
"Apakah kamu tidak bisa- Rein?"
Hancur sudah pertahanan Rein. Air matanya langsung tumpah tidak bisa dibendung lagi. Dia menangis terisak seperti seorang gadis kecil yang tidak sengaja berpisah dengan kedua orang tuanya di taman hiburan, sangat menyedihkan.
Rein tidak pernah menangis sehebat ini sebelumnya. Dia bahkan tidak menangis sekeras ini saat Davin meninggalkannya, dia tidak pernah menangis sekeras ini saat sedang melahirkan Tio, dan dia tidak pernah menangis sekeras ini saat Davin masih memandang rendah dirinya...dia masih tidak menangis sekeras ini saat Davin melamarnya dengan sepenuh hati di hari itu.
Rein tidak pernah menangis sekeras ini. Tapi sekarang dia menangis sekeras yang dia bisa, menumpahkan rasa sakitnya lewat air mata dan suara isak tangis yang menyedihkan.
Betapa sakit rasanya, Tuhan. Rein hampir saja kehilangan dunianya, Rein hampir saja kehilangan satu-satunya orang yang membuatnya kuat menghadapi dunia ini..
Dia hampir saja kehilangan Davin... rasanya sangat menyakitkan, hatinya seolah dilubangi oleh sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.
"Rein..." Panggil Davin parau. Kedua matanya memerah menahan sakit, sungguh tidak kuasa dia melihat kekasihnya menangis sehebat ini.
"Jangan menangis... tolong, jangan menangis..." Davin memohon dengan suara yang sangat lembut.
Dia ingin menjangkau kekasihnya, meraih Rein dan membawanya ke dalam dekapan. Dia ingin menghapus setiap tetesan air mata kekasihnya, simbol dari hatinya yang sakit.
Namun, sekuat apapun keinginannya dia masih tidak bisa melakukan apa-apa di atas ranjang rumah sakit.
Setiap beberapa inci tubuhnya dipasangi selang medis yang mempersulit gerakannya, dan malangnya lagi...
Davin menatap penuh benci pada kaki kanannya yang mati rasa dan tidak bisa digerakkan. Karena kakinya ini dia berubah menjadi laki-laki yang payah!
Dia sangat membenci dirinya yang sekarang!
"Argh!" Teriak Davin marah ingin menjangkau vas bunga di atas nakas untuk melempari kakinya.
Dia ingin mengenyahkan kakinya yang payah itu!
"Davin, sakit!" Rintih Rein dibalik isak tangisnya.
Davin menghentikan aksinya dan bertanya dengan panik kepada Rein apa yang sakit.
"Dimana yang sakit?" Suaranya masih memiliki kelembutan.
Rein masih terisak tapi jauh lebih terkendali dari sebelumnya. Perlahan, dia membawa langkah kakinya mendekati ranjang Davin. Menatap tubuh Davin dengan sedih sebelum menjangkau tangan besar Davin agar tidak meraih vas bunga di atas nakas.
"Rein, dimana yang sakit?" Desak Davin mengeratkan genggaman tangannya.
Rein masih menangis dan berusaha menjawab disela-sela tangisannya.
"Hatiku sakit, Dav. Hatiku akan semakin sakit jika kamu menyakiti dirimu lagi...aku gak mau... jangan lakukan itu karena hatiku akan semakin sakit!" Terang Rein disela-sela isak tangisnya.
Dia tahu Davin pasti sangat terpukul dengan keadaannya saat ini karena Davin adalah orang yang sangat percaya diri dalam hal penampilan. Kondisinya sekarang telah menjadi pukulan besar yang sangat sulit diterima oleh kekasihnya, karena itulah Rein memohon agar Davin jangan menyakiti dirinya sendiri.
Di samping tidak ingin melihat Davin melukai dirinya sendiri, Rein juga akan sakit hati melihat Davin melukai dirinya sendiri. Dia tidak mau kehilangan dunianya, dia tidak bisa kehilangan dunianya yang telah memberikannya kehangatan. Tanpa Davin, mungkin Rein bertahun-tahun yang lalu masih berkubang dengan kesuraman.
"Rein," Davin akhirnya tidak bisa menahan air matanya.
