
Beberapa langkah kemudian mereka akhirnya sampai di ruangan tersebut. Tempat dimana orang-orang suruhan Mama Sera berada. Saat masuk ke dalam, Adit melihat tiga pria panik yang sedang diikat di atas kursi. Sama seperti Doni, selain diikat di atas kursi, mulut mereka juga disumpal dengan kain basah.
Adit mengangguk puas melihat mereka bertiga. Duduk di atas sofa yang telah disiapkan oleh bawahannya, Adit diam-diam menenangkan pikirannya dengan mata tertutup. Ruangan ini sangat sunyi dan sepi, berbanding terbalik dengan hiruk pikuk di ruangan lain. Di sini tidak ada yang berbicara. Bahkan para bawahannya diam-diam mengambil nafas dingin sambil berpikir langkah apa yang akan Adit ambil dalam masalah ini.
Semua orang terdiam. Para pelaku yang kini tengah dibekap oleh orang-orang Adit juga secara cerdas tidak membuat keributan apapun seperti yang Doni lakukan. Mereka diam seperti kutu, tidak bergerak sembari mengamati suasana di dalam ruangan ini.
Tadi siang mereka ditugaskan oleh Mama Sera untuk mendatangi rumah Anggi, menawarkan sekian juta kepada kepada keluarga miskin itu. Tugas ini terbilang mudah jadi mereka dengan beraninya pergi ke rumah Anggi dan tidak mengharapkan dicegat oleh anak buah Adit langsung. Mereka tidak sempat melakukan apapun apalagi sampai melarikan diri. Mereka bertiga langsung digiring masuk ke dalam mobil dan dibawa ke tempat lembab dan kumuh ini.
Jujur saja, ini sangat menakutkan. Namun karena mereka adalah orang-orang yang terlatih, maka mereka tidak langsung panik. Mereka diam-diam mengikuti alur sambil memikirkan alasan apa yang akan mereka kemukakan kepada Adit agar mereka bertiga segera terlepas.
"Kalian bertiga sangat mampu." Ucap Adit disertai seringai tipis.
Dia perlahan membuka matanya, menatap santai setiap wajah merah yang kewalahan dengan kain basah di dalam mulut masing-masing.
"Tidakkah kalian berpikir sebelumnya siapa yang akan kalian ganggu? Hei, kami adalah orang-orang tuan Davin sedangkan kalian berasal dari keluarga sampingan. Tidak ada cara lain, aku sudah bosan dengan trik memuakkan kalian. Niko?" Panggil Adit tidak mau berlama-lama di sini.
Niko, orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan ini kembali harus mendapatkan tugas lain. Dia buru-buru berjalan menuju Adit sambil menetralisir ekspresi di wajahnya.
"Bos?" Sapa Niko sopan.
Adit menunjuk mereka bertiga yang duduk tidak berkutik di atas kursi terikat.
"Beri mereka hadiah dariku dan jangan lupa untuk dokumentasikan. Aku ingin dokumentasi ini sudah ada di email ku besok pagi, mengerti?" Tanya Adit kepada Niko.
Suara Adit sangat suram dan tidak bersahabat, Niko menelan ludahnya tanpa sadar. Dia tanpa ragu menganggukkan kepalanya dan buru-buru memanggil beberapa gigolo kekar. Melihat kedatangan mereka, ketiga orang itu langsung panik dan meronta-ronta ingin melepaskan diri. Mereka tidak bodoh sama sekali dan tahu bahwa orang-orang kekar itu adalah hukuman yang sengaja Adit siapkan untuk mereka.
Mereka panik dan diam-diam mengutuk betapa kejamnya Adit. Padahal mereka belum benar-benar menjalankan tugas sehingga Adit tidak seharusnya melakukan tindakan kejam ini. Namun Adit sama sekali tidak perduli dengan sikap membangkang mereka. Bahkan dia tidak perlu susah-susah membuang menggerakkan lidahnya untuk berbicara dengan mereka bertiga karena dia tidak memiliki kesempatan untuk orang-orang yang berniat menghancurkan hubungannya.
"Jangan menatapku seperti itu." Kata Adit diwarnai oleh senyuman menyanjung.
Entah bagaimana caranya dia menikmati tatapan putus asa ketiga orang itu tanpa rasa bersalah atau takut sedikitpun. Dia selalu seperti ini. Hatinya akan sangat kejam untuk orang-orang yang melewati batasnya tapi tetap hangat untuk orang-orang yang menghormati semua batasan yang telah dia bangun. Bukankah manusia pada dasarnya seperti ini?
Apa yang kamu tabur itulah yang kamu tuai, apa yang kamu lakukan, pada akhirnya benar atau buruk kamu akan mendapatkan balasannya. Hukum bermasyarakat semudah ini. Jadi mereka seharusnya memperhitungkan ini sejak awal agar jangan meremehkan kehidupan orang lain. Seolah-olah orang yang mereka ganggu tidak akan bisa membalas.
"Kalian lah yang meminta semua ini jadi tugasku hanyalah mengabulkan apa yang kalian minta. Ingat, tidak semua manusia akan diam saja tanpa bisa membalas semua kejahatan yang orang lain lakukan terhadap orang-orang yang mereka sayangi atau cintai. Mereka pasti akan mengupayakan berbagai macam cara untuk membalas orang-orang semacam kalian." Adit dalam suasana hati yang buruk jadi dia masih menyempatkan diri berkhotbah di depan mereka bertiga sembari mengabaikan tatapan panik mereka bertiga.
Menguap pelan karena mulai mengantuk, Adit melihat waktu di jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Sudah pukul dua dini hari, gak terasa waktu sudah terbuang banyak hanya untuk mengurus manusia-manusia sampah ini. Adit sudah bosan dan ingin buru-buru pergi dari sini. Namun dia enggan untuk pergi tanpa melihat pertunjukan penting sebelum mereka bertiga benar-benar disiksa.
"Berikan dosis yang besar. Aku ingin mereka menikmati malam ini hingga tidak bisa menggerakkan tubuh mereka keesokan harinya." Kata Adit acuh-acuh.
