
"Lho, kamu mau ngapain bawa kursi roda keluar?" Tanya Rein heran dengan wajah bersih dan menyegarkan setelah mandi.
Dia baru saja keluar dari kamar mandi dan menemukan kekasihnya sedang mengelap bersih kursi roda yang telah lama dibiarkan berdebu.
Awalnya karena tidak dibutuhkan lagi, Rein berencana meninggalkan beberapa kursi roda yang sempat Davin gunakan dulu di negara A tapi Davin menolak gagasan itu karena dia bilang masih menyukainya. Bahkan, saat turun dari pesawat kemarin pun Davin juga menggunakan kursi roda satunya dan di dorong oleh Rein sendiri.
Rein pikir Davin masih sakit dan belum terlalu nyaman berjalan jauh jadi dia tidak berani menanyakannya. Tapi setelah melihat kecepatan berlari Davin kemarin sore bersama anak-anak, Rein pikir Davin sudah pulih sepenuhnya. Jadi, mengapa kekasihnya ini mengeluarkan kursi roda lagi?
"Orang-orang dari rumah utama datang berkunjung. Kamu harus berpura-pura jika aku masih belum pulih dan tidak bisa berjalan lagi, mengerti?"
Setelah Davin mengatakannya, Rein langsung mengerti apa yang kekasihnya maksud. Jadi dia tidak bertanya lagi.
"Okay, aku akan berganti pakaian dulu." Kata Rein sambil mengambil pakaian rumah lusuh dari dalam lemarinya.
Pakaian ini adalah pakaian yang dia bawa dari apartemen Dimas. Masih bersih dan terawat rapi agak lusuh karena usianya juga kualitasnya yang rendah.
Lagipula ini tidak mengherankan karena pakaian ini Rein beli di toko-toko pakaian biasa, tidak seperti Davin yang menggunakan pakaian bermerek dan memiliki desainer kelas atas pribadi.
Setengah jam kemudian Rein dengan wajah lesu mendorong kursi roda Davin masuk ke dalam ruang tamu. Penampilan Rein agak tidak terawat dan lesu karena banyak pikiran sedangkan Davin sendiri yang duduk di atas kursi roda tidak jauh lebih baik dari Rein.
Wajahnya masih pucat dan agak muram dari satu setengah tahun yang lalu, seolah-olah Davin bukan lagi Davin yang dikenal oleh semua orang.
"Dav, ya Tuhan, apa yang terjadi dengan kakimu?" Nenek berseru kaget melihat Davin tiba-tiba keluar dengan kursi roda.
Keterkejutannya memang tidak dibuat-buat karena Nenek sendiri agak kurang mempercayai berita-berita yang menyebar kemarin di surat kabar saat Davin turun dari pesawat dengan bantuan kursi roda.
Jadi, untuk memastikan keingintahuannya Nenek dan beberapa cucunya langsung berkunjung sore ini untuk bertemu dengan Davin. Alasannya ingin menjenguk tapi faktanya dia hanya ingin memastikan keadaan Davin saja.
Luar biasa, pekerjaan Revan memang terlalu sempurna. Nenek membatin dalam kepuasan yang tidak bisa disembunyikan ekspresi wajahnya.
Namun secepat kilat dia langsung memperbaiki ekspresi wajahnya sesedih mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Malangnya semua perubahan ekspresi Nenek sudah diamati dengan baik oleh Davin, jadi mana mungkin dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Nenek lampir ini di dalam kepalanya?
Davin menghela nafas, berpura-pura menyentuh kedua kakinya yang tertutupi selimut hangat.
"Ini hanya kecelakaan kecil, Nek. Untuk sementara dokter mengatakan jika aku tidak bisa berjalan lagi tapi masih bisa melakukan beberapa terapi dan latihan dari rumah sakit agar bisa berjalan lagi." Jawab Davin berpura-pura 'sok' tegar, sandiwaranya terlihat sangat nyata. Apalagi ketika melihat wajah suram dan kuyu Davin, mereka semua langsung mempercayai 'keadaan' yang coba Davin tutupi.
Bisa berjalan lagi? Kamu terlalu banyak bermimpi. Bahkan jika kamu bisa berjalan lagi suatu hari nanti, semua aset-aset yang ada di tanganmu telah beralih ke tangan putraku. Pada saat itu terjadi, aku ingin melihat apakah kamu masih bisa bertindak arogan lagi seperti dulu? Batin Nenek mencemooh di dalam hatinya.
