulut kalian semua tertutup rapat. Kalian tidak diizinkan mengomentari kehidupan tuan Davin dan Nyonya Rein, apalagi sampai menggosipkan nya. Tindakan ini sangat tabu di sini. Apa kalian mengerti?"
Aku pernah diajarkan oleh ketus pelayan sebelumnya jika di dalam mansion Demian, pelayan tidak diizinkan mengomentari kehidupan para tuan dan nyonya, apalagi sampai mengomentari kehidupan kepala keluarga langsung, itu adalah hal yang sangat tabu. Biasanya sesuai dengan etiket dari tahun-tahun sebelumnya, jika ada yang tertangkap basah membicarakan kehidupan para tuan, maka mereka bisa diusir dari mansion Demian tanpa perlu kompromi.
Sejujurnya teguran ku terbilang ringan dan tidak bermaksud mengancam, malah aku justru menolong mereka dalam artian memberikan mereka kesempatan untuk mempertahankan pekerjaan ini.
Bila aku memecat mereka, maka kemana mereka harus mencari pekerjaan?
"Kami mengerti Mbak, Anggi."
Aku puas.
"Baiklah, kalian bisa bekerja lagi." Kataku membubarkan mereka semua.
Mereka semua langsung bubar dan kembali ke pekerjaan mereka sebelumnya. Malam ini harusnya sangat sibuk karena pesta pernikahan baru saja selesai diadakan dan kami harus membersihkan vila sesuai dengan permintaan tuan Davin.
Tapi melihat ke arah bibir pantai yang disinari cahaya redup bulan, aku mau tidak mau mengharapkan cahaya bulan itu juga menjadi saksi untuk kebahagiaan ku kelak.
"Kamu meminta para pelayan bekerja tapi kamu sendiri malah asik menonton kehidupan pribadi tuan Davin dan Nyonya Rein, apakah tindakan mu ini layak?" Suara dingin Adit menarik perhatian ku.
Eh, tadi siapa yang berbicara?
Ragu, leherku rasanya sangat kaku saat berputar 90 derajat melihat ke arah sumber suara. Beberapa meter jauhnya dari tempat ku berdiri seorang laki-laki berwajah dingin kini sedang menatapku dengan tatapan acuh tak acuhnya yang khas.
Dia tidak memiliki emosi apapun di wajahnya tapi betapa bodohnya aku, setiap kali melihatnya hatiku pasti akan berkecamuk dilanda berbagai macam emosi!
"Mas... Mas Adit?"