Niko dan yang lainnya langsung berkeringat dingin. Adit memiliki sisi kejam yang sangat menakutkan. Bahkan caranya dalam menangani sampah tidak berbeda dengan apa yang Davin lakukan. Menggelengkan kepalanya ketakutan, Niko akhirnya tahu kenapa hubungan persahabatan mereka berdua masih bertahan hingga detik ini. Ternyata mereka berdua memiliki karakter yang sama persis, acuh dan suka menggunakan cara-cara terlarang untuk memuaskan kesuraman di dalam hati mereka.
"Ya, bos." Niko segera meminta bawahannya untuk menyuntik mereka bertiga dengan dosis dua kali lipat dari yang Doni miliki.
Segera, tidak sampai satu menit para bawahan itu menyiapkan jarum suntik dengan dosis yang diminta. Mereka berjuang keras memasukkan jarum ke tubuh mereka bertiga karena tak satupun diantara mereka bertiga yang tidak memberontak. Mereka bergerak liar tidak ingin disuntik dan membuat para bawahan Adit kewalahan. Hal ini membuat Adit semakin tidak senang.
Wajahnya semakin suram dan tidak sedap dipandang. Melihat ini, Niko buru-buru mengarahkan bawahan yang lain untuk menangani mereka bertiga. Barulah mereka bertiga disuntik dengan obat-obatan terlarang.
Tidak sampai 5 menit obat terlarang itu masuk ke dalam tubuh mereka. Obat itu segera bereaksi karena dosisnya yang dua kali lipat dari milik Doni. Obat itu membuat tubuh mereka panas dan haus, juga kesakitan. Mereka membutuhkan air tapi pada saat yang sama juga tidak membutuhkannya. Mereka menginginkan sesuatu yang lebih untuk memuaskan rasa haus yang menggelegar di dalam tubuh mereka.
Melihat mereka bertiga mulai kehilangan kendali seperti cacing kepanasan. Adit tidak bisa menahan tawanya yang menggelegar. Dia tertawa bahagia tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan memalukan itu.
Puas tertawa, dia tersenyum sinis,"Ingat dokumentasinya." Peringat Adit kepada Niko sebelum angkat kaki dari ruangan kacau itu.
Malam itu Adit pulang dengan suasana hati yang sangat baik. Sepanjang jalan mulutnya tidak berhenti bersiul, tersenyum konyol, hingga tertawa. Supir pribadi yang mengantarnya pulang bahkan merasa ngeri melihat perubahan Adit yang tiba-tiba. Meskipun begitu dia tidak berani bersuara dan tetap menjalankan tugasnya dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Adit.
Sungguh, membuat Adit tidak bahagia adalah salah satu hal yang ingin dihindarinya dalam hidup ini.
***
Sesampainya di apartemen, Adit langsung masuk ke dalam tanpa mengatakan sepatah katapun kepada supirnya.
Dia membuka pintu dan bertemu kembali dengan ruangan sunyi yang telah dia tinggali selama beberapa tahun ini. Rumah ini tidak seperti rumah-rumah di luar sana. Tempat ini sangat dingin tanpa ada kehangatan dari canda tawa gelak tawa orang-orang yang dicintainya. Terkadang Adit merasa cemburu kepada mereka yang bisa menikmati waktu-waktu indah bersama dengan anggota keluarga masing-masing. Berbeda dengan rumahnya, Adit kerap kali merasa kesepian. Ketika bulan ramadhan tiba. Dia harus bangun sendiri untuk menyiapkan makan sahur, tidak sekali dua kali dia melewatkan makan sahur karena terlalu lelah atau tidak ada seorangpun yang membangunkannya. Adit juga manusia biasa. Dia terkadang terjebak dalam kesedihan dan merasa kesepian karena tidak ada seorangpun yang datang menemaninya, membuat dia tertawa ataupun menangis bersama-sama. Pernah, pernah sekali dia merasakan bagaimana rasanya keluarga hangat itu ketika dia tinggal di rumah kedua orang tua angkatnya. Mereka sejujurnya adalah orang-orang yang baik, penyayang dan memperlakukannya seperti putra sendiri. Adit merasakannya dan sempat merasakan kebahagiaan, namun itu hanya sesaat.
Suatu waktu dia tiba-tiba dijebak oleh saudara-saudaranya yang memiliki kecemburuan terhadapnya. Waktu itu dia masih kuliah dan sedang bersemangat dalam mengahadapi kehidupan masa dewasa. Biaya kuliahnya tidak pernah macet karena kedua orang tua angkatnya selalu membayar tepat waktu dan belanjanya pun tidak pernah kekurangan. Hingga suatu saat biaya kuliahnya tiba-tiba macet dan belanjanya pun sampai setengah. Adit sempat bingung karena kejadian ini berulang kali terjadi. Akhirnya dia pulang ke rumah, rumah pada saat itu sangat sepi karena kedua orang tua angkatnya sedang pergi. Padahal waktu itu dia hanya duduk-duduk di rumah dan seringkali menghabiskan waktu di dalam kamarnya. Tapi disalah pahami telah melakukan kejahatan. Dia dituduh mengambil uang salah satu saudaranya. Dia sangat terkejut dan tak bisa berkata-kata pada waktu itu. Kedua orang tua angkatnya tidak mempercayai tuduhan itu namun dia dan mereka sama-sama mengerti bila saudaranya itu sengaja menjebaknya.
Adit akhirnya tahu bagaimana rasanya dicemburui. Karena kedua orang tua angkatnya memperlakukannya seperti anak sendiri, beberapa saudara tidak puas dan merasa cemburu. Adit sepenuhnya mengerti. Akhirnya tanpa menunggu lebih lama dia memutuskan untuk hidup mandiri di luar. Meskipun kedua orang tua angkatnya tidak mengizinkannya tapi Adit tetap bersikeras pergi. Sebab tempat itu bukanlah tempatnya, rumah itu bukanlah rumahnya, dan kasih sayang itu tidak diperuntukkan untuknya.
