My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
3. (3)



"Anggi, jangan lupa dengan apa yang aku katakan tadi."


Aku langsung menegakkan punggung ku selurus mungkin. Memaksakan senyuman, aku mengangguk berjanji kepadanya.


"Dah, Anggi." Sera melambaikan tangannya kepadaku.


Dari awal hingga akhir, senyuman lebar di wajah cantiknya yang lembutnya tidak pernah luntur. Namun mengapa aku merasa bila Sera sedang pamer kepadaku?


Dia seperti burung merak yang mengepakkan sayapnya ke setiap sudut untuk memamerkan warna bulunya yang indah.


"Apa sih yang aku pikirkan..." Tanganku menepuk pipiku agak keras.


Sakit memang tapi rasa sakitnya tidak seberapa dibandingkan dengan rasa cemburu yang kini sedang bergejolaknya di dalam hatiku.


Menghela nafas panjang, aku sekali lagi melirik ke arah bibir pantai. Tuan Davin dan Rein sudah pergi entah kemana karena mereka berdua tidak ada lagi di tempat yang sama. Aku mencari-cari keberadaan mereka berdua dengan melihat hati-hati garis pantai. Tapi mereka tidak kunjung terlihat.


"Hem?" Mataku terpaku melihat Sera dan Mas Adit jalan bersama di atas pasir putih.


Tersenyum kecil, derap ringan langkah kaki ku mulai bergema menjauh dari ambang jendela. Aku memutuskan untuk segera beristirahat saja karena hari ini sangat melelahkan.


Kamarku ada di lantai satu vila dan kamar kedua majikan ku ada di lantai dua. Lalu kamar Aska dan Tio ada di sebelah kamarku. Ini adalah permintaan ku sendiri agar mudah mengawasi anak-anak agar jangan sampai mengganggu waktu berduaan tuan Davin dan Rein di malam pengantin mereka.


Saat akan melewati lorong vila, langkah kakiku tiba-tiba melambat saat mendengar suara bisik-bisik.


Aku pikir mereka sedang membicarakan hubungan tuan Davin dan Rein tapi aku salah karena yang mereka bicarakan adalah aku, seseorang yang pernah memiliki kehidupan suram di dalam hidupnya.


Aku merendahkan kepalaku sambil berjalan ke samping untuk merendahkan rasa keberadaan ku.


Aku memang sahabat Rein tapi posisi ini aku dapatkan murni karena usahaku sendiri. Tuan Davin, Rein, maupun Mas Adit mengakui potensi ku sebagai orang yang cukup telaten menjaga anak-anak ataupun mengurus rumah. Di samping itu aku juga pandai menjaga rahasia tuan Davin dan Rein. Dengan kualifikasi ini, aku pikir aku cukup layak di posisi ini.


"Eh, iya. Dan yang paling membuat aku kesel yah, Mbak Anggi tuh orangnya sok berkuasa dan sok ngatur, padahal dia sendiri orangnya malesan cuma jaga anak-anak."


Aku tidak seperti yang mereka katakan, sungguh.


"Biasalah, orang kaya baru. Jadi setelah dapat kekuasaan dia jadi belagu banget. Ngomong-ngomong kalian udah denger gosip belum tentang Mbak Anggi?"


Aku mengepalkan kedua tanganku menahan takut dan gugup. Aku takut mereka membicarakan aib ku, aib yang ingin ku hapuskan di dunia ini.


"Gosip apa, kasih tahu dong, aku penasaran tahu!"


"Gosip Mbak Anggi waktu jadi pelayan ranjang tuan Revan!"


Kedua mataku otomatis terpejam menahan sesak di dadaku. Aku tahu...aku tahu bila konsekuensinya cepat atau lambat akan datang menghampiriku.


Aku pikir semuanya akan baik-baik saja selama kedua orang tuaku dan anak-anak ku tidak mengetahuinya. Namun setelah mendengar orang lain membicarakannya, aku tiba-tiba merasa sangat marah kepada diriku sendiri karena sangat bodoh saat itu.


"Eh, seriusan?!"


"Iya, serius banget malah. Waktu tuan Davin mengamuk aku juga ada di sana hari itu. Aku dengar sendiri apa yang orang bilang tentang mereka berdua-"


Aku sudah tidak kuasa lagi mendengarnya. Tidak tahan, ku bawa langkah kakiku pergi menjauh dari tempat itu. Aku berjalan cepat dan langsung masuk ke dalam kamar dalam satu tarikan nafas. Begitu pintu kamar tertutup, kedua kakiku menjadi lemas. Tanpa menahan diri aku merosot jatuh ke lantai, merasakan sentuhan dingin dari lantai marmer di dalam kamar ku.


"Apa aku sangat kotor?"