
"Kamu berani?!" Nenek berontak dari orang-orang yang ingin menyeretnya pergi.
Suara Nenek praktis membuat suasana menjadi rusuh. Dia berteriak-teriak keras memaki Rein sembari melarikan diri meminta perlindungan kepada Kakek Demian. Akan tetapi semua usahanya jelas sia-sia karena Kakek Demian sama sekali tidak perduli dengan kemalangan apa yang dihadapi istrinya. Sikapnya masih sama, tampak santai dengan kedua mata terpejam terlihat sangat damai.
"Suamiku, tolong bantu aku suamiku. Mereka ingin membawa ku pergi! Wanita miskin itu memerintah mereka untuk membawa ku pergi!" Adu Nenek sembari mengguncang tubuh tua Kakek Demian.
Kakek Demian mengernyit, dia mengibaskan tangan Nenek menjauh dari tubuhnya sambil memperingatinya dengan dingin.
"Jika kamu tidak mau diseret pergi maka belajarlah untuk menutup mulut." Katanya tanpa rasa kepedulian sedikit pun.
Nenek tercengang dengan perlakuan dingin Kakek Demian kepadanya. Laki-laki tua bangka ini memberikannya bahu dingin setelah semua yang dia lakukan. Faktanya Kakek Demian memang orang yang dingin tapi seringkali Kakek Demian memanjakannya dengan berbagai macam keintiman. Ini wajar saja mengingat Nenek adalah seorang wanita muda yang terpaksa menikah dengan Kakek Demian demi hartanya.
Di usia Kakek Demian yang sudah tua dan keriput ini, harusnya tidak ada seorangpun wanita yang tahan bersama dengannya. Kecuali hartanya yang melimpah, Kakek Demian sama sekali tidak terlihat menarik.
"Sayang, aku adalah istrimu! Sebagai seorang suami, harusnya kamu membelaku daripada wanita miskin itu!" Teriak Nenek marah juga merajuk.
"Apa yang Mama katakan benar, Pa. Mama adalah istri sekaligus-" Revan melihat situasi Nenek yang tidak menguntungkan dan segera membantunya dengan beberapa patah kata.
Tapi siapa yang tahu bila Kakek Demian akan langsung memotongnya bahkan tanpa menunggu Revan menyelesaikan ucapannya.
"Dia adalah Nyonya keluarga ini jadi kalian tidak berhak mengomentari nya apalagi sampai mengkritik keputusannya." Potong Kakek tidak mau terlalu ikut campur lagi.
Keluarganya, beberapa orang memiliki pikiran lain dan beberapa nya sadar diri, ada juga yang tidak tahu malu juga sangat payah. Kerjaannya tiada lain membuat keluarga malu dan menebarkan skandal. Hah, Kakek Demian sudah tidak bisa mengharapkan apa-apa lagi dari keluarga ini. Dia pikir melepaskannya juga dapat memperbaiki semua kesalahan yang pernah dia lakukan dalam hidup ini sebelumnya.
"Sayang!" Nenek sangat panik.
Dia memanggil Kakek Demian berkali-kali tapi tidak mendapatkan tanggapan positif. Tidak terima, dadanya sudah terbakar amarah karena Rein. Ingin sekali rasanya kedua kuku panjang dan terawatnya ini mencabik-cabik wajah cantik Rein. Tapi saat kedua bola matanya menangkap keberadaan beberapa orang yang siap menyeretnya pergi, Nenek terpaksa mengurungkan niatnya dan memilih duduk tidak bergerak di samping Kakek Demian.
Sebagian orang menganggap adegan ini terlihat agak lucu. Namun hal yang tidak bisa mereka lewatkan adalah tentang Rein. Menatap Rein dengan pandangan menilai, mereka memperhatikan jika Rein bukanlah orang yang mudah dihadapi dan diprovokasi. Mengingat kedudukannya saat ini, ada baiknya bersikap 'patuh'. Jelas saja mereka sangat cemburu tapi tidak berdaya karena mereka tahu posisi itu hanya bisa dimiliki oleh pasangan Davin Demian.
"Kamu...kalian berdua benar-benar tidak pantas berada di posisi itu!" Kata salah satu Paman memarahi Davin dan Rein.
Davin tersenyum tipis,"Oh ya, jika aku tidak pantas apa artinya kamu lebih pantas?" Ejek Davin dengan nada merendahkan.