Adit mengerti semua ini. Dan sejak itu pula dia mulai hidup di luar dan membantu keluarga dari luar. Saat krisis datang menimpa keluarga, Davin mengerahkan upaya besar untuk menyelamatkan kehormatan kedua orang tua angkatnya. Adit sangat tersentuh dan berjanji bahwa dia akan selalu menemani kemanapun Davin pergi.
Bersama Davin, dia tidak akan kesepian. Itulah sebabnya meskipun Davin memberikannya banyak tugas dia tidak pernah mengeluh. Dia bersyukur karena pikirannya dialihkan dengan sibuk bekerja.
Akan tetapi ketika pulang ke rumah ini entah kenapa semua kesepian yang di rasakan kembali merayapi nya bagaikan parasit yang telah mendarah daging di dalam hatinya.
Adit tersenyum tipis. Dia lalu duduk di atas sofa, meraih foto kedua orang tuanya yang tengah tersenyum manis di atas nakas.
"Ma, Pa, sebentar lagi aku tidak akan merasa kesepian." Dia mulai berbicara dengan foto itu, seakan-akan kedua orang tuanya masih hidup dan dapat meresponnya.
Tangan besarnya mulai mengelus permukaan foto itu, mengusapnya hati-hati dan penuh akan kasih sayang.
"Maaf aku baru menceritakannya sekarang karena dia... adalah wanita yang berharga dan butuh upaya besar untuk mendapatkan nya." Kata Adit dengan senyuman manis di wajah tampannya.
Sudah lama sekali dia tidak berbicara dengan kedua orang tuanya karena jarang pulang ke rumah.
Tertawa malu,"Mama benar, harta berharga tidak akan mudah didapatkan begitu saja. Butuh upaya besar untuk memilikinya." Kata Adit bercanda.
"Namanya Anggi, Ma. Dia lebih tua beberapa tahun dariku tapi tempramen ku lebih dewasa darinya. Dia adalah janda beranak dua, Mama sama Papa enggak masalahkan dengan ini?" Dia bertanya dengan nada lembut kepada kedua orang tuanya.
Kedua orang tuanya sangat betah tersenyum. Mereka sama sekali tidak keberatan dengan fakta yang baru saja disebutkan oleh putra terkasih mereka.
"Aku juga berpikir begitu, Ma. Selama aku bahagia maka latar belakang dan statusnya tidak menjadi masalah. Oh iya, Ma. Dia memiliki dua putra yang sangat cerdas. Aku sangat menyukai mereka karena anak-anak itu sangat patuh dan penurut. Setiap kali aku mengunjungi mereka, aku akan mengajari mereka berhitung dan mempelajari pelajaran kesukaan ku. Untungnya mereka juga menyukai apa yang kusukai sehingga kesukaan ku kepada mereka semakin bertambah dalam. Aku tidak ingin berbohong kepada kalian berdua, jujur aku senang dan tak mempermasalahkan anak-anaknya sebab bersama dengan mereka aku tiba-tiba merasakan rumah hangat yang telah lama menghilang dari dalam hidupku. Bukankah Mama dan Papa pernah berkata kepadaku, hidup ini tidak akan nyaman bila aku tidak segera menemukan rumah yang ku cari. Oleh karena itu ketika aku menemukan mereka, aku ingin segera memiliki mereka dan membawanya pulang ke rumah ini. Mama sama Papa pasti ikut merasa senang kan karena aku akhirnya bisa memiliki rumah lagi?"
Orang tuanya masih betah tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Tersenyum lembut,"Terima kasih, terima kasih karena telah merestui hubungan kami. Aku senang kalian berdua menerimanya." Namun Adit menganggap bahwa kebisuan mereka adalah jawabannya.
Dia tersenyum lembut dan mengelus permukaan foto itu, membayangkan bila dirimu kini tengah berbicara harmonis dengan kedua orang tuanya.
"Mama dan Papa tenang saja. Setelah kami menikah nanti aku akan membawa mereka untuk menemui kalian berdua. Aku yakin kalian akan sangat senang melihat kedatangan mereka. Kalian pasti puas dengan mereka semua." Kata Adit berjanji.
Dia bukannya tidak ingin membawa mereka untuk menemui kedua orang tuanya sekarang karena jujur saja, Adit masih terlalu sibuk. Dia tidak memiliki waktu senggang dan Anggi pun tidak memiliki waktu senggang. Tapi setelah menikah nanti dia akan memiliki banyak waktu libur jadi seharusnya dia bisa membawa keluarganya untuk datang mengunjungi mereka. Pada saat itu mereka bisa berbincang lama dan tidak akan terburu-buru untuk segera kembali ke rumah.
"Maafkan Adit, Ma. Maaf karena Adit jarang menemui kalian. Aku tidak ingin berbohong kepada kalian. Jujur saja setiap kali Adit datang sendiri menemui kalian, Adit merasa sangat sedih dan kesepian. Adit tidak sanggup bertemu dengan kalian karena ujungnya Adit akan merasa sakit. Dan pada saat itu terjadi, Adit tidak memiliki siapapun di sisi Adit yang dapat menemani dan mengobati kesedihan Adit. Tapi sekarang semuanya berbeda. Tuhan sudah mengirimkan keluarga yang harmonis kepada Adit. Adit sekarang sudah memiliki dua putra yang cerdas dan calon istri yang sangat lembut juga cantik. Jadi Adit tidak takut lagi datang mencari kalian berdua. Oleh karena itu ketika kita bertemu nanti, Adit akan berbicara lama dengan kalian untuk menebus semua waktu-waktu yang terlewati. Ma, Pa. Pembicaraan kita sampai di sini dulu. Adit tidak ingin mengganggu waktu istirahat kalian berdua. Aku juga harus segera beristirahat agar besok pertemuan ku dengan kedua orang tua angkat ku bisa berjalan dengan mulus. Mama sama Papa jangan lupa doakan kami dari sana yah biar semuanya lancar. Ma, Pa, selamat malam. Adit harap kalian bisa beristirahat dengan tenang. Sampai jumpa lagi." Adit akhirnya menyelesaikan pembicaraannya dengan kedua orang tuanya.
