
"Pak!" Potong Rein sudah tidak tahan lagi.
Dia berbalik, menatap langsung wajah malas Davin yang kini juga sedang menatapnya dengan ekspresi tidak tertarik.
"Maaf Pak tapi aku harus menegaskan satu hal di sini jika Tio tidak ada hubungannya dengan masa lalu diantara kita jadi aku mohon, tolong jangan usik kehidupan pribadi ku. Bukankah Anda sendiri yang mengatakan sebelumnya jika tidak seharusnya kita mengenang masa lalu di sini?" Rein mengingatkan dengan murah hati.
Tatapan matanya sangat tegas, tampak angkuh dan tidak selembut 5 tahun yang lalu. Davin dibuat terdiam melihat reaksi tegas dari Rein, dia berdecih, wajahnya menjadi masam.
"Kamu benar, aku awalnya berpikir seperti itu. Akan tetapi ketika melihat reaksi kamu tadi entah mengapa aku tiba-tiba berubah pikiran. Tindakanmu seolah ingin menyembunyikan dan menutup-nutupi tentang Tio dariku, apa aku benar?"
Rein mengatupkan mulutnya menahan sabar. Dia semakin berang karena kesabarannya diuji berkali-kali hari ini oleh Davin.
Untuk kesekian kalinya dia bertanya kepada dirinya mengapa dia tidak pernah menyadari betapa menjengkelkannya Davin.
"Aku tidak berusaha menutupi ataupun menyembunyikan apapun dari Anda. Aku hanya ingin mengingatkan jika Tio tidak ada hubungannya dengan masa lalu diantara kita, Pak."
Davin menurunkan tangannya. Tidur berbaring menghadap langit-langit kamar dengan senyuman teredam di bibir. Jujur, dia tidak bisa menampik bahwa rasa penasarannya kian terusik melihat keinginan kuat Rein menjauhkannya dari Tio.
"Pak, kopi Anda sudah jadi. Dimana aku harus meletakkannya?"
Rein membawa secangkir kopi mendekati Davin yang masih asik menikmati pemandangan langit-langit kamar yang sesungguhnya tampak sangat monoton.
"Letakkan di sana." Davin menunjuk ke arah nakas.
"Baik, Pak." Rein segera menaruhnya di sana.
Setelah itu dia kembali berdiri di tempatnya semula ingin pamit. Tapi berhubung mereka adalah atasan dan bawahan sekarang, dia bertanya untuk basa-basi kepada Davin sebagai wajah sebelum keluar.
"Pak, apakah ada sesuatu lagi yang Anda butuhkan?"
Davin mengambil cangkir kopi yang masih mengepul uap panasnya. Kopi buatan Rein selalu harum dan pas di lidah Davin. Tidak ada satu orang pun yang bisa mengalahkan kopi yang Rein buat untuknya selama tahun-tahun ini.
Dia menyesapnya ringan sebelum menjawab,"Ada." Dan dia menyesap kopinya lagi.
Rein,"...." Dia hanya asal bertanya, okay!
"Meja kerjaku agak berdebu dan kotor, tolong kamu bersihkan agar aku bisa nyaman bekerja."
Rein dengan berat hati menerima,"Baik, Pak. Aku akan segera membersihkannya."
Dia lalu keluar dari dalam kamar pribadi Davin. Mengambil beberapa tissue basah sebelum berjalan mendekati meja kerja Davin. Dari dulu Davin selalu punya kebiasaan bekerja dalam tempat yang bersih dan nyaman. Dokumen-dokumen penting disusun dengan rapi di sebelah kanan sedangkan komputer akan dimatikan jika sedang digunakan. Tidak ada apapun di mejanya kecuali dua hal ini, dokumen dan dan komputer.
"Sejak kapan dia beralih kebiasaan?" Alis Rein tidak bisa tidak mengkerut ketika melihatnya.
"Dia benar-benar lebih buruk dari yang ku bayangkan." Dia masih mengoceh bahkan di saat mulai bekerja.
Tangannya yang agak kasar mengambil dokumen penting dengan hati-hati tanpa niat mengintip rahasia apa yang tertulis di dalam. Dia merapikannya menjadi satu bagian di sebelah kanan sama seperti kebiasaan Davin dulu. Lalu setelah itu dia mematikan komputer agar tidak menyia-nyiakan energi listrik meskipun dia tahu perusahaan sebesar ini tidak akan kekurangan apapun.
Setelah merasa lebih enak dipandang, Rein mulai mengelap permukaan meja. Menyingkirkan debu dan kotoran di atas meja dengan telaten, sangat cepat.
Beberapa menit kemudian dia menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat baik dan tidak membutuhkan banyak waktu.
"Tidak buruk." Komentar Davin di belakang entah sejak kapan sudah berdiri di sana.
Rein sontak berbalik, berjalan menyamping untuk menjaga jarak dari Davin. Takutnya jika terlalu dekat Davin akan melontarkan kata-kata kejam lagi kepadanya.
"Apa aku bisa pergi sekarang, Pak?"
Davin membawa cangkir kopinya yang menyisakan setengah volume dari yang Rein buat ke atas meja kerjanya. Duduk dengan nyaman di atas kursi kebesaran tanpa mengalihkan perhatiannya dari Rein.
"Karena kamu sudah ada di sini maka kenapa tidak membersihkan semuanya saja?"
Rein gatal ingin mengorek telinganya,"...apa?"
Dia harap pendengarannya bermasalah.
Davin mengernyit tidak puas,"Apa kamu tuli? Aku bilang bersihkan semuanya."
Rein sontak menahan nafas.
"Tapi Anda bilang tadi hanya membersihkan meja kerja saja." Rein jelas tidak mau.
"Itu tadi, tapi sekarang aku ingin kamu membersihkan semua bagian di dalam ruangan kerjaku. Apakah kamu keberatan?"
Rein ingin mengatakan 'ya', tapi tekad untuk terus bertahan hidup mengingatkannya dengan murah hati.
"Tidak, Pak. Ini adalah tugas jadi bagaimana mungkin aku keberatan."
Bersambung..