Dengan keadaan Davin sekarang ini, dia sudah tidak memiliki harapan di mata keluarga Demian. Alasannya karena keluarga Demian tidak bisa dipimpin oleh pemimpin yang cacat dan tidak kompeten. Karena hei, berjalan untuk diri sendiri saja tidak bisa apalagi menyempatkan waktu untuk mengurus semua kebutuhan keluarga Demian?
"Astaga, betapa malangnya kamu." Dan betapa beruntungnya aku dan putraku, batin Nenek bahagia.
Tapi dia masih melanjutkan ucapannya.
"Pasti sulit bagimu untuk melewati ujian ini. Nenek sangat mengerti apa yang kamu rasakan. Hah, andai saja Nenek memiliki koneksi dalam dunia medis, pasti Nenek akan mengerahkan semua kemampuan Nenek agar kamu bisa sembuh dan bisa berjalan kembali." Bahkan walaupun dia memiliki koneksi, Nenek tidak akan pernah sudi menyumbangkan bantuannya kepada Davin.
Daripada membantunya, Nenek malah lebih suka memperburuk keadaan Davin agar dia sepenuhnya tidak akan bisa membuat masalah untuk putranya kelak saat mengambil alih keluarga Demian.
Davin tersenyum kecut, berpura-pura buta terhadap tatapan berambisi Nenek yang tidak bisa disamarkan dengan baik.
Hah, orang serakah dapat ditemukan dimana-mana.
"Jangan khawatir, Nek. Rumah sakit kota B di negara A telah menjadi perawatan utamaku selama ini dan aku sama sekali tidak berencana pindah ke rumah sakit lain karena aku lebih nyaman dirawat di sana. Rencananya aku akan kembali menjalani perawatan setelah menyelesaikan beberapa urusanku di sini." Kata Davin terdengar melankolis.
Sementara itu di dalam hatinya Nenek diam-diam menertawakan kepercayaan diri Davin. Bila benar rumah sakit itu mampu menyembuhkan kakinya, maka mengapa harus menunggu waktu yang sangat lama untuk menyembuhkannya?
Tentu saja, dia juga berpikir itu bukan karena rumah sakit tidak mampu tapi karena kaki Davin lah yang sudah tidak bisa tertolong lagi.
Malangnya, Davin pasti sulit menerima keadaannya sekarang. Kehilangan kaki sama saja dengan laki-laki payah yang tidak berguna. Daripada berusaha menghambur-hamburkan uang untuk menyembuhkannya, lebih baik membiarkannya saja hidup seperti ini. Toh, percuma saja membuang uang karena kakinya juga tidak bisa disembuhkan.
"Baiklah jika kamu sudah memiliki rumah sakit yang baik untuk mendukungmu. Jika tidak, Kakek dan Nenek akan sangat khawatir." Dia lalu melirik Rein jijik, melihat pakaian lusuh murahan yang Rein kenakan mengingatkan Nenek pada orang jalanan diluar sana, sangat miskin.
"Rein, jaga Davin baik-baik dan jangan biarkan dia mengambil aktivitas berat karena kondisinya benar-benar tidak memungkinkan Davin melakukan itu." Pesan Nenek tidak tulus.
Namun Rein masih bekerja sama, berpura-pura tuli pada nada keengganan Nenek tiri Davin.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian lagi karena biar bagaimanapun juga Davin harus lebih banyak beristirahat agar bisa pulih secepatnya." Kata Nenek seraya bangun dari duduknya.
Rasanya menjijikkan tinggal lama-lama dengan orang cacat dan miskin, huh.
"Nenek, kamu pasti sangat sibuk." Ucap Davin menyindir.
Tapi Nenek yang sudah terlanjut bahagia sama sekali tidak menyadari sindiran dingin Davin.
"Yah, sibuk. Banyak hal yang harus Nenek lakukan di rumah. Jaga baik-baik dirimu di sini dan jangan terlalu banyak pikiran. Nenek dan semua orang di rumah selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua." Sahut Nenek dalam suasana hati yang baik.
Dia dan beberapa anggota rumah utama yang lain lalu undur diri dari rumah Davin. Sebelum pulang mereka semua menyempatkan diri mampir ke pusat perbelanjaan terbesar di kota ini.