Mereka berbicara cukup lama- oh, atau lebih tepatnya hanya Adit lah yang berbicara sendirian dengan bingkai foto tak bergerak di atas nakas. Penampilannya sangat menyedihkan, namun dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya ketika dia berbicara dengan kedua orang tuanya, malam ini wajahnya jauh lebih berseri karena membawa senyuman musim semi. Dia berkali-kali lipat lebih bahagia daripada sebelumnya.
Mengelap foto di atas nakas, Adit lalu masuk ke dalam kamarnya. Karena terlalu lelah dan mengantuk, dia awalnya ingin langsung tidur di kasur. Tapi merasakan tubuhnya yang lengket karena terlalu banyak aktivitas, dia akhirnya dengan enggan masuk ke dalam kamar mandi dan mandi dengan air hangat. Dia mandi kilat, hanya membutuhkan 5 menit saja dia lalu keluar dari kamar mandi dengan baju mandi dan langsung tidur di atas kasur tanpa sempat berganti baju.
Tubuhnya yang lelah akhirnya bisa beristirahat dengan nyaman jadi tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk langsung jatuh tertidur di atas kasur.
***
Malam ini Sera dalam suasana hati yang baik karena Mamanya telah membuat rencana untuk membentuk kontrak pernikahan dengan keluarga Adit. Meskipun dia merasa agak pahit dihatinya karena Anggi ternyata memiliki hubungan dengan Adit, tapi semua kepahitan itu setidaknya ditenangkan oleh mamanya. Mama adalah orang yang sangat hebat, orang yang paling mengerti perasaannya jadi dia tidak khawatir lagi dengan Anggi.
Tersenyum manis setelah melihat penampilan manisnya di dalam cermin, Sera lalu mengambil ponselnya untuk mengecek notifikasi. Hari ini dia sudah mengirim tiga pesan kepada Adit namun tak satupun yang Adit respon. Sera cemberut, pipinya yang gembil langsung mengembung tidak puas. Jengkel, dia lalu mencoba peruntungannya untuk menghubungi Adit. Akan tetapi Adit tidak mengangkat telpon darinya sebanyak apapun dia mencoba.
"Ugh, ini semua gara-gara wanita murahan itu. Kalau enggak, kenapa kak Adit tak pernah membalas pesan dan menjawab telpon ku lagi?" Dumel nya kesal.
Marah, dia langsung melemparkan ponselnya ke atas ranjang dan duduk bersedekap dada di depan cermin dengan perasaan marah, cemburu, juga kesal yang bercampur aduk di dalam hatinya.
"Lihat saja, aku akan meminta kak Davin memecat wanita murahan ini karena tidak bekerja dengan becus. Bukannya fokus melayani kak Rein, dia malah asyik-asyik gangguin kak Adit!" Dendam Sera berjanji.
Dia telah bertanya-tanya ke pelayan mansion hari ini. Dengan identitasnya, para pelayan tentu tidak akan berani menolak untuk menjawab pertanyaannya. Jadi dalam waktu yang sangat singkat dia telah menerima kabar bila Anggi sering mengganggu Adit, membuat Adit kewalahan, dan seringkali bolos bekerja di mansion.
Sera sangat marah mendengarnya dan dia semakin bertekad untuk merebut Adit dari Anggi.
"Tapi kok Mama belum ada kabar sampai sekarang, yah?" Sera merasa heran.
Karena Mama belum mengabarinya jadi Sera memutuskan untuk turun ke bawah dan bertanya.
Sesampainya di bawah, Sera melihat Mama sedang duduk dengan gelisah di ruang tengah. Sesekali Mama akan menatap ponselnya dan sesekali Mama akan mengirim pesan kepada seseorang. Sera heran melihat Mama seperti ini karena tidak biasanya Mama terlihat gelisah.
"Mama kenapa?" Tanya Sera sembari duduk di samping Mamanya.
Mama menggelengkan kepalanya tampak sangat bingung.
"Orang-orang suruhan Mama enggak bisa dihubungi." Kata Mama frustasi.
Sera langsung mengerti kemana arah pembicaraan Mama dan dia juga mulai merasa cemas.
"Mama udah coba hubungi atau telpon mereka?" Masalah ini menyangkut masa depannya.
Mama menganggukkan kepalanya putus asa.
"Mama udah SMS dan telepon tapi tidak satupun diantara mereka yang menjawab." Kata Mama khawatir terjadi sesuatu kepada mereka.
Mendengar jawaban Mama, Sera lebih cemas lagi. Dia buru-buru memegang tangannya panik.
"Apa mereka ditangkap sama kak Adit, ma?" Kalau benar dugaannya maka Semuanya pasti sudah selesai.
Adit pasti akan sangat membencinya dan tidak mau berbicara lagi dengannya. Jangankan bermimpi untuk menikahinya, berbicara saja mungkin dia tidak akan memiliki kesempatan itu dalam hidupnya.
Mama menggelengkan kepalanya membantah.
"Mama sudah meminta seseorang untuk mengawasi Adit hari ini. Kecuali tinggal di kantor dan berbelanja dengan Anggi, mereka tidak pernah melihat Adit berurusan dengan orang-orang suruhan Mama jadi mereka tidak mungkin tertangkap." Kata Mama percaya diri.
Dia sudah memata-matai Adit hari ini dan yakin bila Adit tidak tahu menahu soal masalah ini.
"Hah, aku sangat lega mendengarnya." Kata Sera tenang.
Namun mengetahui bila hari ini Adit sibuk berduaan dengan Anggi, hatinya langsung terbakar cemburu. Dia kesal dan marah karena Anggi telah memonopoli Adit hari ini. Padahal Adit orang yang sangat sibuk tapi masih menyempatkan diri untuk memanjakan Anggi.
