My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
129. Sebatas Pengamat



Setelah itu aku kembali ke kamar rawat inap Aska dan menemukan bila Tio sudah jatuh tertidur. Ini sudah pukul 9 malam dan Tio baru saja menangis jadi aku tidak terkejut melihatnya jatuh tertidur.


Untunglah Aska mendapatkan kamar privasi, ranjang yang ditidurinya cukup besar untuk anak-anak sehingga Tio bisa tidur di samping Kakaknya.


"Mimpi indah sayang." Bisik ku seraya mengecup puncak kepala Aska dan Tio.


Aku tersenyum tipis, memperhatikan wajah tidur kedua putraku yang sangat berharga. Sampai dengan detik ini kemarahan di dalam hatiku belum surut sama sekali. Aku marah dan kesal, bertanya-tanya mengapa orang-orang jahat itu begitu tega menanamkan racun kepada tubuh seorang anak kecil yang belum terlalu mengerti perbuatan antara salah dan benar. Bagaimana mungkin mereka bisa tega menjadikan seorang anak kecil sebagai korban kejahatan mereka?


Aku sungguh tidak habis memikirkannya. Semakin aku memikirkannya maka semakin marah pula yang aku rasakan. Aku ingin bertemu dengan para pelaku dan memarahi mereka bahwa melibatkan anak-anak di dalam rencana jahat mereka adalah tindakan yang sangat kejam.


Kejamnya, aku benar-benar muak dengan pikiran serakah mereka.


Ah, benar. Dokter Adit juga mengingatkan aku bahwa masalah ini memiliki hubungan dengan orang kaya.


"Nyonya, saya harus mengingatkan Anda bahwa pikiran orang kaya sangat sulit ditebak. Mereka memiliki kekuasaan dan ditakuti oleh banyak pihak, jadi aku menyarankan Anda untuk jangan bertindak gegabah apalagi sampai memiliki sebuah pikiran untuk melawan balik mereka. Hati-hati, mereka tidak akan tinggal diam dengan perlawanan Anda. Cukup biarkan masalah ini ditangani oleh Tuan Davin karena lawan main mereka yang sepadan adalah Tuan Davin, sedangkan saya dan Nyonya tidak ada bedanya dengan seorang pengamat. Kita hanya bisa melihat tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Ini adalah aturan main keluarga kaya dan berkuasa, Nyonya Rein."


Kata-kata Adit ini menyadarkan aku bahwa jika aku berani mengambil keputusan maka mereka tidak akan tinggal diam kepadaku. Mereka akan memberikan balasan kepadaku. Seandainya aku hanya sendirian, maka aku tidak akan takut dengan ancaman ini tapi di dunia ini aku masih memiliki Tio, Aska, dan yang paling utama Davin.


Davin pasti tidak akan membiarkan siapapun menyakitiku. Dan karena keterlibatan ku takutnya Davin kehilangan kendali saat memasuki permainan. Haah...ini bukanlah hasil yang aku inginkan.


Tapi tetap saja...


"Menggunakan anak kecil sebagai korban dari perebutan kekuasaan adalah tindakan yang sangat kejam dan aku hanya bisa melihat Davin membalas mereka tanpa bisa melakukan apa-apa.." Ironisnya.


Kekuasaan dan uang, dua hal ini bagaikan dua sisi logam yang melambangkan untung dan rugi. Adalah sebuah keuntungan dapat memilikinya namun juga sebuah kerugian untuk memilikinya karena harus mengorbankan banyak hal untuk dapat memilikinya.


Terkesan berlebihan, bukan?


Tapi ini adalah kenyataan yang harus aku hadapi. Sekarang salah satu putraku menjadi korbannya dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan nanti. Aku harap tidak ada korban lagi yang jatuh dan aku harap keluarga kecilku selalu dalam lindungan Tuhan.


Aku berharap.


...🍃🍃🍃...


Bukan mengganggu yang kurasakan ketika merasakan sebuah sapuan lembut di wajahku. Kedua mataku terpejam nyaman ingin meneruskan langkah ku di dunia mimpi namun entah mengapa rasanya aku sangat enggan. Aku ingin bangun dan melihat siapakah orang yang telah membuat kenyamanan ini.