Paman yang berbicara tadi tersedak. Dia menunjuk Davin marah sebelum beralih menunjuk Revan yang masih berdiri linglung di tempat. Revan tidak pernah memprediksi bagian ini karena dia tidak tahu sama sekali jika semua harta laki-laki tua bangka itu telah beralih menjadi milik Davin Demian.
"Aku mungkin tidak pantas tapi Revan adalah orang yang pantas. Dia masih muda dan menjanjikan dibandingkan denganmu. Revan, katakan sesuatu untuk membuatnya sadar!" Kata Paman itu sambil menarik Revan agar berhadapan dengan Davin.
Ugh, meskipun Davin duduk di kursi roda, aura yang dia bawa sungguh tidak main-main. Itu masih sama seperti sebelumnya, mengerikan!
Paman itu sangat tidak puas dengan Revan dan diam-diam di dalam hati merutuki nya sebagai orang yang bodoh.
"Aku dan yang lain berpikir jika kamu lebih pantas menjadi kepala keluarga dibandingkan dengan Davin!" Katanya dengan suara menggebu-gebu!
Revan praktis membawa pandangannya melihat Davin yang kini tengah menatapnya dengan seringaian tipis. Udara tiba-tiba menjadi panas di sekelilingnya dan kedua tangannya mulai mengepal karena kebencian yang telah lama dibiarkan mengakar di dalam hatinya.
Mengapa kamu selalu menjadi yang terbaik di mata Papa? Padahal aku adalah putranya tapi kamu adalah cucunya. Harusnya semua yang kamu miliki saat ini adalah milikku karena aku adalah putranya! Batin Revan meraung dalam kebencian yang dalam.
Sejak memasuki rumah ini dia selalu bertanya-tanya kenapa Kakek Demian lebih menyukai Davin daripada dirinya?
Kenapa Kakek Demian lebih memilih Davin sebagai ahli warisnya daripada memilihnya yang jelas-jelas memiliki hubungan darah paling dekat.
Mengapa Davin disenangi Kakek Demian sedangkan dia tidak?
Mengapa Davin mendapatkan banyak sumber daya tapi dia tidak?
Mengapa Davin mendapatkan segalanya tapi dia tidak?
Ada banyak mengapa, mengapa, dan mengapa lainnya. Pikirannya penuh dengan pertanyaan ini tapi dia tidak pernah menyuarakan sedikitpun karena takut dengan jawaban menyakitkan yang keluar dari mulut Kakek Demian atau justru karena dia memang tidak bisa menghadapi kepayahannya yang selalu tertinggal di belakang Davin.
Dia membenci kenyataan ini dan bertekad mengambil apapun yang dimiliki oleh Davin.
"Davin," Kata Revan jarang terlihat sangat serius.
"Tolong dengarkan tuntutan semua orang. Kamu lumpuh dan tidak bisa berjalan dengan kursi roda untuk mengurus keluarga juga perusahaan. Jadi mundur lah, kembalikan saham Papa dan mundur dari posisi ini. Kau tahu sendiri bukan jika keluarga sebesar ini tidak pantas dipimpin oleh seseorang yang yang cacat dan tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk di kursi roda. Mundur okay, ini demi kebaikan semua orang di rumah." Bujuk Revan dengan nada negosiasi yang sangat serius.
Dia tidak pernah seserius ini saat berbicara dengan orang lain. Saat ini dia sungguh bersikap serius karena sangat menginginkan tempat Davin. Dia ingin segera mengalahkan Davin dan mengambil semua yang Davin miliki.
Ini adalah rasa haus yang telah mendarah daging di dalam tubuhnya karena kebencian dan rasa cemburunya kepada Davin.
"Cacat, huh?" Davin tersenyum miring. Kedua tangannya bergerak membuka kancing jas hitamnya dengan cara yang sangat arogan sambil menurunkan salah satu kakinya menyentuh lantai,"Terima kasih sudah mengingatkan ku tentang kondisi ku. Tapi maaf telah membuat kalian kecewa karena aku sebenarnya tidak lumpuh dan cacat seperti yang kalian harapkan." Katanya bagaikan petir di siang bolong.
Di bawah mata penuh kejutan semua orang Davin turun dari kursi roda dan dengan lancar berjalan mengitari ruang tengah dengan sikap arogansi yang khas.
"Apa...apaan ini..."