Memikirkannya Sera kian marah dan semakin bertekad memisahkan mereka berdua.
"Wanita murahan itu sangat pandai menggunakan triknya. Lalu apa yang terjadi dengan mereka, Ma, kalau kak Adit tidak menangkap mereka?" Tanya Sera heran.
Jika tidak ditangkap oleh Adit, lalu apa yang sedang terjadi kepada orang-orang suruhan Mamanya?
Mama menggelengkan kepalanya tidak tahu.
"Tunggu informasi dari mereka saja." Kata Mama tidak punya pilihan.
Sera menggigit bibirnya kesal. Sebenarnya dia tidak sabar ingin segera mengetahui kabar dari orang-orang suruhan Mama. Jika baik hasilnya, maka dia tidak perlu mengkhawatirkan Anggi lagi dan bila buruk hasilnya, maka mereka perlu menyiapkan rencana yang lainnya lagi. Semua langkah selanjutnya bergantung dari laporan dari orang-orang itu.
"Ma, aku tidak sabar." Desah Sera tidak puas.
Menghela nafas panjang, Mama juga tidak punya pilihan lain lagi.
"Sabar, nak. Jangankan kamu, Mama juga tidak sabar dengan mereka tapi mau bagaimana lagi, kita tidak punya cara selain menunggu kabar dari mereka." Kata Mama lebih tidak berdaya lagi.
Dia ingin putrinya bahagia karena itulah dia menggunakan cara ini. Sama seperti putrinya yang tidak sabar, dia juga cemas dan khawatir karena kabar yang dia tunggu-tunggu tidak sampai-sampai hingga malam ini. Jadi bagaimana mungkin dia tidak merasa cemas dan terburu-buru disaat apa yang dia tunggu-tunggu tak kunjung datang juga.
"Ada apa, kenapa wajah kalian berdua sangat buruk?" Papa baru saja keluar dari ruang kerjanya dan melihat pemandangan ini.
Istri dan putrinya duduk lesu di ruang tengah tampak tidak bersemangat.
"Pa, aku lagi mikirin kak Adit." Kata Sera tidak berbohong.
Masalah ini tidak diketahui oleh Papanya karena Papa pasti tidak akan mendukung rencana curang mereka. Selain itu sejak awal Papa juga tidak tahu menahu soal rahasia yang dia bicarakan dengan Mama sehingga Papa tidak pernah ikut campur setiap kali mereka berdua berbicara.
Bukannya mereka ingin menyembunyikannya dari Papa, tidak, mereka tidak mau sejujurnya. Tapi mereka terpaksa melakukan hal ini karena Papa tidak suka langkah curang. Papa terbilang kaku dalam soal kejahatan dan terbilang sangat membenci sikap ini sebab tidak akan ada hal baik yang mereka dapatkan jika menggunakan cara yang curang. Jadi mereka berdua hanya bisa menyembunyikan nya dari Papa.
"Nak, tidak apa-apa. Jika Adit bukanlah jodohmu maka kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih lagi darinya. Papa kenal banyak kok laki-laki yang baik dan memiliki karir yang bagus, tidak berbeda jauh dari Adit." Kata Papa lembut kepada putrinya.
Sera tersenyum tipis, dia menggelengkan kepalanya tidak setuju.
Apa yang dia katakan memang apa yang hatinya rasakan. Perasaan cintanya kepada Adit tidak sehari dua hari atau tidak sebulan dua bulan tapi telah tumbuh sejak bertahun-tahun lamanya. Dia belum pernah melihat laki-laki sebaik Adit yang karakternya dapat menyamai Davin. Dia tegas, menghormati wanita, pelit ekspresi, dan yang paling penting adalah tidak suka bermain dengan wanita. Laki-laki seperti ini sangat berharga sebab dia pasti sangat setia dengan satu pasangan. Oleh karena itu Sera telah menetapkan hatinya kepada Adit dan memantapkan nya dengan serius. Berharap cintanya suatu hari nanti akan terbalas kan. Namun siapa yang berharap bila penantian nya selama ini sia-sia?
Dengan mudahnya Adit jatuh cinta kepada wanita yang sangat murah dan suka memanfaatkan laki-laki. Sera patah hati dan tidak bisa menerima kenyataan ini sebab dia merasa dirinya jauh lebih baik daripada wanita murahan itu.
"Nak, jangan seperti ini. Kamu tidak bisa seperti ini. Bila Adit benar-benar menikah dengan wanita lain, maka kamu juga tidak bisa berbuat apa-apa apalagi memaksakan perasaan mu. Tapi bangun lah nak, lupakan Adit dan mulai mencari cinta baru. Papa yakin bila kamu pasti bisa melupakan Adit dan bertemu dengan laki-laki yang mencintai kamu." Kata Papa lembut.
Dia mengenal karakter Adit dengan baik. Jika dia sudah serius dengan satu wanita maka hatinya akan sulit tergoyahkan. Sama seperti Davin. Dia dipaksa untuk meninggalkan Rein namun cintanya tidak pernah padam sekalipun mereka telah berpisah setelah bertahun-tahun lamanya. Bahkan setelah bertemu pun Davin masih mengejar Rein, mempersembahkan perasaannya yang telah lama tersiksa akan kerinduan. Padahal Rein bukanlah wanita yang sempurna apalagi memiliki karir yang baik. Malah menurut Papa, Rein adalah wanita yang memiliki kekurangan dan tidak memiliki latar belakang tapi masih dicintai sepenuh hati tidak perduli apa statusnya dan bagaimana kondisinya.
Sungguh, Papa mau tidak mau kagum kepada keponakannya itu.
"Pa, berbicara itu mudah tapi melakukannya sangat sulit. Jika kak Adit tidak menikah dengan Sera, maka Sera tidak mau hidup-"
"Lancang!" Potong Papa tidak senang dan membuat anak serta istrinya terkejut.
"Jangan pernah mengatakan itu lagi karena urusan mati dan hidup hanya Tuhan yang berhak. Kamu hanyalah manusia biasa fan hamba lemah, maka tidak sepatutnya kamu berbicara begitu." Tegur Papa serius.
