
Lalu mereka berlima masuk ke dalam rumah utama di bawah tatapan ingin tahu para anggota yang lain. Selain heran melihat kedatangan dokter Adit yang sudah lama menghilang tanpa kabar, mereka juga merasa sulit mempercayai jika pewaris keluarga Demian kini tengah duduk di kursi roda dengan kaki lumpuhnya. Beberapa orang merasa simpati karena Davin yang malang, dan sebagiannya lagi merasa senang karena Davin tidak lagi menghalangi langkah mereka menduduki kekayaan keluarga Demian.
"Selamat malam semuanya," Sapa Rein dengan intonasi sedang, tidak hangat juga tidak dingin.
Dia memiliki kesan arogan di seluruh tubuhnya. Bahkan Davin, sang laki-laki cacat yang malang juga tidak mau berpura-pura sedih di depan semua orang. Dia duduk dengan patuh di atas kursi roda sambil menatap anggota keluarga yang lain dengan ekspresi malasnya yang khas.
Penampilan mereka cukup menarik perhatian. Terutama Davin dan Rein. Tidak banyak yang diam-diam membicarakan mereka. Berbisik-bisik dengan satu sama lain sambil mencela penampilan pasangan manis itu.
Yang satu cacat, tapi masih menggunakan baju mahal dan berkelas, tidak lupa juga ekspresi sombongnya yang menjengkelkan. Dan yang satu lagi memakai gaun malam yang indah dan sejumlah perhiasan mahal yang sangat menguras kantong, tampil anggun dengan kecantikannya yang menawan. Jelas malam ini mereka berdua mengundang rasa cemburu beberapa orang.
"Si Davin ini udah cacat tapi masih aja pakai baju mahal. Apa dia gak malu sama kondisinya yang lumpuh? Hah, malam ini mungkin dia masih bisa bergaya dengan semua kekayaannya tapi besok? Dia akan menjadi gelandangan pertama keluarga kita." Seseorang yang sangat membenci Davin berbisik kepada saudara perempuannya.
"Aku sih enggak apa-apa sama Kak Davin, karena sedari kecil dia dibesarkan dengan manja oleh Paman dan Bibi, ditambah lagi Kakek memberikannya banyak harta. Jadi wajar saja dia bertindak arogan walaupun kakinya lumpuh. Tapi lihatlah wanita miskin yang bergaya sok di belakang Kak Davin. Dia memang pacar Kak Davin tapi bukan berarti dia bisa memiliki semua harta Kak Davin. Cek, pakaiannya pasti sangat mahal dan aku kenal beberapa perhiasan yang wanita miskin itu pakai. Harganya tidak main-main dan aku yakin, Kak Davin pasti mengeluarkan banyak uang untuk membelinya." Balasnya sangat cemburu.
Apa yang harus dia lakukan?
Dia juga seorang wanita yang menyukai pakaian yang indah dan perhiasan berkelas. Bagaimana mungkin dia tidak cemburu melihat Rein, wanita miskin dan hidup sebatang kara itu kini menggunakan pakaian mahal juga perhiasan dari brand ternama. Dia sangat mudah mendapatkannya karena ada Davin bersamanya.
Sedangkan dirinya?
Dia memang keluarga Demian dan sepupu Davin, tapi uang jajan yang dia punya tidak sampai menyentuh angka yang fantastis. Membeli satu dua perhiasan dari brand yang Rein pakai mungkin bisa, tapi tidak banyak karena harganya sangat mahal. Jadi, jika dia ingin membeli lagi, dia harus cukup menabung uang belanjanya agar bisa tercapai!
Kakak laki-lakinya juga memperhatikan Rein, menatap tubuh indah nan ramping Rein dengan tatapan membara,"Mau bagaimana lagi, dia memang wanita yang menawan-" Sebelum kata-katanya selesai, mata tajam Davin telah menguncinya dengan niat- membunuh?
Laki-laki itu ketakutan. Dia sontak membuang muka tidak berani melihat Rein lagi. Ancaman Davin jelas tidak main-main apalagi dia sangat posesif terhadap kekasihnya.
"Kenapa aku harus takut? Dia sekarang lumpuh dan miskin, dengan kondisinya sekarang, dia tidak bisa melakukan apa-apa kepadaku." Bisik laki-laki itu serasa di atas angin.
Jadi, mengabaikan rasa takut di hatinya, laki-laki itu sekali lagi mengangkat kepalanya untuk melihat Rein namun sekali lagi bertemu dengan tatapan tajam Davin.
Laki-laki itu tidak mampu menahan tekanan Davin, dia sekali lagi membuang mukanya. Merasakan aliran dingin menghinggapi tulang punggungnya yang sangat tidak nyaman.
