
"Gue gak bisa jelasin tapi ini demi kebaikan lo, Rein." Dimas terlihat gusar.
Rein masih menuntut.
"Ya iya, kalau demi kebaikan gue seharusnya lo jelasin dong biar gue juga ngerti."
Dimas berdecak tidak puas. Dengan kasar dia mengusap wajahnya tidak tahu harus mengatakannya atau tidak.
Gue mana mungkin bilang ke lo, Rein, kalau CEO baru gue sebenarnya adalah Davin, cowok brengs*k yang udah ngebuat lo menderita bertahun-tahun. Gue gak bisa ngasih tahu lo karena gue gak mau lo dan Tio terluka lagi. Batin Dimas frustasi.
Dimas tidak pernah menyangka bila bos baru yang dia agung-agungkan seharian karena kinerjanya yang ketat adalah Davin Demian, laki-laki berengs*k yang pernah menghancurkan kehidupan sahabatnya. Dimas sangat marah, hampir-hampir saja dia kelepasan emosi dan menghadiahi Davin dengan sebuah sapaan tangan.
Tapi itu masih hampir karena untungnya Dimas masih bisa berpikir jernih. Sebenci apapun dia pada Davin ataupun semarah apapun dia kepada Davin, Dimas juga harus berpikir rasional. Bila dia bertengkar dengan Davin itu sama saja dia memberitahu Davin keberadaan Rein dan Tio.
"Kalau gue bilang di kantor ada.." Dimas sulit menyelesaikan kata-katanya.
Rein menaikkan salah satu alisnya sabar menunggu.
"Di kantor ada apa?"
Kecil kemungkinan mereka berdua bisa bertemu sekalipun mereka berada di kantor yang sama. Tuhan, aku harap keputusan ini adalah langkah yang baik.
"Dimas?" Rein memanggil.
"Eh, iya?"
Rein melihat Dimas malam ini agak aneh.
"Lo lagi mabuk, ya?"
Dimas mengusap wajahnya lagi.
"Mungkin. Gue tadi habis ketemu sama klien." Dia berbohong.
Rein segera menjaga jarak dengan Dimas. Dia memang percaya Dimas tidak melakukan apa-apa kepadanya, ya, ini berlaku kalau Dimas gak lagi mabuk tepatnya. Tapi kalau mabuk Rein tidak bisa menjaminnya jadi dia segera cari aman.
"Ya Tuhan, Dimas! Pantas aja bicaranya lo aneh ternyata lo lagi mabuk. Mending sekarang lo mandi deh terus makan. Di dapur makanannya baru aja gue angetin." Rein mulai berbicara seperti emak-emak diluar sana.
"Hem, omelan lo udah kayak emak-emak aja."
Dimas segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil peralatan mandi sementara Rein berlari masuk ke dalam kamarnya dengan Tio.
"Gue kan emang udah emak-emak." Balas Rein sebelum mengunci pintu.
...🍃🍃🍃...
Siang harinya Rein langsung pergi ke kantor setelah menyiapkan bekal dan menitipkan Tio di rumah penitipan anak.
Sesampainya di kantor Rein menyapa singkat rekan-rekan kerja yang lain dan langsung mengganti pakaiannya dengan seragam khas office girl. Di kantor dia merasa suasana jauh lebih tegang dari sebelumnya. Rein perhatikan banyak ketukan panik dari keyboard komputer. Di samping itu juga para karyawan lebih banyak diam dan secara ajaib sebagian besar dari mereka sama sekali tidak beristirahat meskipun sudah masuk waktu istirahat.
"Rein! Ya Tuhan, untung aja ada lo di sini." Suara Mbak Anggi memanggil.
Mbak Anggi melambaikan tangannya di depan pintu masuk pantry.
Rein bergegas mendekati.
"Lo kenapa, Mbak?"
"Rein, lo bisa bantu gue kirim kopi ini ke kantor CEO di lantai 11, gak? Gue gak bohong perut gue sakit banget kebelet ke kamar mandi."
Mbak Anggi tadinya bingung meminta bantuan siapa karena kopi ini harus segera di kantor CEO dengan cepat. Sedangkan perutnya tidak mau bernegosiasi dan terus mendesak ingin dikirim ke kamar mandi.
