
"Kamu adalah contoh kepala pelayan yang buruk." Ucapnya dengan nada yang membosankan.
Tapi aku tahu tidak ada nada merendahkan di dalamnya. Mas Adit memang selalu seperti ini dan aku tidak terkejut. Akan tetapi lain ceritanya dengan kedatangan Mas Adit yang begitu tiba-tiba. Aku sangat gugup berada di sampingnya. Jika bisa aku ingin bersembunyi saking gugupnya. Tapi bila aku tidak melihat Mas Adit, hatiku pasti merindukannya. Aku pasti akan dibayang-bayangi oleh Mas Adit, berharap bertemu dengannya atau berbicara sepatah dua patah kata dengannya.
Apapun itu asalkan bisa bertemu dengan Mas Adit, aku pasti akan sangat puas.
"Aku...aku hanya melihat sebentar saja." Kataku membuat alasan.
Mas Adit mengangkat alisnya menilai ku, alis pedangnya yang terangkat tinggi membuat Mas Adit memiliki gambaran yang sangat seksi- oh, apa yang baru saja aku pikirkan?
"Wajahmu merah, apa kamu baik-baik saja?" Dia bertanya apa aku baik-baik saja tapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perhatian- ini adalah ciri khas manusia batu, aku harusnya tidak terkejut!
"Wajahku merah?" Aku langsung menyentuh wajahku.
Rasanya panas, en, ini reaksi setiap wanita yang sedang jatuh cinta.
"Ini...di sini cukup panas. Aku merasa agak gerah..." Bohongku menyelamatkan wajah.
"Panas?" Mas Adit melirik bibir pantai di belakang ku.
Pada saat yang sama angin pantai masuk melalui jendela, menerpa punggung dan rambutku tanpa aba-aba.
Hus...
Ini sangat dingin.
Untungnya Mas Adit tidak mengatakan apa-apa lagi tentang kebohongan ku. Dia hanya melipat kedua tangannya sambil memandangi para pelayan yang entah kenapa berkali-kali lipat lebih rajin dan cekatan dari waktu sebelumnya.
Dia juga tipe orang yang dingin, sampai-sampai perhatian saja dibungkus berbagai logam dingin sebelum dicerna dengan baik oleh kepala ku.
"Aku mengerti, Mas Adit. Tentu saja urusan Nyonya Rein adalah prioritas utama ku di sini. Lalu, bolehkah aku-"
"Kak Adit!"
Kata-kata ku terputus karena panggilan Sera. Dia adalah wanita yang sangat cantik dan bekerja sebagai dokter hewan. Sikapnya sangat santun dan lembut kepada siapapun jadi orang-orang mau tidak mau merasa nyaman di dekatnya.
Akan tetapi akhir-akhir ini aku merasa dia agak menjaga jarak dari ku. Atau apa ini hanya perasaan ku saja, yah?
"Kak Adit kok di sini? Bukannya tadi janji bilang mau temenin aku liat bintang laut di pantai?"
Ah,
Hatiku berdebar tidak nyaman. Mungkin cemburu.
Kedua tanganku terkepal erat menunggu respon dari Mas Adit, aku harap...
"Aku di sini karena menunggu mu. Langsung pergi sekarang?"
Aku sangat kecewa dengan harapan tidak masuk akal ku.
Sera tiba-tiba melihat ku, tersenyum lebar,"Ya, kita harus pergi malam ini."
"Baiklah, ayo pergi."