My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
53. Paman Baik Hati?



Paman baik hati?


"Paman baik hati siapa, Tio?" 


Tio terlihat berpikir,"Paman baik hati adalah paman yang baik hatinya, Mommy."


Rein sontak memijat pelipisnya.


"Tio tahu siapa nama Paman baik hati?" Rein masih bertanya.


Tio menggelengkan kepalanya.


"Tio gak tahu, Mommy."


Rein merasa ada sesuatu yang aneh di sini. Bagaimana mungkin ada orang yang begitu baik memberikan Tio barang-barang ini, sudah pasti ini bukan dari rekan-rekan kerjanya.


Davin?


"Tidak, ini pasti bukan dia. Lagipula sedari tadi aku selalu bersamanya dan dia pun tidak terlihat mencurigakan. Bahkan jika memang dia... Tio pasti akan langsung mengenalinya sebagai Ayah dan bukan sebagai Paman baik hati." Gumam Rein segera membantah.


Tio pernah melihat foto Davin, dan Rein ragu jika Tio sampai melupakannya karena setiap malam Tio akan berbicara dengan foto Davin sebelum tidur.


Tapi Rein tetap bertanya.


"Apa itu...Ayah?"


"Ayah?" Kedua mata Tio berbinar.


"Ayah ada di sini?" Tanyanya sangat bersemangat.


Rein menggelengkan kepalanya."Ayah...ada di tempat yang jauh." 


Ini benar-benar bukan dia. Rein semakin bingung, jika bukan Davin lalu siapa?


Apa itu Revan?


"Paman baik cuma kasih Tio hadiah aja?"


"Hem...Paman baik bilang Tio milip sama anaknya yang udah pelgi jauh makanya Tio dikasih hadiah." Cerita Tio dengan polosnya.


"Ya Tuhan, ternyata begitu." Rein merasa lega.


"Kenapa, Mommy?"


Rein menggelengkan kepalanya lega. Dia mengusap puncak kepala Tio sayang tapi lagi-lagi merasa ada sesuatu yang salah.


"Kok rambut Tio berantakan? Sebelum pergi kan Mommy sempat rapiin dulu."


"Kepala Tio tadi dipegang sama Paman baik, dia bilang semoga Tio jadi anak yang celdas dan kuat, Mommy!"


"Paman baik ngomong begitu?" Rein rasanya ingin sekali berterimakasih kepada orang yang telah berbaik hati memberikan Tio permen dan mainan secara cuma-cuma.


"Iya, Mommy. Paman baik olangnya baik, Mommy."


Tio berkali-kali mengatakan jika Paman baik adalah orang yang baik. Anak kecil tidak bisa berbohong apalagi jika itu Tio, putranya yang cerdas dan sangat pintar di usianya yang masih anak-anak.


"Baiklah, suatu hari jika kita bertemu lagi dengannya kita harus mengucapkan terimakasih, okay?"


Tio dengan semangat menganggukkan kepalanya,"Okay, Mommy!"


"Nah sekarang kita harus pulang ke rumah karena Mommy harus masak untuk Tio dan uncle Dimas. Tapi sebelum itu permen sama mainannya Tio masukin ke dalam tas sekolah yah, biar gak hilang." 


...🍃🍃🍃...


Di malam harinya, Rein menatap kosong sup bening yang sedang mendidih di atas kompor. Tatapannya terlihat linglung masih belum bisa melupakan penghinaan Davin kepadanya.


Tak berselang lama dia tersenyum tipis, tampak tidak bahagia.


"Ya, aku memang benar-benar putus asa karena mu. Dan bodohnya lagi aku masih belum bisa melupakan bayangan mu. Padahal kamu tidak punya hati dan hanya akan memandang rendah aku, tapi kenapa...kenapa itu semua masih belum cukup membuatku untuk membencimu?"


