My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
31. Mempermainkan Ku?



"Aku ingin kopi."


Rein tercengang, dia membuka mulutnya beberapa kali ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada satu katapun yang berhasil ia keluarkan dari mulutnya.


Jika dia saat ini ada di dalam buku komik, mungkin sekarang sudah ada garis perempuan yang muncul di keningnya. Dia kesal.


"Segera di dalam kantorku." Kata Davin lagi masih dengan ekspresi yang membosankan.


"Pak Davin sangat tampan~" Ada bisikan tertahan yang masuk ke dalam pendengaran Rein.


Rein dengan susah payah membuat garis senyuman.


"Bukankah Pak Davin tidak ingin meminum buatan kopi dari saya?" Rein mengingatkan dengan murah hati.


Davin mengangkat tangan kirinya, menarik kain jas mahal bermerek yang telah menyembunyikan pesona dari jam rolex keluaran terbaru di pergelangan tangan. Beberapa orang yang kebetulan sedang memperhatikan gerak gerik Davin tidak bisa menahan decakan ketika penampakan jam mahal nan langka itu kini tersemat dengan anggun di atas pergelangan tangan kiri Davin.


Harganya sepadan dengan merek mobil mewah tertentu.


"Aku mengatakan tidak ingin minum kopi buatan mu bukan berarti kamu tidak bisa mengantarkan kopi ke dalam kantorku. Apa kamu mengerti?" Davin mengangkat kepalanya menatap Rein langsung dengan ekspresi acuh tak acuh.


Sadar atau tidak, Davin saat ini terlihat sangat seksi seperti model-model tampan yang ada di dalam majalah.


Kedua tangan Rein gatal, jika bukan karena laki-laki ini adalah atasannya mungkin beberapa detik yang lalu tangan kasarnya telah menyentuh permukaan pipi milik laki-laki brengsek itu.


"Maaf Pak, aku salah paham sebelumnya." Rein meminta maaf dengan tidak ikhlas.


"Tidak masalah, aku akan memaafkan kamu kali ini tapi tidak dengan waktu-waktu yang lain. Aku ingin kopi," Dia memperbaiki dasinya sebelum berbalik meninggalkan Rein.


"Bawa segera ke dalam kantorku." Perintah Davin yang semakin menjauh.


Rein mengepalkan tangannya dengan pikiran campur aduk. Wajahnya yang merah mulai cemberut. Mbak Anggi tidak tahan melihat wajah cemberut Rein, dengan iseng dia mencubit pipi kanan Rein.


Dia sama sekali tidak bohong. Cubitan Mbak Anggi membuat pipinya memerah terang dan terlihat mencolok.


"Gak sakit juga pakek teriak." Mbak Anggi tidak percaya.


Dia yakin asal mencubit dan berpikir jika kulit Rein terlalu sensitif sehingga menjadi merah.


Rein menggosok pipi yang dicubit dengan rasa kesal terendam. Dia tidak ingin memperpanjang masalah ini karena Mbak Anggi juga tidak akan perduli.


"Kenapa sih, Mbak?"


Dia menjaga jarak dari Mbak Anggi. Lap pembersih yang ada di tangannya kembali dilipat rapi dan ditaruh di atas meja.


"Kenapa lo bohongin gue, Rein?"


Kalau dia gak nganterin kopi ke kantor Davin tadi mungkin dia gak akan kena semprot kemarahan Davin.


Rein mendesah,"Gua gak bohong, Mbak. Lo liat sendiri kan tadi gue juga bingung sama dia. Yah, meskipun gue akui kalau gue sempat salah paham tapi bukan berarti itu salah gue dong. Dah ya, Mbak. Gue cabut dulu anterin dia kopi."


"Eh tunggu dulu, gue kan belum selesai ngomong." Teriak Mbak Anggi melihat kepergian Rein.


Rein melambaikan tangannya tidak perduli. Baginya, pekerjaan adalah yang terpenting. Dia takut karena telat Davin lebih memilih memecatnya.


Memang Rein mengakui dia sempat berpikir kemarin jika Davin sama sekali tidak ingin berhubungan dengannya tapi siapa yang akan mengira jika hari ini Davin tiba-tiba mendatanginya untuk sebuah kopi. Namun perlu digarisbawahi bahwa Rein hanya pengantar kopi bukan sebagai pembuat.


"Sigh.." Dia menghela nafas panjang.


"Apa dia sengaja ingin mempermainkan ku?"