My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
108. Arogansi



Tapi Tio tiba-tiba mencariku dengan tangisan sekeras ini?


Jujur ini tidak biasa terjadi karena dulu aku sering meninggalkan Tio bekerja selama setengah hari namun dia tidak pernah menangis apalagi sampai sekeras ini- tidak, mungkinkah Tio juga merasakan apa yang aku rasakan saat di hutan tadi?


Mungkinkah Tio merasakan ketakutan ku sebelumnya?


Ya Tuhan, sungguh sesak rasanya bila itu benar-benar terjadi.


"Iya sayang, Mommy sudah ada di sini. Mommy tidak akan kemana-mana lagi." Bisik ku berusaha menenangkannya.


Tapi tangisan Tio masih belum kunjung berhenti. Dia terus-menerus menangis terisak, memeluk kuat leher ku seolah-olah tidak mau dipisahkan.


"Davin," Panggilku ingin meminta izin membawanya masuk ke dalam penginapan.


Davin mengusap puncak kepala Tio, sebelum mengecup puncak kepalanya dan mengecup puncak kepalaku.


Tindakan Davin terlalu tiba-tiba dan aku tidak sempat mengelak, panik, spontan aku melihat reaksi para karyawan Davin yang kini tengah menatap kami berdua. Mereka terlihat sangat terkejut- oh astaga, tentu saja mereka terkejut. Mereka semua hanya tahu bila Davin telah bertunangan dengan seorang model terkenal- benar, mengenai model dan c*uman di depan hotel 5 tahun yang lalu, aku ingin membicarakannya dengan Davin. Meskipun malam itu aku mendengarnya secara langsung bila dia tidak pernah bertunangan dengan siapapun, tapi ci*man malam itu masih membekas di dalam hatiku.


"Astaga, jadi dia memang Mommy Tio.."


"Pantas saja Pak Davin selalu membawanya kemana-mana.."


"Lalu bagaimana dengan tunangan Pak Davin?"


Muncul suara-suara bisikan di sekitarku dan itu semua terjadi karena tindakan tidak tahu malu Davin. Kesal, aku mengirim Davin tatapan tajam ku tanda marah.


"Patuh lah dan masuk ke dalam." Bisik Davin memintaku masuk.


Aku juga tidak ingin tinggal di sini karena Tio tampaknya sangat tidak nyaman, terlebih lagi kami sekarang diawasi oleh ratusan pasang mata ingin tahu dan penghakiman yang sangat menjengkelkan.


"Hem." Aku lalu membawa Tio masuk bersamaku dengan mengabaikan pengawasan mereka.


Meskipun terlihat tidak perduli namun hanya Tuhan yang tahu betapa berat langkah kakiku berjalan masuk ke dalam kamar penginapan- atau lebih tepatnya kamar Davin.


Aku tahu bagi beberapa orang ini bukanlah sebuah kejutan tapi tidak dengan sebagian besar orang lainnya, mereka pasti bertambah shock dengan tindakan ku masuk ke dalam kamar Davin.


Hah, salahkan sendiri Davin yang terlalu keras kepala memintaku tinggal di kamar ini.


...🍃🍃🍃...


Author POV


"Dimana?" Pertanyaan ini diarahkan kepada Adit, sekretaris pribadi yang selalu menjalankan tugas dengan cepat dan efisien.


"Mereka ada di sini, bos." Jawab Adit cepat.


"Hem," Davin naik ke atas podium dan duduk dengan angkuh di atas kursi kebesarannya yang membuat iri.


Salah satu kakinya ia angkat menyilang sedangkan tangan yang lain ia posisikan di atas pinggiran sofa untuk menyangga kepalanya yang berdenyut kesal menahan emosi.


"Apakah liburan di sini menyenangkan?" Tanya Davin tanpa mengangkat kepalanya menatap mereka semua.


Semua orang ragu untuk menjawab karena aura kemarahan Davin benar-benar terasa. Punggung mereka menjadi tegang tanpa alasan dan bahkan, beberapa orang yang merasa telah melakukan kesalahan kepada Davin mulai berkeringat dingin.


Merasakan kesunyian mereka, Davin lantas tertawa dingin. Ia membawa pandangan tajamnya melihat mereka- yang ia panggil sebagai pekerja kerah putih di dalam perusahaan yang sedang ia pimpin sekarang.


"Aku berbesar hati membawa kalian liburan ke sini murni bukan karena ingin menyenangkan hati kalian- tidak, aku tidak melakukan itu semua untuk membuat kalian bahagia." Kata Davin tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Ia tidak malu mengakui semuanya karena ya- dia memang melakukan semua ini bukan untuk menyenangkan mereka semua.


"Tapi sayangnya kalian tidak tahu diri. Tidak hanya pandai bergosip dan membicarakan keburukan orang lain, tapi kalian juga tidak tahu diri." Tentu saja 'bergosip' hanya dilakukan oleh para wanita sedangkan para laki-laki tidak merasa ikut andil dalam kegiatan membuang waktu itu.


"Selama ini aku sungguh bersabar menghadapi mulut-mulut tidak berpendidikan kalian, aku bersabar ketika mendengar kekasihku kalian rendahkan sebagai 'wanita penggoda', 'wanita malam', dan sebagainya. Aku sungguh bersabar untuk itu karena kekasihku sendiri tidak pernah mengatakan apa-apa untuk masalah ini. Akan tetapi," Davin mengambil nafas panjang untuk emosi yang siap meledak. "Akan tetapi semuanya tentu saja akan memiliki cerita lain jika kalian berani menyentuh batas kesabaran ku!" Teriak Davin marah.


"Aku masih menoleransi setiap kebusukan yang kalian ucapkan tapi tidak dengan menyentuh kekasihku! Menjebaknya ke dalam hutan lepas sendirian, hei? Aku rasa kalian sudah tidak ingin hidup lagi." Ucap Davin tidak main-main.


Menjebak Rein ke dalam hutan lepas?


Topik ini sontak membuat mereka semua kebingungan karena tidak satupun dari mereka yang pernah merasa melakukan tindakan gila itu. Mereka tidak berani bermain-main dengan nyawa seseorang.


"Bawa mereka ke sini." Perintah Davin kepada Adit.


"Siap, bos."


Adit lalu memberikan kode kepada salah satu pengawal, tidak lama kemudian beberapa laki-laki tinggi berpakaian hitam masuk ke dalam halaman. Mereka menyeret beberapa karyawan yang sudah tidak asing lagi untuk mereka.


"Pak... Pak Davin, tolong maafkan aku, Pak! Aku sungguh tidak bermaksud melakukan itu." Teriakan Yuni segera mewarnai topik pembicaraan semua orang.


"Eh, itu benar-benar dia?" Mereka semua berbisik tidak percaya.