"Kak, kamu kenapa, Kak?" Tanya adik perempuannya.
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya tidak mau menjawab. Cemas, dia mengusap tengkuknya untuk menenangkan sarafnya yang tegang.
"Aku haus dan ingin minum air dulu untuk melegakan tenggorokan ku. Kamu...jika mau tinggallah di sini." Kata laki-laki itu melarikan diri dari jangkauan nata mengancam Davin.
Sementara itu, Davin, sang pelaku yang telah menakuti laki-laki itu mengalihkan matanya dengan dendam terpendam. Dia berencana untuk memberikan laki-laki itu balasan agar menjaga matanya di masa depan nanti tubuh kekasihnya.
Adit hanya mengangguk singkat tanpa niat menyalami tangan Nenek atau bahkan memeluknya seperti keluarga yang harmonis. Sedangkan Davin sendiri hanya membalas dendam sebuah senyuman dangkal, jelas terlihat enggan.
Nenek sama sekali tidak malu dengan sikap mereka, atau katakan saja dia berpura-pura tidak melihat keengganan mereka berdua dan masih melanjutkan aksi ramah tamah nya yang menjijikkan.
"Davin dan Rein hanya datang berdua?" Tanya Nenek seraya menggoyangkan kepalanya celingak-celinguk melihat ke kiri dan ke kanan.
Davin dengan sederhana menjawab,"Nenek, aku juga membawa kedua asisten pribadi ku ke sini." Tangannya menunjuk ke belakang untuk menunjukkan kepada Nenek bahwa ada Adit dan Anggi yang datang ke sini bersama mereka berdua.
Mulut Nenek berkedut.
"Tidak, aku pikir kamu juga datang bersama anak-anak." Ralat Nenek sambil menjaga senyum menyanjungnya.
Davin tersenyum aneh,"Nenek sangat perhatian. Tapi sebagai seorang Ayah yang baik, aku tidak mungkin membawa anak-anak ku untuk menonton pertunjukan orang dewasa. Itu tidak sesuai dengan usia mereka yang masih kecil."
Aneh. Nenek merasa ada sesuatu yang coba Davin sampaikan tapi dia tidak tahu mengenai apa itu. Mungkinkah Davin akan melakukan sesuatu untuk mengacaukan rencananya?
Tidak, Nenek yakin jika Davin tidak akan melakukan itu karena Nenek memiliki kelemahan Davin. Dengan kelemahan ini Davin tidak akan bisa melakukan apa-apa kepadanya ataupun kepada Revan karena semua kekuasaannya akan segera diambil alih oleh putranya. Dan Nenek juga sudah memastikan sendiri kondisi Davin menggunakan matanya sendiri dan dari laporan mata-matanya jika Davin tidak akan bisa berjalan selama sisa hidupnya. Dalam artian di akan lumpuh selama-lamanya.
"Nenek, apa yang sedang Nenek pikirkan?" Tanya Davin dengan nada mencemooh, namun samar.
Nenek tersenyum lebar. Dia menggelengkan kepalanya menolak mengatakan.
"Jangan banyak bicara. Ajak anak-anak ke meja makan agar kita bisa memulai makan malam." Suara tua Kakek Demian menarik perhatian semua orang.
Rein langsung mendorong kursi roda kekasihnya menjauh sebelum Nenek dapat mengatakan sesuatu. Dia membawa kursi roda kekasihnya tepat di samping tempat duduk Kakek Demian, sementara dirinya duduk di samping Davin. Tidak ada yang keberatan dengan posisi tempat duduk Rein sekalipun mereka sebenarnya keberatan. Mereka tidak bisa menyuarakannya karena Kakek Demian telah mengakui Rein sebagai calon istri Davin di depan umum.
Di atas meja makan tidak ada yang berani berbicara. Semua orang sibuk dengan makanan masing-masing. Tangan dan mulut mereka sibuk makan hidangan lezat yang disajikan koki keluarga Demian langsung. Rasanya sangat menggugah selera.
Setengah jam kemudian Kakek Demian berhenti menggerakkan sendok dan garpu nya. Dia sudah selesai makan. Melihat Kakek Demian berhenti makan, semua orang termasuk Rein juga melepaskan sendok dan garpu nya di atas piring tanpa menimbulkan suara dentingan nyaring.
"Terima kasih untuk makan malam yang sangat menyenangkan malam ini. Kakek cukup menikmatinya." Kata Kakek Demian sebagai penutup makan malam.
Dia lalu bangun dari duduknya bermaksud ingin meninggalkan meja makan. Namun, suara serius Revan menghentikan tindakannya.
"Papa, ada yang ingin aku bicarakan dengan Papa dan semua orang. Jadi tolong jangan pergi sampai pembicaraan kita semua diselesaikan."