"Oh ya udah, gue aja yang kirim, Mbak." Rein mengulurkan tangannya untuk mengambil nampan kopi yang ada di tangan Mbak Anggi.
Akan tetapi Mbak Anggi sedang terburu-buru sehingga tidak terlalu memperhatikan arah tangan Rein. Nampan kopi itu mengambil arah yang miring sehingga airnya terciprat dan membasahi nampan.
"Ya Tuhan, gue ceroboh banget!" Mbak Anggi panik.
"Gak apa-apa, Mbak. Kopinya gue aja yang buat ulang. Daripada nahan mules di sini, Mbak, mending pergi ke toilet aja biar cepat kelar."
"Lo perhatian banget, Rein. Kalau ada kesempatan pasti gue balas. Dah ya, perut gue mules banget."
Setelah itu Mbak Anggi pergi ke toilet umum dengan tergesa-gesa.
"Moga aja Mr. CEO gak marah kopinya telat datang." Gumamnya melambungkan harapan.
Jika sampai marah maka imbasnya Rein mungkin akan dipecat dan harus mencari kerja ke tempat lain. Tapi mau bagaimana lagi, Rein tidak mungkin membiarkan Mbak Anggi menanggungnya karena biar bagaimanapun dia telah meminta bantuan Rein.
Rein tidak bisa menolak.
Dia membuat segelas kopi tanpa membutuhkan waktu lama. Membawanya naik ke lantai 11 dengan nampan baru yang lebih baik dan bersih.
Ting~
Rei tiba di lantai 11. Ketika masuk dia cukup terkejut dengan suasana dan dekorasi baru di lantai khusus CEO ini. Tidak ada kesan suram ataupun ceria, namun menunjukkan sifat perfeksionis seseorang.
"Permisi, Bu. Saya ingin mengantar kopi untuk Pak Davin." Mulutnya agak kaku ketika menyebut nama laki-laki ini.
Sekretaris itu mengangkat kepalanya tidak tertarik. Tampak sibuk dengan banyak dokumen berbelit di atas meja.
"Pak Davin bilang kamu langsung masuk saja, tapi ingat, ketuk pintu dengan sopan dan masuk setelah diizinkan." Setelah mengatakan itu dia kembali sibuk dengan lembaran kertas putih di depannya.
Hah,
Keadaannya tidak jauh berbeda dengan karyawan yang lain di lantai bawah.
"Baik, Bu, terimakasih."
Rein kemudian berjalan mendekati pintu masuk ruang kerja Pak Davin, CEO yang baru menjabat kemarin.
Sebelum masuk dia mengambil nafas panjang sambil mengira-ngira respon apa yang akan bos besar itu katakan kepadanya nanti.
Tok
Tok
Tok
"Masuk." Suara bariton bernada dingin dari dalam mengizinkannya masuk.
Deg
Tangan Rein sontak menjadi kaku. Dia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya ringan tidak yakin dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Dia bukan Davin." Bisiknya menguatkan.
Jujur, Rein tidak bisa menampik jika hatinya mulai gelisah memikirkan setiap kebetulan yang dia dapatkan. Mulai dari nama yang sama, sosok punggung yang familiar, dan suara bariton dengan nada dingin yang sudah tidak asing lagi.
5 tahun telah berlalu tapi Rein masih belum bisa melupakannya.
"Ini hanya kebetulan saja."
Dengan tangan bergetar dia perlahan mendorong pintu masuk yang ada di depannya.
"Permisi Pak, ini adalah kopi-" Pada akhirnya dia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya.
Itu dia, itu benar-benar dia. Laki-laki yang telah mengkhianatinya kini duduk dengan angkuh menatap puluhan dokumen penting perusahaan.
Davin mengernyitkan dahinya tidak senang. Dia dengan dingin mengangkat kepalanya ingin memarahi orang yang sudah telat membawa kopinya. Tapi itu hanya awalnya saja karena ketika dia melihat siapa yang kini terbengong menatapnya semua kemarahan Davin segera menghilang.
Pikirannya tiba-tiba menjadi kosong melihat Rein lagi setelah 5 tahun menghilang tanpa kabar.
Rein?