My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
246. 18



Sakit, badan rasanya remuk dan sakit dimana-mana, memaksa kedua bola matanya untuk menggerakkan kelopak mata.


"Ugh.." Kedua matanya kembali terpejam ketika tertangkap tidak siap menerima pasokan cahaya yang sangat melimpah.


Mengerjap ringan beberapa kali, kedua bola mata itu akhirnya bisa menerima cahaya yang masuk sepenuhnya. Bingung, dia melemparkan pandangannya ke segala arah. Menatap tembok biru yang familiar, dan gorden kamar yang masih bisa dikenalinya.


"Kenapa aku tiba-tiba di rumah?" Suaranya sangat serak.


Tangan kanan terangkat tanpa sadar ingin menyentuh lehernya, tapi gerakannya segera tertahan ketika menerima rangsangan sakit di pergelangan tangan kanannya.


"His..." Ringis nya menahan sakit.


Dia baru menyadari bila pergelangan tangan kiri dan tangan kanannya kini tengah dipasangi infus dengan cairan yang berbeda. Di sebelah kiri cairan infusnya berwarna bening tapi di sebelah kanan cairan infusnya berwarna orange. Dia tidak tahu cairan apa ini dan apa fungsinya, tapi yang pasti indera penciumannya menangkap bau obat yang sangat kuat.


Sakit, bau obat, suntikkan, dan bau darah yang sangat kuat segera mengingatkannya pada hari dimana dia dilarikan ke rumah sakit untuk melahirkan. Ingatan terakhirnya saat itu adalah dokter yang menanganinya mengatakan jika dia melahirkan anak kembar, dengan satu laki-laki dan satu perempuan.


Anak kembar?!


Anaknya!


"Anakku! Dimana anak-anak ku?!" Tanyanya cemas.


Dia melihat ke kiri dan ke kanan tapi tidak menemukan keberadaan box bayi. Setahunya bayi akan berada di kamar yang sama dengan Ibunya setelah melahirkan. Tapi dimana anak-anaknya?


Tepat saat dia merasa benar-benar cemas, seseorang membuka pintu kamar dari luar.


Cklack


Laki-laki tinggi itu masuk ke dalam ruangan dengan baju tidur dan kacamata kerja di matanya.


"Rein?" Panggil laki-laki itu merasa penuh kejutan.


"Mas..." Suara Rein sangat serak.


Davin pikir itu masih halunasi nya seperti malam-malam sebelumnya tapi ketika mendengar panggilan serak sang istri, Davin langsung menutup pintu dan berjalan cepat menghampiri Rein.


Davin menatap wajah pucat Rein dengan hati-hati, melihat bola mata cerah istrinya yang kini juga sedang memperhatikannya.


"Rein..." Davin sangat senang. Kedua tangannya gemetar menyentuh pipi istrinya yang masih berdagang karena jejak melahirkan.


"Kamu akhirnya bangun..." Sambung Davin seraya mengusap pipi lembut nan pucat istrinya.


Ingin sekali dirinya memeluk Rein, membawa Rein ke dalam dekapannya untuk berbagi kehangatan, melampiaskan rasa rindu nya selama ini. Tapi dia tidak bisa melakukannya karena dia takut, takut bila tindakan terburu-buru nya dapat menyakiti Rein. Dan dia lebih takut lagi jika pelukannya yang terburu-buru membuat kondisi Rein semakin memburuk dan kembali tidur lagi.


Davin sungguh tidak ingin Rein kembali ke dunia mimpi itu lagi karena dia sama sekali tidak bisa menjangkaunya saat Rein pergi ke tempat itu. Dia sangat putus asa dan hampir saja membawa Rein ke luar negeri bila dia tidak kunjung bangun.


"Aku..haus..." Kata Rein masih serak.


Tenggorokannya serak dan perih, sungguh tidak nyaman.


"Kamu mau minum air, tunggu." Davin buru-buru mengambil air di samping nakas yang memang sengaja disediakan untuk Rein ketika dia akhirnya bangun.


Istrinya pasti sangat kehausan karena tenggorokannya sudah lama tidak dialiri air.


