My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
64. (64)



"Sera... Sera enggak mau, Pa..." Suara Sera menolak.


Sera memang bercita-cita ingin melanjutkan sekolahnya kembali tapi tidak sekarang. Dia masih muda dan punya banyak waktu untuk sekolah di masa depan nanti. Untuk sekarang dia fokus ada kliniknya yang baru dibuka dan mengejar Adit. Selain daripada itu dia mengesampingkannya ke belakang hingga semua keinginannya di tahun ini terwujud.


"Maaf, Sera. Papa sudah mengirimkan berkas-berkas kamu ke teman Papa. Dia bilang kamu bisa berangkat besok pagi ke negara A. Jangan khawatir soal tempat tinggal dan biaya kehidupan kamu selama menuntut ilmu di sana. Di negara A Papa sudah menyiapkan sebuah rumah untukmu dan Papa juga akan mengirimkan biaya kehidupan kamu di sana setiap awal bulan. Telpon saja Papa jika kamu membutuhkan pengeluaran lebih yang tidak bisa ditanggung oleh uang bulanan yang Papa kirim." Papa bahkan tidak menatap putrinya ketika memohon maaf.


Jelas sekali bila Papa telah mempersiapkan semuanya dan Sera tidak bodoh untuk tidak mengetahui apa tujuan Papa sebenarnya. Papa pasti ingin menendangnya keluar dari rumah, mengirimnya pergi agar jangan mencari Adit lagi. Sungguh mengecewakan. Dia pikir Papa akan selalu berada di sisinya terlepas langkah apapun yang dia ambil. Baik atau buruk, seorang Ayah akan selalu bersama putrinya. Bukankah seharusnya begitu tugas seorang Ayah?


"Enggak... enggak, Sera enggak mau pergi! Sera enggak mau pergi ke luar negeri! Ma, bilangin Papa, Ma! Bilangin ke Papa kalau Sera enggak mau ninggalin kalian!" Teriak Sera histeris sambil mengguncang-guncang pundak Mamanya.


Mama segera meraih tangan putrinya dan menarik putrinya masuk ke dalam pelukannya. Mama mengelus pundak putrinya lembut untuk menenangkan tangisannya yang menyayat hati. Sebagai seorang Ibu, mustahil hatinya tidak merasakan sakit dan cemas melihat putrinya yang menangis.


"Tenang, nak. Mama akan berbicara dengan Papa." Bujuk Mama menenangkan tangisan putrinya.


Papa mendengus dingin.


Mama menggelengkan kepalanya kesal.


"Pa, Sera adalah putri kamu juga." Ucap Mama mengingatkan sang suami.


"Kapan aku pernah mengatakan bila dia bukan putriku?" Tanya Papa sarkas.


Mama tahu bila suaminya mengerti apa yang dia maksud, tapi yang Mama tidak mengerti adalah bagaimana mungkin suaminya bisa berlaku kejam pada satu-satunya putri mereka?!


"Tapi Papa tega mengirimnya ke luar negeri padahal jelas-jelas dia enggak mau pergi!" Kata Mama merasa benar dengan apa yang dia katakan.


"Ouh, lalu bagaimana dengan mu sendiri? Kamu adalah istriku tapi berani berbohong dan mendorong keluarga ini ke tepi penghancuran?! Hah, jika bukan karena kalian sendiri yang memulai duluan maka aku tidak akan pernah mengirim Sera ke luar negeri! Tapi kalian lah yang memaksaku untuk melakukan semua ini! Tapi kamu malah dengan mudahnya menudingku kejam dan tidak berperasaan? Dimana hatimu sebagai seorang manusia! Apa kamu pikir perbuatan mu tidak kejam?! Sungguh bodoh, aku sangat bodoh pernah menganggap mu sebagai wanita yang polos dan murni. Baiklah, karena kamu tidak setuju maka kamu juga bisa ikut pergi bersamanya. Temani dia luar negeri agar kamu bisa belajar bahwa di sana, kamu sama sekali tidak seberharga di dalam pikiran mu. Tinggal di sana akan membuat mu sadar bahwa kamu bukanlah apa-apa karena masih ada langit yang lebih tinggi lagi dari tempat mu berpijak. Aku pikir ini adalah solusi yang baik." Papa tiba-tiba merubah rencananya dengan mudah dan tanpa pertimbangan yang berarti.