"Jangan menangis, okay? Lihat, aku tidak akan menyakiti diriku lagi karena aku tidak mau melihat kamu bersedih." Dia meminta Rein untuk berhenti menangis tapi dirinya sendiri mulai mengeluarkan air mata.
"Janji?" Rein menuntut.
Davin tersenyum tidak berdaya,"Aku berjanji."
Rein masih tidak mau melepaskannya dan mengancam.
"Jika kamu mengingkarinya maka kita berdua sebaiknya tidak memiliki hubungan apa-apa lagi di dalam hidup ini." Ancam ringan tampak menyedihkan dengan wajah basahnya.
"Kamu sangat kejam, Rein." Tandas Davin benar-benar tidak berdaya.
Kekasihnya ini bisa saja kejam bila sedang serius seperti saat ini. Bukankah Rein sangat menggemaskan?
"Bukan aku yang kejam, Dav, tapi itu kamu. Jika kamu mencoba menyakiti dirimu maka bukankah itu tidak ada bedanya dengan menyakitiku?" Tanya Rein jengkel.
Meskipun jengkel, kedua tangannya masih memegang erat tangan Davin menolak untuk melepaskan.
"Baiklah, maafkan aku. Tadi aku diluar kendali saat melihatmu menangis." Akunya dengan suara parau yang lemah.
"Kamu... tidak seharusnya melakukan itu. Aku menangis karena menangisi kamu. Rasanya sangat menyakitkan melihat semua luka-luka di tubuhmu. Dan Davin, tahukah kamu apa yang aku rasakan saat mendengar kamu mengalami kecelakaan di tempat yang sangat jauh untukku jangkau?"
Davin tersenyum tipis, tanpa bertanya pun dia tahu betapa hancur hati kekasihnya saat itu.
"Maafkan aku, ini semua murni terjadi karena kelalaian ku." Katanya suram.
Kecelakaan yang menimpanya ini, bagaimana mungkin dia tidak tahu siapa pelaku dibalik semua ini?
Davin tidak sebodoh itu. Dan karena masalah ini pula tekadnya untuk membantai orang-orang yang telah berkomplot untuk menjatuhkannya semakin mendarah daging. Dia pasti akan kembali membalas mereka semua sampai tidak ada yang lebih penting selain 'penyesalan' di dalam kepala mereka.
"Kamu tahu? Tapi kamu masih tidak mengizinkan aku masuk ke sini. Davin, apakah kamu sudah lupa dengan apa yang kamu janjikan dulu sebelum aku menyetujui hubungan kita lagi?" Rein sangat agresif malam.
Dan Davin mau tidak mau merutuki dirinya karena tidak mengizinkan Rein masuk menemuinya. Tidak hanya tidak mengizinkan Rein masuk menemuinya tapi Davin juga merencanakan untuk mengirim Rein dan yang lain pulang ke Indonesia.
"Maafkan aku, Rein. Aku melakukan semua ini agar kamu tidak melihat tubuh cacat-"
"Dav, kamu sangat kejam!" Potong Rein marah.
"Aku hampir gila saat menerima kabar dari Adit bahwa kamu mengalami kecelakaan dan kritis. Demi kamu, aku bahkan memberanikan diriku pergi ke negara entah berantah yang tidak pernah ku datangi. Aku butuh hampir dua hari untuk sampai ke kota ini tapi kamu? Kamu bahkan tidak mengizinkan ku untuk masuk melihatmu dan bahkan mendorongku pergi menjauh! Padahal aku sangat mengkhawatirkan kamu dan menghabiskan waktuku diperjalanan hanya untuk mencemaskan kamu. Tidakkah menurut mu ini sudah terlalu jauh?" Keluhnya mulai menangis lagi.
Dia datang jauh-jauh ke sini karena sangat mencemaskan kekasihnya, tapi begitu sampai ke sini kekasihnya malah mendorongnya pergi dan tidak memberikannya kesempatan untuk bertemu!
Sangat kejam!
"Rein, lihat aku baik-baik." Dengan gemetar Davin mengangkat tangannya ingin menjangkau wajah basah kekasihnya.
Tapi tangannya masih sakit. Setiap kali digerakkan pasti akan terasa nyeri yang mengigit.
"Jangan membuat masalah..." Kata Rein seraya menjangkau tangan Davin, membawa ke wajahnya.
"Maka dari itu lihatlah aku." Pinta Davin membujuk.