"Terima kasih." Rein merasa lega karena tenggorokannya lebih nyaman dari waktu sebelumnya.


Davin mengusap sudut bibirnya yang basah,"Mau lagi?" Tanyanya lembut.


Rein menggelengkan kepalanya menolak. Dia sudah cukup dengan satu gelas air dan tidak sanggup lagi meminum gelas kedua.


Davin lalu meletakkan gelas itu kembali ke tempatnya dan duduk dengan hati-hati di atas ranjang istrinya. Gerakannya yang berhati-hati membuat Rein bingung. Bukankah Davin terlalu berlebihan?


Dia hanya melahirkan dan tidur sebentar tapi reaksinya seketat ini.


"Ada apa?" Mau tidak mau Rein akhirnya bertanya.


Davin tersenyum lembut, tangan kanannya tidak pernah berhenti menjangkau wajah cantik nan pucat Rein yang menyesakkan hatinya.


"Aku takut kamu tidak mau bangun." Akui Davin jujur.


Rein mulai menebaknya tapi menolak untuk percaya karena saat melahirkan Tio dia saat itu baik-baik saja.


"Aku hanya tidur sebentar saja. Lagipula melahirkan butuh energi jadi aku langsung tidur setelah melahirkan anak-anak." Kata Rein membuang pikiran buruk itu jauh-jauh.


Davin menggelengkan kepalanya tidak senang. Dia masih berpikir bila tidur Rein waktu-waktu ini bagaikan mimpi buruk baginya.


"Nah, kalau begitu kamu jangan hamil lagi kalau begitu. Kita sekarang sudah cukup dengan anak-anak yang diberikan Tuhan dalam hidup ini."


Rein menggelengkan kepalanya tidak setuju,"Biar Tuhan yang memutuskan masalah ini karena aku sama sekali tidak keberatan memiliki anak-anak lagi."


Rein suka anak-anak dan karena konsitusi tubuhnya yang spesial, Rein sering dibayang-bayangi kecemburuan melihat para wanita di luar sana dapat memiliki dan melahirkan anak sedangkan dirinya sangat sulit. Jadi begitu Tuhan memberikannya kesempatan, dia langsung memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya sambil berdoa agar Tuhan meridhoi anak-anak yang lahir dari rahimnya ataupun anak yang tidak lahir dari rahimnya.


"Tapi aku enggak mau kamu tidur lagi. Tidurmu sangat lama dan menakutkan, aku hampir membawamu ke luar negeri untuk ditangan jika kamu tidak kunjung bangun-bangun selama beberapa hari ke depan." Cerita Davin gelisah dan cemas.


Rein menghela nafas panjang,"Jadi betapa lama aku tidur?"


Davin menjawab sedih,"8 hari. Kamu tidak pernah bangun-bangun lagi semenjak tertidur di ruang bersalin. Dokter bilang itu bukan masalah tapi menurutku itu semua adalah masalah karena kamu tertidur hampir 10 hari!"


Rein,"..." Dia pikir telah tertidur selama dua atau tiga bulan, tapi ternyata hanya beberapa hari saja.


"Mas..." Tapi Rein tahu waktu-waktu itu pasti dilalui dengan sulit oleh suaminya.


Bahkan Rein sendiri tidak mau membayangkan berada di posisi itu karena dia tidak bisa menjamin dirinya baik-baik saja melihat suaminya berbaring di atas ranjang selama berhari-hari tanpa tahu kapan harus bangun.


"Semuanya sudah berlalu. Lihat, aku baik-baik saja dan kini sedang berbicara dengan mu." Hibur Rein mencoba menghilangkan kegelisahan suaminya.


Berbicara tentang melahirkan, Rein tiba-tiba teringat dengan anak kembarnya.


"Dimana si kembar?" Rein sangat ingin melihat bayi-bayinya.


Davin tersenyum lembut ketika membayangkan wajah tampan dan cantik si kembar. Seperti yang Rein duga, suaminya ini sangat menyukai anak-anak. kecemasannya segera menguap saat topik ini disebut. Jadi betapa beraninya dia meminta Rein untuk tidak hamil lagi?!