My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
153



Anya tahu kedatangan dia tidak disambut oleh Davin, tunangannya. Apalagi ada kekasih Davin di rumah ini. Mereka berdua tinggal bersama dengan dua anak laki-laki yang sangat lucu. Anya ingat Aska adalah adik satu-satunya Davin tapi dia tidak tahu siapa anak laki-laki yang lain.


"Namanya Tio, Nyonya muda."


Anya mengernyit, dia mengambil laporan penyelidikan di tangan asistennya dan membaca laporan itu dengan hati-hati.


Setiap detik yang dia habiskan untuk membaca paragraf di dalam laporan membuat kerutan di keningnya kian dalam. Bibirnya tertutup rapat tapi kedua matanya melotot tajam merasa sulit mempercayai kebenaran yang terukir rapi di dalam laporan tersebut.


"Anak kandung?" Bisik Anya kecewa bercampur patah hati.


"Bagaimana bisa?!" Teriak Anya marah.


Dia melempar laporan di tangannya ke lantai dan menginjak-injaknya dengan sepatu hak tingginya yang tajam.


Tap


Tap


Tap


Bunyinya sangat nyaring dan tidak mengenakan di dalam pendengaran.


Asisten itu tahu bila Anya tidak bisa diajak bicara baik-baik. Maka dari itu dia diam-diam mundur ke belakang, menjaga jarak dari Anya sambil menyamarkan kehadirannya.


"Mereka tidak berbohong! Apa yang mereka katakan ternyata benar bila anak itu adalah darah daging Davin! Argh! Apa yang harus aku lakukan sekarang?!" Teriaknya histeris.


Wajah cantiknya yang memerah karena marah mulai dibasahi oleh cairan hangat yang keluar dari sudut matanya. Sakit rasanya. Dia benar-benar tidak berharap bila Davin memiliki seorang anak dengan wanita cacat itu.


Padahal semuanya berjalan lancar pada awalnya. Walaupun Davin enggan berbicara dengannya tapi perjodohan mereka tetap akan berlanjut sekalipun Davin bersama dengan Rein. Tapi apa sekarang?


Davin telah memiliki anak dan Anya ragu bila perjodohan ini akan tetap berlanjut.


"Apa yang harus aku lakukan? Davin sekarang tidak akan mau melanjutkan perjodohan ini karena wanita cacat itu telah melahirkan anaknya!"


Asistennya dengan ragu-ragu berkata,"Nyonya muda, kita harus membicarakannya dengan Tuan besar. Karena satu-satunya orang yang bisa membantu Nyonya muda adalah Tuan besar. Tuan besar memiliki hubungan yang sangat baik dengan Kakek Tuan Davin. Jika mereka mau Tuan Davin tidak akan bisa menolak permintaan mereka dan hasil akhirnya adalah kalian berdua bisa menikah."


Diingatkan tentang Kakeknya, Anya tiba-tiba memiliki harapan. Seperti yang asistennya katakan dia masih memiliki peluang sebab Davin sama sekali tidak berkutik bila dihadapkan dengan Kakeknya.


Setelah itu dia meminta asistennya keluar, memberikan dirinya ruang untuk menenangkan hati dan pikirannya.


"Rein Xia... Rein Xia... Rein Xia." Bisik Anya penuh kebencian.


"Kenapa kamu kembali lagi mencari Davin?"


Mengepalkan kedua tangannya kuat,"Trik mu tak akan bisa menang melawan ku. Kamu tidak akan pernah bisa mengikat Davin sekalipun ada Tio diantara kalian karena aku jauh lebih layak daripada kamu." Ucapnya percaya diri.


...🌪️🌪️🌪️...


"Suami, aku dengar Anya sudah kembali dan akan memulai karirnya di sini. Ini adalah kabar yang sangat baik karena Anya dan Davin tidak perlu lagi tersiksa oleh jarak." Wanita glamor itu berbicara dengan nada yang sangat lemah lembut, tampak penyayang dan tulus.


Sambil berbicara mengenai anak-anak, kedua tangannya tidak pernah berhenti memijat lengan tua laki-laki paruh baya di sampingnya. Laki-laki paruh baya itu adalah suaminya yang terkasih, duduk nyaman di depan kolam ikan dan sangat santai dengan pelayanan istri mudanya.


"Hem." Laki-laki paruh baya itu tampak tidak berminat dengan urusan anak muda.


Wanita glamor itu menatap samar penampilan tua laki-laki paruh baya itu. Jelas saja dia tidak puas dengan jawaban singka nya.


"Aku punya ide, suami. Bagaimana jika kita mengadakan perjamuan untuk Anya dan Davin? Selain untuk menyambut kepulangan Anya, perjamuan ini juga kita adakan untuk mengumumkan kepada publik bahwa pernikahan Anya dan Davin akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Bagaimana, suami?"


Laki-laki paruh baya itu membuka matanya, melirik dingin istrinya yang selalu tampil cantik tapi tidak bisa memuaskan hatinya.


"Aku sudah tua dan tidak bisa menyibukkan diri untuk terus mengurusi urusan anak muda. Adapun kamu, daripada sibuk mengurusi mereka lebih baik mengurus anakmu sendiri yang memiliki kelakuan buruk. Dia bodoh dan suka membuat masalah, menjadi bahan tertawaan keluarga lain karena tidak memiliki nilai guna. Jika seperti ini terus dia lebih baik hidup terpisah denganku daripada terus menerus mempermalukan keluargaku."


Wanita glamor itu lantas panik, dia buru-buru memeluk lengan suaminya dengan tatapan menyanjung.


"Suami tolong maafkan putra, kita!" Katanya memohon.


"Suami yakinlah, Revan tidak akan mengecewakan kita lagi. Aku akan menasehatinya agar bersikap baik dan jangan terlalu banyak bermain. Sampai saat itu tiba, aku harap suami dapat bersabar dan memaafkannya."


Laki-laki paruh baya itu mendengus dingin seraya memejamkan matanya kembali tanpa mengatakan apa-apa. Sikapnya jelas tidak ramah tapi wanita glamor itu tidak terkejut. Seolah-olah dia sudah biasa diperlakukan seperti ini oleh laki-laki paruh baya itu.


Namun meskipun tidak terkejut, wajah cantiknya yang awet muda jelas perlahan menjadi suram setelah mendengarkan ancaman tersirat laki-laki paruh baya itu. Dia tidak akan bodoh melihat putra satu-satunya disingkirkan dari rumah ini. Karena bila Revan pergi maka kesempatannya untuk menjadi Nyonya tetap di rumah ini akan menghilang dan semua hak waris akan sepenuhnya menjadi milik Davin.


Dan dia tidak akan pernah rela itu terjadi.