Sera langsung sedih. Dia tidak bermaksud begitu. Dia hanya terbawa emosi saja.
Melihat putrinya yang sedih, Mama buru-buru memeluk putrinya. Mengelus punggung kurusnya untuk menenangkan kesedihannya.
"Pa, Sera tidak benar-benar serius. Dia hanya sedih saja dan tidak bisa melepaskan diri dari kesedihannya." Kata Mama membela putrinya
Papa menghela nafas panjang. Dia juga tidak bermaksud untuk memarahi putrinya sebab dia juga seorang ayah yang mencintai anaknya.
"Hem, namun tetap saja dia tidak bisa mengatakan kata-kata itu." Kata Papa memperingati.
Sera muram, dia melepaskan pelukan Mamanya dan izin kembali ke kamarnya.
"Ma, Pa, aku sedikit lelah dan ingin beristirahat. Kalian berbicaralah di sini. Selamat malam." Katanya langsung pergi tanpa menunggu respon kedua orang tuanya.
Dia sangat kesal dan marah tapi tidak bisa menunjukkannya di depan Papanya. Atau dia akan ditegur lagi seperti tadi.
Melihat kepergian putrinya yang muram, Papa menghela nafas berat. Dia merasa bersalah karena telah memarahi putrinya tadi.
"Pa, jangan seperti ini lagi. Putri kita sedang bersedih jadi kalau ingin menegurnya, maka tegur lah dengan lembut tanpa perlu menyakiti hatinya." Pinta Mama kepada suaminya.
Papa menghela nafas panjang. Menganggukkan kepalanya, dia juga mengerti bila putrinya sedang bersedih karena Adit.
"Hem, Papa akan lebih berhati-hati lagi di masa depan." Kata Papa berjanji.
***
Pagi harinya Adit bangun dari tidurnya. Dia pikir ini masih pagi hari karena biasanya dia bangun sesuai dengan jam biologis nya tanpa menggunakan alarm sebagai pengingat. Namun ketika melihat waktu di jam weker atas nakas, untuk sesaat di tercengang karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 siang. Dia bangun beberapa jam lebih telat dari biasanya.
Menggelengkan kepalanya tidak berdaya, tubuhnya mungkin benar-benar jenuh sehingga sekalinya bisa beristirahat dengan santai, dia langsung menghabiskan beberapa jam lebih lama.
Adit mengangkat bahunya acuh. Keterkejutannya tidak bertahan lama karena dia bisa memahaminya dengan cepat.
"Apakah mereka sudah mengirim filenya?" Gumam Adit seraya mengambil ponselnya yang kekurangan daya karena tidak sempat di isi semalam.
Adit langsung membuka email-nya, memang ada beberapa email yang masuk dan dua lainnya dari Niko. Ketika membukanya, bibir datarnya segera membentuk senyuman puas. Dia mengangguk ringan dan menaruh ponselnya di atas nakas untuk memulihkan dayanya.
Menggeliat nyaman,"Hari ini sangat cerah." Katanya dalam suasana hati yang baik.
Dia mengambil baju ganti di dalam lemari dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Hari ini agendanya agak longgar karena dia akan keluar membeli beberapa hadiah untuk orang tua angkatnya dan mengecek beberapa dokumen sebagai pengisi waktu luang, lalu pada malam harinya dia pergi menjemput Anggi dan anak-anak untuk pulang ke rumah- oh, ini tidak bisa disebut pulang karena itu bukan rumahnya. Lebih dia membawa keluarganya berkunjung ke rumah keluarga angkatnya.
***
Pukul 5 pagi Anggi bangun agak terlambat karena semalam dia tidur terlambat. Kebetulan hari ini dia berhalangan jadi setelah mandi dia langsung masuk ke dapur untuk membuat sarapan orang-orang rumah dan menyiapkan bekal untuk anak-anak bawa ke sekolah.
Satu jam kemudian dia telah menyusun bekal anak-anak di dalam tas masing-masing.
"Ma, robot ku sangat besar dan bisa berubah menjadi mobil yang sangat keren." Cerita Aldi kepada Anggi.
Saat bangunkan oleh Ibu, mereka berdua langsung tercengang ketika melihat hadiah besar di bawah kaki masing-masing. Senang, mereka berdua langsung membuka hadiah masing-masing dengan tidak sabar dan melihat bahwa mereka mendapatkan hadiah robot yang sangat besar. Robot itu sangat kuat dan canggih karena bisa berubah menjadi mobil yang keren.
"Iya, Ma. Robot ku berwarna hitam dan biru tapi saat berubah menjadi mobil, warnanya jadi biru semua, Ma!" Cerita Aldo ikut-ikutan.
Dia merasa heran sekaligus bangga karena dia memiliki mainan yang sangat keren.
"Iya, Ma. Aku juga. Robot ku warnanya hitam kuning tapi setelah berubah jadi mobil, warnanya kuning semua. Sangat keren, teman-teman di kelasku pasti juga ingin memiliki robot secanggih milik kami." Kata Aldi bangga.
Sepanjang mendengar cerita anak-anak, Anggi tidak pernah berhenti tersenyum. Ide membeli hadiah ini diprakarsai oleh calon suaminya. Adit bilang anak-anak sangat suka dengan mainan ini jadi mereka memilih kedua robot ini dengan harga yang sangat spektakuler. Anggi belum pernah melihat mainan anak-anak semahal itu. Akan tetapi semua hadiah itu di beli menggunakan uang pribadi Adit meskipun Anggi sempat menolak dan keberatan.
"Nah, kalian enggak boleh bawa mainan ini ke sekolah. Papa bilang sekolah adalah tempat belajar dan bukan untuk bermain, ingat? Nanti kalau kalian bawa mainan ke sekolah, Papa pasti akan marah dan enggak mau ngajarin kalian belajar lagi." Kata Anggi menakut-nakuti Aldi dan Aldo.