Dia tidak mengerti. Hatinya pernah dikhianati dengan kejam, ketulusan dibayar dengan beberapa lembar cek, dan harga dirinya dipandang rendah oleh laki-laki yang sama. Tapi kenapa...kenapa semua itu tidak bisa membuatnya membenci Davin, laki-laki tidak berperasaan yang telah berkali-kali menjadi mimpi buruk untuknya.


"Rein?" Panggil Dimas dari luar dapur.


Dia baru pulang, orang pertama yang menyambutnya adalah Tio, sedangkan Rein masih tidak mendengar setelah berkali-kali ia panggil.


"Rein Xia!" Dimas menaikkan suaranya.


"Oh, iya." Rein baru tersadar.


Dia menoleh ke belakang, melihat Dimas dengan wajah masam berdiri di depan dapur.


"Dim, lo.. kapan pulang?" Rein bersikap seolah-olah tidak ada yang aneh.


Dimas kian masam. Ia melonggarkan dasi di lehernya terlihat jauh lebih dewasa. Jika Davin tidak pernah muncul di dalam hidupnya maka mungkin Rein akan jatuh cinta kepada Dimas karena faktanya Dimas juga tampan. Tapi sayang, hatinya sudah milik Davin entah itu dulu ataupun sekarang.


Menyedihkan.


"Tadi, lo terlalu sibuk mikirin Davin sampai-sampai gue pulang aja lo baru nyadar sekarang." Kata Dimas sensi.


Sepertinya dia dalam suasana yang buruk malam ini.


"Lo ngomong apa sih, Dim. Ngapain coba gue mikirin dia?" Ucap Rein tidak tertarik.


Dimas mengangkat bahunya tidak perduli,"Oh, baguslah. Seenggaknya lo gak bodoh ngulangin kesalahan yang sama." 


Nada bicara Dimas tidak seperti biasanya.


"Dim, lo mabuk, yah?" Tanya Rein asal menebak.


"Mabuk?" Dimas tertawa kecil.


"Lo mau tahu gue lagi mabuk atau enggak?" Dimas masuk ke dalam dapur mendekati Rein yang sedang melemparkannya tatapan aneh.


Dimas tidak suka tatapan itu. Dia ingin Rein menganggapnya lebih dari ini.


"Cium, gue mabuk apa enggak?" Dimas berdiri sangat dekat dengan Rein, dia bahkan sengaja menundukkan kepalanya agar Rein bisa mencium apa ada bau alkohol atau tidak di tubuh Dimas.


"Iya..iya, lo gak mabuk. Ish, jangan dekat-dekat dong, Dim." Rein dengan canggung mendorong Dimas menjauh darinya.


Entah mengapa akhir-akhir ini Dimas bertingkah aneh kepadanya.


Dimas tertawa kecil,"Oh, jadi kalau Davin yang dekat-dekat sama lo boleh sedangkan sama gue risih?!" Teriak Davin emosi.


Bersambung..


Okay, paham banget sama pembaca yang kesel sama mulut pedas Davin dan jengkel sama Rein yang gak pindah kerja atau pergi kemana lah..iya, paham banget.


But, kalian harus ngerti kalau inilah karakter dan dunia yang saya ciptakan. Davin kembali dengan sikapnya yang lebih kasar dan semena-mena, dan Rein yang tetap bekerja di sana dengan alasan 'orang asing'. Fine, menjengkelkan banget gak sih?


Si Rein lembek lah, dungu, bodoh, terlalu polos atau apalah itu terserah...


Fiuh, capek juga ternyata.


Simpel aja sih, kalau gak suka mending gak usah baca daripada banyak omong tapi isinya cuma bisa protes doang. Jangan buat saya gak betah di sini, please?


Kalau gak suka ya udah, tinggal pergi aja apa susahnya sih?


Cari aja novel dengan strong woman and anti baper...baper karena novel ini mungkin atau sangat-sangat mungkin tidak memenuhi selera kalian.