Perlahan, kedua mataku terbuka, mengerjap beberapa kali untuk mengepaskan cahaya lampu ke dalam retina mataku.


"Kamu sudah bangun?" Suara parau Davin mengejutkan diriku.


"Sejak kapan kamu datang, Dav? Dan kenapa kamu tidak memberitahuku jika kamu sudah sampai?" Tanyaku panik seraya bangun dari dudukku tapi Davin segera menekan pundak ku agar aku kembali ke tempat dudukku.


Dia tersenyum lembut, tangan besarnya mengusap wajahku. Dia tidak mengatakan apa-apa tapi kasih sayang di dalam matanya tidak bisa menyembunyikan perasaannya kepadaku. Ini membuat ku merasa lega dan menghangat. Dia lalu merendahkan kepalanya untuk mengecup puncak kepalaku lama.


"Davin, aku sangat merindukanmu." Diperlakukan selembut ini entah mengapa membuat hatiku merasakan sakit.


Davin terlihat sangat kelelahan, kedua matanya memerah mungkin karena rasa kantuk yang tertahan atau karena lelah bekerja namun dia masih menghibur diriku.


Ya Tuhan, bagaimana bisa beban seberat ini ditanggung oleh kekasihku ini?


Bagaimana bisa dirinya sekuat itu menghadapi orang-orang serakah yang ingin menghancurkan kebahagiaannya?


Aku..aku sungguh tidak bisa memikirkannya dan hatiku rasanya sangat sakit ya Tuhan. Hatiku sakit untuknya.


"Aku tahu, dan aku juga sangat merindukanmu." Suaranya parau seraya membawaku ke dalam pelukannya.


Kami berpelukan dalam diam. Tidak ada yang berbicara tetapi itu bukanlah hal yang mengganggu. Tidak ada rasa canggung lagi karena hati kami saling membutuhkan sandaran untuk saat ini. Kami membutuhkan satu sama lain untuk saling menguatkan.


"Kemari lah, temani aku tidur." Davin menarik tanganku ikut bersamanya berbaring di atas sofa.


Sofa itu memang besar dan memanjang tapi masih tidak bisa menampung dua orang. Aku tidak memiliki ruang di sana jadi aku memutuskan untuk duduk di sampingnya. Tapi Davin tidak mau melepaskan ku dan membawaku berbaring di atas tubuhnya.


"Davin, aku ingin turun. Tubuh ku berat, kamu tidak bisa menahannya." Untuk keadaan Davin sekarang dia tidak akan bisa menanggung beban tubuhku.


Dia harus istirahat dan aku tidak ingin mengganggunya.


"Rein, patuh. Biarkan aku memelukmu dan jangan khawatirkan masalah berat badanmu karena kamu sama sekali tidak berat. Lihat, kamu kekurangan lemak di tubuhmu. Setelah pulang dari sini aku ingin kamu banyak makan makanan bergizi agar berat badanmu bertambah." Dia memelukku erat, tidak mengizinkan aku pergi ataupun turun.


Aku tersenyum tipis. Percuma saja bersikeras turun karena Davin tidak akan mengizinkan aku pergi. Jadi aku mengalah, aku membalas pelukannya untuk menenangkan pikiranku yang sudah kacau seharian ini karena memikirkan Aska dan masa depan keluargaku.


"Sebentar lagi matahari akan terbit." Bisik ku mengisi kesunyian setelah melihat waktu di jam dinding rumah sakit.


Davin tidak memberikan respon yang berarti kepadaku. Dia hanya diam dan aku tidak bisa menebak apa yang kekasihku pikirkan saat ini. Hanya saja diantara kesunyian kami, aku sangat menikmati suara detak jantungnya yang menggebu-gebu. Bagiku suara detak jantungnya adalah suara penenang yang memiliki efek magic di dalam diriku.


Tuhan, betapa beruntungnya aku menjadi satu-satunya alasan mengapa jantung ini berdebar begitu keras. Di antara banyaknya wanita yang lebih baik dari diriku, Engkau pilih diriku sebagai satu-satunya orang yang bertahta di dalam hati Davin, satu-satunya wanita yang Davin inginkan di dunia ini.