Aldi dan Aldo langsung menggelengkan kepala mereka ketakutan. Adit adalah Papa yang baik untuk mereka, maka mereka tidak mau kehilangan Adit.
"Ma, aku enggak akan bawa mainan ke sekolah dan aki juga belajar dengan rajin kok di sekolah." Kata Aldi bersungguh-sungguh.
Aldo juga tidak mau kalah,"Iya, Ma. Aku juga enggak pernah main ke sekolah dan belajar dengan sungguh-sungguh."
Mereka takut Mama melaporkan mereka ke Adit jika mereka tidak belajar dengan baik.
Anggi tersenyum. Dia mengusap puncak kepala kedua putranya. Dia tahu bila kedua putranya telah belajar dengan baik karena laporan guru di sekolah pun sangat menyanjung mereka berdua. Anggi bangga dan semakin kagum kepada calon suaminya karena dengan metode mengajar nya, anak-anak jadi ketagihan belajar dan fokus belajar di sekolah maupun di rumah.
"Okay, Papa tahu kok kalian berdua belajar dengan rajin di sekolah karena Papa sudah mendengarkan laporan guru kalian. Maka dari itu terus belajar yang rajin dan jangan kecewakan Papa yah, dia pasti akan selalu bersama kalian jika pelajaran kalian tidak terganggu. Oh ya, Mama bawa berita bagus untuk kalian berdua. Nanti malam kita akan pergi ke rumah Papa untuk bertemu dengan Oma dan Opa. Jadi belajar yang rajin di sekolah dan belajar bersikap sopan agar Oma serta Opa menyayangi kalian dengan sepenuh hati seperti Papa, paham?"
Memikirkan masalah ini, Anggi sebenarnya agak gugup dan takut jika respon keluarga Adit tidak sesuai dengan harapannya. Dia takut keberadaan anak-anak tidak diterima oleh mereka. Namun apapun yang terjadi, dia harus mencobanya dan melihat semuanya sendiri. Jika benar-benar menjadi masalah, maka dia akan berjuang agar anak-anaknya diterima dengan baik oleh keluarga itu.
"Serius, Ma?" Aldo sangat senang mendengarnya.
Anggi mencubit puncak hidung putranya gemas.
"Serius, jadi belajar yang rajin di sekolah dan jangan membuat Papa malu. Nanti malam kita akan dijemput oleh Papa." Kata Anggi lembut.
Aldo dan Aldi berteriak senang. Mereka pagi ini makan sarapan dengan semangat tinggi dan pergi ke sekolah pun dengan semangat yang tinggi pula. Setelah anak-anak berangkat sekolah, Anggi mulai menyiapkan kue yang akan dia bawa nanti mengunjungi calon mertuanya.
Dia tidak membuatnya sendiri karena Bibi dan Ibu ikut membantu di dapur. Awalnya Paman dan Ayah ingin datang membantu, tapi tidak ada yang mengizinkan mereka bekerja. Alhasil mereka berdua pergi ke taman belakang untuk bersantai sekaligus menonton ikan di kolam sambil membicarakan banyak hal.
Sedangkan para wanita bekerja serius di dapur. Karena Anggi membuat beberapa jenis kue, mereka sampai terlambat makan siang dan tidak sempat memasak karena terdesak waktu. Mereka tidak punya pilihan selain memesan take away dan makan seadanya di rumah hingga menjelang sore, pekerjaan akhirnya diselesaikan.
***
Sore harinya Adit pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli hadiah. Menurut rencana dia harusnya pergi membeli hadiah di siang hari, tapi setelah merenung, dia memutuskan untuk bekerja di rumah dulu dan pergi membeli hadiah nanti sore sembari berangkat ke rumah Anggi.
Maka jadilah dia membeli hadiah di sore hari setelah menghabiskan banyak waktu di ruang kerja.
"Aku sudah lama tidak pulang ke rumah, Bibi pasti sangat merindukan ku." Gumam Adit tidak berdaya.
Entah sejak kapan dia mengubah panggilannya kepada orang tua angkatnya. Mungkin semenjak dia menerima kenyataan bila orang tua angkatnya tidak bisa menjadi rumah untuknya bersandar.
"Bagaimana jika membelikannya kalung perhiasan? Sepertinya ini lebih baik daripada hadiah lainnya. Sudah diputuskan, aku akan membelikan Bibi kalung sedangkan Paman jam tangan keluaran bulan ini sepertinya cocok." Gumam Adit membuat keputusan.
Dia langsung pergi ke pusat perhiasan merek terkenal. Di dalam toko dia bertemu dengan banyak wanita yang tidak mengherankan sebab perhiasan identik dengan para wanita.
Dia adalah laki-laki jadi dia tidak perlu memilih terlalu lama. Dia memilih apa yang menurutnya cocok untuk Bibi serta Pamannya.
Sebenarnya toko perhiasan ini adalah milik Mama Davin yang kini telah berpindah tangan menjadi milik Rein. Sebagai orang-orang Davin, dia memiliki kartu khusus yang bisa digunakan untuk membeli perhiasan secara gratis tanpa perlu membayar. Namun Adit tidak mau menggunakan kartu ini karena dia di sini untuk membelikan orang tua angkatnya hadiah jadi seharusnya dia menggunakan uang hasil jerih payahnya.
"Adit, kebetulan sekali." Seseorang datang menyapanya.
Adit tidak berharap akan bertemu dengan Papa Sera di sini.
Melihat kedatangannya, Adit langsung membalas sapaannya dengan sebuah senyuman ringan di wajahnya.
"Tuan, apa kabar?" Sapa Adit rendah hati.
Papa Sera tersenyum tipis,"Yah, sejauh ini cukup baik. Bagaimana dengan mu? Aku dengar kamu sekarang sedang menjalin hubungan dengan wanita lain?" Tanya Papa Sera berbasa-basi.
Adit tidak mengecewakan Papa Sera. Dia menjawab dengan jujur tapi tetap mempertahankan kerendahan hatinya. Sebab Papa Sera adalah orang yang tidak berpikiran dangkal, Adit tahu bila dia tidak tahu menahu soal tindakan mama Sera.
