My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
155



Rencana pernikahan Davin dan Rein dimajukan jauh lebih cepat dari yang Davin harapkan. Dia tidak menyangka bila kalung pemberian Mamanya dapat membuat hati Rein tersentuh dan bahkan luluh. Jika dia tahu efeknya akan sebesar ini, Davin mungkin akan menunjukkan kalung ini dari waktu-waktu sebelumnya.


"Aku tidak suka tempat yang mewah dan glamor, rasanya tema itu tidak terlalu cocok untuk kita. Daripada mewah, ada baiknya kita mengadakan pernikahan di tempat yang sederhana dan menggunakan tema yang sederhana pula." Usul Rein seraya membalik-balik majalah pernikahan yang telah Adit siapkan dengan susah payah pagi ini.


Pagi-pagi sekali Davin menggedor pintu kamar tamu yang dia tinggali dan memintanya untuk pergi mencari segala sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan. Adit awalnya heran karena pernikahan Davin sudah direncakan akan terlaksana setelah Davin menyelesaikan urusannya di negara A. Tapi setelah dijelaskan oleh Davin mengenai situasinya secara singkat, Adit jujur senang dengan keberhasilan sahabatnya bisa kembali bersama dengan Rein tapi di samping itu juga dia merasa tidak berdaya karena orang yang paling sibuk dan pusing nantinya mengurus semua acara adalah Adit sendiri.


Sekarang dia telah kembali membawa setumpuk majalah pernikahan, sebukit berbagai macam model surat undangan, dan segunung model baju pernikahan.


Dia telah mengumpulkan semua barang-barang ini dalam waktu yang singkat dan tergesa-gesa.


"Jika kamu tidak suka, kita akan mengadakan acara pernikahan yang sederhana dan santai, bagaimana?" Ujar Davin tanpa melirik majalah pernikahan di tangan Rein.


Suasana hatinya jelas terlihat sangat baik karena sejak bangun pagi ini dia tidak pernah berhenti tersenyum adalah hal yang sangat langka. Pernikahan yang Davin idam-idamkan tidak lama lagi akan terlaksana dan saat itu terjadi, Rein telah resmi menjadi istrinya yang sah.


Rein tersenyum lembut,"Aku akan mendengarkan mu. Lalu, dimana menurutmu tempat yang cocok?"


Diantara mereka berdua Davin adalah orang yang paling kaya wawasannya tentang tempat-tempat yang cukup bagus untuk mengadakan pernikahan.


Rein tidak ragu menjawab,"Dimana pun, aku akan suka." Selama dia menikah dengan Davin, maka dimana pun tempatnya akan sangat menyenangkan.


"Hem, aku pikir kita bisa melakukannya di dalam gedung. Jika mengikuti rencana ini maka kita akan mengadakannya di hotel keluargaku yang ada di pinggir pantai. Suasananya sangat cocok untuk referensi kita berdua, bagaimana?"


"Maka semuanya telah diputuskan. Tapi, bagaimana dengan pihak keluargamu?" Rein masih ragu saat menanyakan ini karena keluarga Davin tidak pernah menyukainya.


Bahkan mereka mungkin membencinya mengingat perpisahannya dengan Davin sebenarnya didalangi oleh keluarga Davin. Jujur, rasanya masih menakutkan dan ada ketakutan tersendiri di dalam hatinya, dia takut Davin akan kembali direnggut oleh mereka dan hubungan ini sekali lagi akan terputus.


"Jangan takut," Davin mengusap lembut wajah Rein.


Dari ekspresi wajahnya dia tahu bila Rein sedang mengingat masa-masa kesakitan mereka. Dia mengerti kekhawatiran Rein dan dia juga tahu bila masa-masa itu meninggalkan trauma yang dalam untuk Rein.


Dia tahu, karena itulah dia berusaha meyakinkan Rein untuk kembali percaya kepadanya karena dia bukan lagi Davin yang lemah, dia sekarang jauh lebih mampu menghadapi keluarganya.


"Mereka tidak akan bisa memisahkan kita lagi, aku berjanji." Janji Davin serius namun sarat akan kelembutan yang manis.