"Benar, tuan. Kami sebentar lagi akan menikah. Ketika waktunya tiba nanti, saya akan segera mengirim undangan kepada tuan dan nyonya." Kata Adit tidak mengada-ada.
Dia memang berencana mengundang mereka untuk menunjukkan bahwa dia sangat bahagia dengan pilihan hidupnya.
Mendengar jawaban Adit, Papa Sera langsung tersenyum kaku. Dia tahu bila putrinya tidak memiliki harapan lagi untuk memperjuangkan perasaannya. Putrinya pasti patah hati dan kecewa, namun ini normal saja dalam hubungan percintaan. Akan tetapi papa Sera agak tidak rela memikirkan putrinya yang lembut harus berkubang dalam kesedihan di masa depan nanti.
"Adit... apakah kamu serius dengan pilihan kamu ini? Kau pasti tahu bila putriku memiliki perasaan yang dalam kepadamu." Kata Papa Sera membujuk.
Orang sekelas Adit pasti bisa melihat dengan jelas apa yang dirasakan putrinya jadi Papa Sera tidak perlu menyembunyikannya lagi.
Adit tersenyum,"Maaf, tuan. Aku sangat yakin dengan pilihan ku sendiri. Bukankah tuan lebih berpengalaman soal cinta daripada diriku? Maka tuan harusnya lebih tahu apa yang kurasakan daripada harus mempertanyakannya. Seperti diriku, tuan pasti tidak ingin menikah dengan orang yang tidak tuan cintai sebab perasaan tidak bisa dipaksakan. Di samping itu aku tidak mungkin membuang mutiara indah hanya untuk barang yang rusak, tidakkah tuan setuju dengan perkataan ku ini?" Kata Adit dengan senyuman polos di wajahnya.
Papa Sera tercengang. Dia mengerti kemana arah pembicaraan Adit dan langsung merasa tersinggung. Beraninya dia mengatakan putrinya sebagai barang yang rusak?
"Adit, apa maksud mu mengatakan itu? Daripada putriku yang rusak, wanita itu justru barang yang rusak dan tercela. Terus terang saja, aku sengaja memintamu untuk menikahi putriku dan melepaskan wanita itu karena putriku jauh lebih baik daripada dirinya. Sedangkan wanita itu, kamu tidak akan mendapatkan manfaat apa-apa jika menikahinya." Kata Papa Sera tersinggung dan berterus terang.
Dia menyukai Adit dan menganggapnya sebagai menantu ideal, itulah alasan kenapa Papa Sera sangat mendukung perjodohan ini. Namun dia sungguh tidak menyangka bila laki-laki yang dia kagumi ini ternyata memandang rendah putrinya yang lembut. Sungguh laki-laki yang tidak bisa melihat hal baik.
"Oh ya," Adit tersenyum dingin.
Dia tidak suka mendengar siapapun merendah kan wanita yang dia cintai. Memangnya siapa di dunia ini gak suka mendengar bila orang-orang yang mereka cintai direndahkan dan dipandang kotor oleh orang-orang, bahkan dirinya pun tidak menyukainya.
"Tuan, aku harap suatu hari nanti anda akan datang meminta maaf kepadaku dan pasangan ku." Ucap Adit sambil tersenyum miring.
Dia mengeluarkan flashdisk dari saku jasnya dan menaruhnya di atas meja kasir.
"Tolong tonton dan perhatikan dengan baik, betapa baiknya keluarga kecil Anda." Kata Adit kehilangan senyum di bibirnya.
Dia mengambil tas belanjanya dari meja kasir dan langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada papa Sera.
Papa Sera mengernyit heran menatap benda putih mungil di atas meja, dia meraihnya, memikirkan sesuatu yang menakutkan, dia buru-buru memasukkannya ke dalam saku dalamnya.
"Tuan, apa kita bisa pergi sekarang? Klien kita sudah menghubunginya saya beberapa kali."
Papa Sera tersadar dari lamunannya.
Dia menepuk jasnya ringan sebelum berkata kepada sekretarisnya,"Pergi dan pimpin jalan."
"Baik, tuan." Kata sektretaris itu langsung memimpin jalan menuju tempat pertemuan yang telah dijanjikan.
Papa Sera tergoda ingin melihat apa yang ingin ditunjuk Adit kepadanya tapi dia tidak bisa melakukannya sekarang karena dia harus bertemu dengan beberapa klien perusahannya. Untuk sementara rasa penasarannya di kesampingkan terlebih dahulu.
"Niko?" Panggil Adit ketika berada di dalam mobil.
Khusus hari ini Niko diminta untuk menjadi supir pribadinya. Niko sebenarnya sangat tertekan tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa karena Adit adalah bosnya.
"Ada apa, bos?"
Suasana hati Adit agak buruk semenjak pembicaraan terakhirnya dengan Papa Sera.
"Dimana Sera dan Mamanya sekarang?" Tanya Adit asal.
Niko dengan sigap menjawab,"Tuan, pasangan ibu dan anak itu baru saja sampai di rumah orang tua Anda." Lapor Niko juga terkejut setelah mendapatkan kabar dari orang-orang yang bertugas memata-matai pasangan ibu dan anak itu.
"Oh, menarik." Gumam Adit sambil tersenyum.
Melihat senyuman Adit dari kaca spion atas, Niko tahu bila tidak akan ada hal yang baik bagi pasangan Ibu dan anak itu sebab Niko juga melihat senyuman ini saat Adit menyelesaikan Doni serta 3 orang suruhan Mama Sera semalam.
Adit sangat menyeramkan saat marah. mereka para bawahan yang telah bersama Adit jelas mengerti bila tidak mudah menghadapi kemarahan Adit dan Davin. Oleh sebab itu bila Adit dan Davin dalam suasana hati yang buruk, mereka semua tidak akan berani membuat masalah yang akan memperburuk mood Adit atau Davin.